PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
PERGI DARI SINI


__ADS_3

Malamnya Evan kembali ke kediaman Aluna, tepat saat semua barang-barangnya berhamburan di rumah. Tampak beberapa barangnya lagi berterbangan dari lantai atas, Evan mendongak ke atas. Ternyata Aluna tengah membuang semua barang-barangnya. Evan berlari kelantai atas, Evan tampak mulai kesal dan merasa ini sudah keterlaluan. Dia tau Aluna marah, tapi apa perlu sampai begini.


Evan berjalan cepat ke atas dan menghampiri Aluna dengan tatapan kesal.


"Aku tidak suka barang-barangku di perlakukan buruk seperti itu. Aku mendapatkannya dengan bekerja keras," hardik Evan tajam pada Aluna. Sontak itu membuat Aluna takut, melihat Evan benar-benar marah padanya. "Kamu mau aku pergi?! Baik. Aku akan pergi," ucap Evan lalu pergi ke kamarnya dan mulai mengambil koper miliknya. Dan memasukkan barang-barangnya dengan kasar ke dalam koper tersebut.


Aluna menatap Evan yang tengah berkemas. Entah apa yang ia rasakan saat ini, yang jelas dia sangat-sangat tak menyukai Evan saat ini. Setelah terpaku beberapa saat akhirnya Aluna pun pergi membiarkan Evan berkemas-kemas seorang diri di kamar.


Para pelayan mulai panik tidak tau apa yang harus mereka lakukan, seandainya Evan benar-benar pergi apa yang harus mereka katakan kepada ayah dan bibi Aluna. Ayah Aluna tengah keluar negeri begitu juga Marissa.


"Tuan, jangan pergi. Nona Aluna pasti hanya sedang emosi saja. Jangan beneran pergi tuan," bujuk salah satu pelayan tersebut dan di sambut anggukan oleh yang lain. Tapi Evan tidak perduli, ia tetap mengemasi barang-barangnya.


Selesai berkemas Evan pun memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil. Dan segera melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Aluna.


Aluna menatap kepergian Evan dari jendela lantai atas. Ia menatap kepergian Evan hingga hilang di balik pintu gerbang. Ada gurat kesedihan di hatinya, sekarang dia benar-benar sendirian setelah Evan pergi meninggalkan Nya. Terbersit rasa luka juga di hatinya. Ia kembali menyeka air matanya untuk kesekian kalinya. Dia benar-benar lelah dengan keadaan ini.


***


Sesampainya di rumah, Rima kaget melihat Evan pulang, dalam keadaan yang terlihat tidak begitu baik dengan menyeret koper besar milik Nya. Ibunya segera mengikuti Evan ke lantai atas.


"Koper apa ini?!" tanya ibunya kepada Evan terhadap koper yang baru saja Evan bawa yang sekarang tengah terenggak begitu saja di kamarnya. Sedangkan Evan tengah duduk dengan tatapan yang terlihat kesal dan kusut di atas ranjangnya. Dia benar-benar berantakan saat ini. Rima perlahan duduk di samping Evan dan seolah ingin bertanya apa yang sudah terjadi.


"Mulai sekarang aku nggak mau tinggal di sana lagi. Aluna sudah keterlaluan. Aku nggak kuat ngadepinnya lagi," gerutu Evan dengan nafas tak beraturan menahan sesak di dadanya. Ibunya masih tidak paham duduk perkaranya. Tadi dia memang meminta Evan untuk pulang ke kediaman Aluna, tapi Evan malah kembali dalam keadaan seperti ini.


"Ini ada apa?!" tanya Rima mencoba memahami dengan apa yang tengah terjadi antara Evan dan Aluna.


"Aluna buang semua barang-barang aku tadi di rumah. Dia ingin aku pergi. Dia benar-benar udah keterlaluan. Jangan mintak aku buat balik lagi ke sana, Mih. Kalo Mami keberatan aku tinggal di sini, aku bisa cari tempat lain besok," Evan menatap Rima dengan tatapan memohon untuk Rima bisa memahami keadaannya saat ini.


