PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
HIDUP ATAU MATI


__ADS_3

Marissa menatap Evan dengan tatapan yang bengis. Dia turun tangga dengan anggun di ikuti oleh Aluna. Aluna ikut takut dengan apa yang akan tantenya ini lakukan. Dia terus mengawasi gerak-gerik tantenya ini, begitu pula Evan yang siap menjadi sasak sasaran amukan tante Aluna.


"Berani sekali kamu datang kesini. Nekat juga kamu, ya. Apa kamu sudah siapkan surat wasiat!?" ucap Marissa tajam.


Evan hanya diam, Entah apa yang akan wanita ini lakukan padanya.


Dia mendekati Evan dengan langkah perlahan. Semua orang di ruangan itu ikutan tegang menyaksikan adegan di depan mata mereka saat ini. Evan secara reflek mundur selangkah.


Dia mengambil alat penyentrum yang baru di bawa si pelayan.


Evan menatap alat itu dan Marissa secara bergantian dengan perasaan bergidik. Apa wanita ini akan menyentrumnya dengan alat itu. Ouh sial... Dia akan mati konyol di tangan wanita ini. Begini kah akhir hidupnya. 'sudah lah, tidak apa-apa' batin Evan mencoba untuk tenang.


Aluna menatap tantenya dengan perasaan khawatir. Dia tidak ingin Evan mati, dia hanya ingin Evan meminta maaf bukannya mati. Bagaimana pun Evan adalah ayah dari anak yang tengah di kandungnya saat ini, dia tidak ingin aunty nya menghabisi Evan.


"Jangan aunty," cegah Aluna khawatir. Evan menatap Aluna dengan wajah masih tertunduk diam. Sesaat dia melihat ada kebaikan dalam diri wanita angkuh ini. "Kita dengar penjelasan dia dulu," bujuk Aluna mencoba mencegah tantenya itu. Evan terdiam terpana melihat Aluna mencoba melindunginya. Tapi tampaknya itu sia-sia jika di lihat dari wajah Marissa yang tampak sangat murka. Wajah Marissa memerah karena menahan amarahnya yang bergejolak. Gemerutuk giginya terlihat jelas betapa dia sudah sangat murka saat ini.


"Apa lagi yang bisa dia jelaskan!? Kamu jangan lembek Luna. Pria seperti ini harus di hajar biar dia bisa menghargai perempuan!" tukas tantenya tajam dengan tatapan penuh amarah kepada Evan. "Apapun alasannya, dia tidak berhak menghancurkan kamu seperti ini," seru Marissa membuat Aluna terdiam dan menatap Evan sekilas, Evan hanya tertunduk penuh penyesalan.


Dia kembali mendekati Evan berlahan, menilik setiap inchi dari diri Evan. Yang tampak sempurna sebagai seorang laki-laki, tampan, berwibawa dan menarik.


"Kamu cukup tampan. Seharusnya tanpa melecehkan keponakan sayapun, kamu bisa mendapatkan gadis cantik di luar sana dengan gratisan. Bahkan mungkin mereka yang akan mencari kamu. Kenapa kamu malah memilih merusak keponakan saya!?" ucapnya penuh tekanan.


"Saya hanya kesal. Dia menghina semua orang sesuka hatinya. Dia tidak bisa menghormati orang lain barang sedikitpun. Bahkan dia menghajar dan memecat housekeeper hanya karena bajunya tertumpah kuah sop, seharusnya tinggal di laundry juga beres, tidak perlu sampai menghina," ungkap Evan masih terdengar tenang dengan tatapan sekilas menghunus pada Aluna yang terdiam. "Pelayan itu sangat butuh uang, karena itu saya kesini. Saya bersedia menerima hukuman atas tindakan saya, tapi kembalikan pekerjaan wanita itu. Hanya pekerjaan itu saja yang bisa dia harapkan untuk hidupnya. Setelah itu terserah kalian akan melakukan apa terhadap saya." pinta Evan bersungguh-sungguh. "Bahkan kalian boleh membunuh saya sekalipun," sambung Evan lagi. Aluna tercekat mendengar penuturan Evan barusan. Sesaat Evan menatap Aluna yang juga tengah menatapnya. Aluna dapat lihat tatapan penuh penyesalan dari mata Evan.


