PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
Dengarkan Dia


__ADS_3

Setelah kepergian Evan bekerja, Aluna segera meminta supir untuk mengantarkannya kekediaman orang tua Evan. Dia merasa tidak enak hati karena Evan pergi begitu saja saat mengetahui tentang Caroline kemarin. Dia ingin menanyakan tentang ibu mertuanya itu kepada Rima. Dia ingin tahu tentang Caroline.


Sesampainya di kediaman Wisnu, Aluna di sambut Rima, sedangkan Wisnu sepertinya juga tengah tidak ada di rumah. Jadi ini kesempatan yang bagus untuk Aluna mengetahui semuanya.


"Apa Evan mau menerimanya, Mih?" ungkap Aluna. Aluna tahu betul dengan watak Evan. Tidak akan mudah bagi Evan menerima orang baru di hidupnya. Apalagi dengan apa yang telah ibunya lakukan dulu. Rima hanya bisa menyedikkan bahunya seraya menggeleng.


"Mih, apa Mami mau ajak ngobrol Ibuk? Ayo, Mih kita pertemukan mereka. Luna yakin Evan nggak benar-benar benci sama ibuknya. Dia pasti cuman kaget, Mih. Toh, walau bagaimanapun dia tetap ibu kandung Evan, kan," bujuk Aluna. Rima tampak ragu dengan permintaan Aluna.


Tapi, setelah berfikir beberapa saat khirnya Rima bersedia mengundang Caroline ke rumahnya. Aluna tersenyum senang mendengar Rima setuju untuk mengundang Caroline. Walau terasa berat bagi Rima sebenarnya karena harus mengundang mantan istri suaminya itu kerumahnya.


"Terimakasih. Sudah mengundangku kemari. Tadinya aku pikir tidak akan kalian terima," tutur Caroline lembut.


"Kita semua bersalah saat itu," kenang Rima.


"Kau tidak salah. Mungkin saat itu aku juga yang bodoh, bisa hadir diantara kisah kalian yang belum usai. Dan terimakasih untuk usaha mu mempertemukan aku dengannya. Ini sudah cukup kau lakukan untukku. Terimakasih," tutur Caroline lembut seraya mengusap tangan Rima dengan seulas senyuman hangat. Ia terlihat sangat anggun dan tenang dengan manner nya yang terlihat sangat berkelas itu.


Rima tersenyum dan mengangguk pelan.


Aluna yang sedari tadi diam di sambut senyuman oleh Caroline. Wanita anggun ini tampak sangat cantik. Dia terlihat memiliki garis wajah yang sangat jelas mirip dengan Evan. Pantas Evan sangat tampan, ternyata ibunya sangat cantik.


"Halo Aluna?" sapanya ramah. Aluna mengangguk kaku menyambut uluran tangan Caroline.

__ADS_1


"Dia istri Evan dan ini anak-anak mereka. Yang suling Manuela, yang tengah ini Liam, yang kamu selamatkan kemarin dan yang ini yang si bungsu cakep ini Kyu," terang Rima ramah. Sepertinya Rima berhasil berdamai dengan masa lalu suaminya termasuk dengan Caroline yang merupakan mantan istri suaminya di masa lampau alias ibu kandung Evan.


Caroline menjelaskan perihal kedatangannya yang ingin bertemu dengan Evan, dia meminta Aluna untuk ikut membantunya bertemu dengan Evan.


"Tidak perlu tergesa-gesa, saya disini masih 2 minggu lagi," terang Caroline dengan seulas senyuman hangat. Aluna membalas senyuman itu.


"Kamu istri putra saya? Kamu cantik sekali," puji Caroline. Aluna tersipu malu di puji begitu.


"Saya mau belanja, tapi saya tidak begitu hafal dengan kota ini. Apa bisa kamu temani saya? Sekalian saya ingin mengobrol dengan kamu," tuturnya. Bahasa Indonesia nya cukup lancar meski logat bulenya masih terasa.


"Boleh," jawab Aluna dengan seulas senyuman. "Tapi...," tutur Aluna menatap anak-anaknya.


"Kita bawa mereka juga. Saya ingin bersama kalian," tuturnya lembut. Aluna pun tersenyum.


Sesampainya di mall seperti biasa anak-anak selalu minta ke arena permainan. Aluna menatap ibu mertua yang baru ia kenal itu.