"Loh, kok ngomong gitu?! Mami minta kamu balik ke sana, karena kamu suami Aluna. Tapi kalo dia usir kamu kayak gini! Ya udah, kamu tinggal di sini saja. Mami nggak keberatan sama sekali," ucap ibunya penuh pengertian seraya mengusap lembut bahu Evan.


"Aku bingung sama dia. Kalo memang masalah anak kita! Apa wajar dia marah sampai kayak gini?" ucap Evan masih bingung dengan kemarahan Aluna. "Aku juga nggak mau kehilangan anak aku. Orang gila mana yang mau anaknya meninggal. Dia bersikap seolah-olah aku nggak peduli sama semuanya," ungkap Evan masih terlihat belum tenang.

__ADS_1


"Ya udah kamu jangan marah-marah juga. Nanti kita omongin sama daddy nya Aluna. Kamu tenang, kalo semua pihak marah-marah, nggak akan ketemu pokok permasalahannya," ucap Rima menenangkan. Evan pun mencoba untuk mengendalikan dirinya.


...***...


Di sisi Lain di kediaman Richard. Tampak Richard tengah membujuk Aluna putri kesayangannya. Setelah kembali dari perjalanan bisnisnya, dia segera menemui Aluna di kamarnya dan mendekati Aluna perlahan bersama Marissa.


"Ada apa, Luna? Kenapa kamu seperti itu sama Evan," tanya Marissa pelan seraya mengelus lembut rambut panjang Aluna. Aluna masih menangis duduk di ranjangnya dengan posisi lutut yang ia lipat hingga menyentuh dagunya. Matanya tampak sembab dan tak henti-hentinya menangis.


"Luna benci sama Evan Aunty. Jangan paksa Luna terima Evan lagi. Dia jahat, dia jahat sama Luna dan anak Luna," isak Luna terlihat masih keras. Marissa dan Richard saling pandang.


"Apa yang sebenarnya terjadi di Bali antara kamu sama Evan, sayang?" tanya Richard mulai mencurigai sesuatu.


Aluna menatap auntynya dan ayahnya secara bergantian sebelum ia menceritakan semuanya secara detail dan mengakui semuanya. Richard dan Marissa tercenung mendengarnya. Sepertinya Aluna benar-benar mengalami sindrom Stockholm selama ini. Dan sekarang simpatinya terhadap Evan seolah hilang di karenakan meninggalnya anak mereka.


"Tapi Daddy yakin kalau kamu benar-benar mencintai Evan. Jangan pungkuri itu. Nanti kamu menyesal," ungkap Richard masih mencoba membujuk Aluna.


"Nggak akan!" pungkas Aluna tegas seraya menyeka air matanya.


***


"Pah, pulang sekarang. Evan sama Aluna bertengkar lagi. Kali ini kayaknya mereka serius," ucap Rima mengabari melalui sambungan telfon.


...***...


Tidak lama ayah Evan pun pulang. Di sambut Rima dengan panik.


"Evan pulang bawak semua barang-barangnya. Di ajak ngomong pun susah dianya, di tanya macem-macem malah Mami di tuduhnya nggak suka dia tinggal di sini. Jadinya ngeri Mami mau nanyanya gimana. Itu baru tenang dianya, udah tidur sekarang. Coba kamu cek Aluna, gih. Ajak Richard ngomong, cari tau apa permasalahannya. Ini sebelum kemana-mana lagi permasalahannya, mending kita juga ikut bantu nyeleseinnya, Aluna sama Evan sekarang udah sama-sama keras," terang Rima.


"Iya, nanti aku hubungin Richard. Aku liat Evan dulu," ucap ayahnya, lalu pergi menemui Evan ke kamarnya.


Di kamar tampak Evan sedang tertidur pulas. Wisnu mendekatinya pelan. Dia melihat koper Evan di sudut ruangan dengan beberapa tas lainnya yang masih belum di bukanya. Ayahnya menarik nafas panjang dan melepaskannya.

__ADS_1


Dia mendekati putranya, melihat wajah polos itu tengah tertidur. Dia kasihan kepada putranya, dari kecil dia menjalani hidupnya dengan tidak mudah. Saat sudah menikah pun dia sepertinya masih di uji kesabarannya. Entah kapan Evan bisa mendapatkan hidup yang tenang.