Aluna tersentuh mendengarnya, Evan menemuinya demi melindungi seseorang dan demi tanggung jawabnya. Laki-laki ini bukan orang jahat. Dia laki-laki paling tulus yang pernah Aluna temui. Dia malah tertarik dan mulai menyukai Evan. Marissa tidak boleh menyakiti Evan. Tidak, Evan adalah laki-laki baik yang pantas bersamanya, dia tidak boleh di sakiti.


Marissa sudah siap dengan 3 orang suruhannya. Dia mendekati Evan, Evan menatap mata yang penuh amarah itu dengan alat setrum di tangan kanannya dan 3 orang berbadan besar serta sangar sudah siap di belakangnya. Dengan satu kode jentikan jari dari Marissa ke dua lelaki bertubuh kekar itu segera memegang tangan Evan.


"Dengan tangan ini kamu menyentuh tubuh keponakan saya, HAH!!!" ucapnya seraya menyentrum tangan Evan. Evan meringis kesakitan dengan kejutan listrik yang tengah menyakitinya. Aluna mulai panik. Marissa malah menghantam Evan dengan keras dengan penyentrumnya membuat penyentrum itu patah dan Evan terduduk kesakitan. Evan masih sempat menatap Aluna seolah tatapan itu ingin menyampaikan permintaan maafnya sekali lagi untuk terakhir kalinya kepada Aluna sebelum mungkin dia akan mati setelah ini. Aluna berteriak histeris melihat kejadian itu di depan matanya.

__ADS_1


"Jangan aunty! Luna mohon jangan aunty!" teriak Aluna, tapi Marissa tidak peduli.


"Tubuh ini yang menjamah keponakanku!" ucapnya kembali menghajar Evan dengan dengan sebuah tongkat besi, tubuh Evan melemah, Evan pasrah lemas dan terjatuh ke lantai.


"Aunty cukup! Aunty! Jangan di teruskan!" Aluna memohon di kaki Marissa agar Marissa segera menghentikan aksinya. Tapi Marissa malah mengkode agar bodyguard itu segera bertindak. Aluna semakin panik, Evan yang sudah lemas itu di hajar oleh 3 orang bodyguard bertubuh kekar itu.


Aluna pun segera di bawa ke kamar oleh pelayannya. Dia di seret paksa ke kamarnya dan di kunci di dalam kamarnya. Aluna terus menggedor pintu kamarnya sambil berteriak histeris.


Sedangkan Evan terus di hajar bodyguard itu. Sampai dia tidak bergeming pun dia masih di hajar. Marissa menyaksikannya dengan senyuman puas. Dia akan menghajar laki-laki brengsek ini sampai dia tidak bernyawa.


Mereka terus menendang dan menghajar tubuh Evan, terutama bagian perutnya yang membuat Evan meregang menahan kesakitan dan mulai benar-benar tidak bergeming, pertanda dia sudah mulai lemah dan sekarat. Darahnya juga sudah memenuhi lantai marmer mahal itu.


Marissa sekali lagi tersenyum puas.


***


...***...


Di kediaman Aluna, Evan sudah memasuki masa yang genting, dia mulai tidak berdaya, berlahan kehilangan kesadarannya. Evan mulai tidak bergeming tapi tidak membuat dia berhenti di hajar.


Sesampainya di depan pintu gerbang kediaman Richard, Wisnu langsung memaksa untuk masuk, yang lain memaksa satpam untuk segera membuka pintu. Wisnu dan Tama segera masuk gerbang utama. sedangkan ayah Aluna masih terjebak macet di jalan. Wisnu segera menuju ke rumah besar itu, halaman rumah nya yang luas terasa lama sekali untuk sampai.


sesampainya di depan pintu rumah besar bak istana tersebut. Wisnu segera mendobrak pintu besar itu, saat terbuka dia mendapati Evan sudah tidak sadar tapi masih di hajar oleh mereka.


