
Caroline menatap kedatangan Wisnu, tampak dia yang masih lemah. Rima tak menyadari itu, dia langsung menghampiri Liam dan mengelus lembut kepala cucu kesayangannya. Hanya Wisnu yang masih terpaku di ambang pintu tak sanggup berkata-kata.
"Pah!" panggil Rima yang sontak membuyarkan lamunan Wisnu.
Sedangkan Caroline sudah tak sanggup membendung air matanya. Aluna dan Anto kaget melihat reaksi ayah mertuanya dan wanita penolong anaknya itu. Sesaat Rima pun menyadari sesuatu dan ikut melihat apa yang di lihat semua orang. Kini giliran dia yang ikut terpaku tak sanggup berkata-kata. Sesaat dia merasa jantungnya berhenti berdetak dan darah naik dengan cepat ke ubun-ubunnya sangking shock nya dia saat ini.
Wisnu menelan ludahnya susah payah sebelum bertanya kembali. Dia terus melirik kearah si wanita. Dia tampak aneh dan terdiam seribu bahasa. Sesaat suasana di ruangan itu menjadi sunyi. Tak ada yang berani memulai percakapan. Anto yang merasa menjadi orang luar pun segera pamit untuk pulang. Karena keluarga itu pasti ingin privasi saat ini dengan apa yang akan mereka bicarakan.
"Saya pamit dulu, om, tante, Lun. Kayaknya sudah malam," pamit Anto sungkan. Lalu ia buru-buru keluar ruangan tersebut.
"Kenapa kau kemari?" tanya Wisnu mulai angkat bicara. "Kau tidak boleh kesini. Pergilah sebelum dia mengetahuimu," lirih Wisnu dengan mata berkaca-kaca.
Rima segera berdiri menenangkan suaminya. Sedangkan si wanita yang baru sadar itu mencoba untuk duduk walau masih lemah, Aluna yang melihat itu segera membantu si wanita untuk duduk dengan baik. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Aku merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya. Aku hanya ingin bertemu dengannya sebentar saja setelah itu aku akan pergi," tuturnya berusaha keras menahan tangisnya. "Aku mohon Wisnu, sekali ini saja aku sangat ingin bertemu dengannya. Selama berminggu-minggu aku melihat cucuku dari kejauhan berharap bisa melihat dia dan bisa bicara dengannya," lirihnya kali ini sudah tak bisa menahan tangisnya. "Dan dengan cucu menantuku juga," tuturnya melirik Luna dan Liam yang membuat Aluna kaget.
Sekarang Aluna paham kenapa wanita ini sering terlihat di sekolah Liam dan terakhir di sekolahnya Manuela. Ternyata dia punya hubungan dengan Evan. Tapi dia masih belum tahu siapa sebenarnya wanita ini, kenapa dia menyebutnya menantu dan cucu. Bukankah ibu kandung Evan sudah meninggal saat melahirkannya. Apa mungkin semua orang telah membohongi Evan tentang ibu kandungnya.
"Dia tidak akan mau menerimamu setelah apa yang sudah kau lakukan padanya. Kami sudah menganggap kamu mati selama ini," timpal Wisnu.
"Tidak apa-apa, dia berhak untuk marah, asal aku bisa memeluknya sebentar saja dan meminta maaf padanya. Itu sudah cukup bagiku," tuturnya lagi seraya menyeka air matanya.
Tiba-tiba pintu kamar di ketuk seseorang. Si wanita paruh baya tersebut segera mengusap air matanya dan yang lain pun berusaha bersikap wajar. Aluna segera membuka pintu kamarnya. Ternyata itu adalah Evan. Semua orang tampak kaget dan menatap Evan dengan tatapan aneh. Evan yang merasa di tatap dengan tatapan aneh mulai merasa bergidik.
"Ini lagi bahas apa? Kok lihat aku sampe kayak gitu," tanya Evan bingung dengan tersenyum kecut.
"Nggak lagi bahas apa-apa. Cuman kamu datangnya ngagetin, sih," timpal Aluna berusaha menutupinya. "Oh, ya. udah makan malam belum?" tanya Luna.
"Udah tadi. Sebelum kesini aku pulang sekalian bawak baju ganti sama keperluan Liam," jawab Evan seraya menunjukkan bawaannya. Aluna pun segera mengambil bawaan Evan yang merupakan perlengkapan Liam dan Evan selama di rumah sakit itu.
Mereka semua pun berusaha bersikap senormal mungkin. Apalagi saat Liam baru bangun dan menangis saat melihat tangannya di infus. Dia terus merengek ingin pulang dan berusaha di tenangkan oleh Evan dengan menggendongnya. Hingga akhirnya balita tampan itu kembali tenang dan tak mau lepas dari gendongan Evan hingga dia kembali tertidur.
"Kamu pulang aja sama Mami sama papa. Kasihan Kyu di rumah di tinggal sendirian. Liam biar aku yang jagain. Besok bawak baju kerja aku sekalian, ya," terang Evan.
Wisnu tampak ragu meninggalkan Evan di kamar tersebut malam ini. Tapi apa boleh buat, dia tidak bisa apa-apa karna besok dia juga ada pekerjaan paginya.
__ADS_1
***
Di dalam mobil saat perjalanan pulang Aluna yang penasaran mulai bertanya tentang wanita tadi.
"Dia siapa, Mih?" tanya Aluna penasaran. Rima menatap Aluna dengan tatapan ragu, dia melirik suaminya sebelum angkat bicara.
"Di-dia, dia ... adalah ibu kandung Evan," jawab Rima sontak membuat Aluna membelalakkan matanya tidak percaya.