"Tidak apa-apa. Ayo," tuturnya segera membawa anak-anak ke arena Timezone. Di sana Manuela dan Liam segera masuk ke arena permainan. Sedangkan Aluna dan Caroline menunggu di luar arena permainan. Mereka tampak tengah mengobrol berdua dengan Kyu yang masih di gendongan Aluna. Caroline segera mengambil alih Kyu dari gendongan Aluna.


Aluna tersenyum melihat Kyu yang tengah berada di gendongan neneknya itu.


"Sudah berapa lama kalian menikah?" tanya Caroline membuka topik pembicaraan.

__ADS_1


"Sudah hampir 7 tahun. Sebelumnya kami juga sempat menikah, tapi kami bercerai. Dan setelah itu kami kembali rujuk setelah berpisah sekitar 4 tahun," terang Aluna sedikit malu-malu.


"Klian menikah muda? Apa kau sangat mencintainya?" tanya Caroline mulai akrab. Aluna mendongak dan mengangguk keras seraya mengulun senyumnya.


"Sangat. Aku sangat mencintainya, bahkan dulu aku pernah hampir gila karena dia sempat bertunangan dengan orang lain," kenang Aluna pada masa lalunya bersama Evan.


"Dia orang yang bagaimana?" tanya Caroline lagi. Dia tampak sangat ingin tau tentang Evan. Aluna paham itu. Setelah bertahun-tahun hilang dari kehidupan Evan sekarang dia datang kembali. Tentu dia tidak tahu apapun tentang Evan yang bahkan tidak sempat mengenalinya sebagai seorang ibu.


"Dia baik, sabar, penyayang, juga sangat tulus. Walau kadang dia juga cerewet, banyak aturan, dan kadang suka kabur-kaburan kalau kita lagi bertengkar," terang Aluna seraya terkekeh, Caroline pun ikut tertawa mendengarnya. Dia dapat melihat betapa besar rasa cinta Aluna kepada Evan. "Tapi, dia laki-laki yang sangat setia. Dia sangat beradab dan juga keras," terang Aluna lagi yang seketika senyumnya berganti dengan kesedihan tatkala mengingat cerita Rima tentang masa kecil Evan.


"Ehemmm... Itu pasti tidak akan mudah baginya. Hari-hari yang ia lalui selama ini," tutur Caroline. Aluna mengangguk.


"Kenapa anda meninggalkannya waktu itu? Kenapa anda memberikannya kepada papa?" tanya Aluna. Sesaat Caroline nampak berpikir. Tangannya tampak meremas seperti menahan suatu perasaan.


"Hmmm... Aku merindukan dia. Aku sangat merindukan dia. Walau mungkin akan sangat sulit baginya memaafkanku," Caroline kembali mengenang masa lalunya.


"Di usiaku yang ke 19 tahun. Aku bertemu dengan Wisnu. Semua tampak baik-baik saja. Hingga kami memutuskan untuk menikah secara siri. Aku tau dia tidak sepenuhnya pada pernikahan kami. Ada orang lain di hatinya. Sebenarnya kehadiran Evan di luar rencana kami. Aku mengetahui aku hamil saat Wisnu membicarakan kepulangannya ke negara asalnya kembali. Aku sudah mencoba membesarkannya seorang diri, tapi semua orang menentang ku termasuk orang tua dan keluarga besar ku, itu tidak mudah bagiku dan aku sempat memberikannya ke panti asuhan. Tapi, aku tidak tega saat melihat bagaimana dia di perlakukan di sana. Hingga akhirnya aku meminta Wisnu untuk datang dan menyerahkan Evan kepada Wisnu. Setelah itu aku sakit dan tak henti-hentinya merindukannya. Aku ingin mengambilnya kembali, tapi aku tidak bisa. Aku takut Rima akan salah paham nantinya. Aku sempat bertemu dengannya di Inggris, tapi saat itu ada pernikahan yang harus aku jaga. Sekarang setelah aku memutuskan berpisah dengan suamiku aku mulai ingin mencarinya lagi," terang Caroline panjang lebar. Aluna terdiam mendengarnya.


"Walau mungkin terlambat. Tapi ... Aku ingin melihatnya. Sekali saja. Aku ... Juga ... Ingin memeluknya ... sebentar saja. Setelah itu aku akan pergi jika memang dia tidak menginginkanku dan tak bisa memaafkan ku," tambah Caroline dengan beban berat tampak jelas di matanya saat ini.


"Evan orang yang keras," tutur Aluna tidak tau harus berbuat apa. Caroline mengangguk.

__ADS_1


"Aku tau." Dengan seutas senyum Caroline mencoba untuk tegar.


BERSAMBUNG...


__ADS_2