Dengan penuh amarah Wisnu dan Tama segera menyerang para bodyguard itu beserta dengan orang suruhan mereka. Karena kalah jumlah pihak Marissa pun tidak berdaya melawan serangan dadakan itu. Wisnu dengan panik mengangkat putranya yang entah masih hidup atau sudah mati itu. Dengan sekuat tenaga dia mengangkat Evan yang sudah terkulai lemas itu kedalam mobil dan yang lain membuka pintu mobil.


Mereka semua segera meninggalkan rumah Aluna dengan wajah Marissa yang kesal dan bodyguard nya yang babak belur semua.


"Arghhh... Kenapa mereka bisa datang, sih!" Teriak Marissa kesal.

__ADS_1


Tepat saat ayah Aluna baru sampai, dia melihat kepergian Wisnu beserta rombongannya. Dia segera memutar balik mobilnya menyusul rombongan itu. Dia tidak ingin kehilangan Evan yang sudah lama di incarnya.


Sedangkan di dalam mobil Wisnu terus berusaha membangunkan Evan dengan berbagai cara. Mobil yang melaju kencang pun terasa sangat lambat baginya. Setiap detik waktu saat ini itu dapat menentukan hidup dan mati putranya saat ini.


***


Sesampainya di rumah sakit mereka segera di sambut para perawat rumah sakit yang segera membawanya ke IGD untuk melakukan pemeriksaan tahap awal. Ayah Aluna segera sampai dan langsung melihat dari kejauhan. Dia tidak berani mendekat seorang diri, dia menunggu anak buah nya datang.


***


Karena kondisinya yang buruk Evan segera di pindahkan ke ruangan ICU. Richard masih memantau dari kejauhan. Tanpa di sadarinya salah satu anak buah Wisnu melihatnya. Dia segera melapor ke pada Wisnu. Wisnu pun segera menemuinya. Tepat saat anak buah Richard juga baru sampai. Berhadapan lah 2 kubu itu dengan penuh Emosi.


"Kalau terjadi hal buruk pada anakku. Kau akan rasakan akibatnya Richard! Aku akan kumpulkan musuh mu untuk membunuhmu! Dan aku pastikan putrimu akan merasakan apa yang sudah dialaminya kembali dengan mereka semua yang membencimu," ancam Wisnu.


"Itu salah putramu yang cari masalah denganku! Seandainya aku yang di rumah tadi, aku akan langsung menembaknya tanpa sempat kau melihat jasad putramu! Masih untung kau hanya menghadapi adikku, bukan aku langsung!" ucap Richard tajam.


Keributan itu terus berlangsung hingga ibu Evan Rima datang melerai.


"STOP! SUDAH! Bisa tidak kalian jangan buat keributan sekarang!? Evan sedang kritis, Pah. Dan kamu Richard apa yang kamu dapatkan seandainya Evan mati? Seandainya putrimu hamil siapa yang akan bertanggung jawab?" Ucap Rima mencoba melerai.


"Aku tidak sudi berbesan dengan orang seperti kalian! Aku akan bunuh anak itu seandainya lahir." Ucap Richard masih memancing keributan.


"Stop! Sudah! Bisa kan jangan sekarang!? Silahkan kalian ribut di tempat lain saja," seru Rima mulai kesal dengan duo bapak-bapak yang seperti geng anak SMK tawuran.


Akhirnya mereka bersedia gencat senjata. Mereka menunggu dokter keluar dari ruangan perawatan Evan dengan tujuan yang berbeda


Ayah Evan berdoa Evan akan selamat, ayah Aluna ingin Evan mati. Tatapan mata mereka tampak masih panas dengan Emosi.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2