PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
TARI SI PENGERTIAN


__ADS_3

Sejak saat itu Evan sering memesan roti di tempat Tari, untuk makan siang atau untuk meeting dengan klien. Evan suka memesan makanan di sana karena memang roti buatan toko Tari terasa lebih lembut dan enak di banding tempat lain. Apa lagi tokonya cukup dekat dari kantor Evan.


Kadang Tari mengantarnya sendiri, karena karyawannya kadang terlalu sibuk. Seperti hari ini dia mengantarnya ke ruangan Evan, karena Evan memesannya tadi.


"Hey... " Sapa Evan sambil terus berkutat dengan laptop dan berkasnya.


"Sibuk banget, ya?!" tanya Tari yang sekarang berdiri di hadapan Evan yang masih fokus dengan pekerjaannya.


"Lumayan!" ucap Evan singkat.


"Ya udah. Ini pesanan kamu!" ucap Tari lalu beranjak pergi, Evan masih belum mau melepaskan pandangannya dari laptopnya, Tari hanya tersenyum melihat Evan yang tampak sedang tidak bisa di ganggu itu. Dia melihat jas yang di pakai Evan tidak terlalu banyak kelihatannya, karena dia hampir hafal dengan yang di miliki Evan. Dan kadang dia hanya menggunakan kemeja dan celana dasar saat pergi kerja.


Evan memang tidak punya banyak waktu untuk pergi berbelanja memilih stelan kerjanya, di tambah lagi Evan yang lumayan cuek dengan penampilan. Lebih suka memakai yang ia nyaman dari pada harus menggantinya dengan yang baru. Terutama sekarang, dia sudah terlalu sibuk untuk mengurus itu.


***


Hari ini hari Sabtu, ini kesempatan Evan berlibur. Dia bangun telat. Jam sudah menunjukkan pukul 10.10 Wib. Dia baru terbangun. Dia bangun dan merasa haus, dia pun segera turun untuk minum. Dengan penampilan kumal ala orang yang baru bangun tidur. Rambut acak-acakkan dan celana pendek, serta baju kaos tipis. Dengan mata yang masih separuh terpejam dia terus menyusuri tangga. Turun dalam keadaan mata separuh terpejam. Dia menuju rak gelas dan langsung ke kulkas. Dia minum seraya menutup kembali pintu kulkasnya sambil meminum air di gelas. Saat itu dia seperti menyadari bahwa di rumahnya ada seorang wanita tengah terpaku melihatnya dalam keadaan acak-acakkan itu serta pakaian terutama celana yang lumayan pendek.


Seketika Evan membelalakkan matanya dan tersedak karena kaget.


"Tari?!" Evan menatapnya tidak percaya jika ada Tari di rumahnya.


"Hay?!" sapa Tari dengan tatapan kagok dan segera mengalihkan pandangannya dari Evan, dia langsung ke belakang. Evan memejamkan matanya karena malu. Dia segera berlari ke kamar. Dia merasa malu karena Tari melihatnya dalam keadaan seperti itu.

__ADS_1


"Kenapa pagi-pagi dia ada di sini?!" gumam Evan seraya menutup pintu kamarnya dan bergegas pergi mandi.


Tama dan tunangan nya yang kebetulan ada di dapur tertawa melihat Evan yang terbirit-birit karena malu. Dan Tari pun ikut tertawa.


Sebentar kemudian ibunya datang, Rima heran dengan tawa semua orang.


"Kenapa?!" tanya Rima.


"Tuh. Ngapain anak bungsu mami keluar cuman pakek Boxer pendek?! Belum bangun apa masih mimpi?" ucap Tama masih terkekeh.


"Ooo... Dia emang sering gitu. Biasanya pagi-pagi dia gitu. Dia nggak tau kalo di rumah lagi rame," ucap Rima menjelaskan kebiasaan Evan.


Setelah selesai mandi dan rapi Evan segera turun dan menuju ruang makan keluarga. Di sana sudah ada Tama yang baru datang.


"Kenapa pagi-pagi udah rame?" tanya Evan heran.


Tidak lama Tari pun datang. Evan menatapnya yang tengah membawa makanan.


"Mami kamu nggak sempat masakin kamu sarapan, jadi aku yang masakin," ucap Tari seraya menyajikan nasi goreng dengan telur mata sapinya. Evan pun segera meraihnya, dia memang sudah lapar.


