
Evan sampai rumah sudah jam 1 dini hari. Saat dia pulang, dengan cepat pintunya di bukakan oleh ayah dan ibunya.
"Kok, jam segini baru pulang?!" tanya ibunya yang tampak khawatir.
"Tadi ada banyak kerjaan," ucap Evan singkat dan segera masuk untuk beristirahat. Evan benar-benar sudah sangat capek, hingga dia langsung menuju lantai atas kamarnya tanpa sempat menyapa ibu dan ayahnya lagi.
Ayah dan ibunya tidak tega pada Evan yang bekerja sampai selarut ini. Melihat Evan melangkah gontai menaiki anak tangga menuju kamarnya itu membuat mereka semakin khawatir.
"Dia pasti capek," gumam Rima. Wisnu mengelus pundak istrinya yang tampak khawatir itu.
"Sudah, lah. Namanya juga kerja. Mana ada yang enak, Mi" ucap Wisnu seraya tersenyum ke arah istrinya dan di sambut dengan sandaran manja oleh Rima.
***
Pagi itu Evan bangun dengan bunyi alarm handphone nya. Dia masih sangat mengantuk, tapi dia harus siap-siap berangkat kerja sekarang atau dia akan terlambat. Dia memaksa langkah kakinya ke kamar mandi dengan mata yang masih terpejam, hingga dia menabrak pintu kamar mandi. Dia segera tersadar tapi kembali mengantuk lagi.
Selesai mandi Evan sudah lumayan segar tapi masih merasa mengantuk. Dia ke meja makan dengan gontai. Tama melihat Evan datang dalam keadaan tidak segar itu hanya tersenyum sambil memakan rotinya.
"Kerja itu harus semangat," goda Tama. Evan seketika segar matanya menatap tajam kearah Tama.
"Kurang semangat apa lagi sih akunya, mas Tam?! Pulang jam 1 malam," seru Evan kesal.
"Ya ampun, baru juga kerja udah di ajak lembur! Asal ada bonus nya aja," ucap Tama lagi.
"Boro-boro bonus. Nggak di kerjain lagi aja udah syukur," gumam Evan sambil memakan sarapannya.
"Kok di kerjain?! Kamu biasanya paling ahli ngadapin yang kayak gitu. Kenapa sekarang malah kena?!" tanya Tama.
"Anak yang punya perusahaan mantan tunangannya Aluna," ucap Evan masih kesal dan meminum susu hangat buatan ibunya itu. "Salah pilih tempat kerja aku, mas. Pengen keluar, tapi udah terikat kontrak," ucap Evan lesu.
__ADS_1
"Cobaan hidup kamu memang lagi di grafik tertinggi deh kayaknya" goda Tama geleng-geleng kepala seraya terkekeh. Evan hanya diam mendengarnya.
***
Sesampainya di kantor Evan langsung duduk di kursinya dan kepalanya langsung roboh di atas meja kerjanya, dia pun kembali tertidur lagi. Hingga Ari yang baru datang mengagetkannya dengan menggebrak meja Evan dengan keras.
"Woi! Udah siang," teriak Ari dan Dodi hanya tertawa melihat reaksi Evan yang segera bangkit dengan mata yang masih separuh terpejam.
"Udah! Kasian dia habis di kerjain sama pak Soni kemarin," ucap Dodi seraya duduk di kursi kerjanya. "Gimana?! selesai?!" tanya Dodi lagi. Evan hanya mengangguk.
"Gue nyeleseinnya sampe jam 12 malam. Nyampe rumah jam 1 lewat. Jam 6 gue bangun lagi. Kepala sakit gara-gara kurang tidur," keluh Evan.
"Gila! Itu kerjaan dia 2 minggu. Biasanya kita ber 5 yang ngerjain. 3 hari baru selesai. Ini lo raper 1 hari, selesai?!" gumam Ari tidak percaya. "Wah! Skill dewa, lo! Hebat, hebat!" puji Ari lagi seraya tepuk tangan.
"Kasian kawan kita satu ini. Biarin deh dia libur hari ini. Tugas lo kita yang ngerjain," ucap Dodi seraya tersenyum. Evan pun tersenyum seraya mengangguk dan mengangkat tangannya tanda terima kasih dengan posisi masih terbaring di mejanya.
"Dia datang lagi nggak sih hari ini?!" tanya Evan masih dengan mata terpejam.
Baru juga Ari selesai bicara Soni beneran datang. Bahkan sepagi ini dia sudah datang.