"Apa? Ibu kandung Evan? Bukannya dia sudah meninggal?" tanya Aluna masih bingung.
Rima menatap Aluna beberapa saat sebelum ia mulai bercerita.
Flash Back On
Saat itu Wisnu meminta izin untuk kembali ke Amerika. Rima pun mengizinkannya, karena dia mengatakan ada yang ingin ia selesaikan di sana. Setelah beberapa hari kepergiannya Wisnu pun pulang membawa Evan bersamanya. Itu membuat Rima sangat kaget dan marah besar. Hari itu Rim dan Wisnu bertengkar Hebat.
"Dia sakit dan tidak ada keluarga yang membantunya disana. Anak ini akan terlantar di sana. Dia anakku Rima, walau bagaimanapun dia tetap darah dagingku. Jangan memintaku untuk membuangnya juga seperti yang ibunya lakukan," mohon Wisnu.
Rima menatap nyalang kepada Wisnu.
"Kau gila Rima. Siapa yang akan merawatnya kalau bukan kita?" Wisnu tidan percaya ini.
"Serahkan kepada Minah. Biarkan dia di belakang bersama Minah. Seandainya wanita itu datang untuk mengambil anaknya kembali, kau tidak perlu terlibat emosi dengan anak ini. Dia bisa membawa anaknya tanpa terlibat emosi apapun dengan kita," ucap Rima yang seketika membuat Wisnu terdiam.
"Ingat, jangan pernah kau pedulikan dia Wisnu. Jangan pernah," ingat Rima membuat Wisnu membisu seribu bahasa.
***
Waktu terus berlalu, 1 tahun, 2 tahun hingga 7 tahun. Ibu kandung Evan tetap tidak pernah datang. Dan Evan semakin asing di rumahnya sendiri. Hingga suatu hari Evan terlibat pertengkaran dengan temannya karena menyebutnya anak haram. Evan dengan penuh amarah berkelahi dengan teman yang tubuhnya jauh lebih besar darinya.
Saat sudah di rumah dengan luka memar di wajah dan beberapa luka gores di tubuhnya. Si kecil Evan di rawat Minah di kamarnya.
"Mbak. Ibuk Evan di mana? Kenapa dia nggak pernah datang?" tanya Si kecil Evan.
"Ibumu sudah mati. Jangan tanya dia lagi," sahut Rima tiba-tiba seraya menyerahkan kotak P3K kepada Minah. Lalu ia pergi dengan tanpa perasaan bersalah karena telah melukai perasaan Evan yang seketika menangis mendengar ibunya sudah meninggal. Evan menatap Minah yang masih terpaku.
__ADS_1
"Bener, mbak?" tanya Evan masih terisak. Minah hanya tersenyum kecut seraya membersihkan luka-luka Evan tanpa memberikan Evan jawaban.
Flash Back Off
"Saat itu dia memang sedang sakit. Tapi dia tidak meninggal. Kami hanya tidak ingin membahasnya lagi," sahut Rima dari depan. Aluna terdiam membisu mendengar cerita masa kecil suaminya.
"Ini pasti akan melukai Evan. Masa lalunya kembali akan diungkit lagi," tutur Wisnu dengan tatapan hampa lurus ke depan.
Aluna masih terdiam mendengarnya. Dia tiba-tiba merasa kasihan dan hiba jika seandainya Evan mengetahui semuanya. Dan Aluna baru sadar kenapa dia merasa tidak asing dengan wanita itu, itu tidak lain karena garis wajahnya yang sangat mirip dengan Evan.
***
Sedangkan di rumah sakit. Evan dan Caroline tampak tengah mengobrol berdua setelah Liam tertidur.
"Maaf sudah membuat anda seperti ini. Dan terimakasih sudah menolong anak saya," ucap Evan tulus.
"Tidak apa-apa, saya senang bisa menolongnya. Tidak apa-apa," tutur Caroline berusaha keras menahan tangis harunya karena akhirnya dia bisa berbicara dengan putranya setelah sekian lama.
"Pasti liburan anda terganggu, apalagi kaki anda juga terluka karena kejadian ini," tutur Evan tidak enak hati.
"Oh, tidak. Saya benar-benar tidak apa-apa. Saya malah bersyukur bisa menolongnya tepat waktu," tutur Caroline dengan mata berkaca-kaca. Evan menatap Caroline, entah kenapa jantungnya berdetak cepat saat menatap Caroline. Seperti ada sebuah ikatan yang ia rasakan dan seolah-olah dia merasa tidak asing dengan sosok Caroline.
"Anda baik sekali. Sekali lagi terimakasih," ucap Evan lembut. Caroline yang melihat tatapan lembut itu seketika tak dapat menahan bendungan air matanya. Dia pun sontak menangis.
"Maaf, saya jadi teringat kepada anak saya saat melihat kamu. Kamu seumuran dengannya dan ... Seperti dia," terang Caroline.
Evan terdiam merasa tidak enak karena merasa membuat Caroline menangis.
"Maaf saya tidak bermaksud ....," ucapan Evan terpotong.
"Bukan, ini bukan salah kamu," timpal Caroline cepat. Evan tersenyum dan di balas Caroline dengan senyuman hangat. Evan merasakan getaran aneh di hatinya saat mereka saling tatap dengan cepat ia segera mengalihkan pandangannya dan pura-pura membenahi selimut putranya yang tengah terlelap.
Setelah berbincang-bincang sebentar akhirnya Evan meninggalkan Caroline yang sudah ikut tertidur bersama Liam. Evan keluar kamar perawatan tersebut untuk mencari udara segar di taman yang tidak jauh dari sana.
BERSAMBUNG...
__ADS_1