...***...


Malam itu ayah Aluna menemui keluarga Evan di rumah Evan. Mereka mengobrol di ruang kerja Wisnu. Agar lebih terjaga privasinya.


"Sepertinya benar dugaan kami. Saat Aluna hamil, Aluna mengalami sindrom Stockholm. Itu sejenis sindrom yang membuat korban bersimpati kepada pelakunya. Aku tau Evan benar-benar memperkosa Aluna waktu itu, tapi entah kenapa tiba-tiba Aluna bersikeras ingin menikah dengan Evan, dan menutup-nutupi kebenarannya. Bahkan ia sampai ingin kabur bersama Evan. Padahal dia menikah dengan Evan pun dalam keadaan trauma kepada Evan. Sahabatnya Dea dan Silvi yang cerita. Dan setelah dia melahirkan, sindrom itu hilang. Dengan kejadian lahiran kemarin membuat simpatinya hilang terhadap Evan. Sekarang saya minta pengertian kalian untuk memberi waktu kepada Aluna," ucap Richard.


" Jadi... Kita biarkan saja mereka seperti ini?!" tanya Wisnu.


"Kita lihat saja mereka mau nya bagaimana dulu. Kita tidak bisa memaksakan sekarang. Aluna sedang tidak bisa di ajak bicara saat ini. Aku takut dia akan membuat Evan lebih sakit hati lagi nantinya. Jika memang mereka punya cinta, mereka akan menemukan jalan untuk bersama, tapi jika tidak. Kita tidak bisa memaksanya," ucap Richard yang membuat Wisnu agak keberatan.


"Aku yakin mereka saling mencintai Richard. Evan tidak pernah seperti itu dengan wanita. Dia selalu tidak begitu peduli dengan perempuan. Hanya Aluna yang bisa membuat dia bersikap hangat dengan wanita. Kamu tau?!Dia sering bersikap kasar dalam menolak perempuan. Tapi Aluna tidak pernah di tolaknya, bahkan dia berani memeluk Aluna di hadapan kita semua. Menyambut Aluna dengan hangat," ucap Rima. "Richard, jangan biarkan mereka berpisah," ucap Rima penuh berharap.


"Aku juga ingin Evan yang menjadi menantuku. Aku tidak pernah melihat laki-laki setulus Evan. Tapi Wisnu, ini pernikahan mereka. Kita tidak bisa memaksakan. Aku juga akan berusaha menyatukan mereka kembali, tapi akhirnya semua keputusan ada kepada mereka berdua," ucap Richard.


Wisnu tidak bisa berkata-kata lagi. Dia sangat ingin Evan bahagia, tapi entah kenapa itu sulit sekali di dapatkan oleh Evan. Wisnu tertunduk lesu. Dia menarik nafas panjang dan melepaskannya.


"Dari kecil dia selalu berjuang untuk hidupnya, sekarang pun dia harus berjuang untuk pernikahannya," ucap Wisnu sedih.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua, Wisnu. Mereka berdua itu masih muda juga, masih banyak ego yang harus mereka kalah kan," ucap Richard.


***


Sudah hampir 1 bulan Evan tinggal di rumah orang tuanya tanpa komunikasi antara dia dan Aluna. Sekarang dia tengah menunggu panggilan kerja di perusahaan yang cukup besar. Dia tidak ingin bekerja di perusahaan ayahnya dan juga menolak tawaran Richard untuk bekerja di perusahaannya. Dia mencoba lepas dari bayang-bayang orang tuanya, dia ingin berusaha sendiri. Dan menata hidupnya kembali dari nol.


Suatu hari Evan menerima telpon dari perusahaan tersebut. Dia di beritahu bahwa dia di terima di sana. Evan sangat senang mendengar berita itu. Dia segera menemui ibunya.


"Mih, aku di Terima," ucap Evan kegirangan. Rima pun ikut senang mendengarnya.


Setidaknya Evan punya kesibukan sekarang. Entah sampai kapan Evan dan Aluna begini. Aluna dan Evan sama-sama keras kepala. Mereka masih belum bisa di ajak bicara.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2