"Gila ... Van ... Dia beneran rajin jadinya sekarang!" seru Dodi seraya menepuk pundak Evan yang membuat Evan terbangun dan menatap kedatangan Soni dengan gaya parlentenya beserta dengan kaca mata hitamnya di pagi hari.
"Haaahhhh.... Beneran saiko!" keluh Evan lemas dan kembali tertidur di mejanya, dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk peduli dengan tingkah Soni.
"Tenang, Van. Kita akan bantu lo," ucap Dodi memihak Evan, sedangkan Evan sudah tertidur di meja kerjanya.
***
Soni segera ke ruangannya, dia segera mengecek pekerjaan Evan yang sudah tertumpuk dengan rapi di atas meja.
__ADS_1
"Hebat juga dia. Selesai dalam waktu semalam," ucap Soni seraya tersenyum. "Tapi ... Kalo dia sehebat ini, kenapa dia nggak kerja di tempat mertuanya saja. Kenapa dia pilih kerja di tempat lain. Apa hubungannya dengan Aluna sedang tidak baik?!" gumam Soni seorang diri. "Kalau mereka sedang bertengkar dan berencana untuk pisah. Aku akan masuk, dan memuluskan perpisahan mereka," ucap Soni girang.
Soni mengambil handphone nya mencoba menghubungi Aluna. Dia mencoba menghubungi Aluna berkali-kali tapi tidak diangkat.
***
Di lain sisi, Aluna tengah duduk sendirian di kamarnya yang terasa berbeda semenjak Evan pergi. Dia menatap meja di mana Evan biasanya bekerja. Sekarang meja itu kosong tidak ada apa-apa lagi di sana. Aluna beralih pandang ke sampingnya. Dia biasanya akan mendengar ******* Evan saat baru bangun tidur atau mengigau saat tidur. Sekarang kebiasaan itu sudah tidak ada lagi. Rumahnya sekarang benar-benar kosong, apa lagi ayah dan bibi nya jarang di rumah.
Tiba-tiba Aluna mendengar handphone nya berdering. Dia menoleh ke layar handphone nya yang berada di atas ranjang di sampingnya. Tertera nama "SONI" Aluna membiarkan handphone nya berdering hingga berhenti sendiri.
Aluna kembali merasa tenang, tapi tidak begitu lama handphone nya kembali berdering, hingga beberapa kali. Lelah di ganggu akhirnya Aluna mengangkatnya dengan kesal.
"Ngapain?!" seru Aluna tidak suka.
"Jangan marah dulu, donk. Aku punya info penting nih buat kamu. Berita heboh dan mengejutkan," ucap Soni memancing rasa penasaran Aluna.
"Langsung aja, nggak usah bertele-tele," ucap Aluna yang malas melayani obrolan Soni.
"Ok, kamu tau nggak? Suami kamu itu sekarang kerja di tempat aku. Hahaha... Sebagai bawahan Aku lagi," ucap Soni dengan senyum puas, Aluna memicingkan matanya tidak yakin, dengan apa yang barusan di dengarnya. "Hebat kan?!" seru Soni lagi.
"Lo ngomong apa?!" ucap Aluna cuek dengan yang ia di dengar barusan.
"Iya, Lun. Suami tercinta kamu, kerja di perusahaan aku. Aku nggak tau apa alasannya, yang jelas, dia kerja di sini sekarang," ucap Soni seraya tersenyum senang.
Aluna mulai berfikir dan ambil serius dengan ucapan Soni barusan, kedengarannya Soni berkata jujur kali ini.
"Datang saja waktu dia makan siang, jam 12 ini, kamu akan lihat, Lun. Suamimu itu sangat cekatan dalam bekerja, bahkan semalam dia habis lembur di kantor ku," ucap Soni memanasi Aluna lagi.
"Kamu apain Evan?!" tanya Aluna yang terdengar ada guratan kekesalannya, saat mendengar Evan di kerjai Soni.
__ADS_1
"Loh! Namanya juga kerja. Ya, wajarkan kalo aku suruh dia kerja. Apa lagi aku atasannya, jadi wajar kalo ngasih dia kerjaan," ucap Soni seraya menahan tawanya dari seberang sana. Aluna segera mematikan sambungan telfonnya, ia meremas sprainya kesal matanya tajam menatap. Dia tidak akan terima jika sampai Soni mengganggu Evan. Entah kenapa walau dia membenci Evan, tapi dia tetap tidak ingin jika Evan di sakiti orang lain. Apalagi oleh Soni.
BERSAMBUNG...