"Kalian udah makan?!" tanya Evan seraya bersiap akan makan.


"Udah. Tapi cuman kamu yang dapat nasi goreng spesial, kita pakek sarapan buatan Minah semua," goda Tama seraya melirik Tari yang terlihat malu karena di goda Tama. Evan hanya tersenyum seraya menyantapnya.

__ADS_1


"Eh, aku liat jas kamu nggak terlalu banyak, ya. Itu-itu aja. Apa kamu nggak punya cukup banyak?! Kan kamu sering ketemu klien penting. Masak pakaian kerja kamu punya sedikit, sih. Penampilan itu penting lo buat kesan yang sempurna di depan klien," ungkap Tari.


"Pengen beli, tapi kadang males perginya. Minggu malah ke asyik kan nyantai di rumah," ungkap Evan.


"Gimana kalo aku nemenin kamu beli. Aku tahu butik yang bagus jual stelan jas gitu. Nanti aku temenin kamu kesana. Mau?!" tawar Tari.


" Hmmmm.... Boleh. Tapi kamu kan lagi jagain toko kamu. Emang nggak papa di tinggal seharian gini?!" tanya Evan khawatir ia akan merepotkan nantinya.


"Nggak papa, karyawan aku udah biasa kok di tinggal.nSekarang mereka udah lumayan paham," ucap Tari.


Selesai sarapan Evan dan Tari segera pergi ke toko yang di maksud Tari. Evan bercerita banyak hal kepada Tari di mobil. Bicara dengan Tari yang dewasa dan bijak, cukup nyaman bagi Evan. Hingga Evan yang tertutup bisa terbuka di hadapan Tari. Tapi entah kenapa itu masih belum cukup untuk meluluhkan hati Evan, menggantikan Aluna.


Tari tau itu, Evan masih mengingat mantan istrinya. Karena Evan tidak pernah mau dekat dengan wanita manapun. Dia seperti selalu menegaskan kepada setiap wanita yang dekatnya bahwa mereka hanya berteman. Itu terlihat dari sikap Evan yang tidak mau terlalu serius dia selalu santai menanggapi wanita-wanita di dekatnya. Bahkan kalau tidak penting dia juga jarang mau bicara dengan wanita-wanita itu. Kecuali Tari, itu pun karena ibu Tari yang berteman dengan Rima. Dan juga karena Evan sering memesan kue darinya. Mungkin jika tidak begitu, Evan juga akan bersikap sama. Tapi saat Evan sesekali mau terbuka dengan Tari, itu sedikit membuat Tari berharap lebih padanya.


Tanpa terasa mereka sampai di sebuah butik. Tari sangat terampil dalam memilih pakaian yang akan di belikan, dia pandai mencocokkan warnanya. Dia juga pandai memilih apa saja yang akan di beli. Dia terlihat sangat terampil. Evan menyukai sifat terampil Tari. Jika di bandingkan dengan Aluna yang manja, maka Tari jauh lebih baik. Aluna akan diam di bangkunya kalau Evan berbelanja, dia juga kadang bingung harus membeli apa, kalau itu menyangkut keperluan Evan. Bersama Tari membuat Evan merasa di dampingi dengan baik.


Sebelum pulang mereka berhenti di toko buku, ada yang ingin Evan belikan di sana. Tari pun menemaninya, karena pernah bekerja. Sekali lagi Tari membantu Evan dalam memilih barang yang akan di beli. Evan puas dengan belanjaan mereka yang terasa sangat pas dengan kebutuhannya.



Selesai membayar mereka pun pulang. Di mobil Evan, mereka terlibat obrolan.


"Makasih ya kamu udah nemenin aku belanja... Tapi kok kamu ke pikiran buat beli jas untuk aku?!" tanya Evan.

__ADS_1


"Karena aku liat tiap hari kamu pakek jas itu-itu aja. Bisa di hitung kamu punya berapa. Kamu kan sering ketemu klien penting, di kantor juga pakek. jabatan kamu lumayan tinggi, tapi masak jas aja kamu kalah sama bawahan kamu," ucap Tari yang semakin menunjukkan kedewasaan dan sikap pengertiannya. Evan tampak mengagumi sikap pengertian Tari.


BERSAMBUNG...


__ADS_2