
Siang itu Brian segera menemui Alice di tempat kerjanya. Sekarang Alice bekerja di salah satu restoran sebagai Waiter di sana. Setelah ayahnya meninggal karena sakit dan di perburuk dengan keadaan perusahaannya yang bangkrut. Alice harus banting tulang mencari uang untuk sekedar makan dan kebutuhan sehari-hari nya. Dia dan ibunya bekerja keras juga untuk uang kuliah adiknya. Alice tidak mau adiknya putus sekolah, hingga dia berjanji untuk bekerja keras asal adiknya bisa melanjutkan kuliahnya.
Brian menatap Alice dari kejauhan. Betapa dia sudah sangat jahat membiarkan Alice melalui ini sendirian. Seandainya waktu dapat di putar, ia akan berikan waktu untuk Alice menjelaskannya dan mendengarkannya. Sayangnya dulu dia terlalu terbawa emosi, hingga dia tidak mau mendengarkan penjelasan Alice. Sekarang dia sangat menyesali perbuatannya itu.
Brian memutuskan untuk menunggu Alice sampai pulang saja, karena dia tidak ingin mengganggu Alice bekerja.
***
Di sisi lain Evan harus gelagapan menanggapi tuduhan 2 keluarga padanya. Dia sudah menjadi penjahat besar di mata keluarganya sekarang. Ayahnya mengomelinya dan mertuanya tidak kalah marahnya. Aluna menangis tidak henti-hentinya, Tama diam tidak dapat berbuat Apa-apa. Tama sebenarnya juga tak kalah kesalnya.
Sekarang Evan sudah seperti anak terbuang yang tidak di izinkan mendekati Aluna lagi. Semua orang kesal dan kecewa padanya. Brian malah sibuk dengan urusannya sendiri.
"Selamat Brian, lo sukses besar bikin semuanya berantakan. Brengsek si Brian," rutuk Evan di luar kamar Aluna di rawat seraya bersandar pada tembok putih rumah sakit. Dia tidak boleh masuk, pintu pun di tutup rapat untuknya. Evan hanya bisa duduk di bangku di luar ruangan Aluna di rawat. Dia duduk termenung beberapa di bangku tersebut hingga akhirnya ia pun beranjak pergi.
***
__ADS_1
Jamia tidak kalah tragisnya, dia di diami umi dan abinya. Dia bahkan tidak di perdulikan saat sakit begini. Jamia hanya bisa menangis, dia lelah menjelaskan kepada semua orang bahwa dia tidak punya hubungan Apa-apa terhadap Evan. Dia sudah berteriak untuk di tes keperawanannya saja, jika memang semua orang tidak percaya. Tapi tetap tidak ada yang percaya. Kecuali Malik tunangannya. Karena dia kenal dengan tabiat Jamia, dan dia yakin Jamia wanita soleha yang tidak mungkin melakukan itu.
"Sudah lah, Jamia. Apapun yang terjadi aku tetap menyayangimu. Aku mencintaimu ikhlas lillahita'ala. InsyaAllah jodohku akan seakhlak dengan ku. Kalau aku orang baik, maka akan baik pula istriku. Jika aku orang yang buruk, tentu buruk pula istriku. Aku tidak perduli apapun yang terjadi, aku akan tetap menginginkanmu menjadi istriku, Jamia. Karena aku yakin kau wanita yang baik," ucap Malik tulus. Itu membuat Jamia terharu.
Ternyata Allah sangat baik padanya, dengan mengirimkan seorang laki-laki tulus seperti Malik. Itu berlahan menyadarkan Jamia bahwa dia harus selalu setia menjaga perasaannya terhadap Malik. Dia tidak pantas selalu merindukan Evan, sedangkan Allah telah menggantikannya dengan lelaki sebaik Malik. Sontak Jamia menangis mendengar perkataan Malik itu. Dia berjanji mulai sekarang hanya ada Malik di hatinya, Evan cukuplah menjadi kakak baginya.
***
Brian masih menunggu Alice, hari sudah menunjukkan pukul 22.12 Wib. Tampak Alice bersiap akan pulang, dia terlihat sedang mengobrol dengan temannya dan akhirnya dia menuju ke parkiran motor maticnya tepat saat Brian juga berdiri di sana. Alice terpaku menatap Brian yang tengah berdiri di hadapannya.
Brian menatap Alice yang tatapan terharu. Ingin rasanya dia segera memeluk Alice. Tapi saat dia mencoba mendekati Alice, Alice mundur seolah tidak ingin di dekati.
"Jangan!" gumam Alice, membuat Brian menghentikan langkahnya. "kenapa kau datang lagi, Brian?" gumam Alice masih berdiri dengan air mata yang tidak sanggup ia bendung.
"Aku sudah mendengarkan semuanya. Aku minta maaf karena saat itu aku tidak mendengarkan mu. Aku pergi meninggalkanmu di saat kau membutuhkanku. Sungguh Alice aku menyesal. Seandainya aku mendengarkanmu saat itu pasti kita tidak perlu kehilangan segalanya," ucap Brian yang juga ikutan menangis. "termasuk kehilangan anak kita," lanjutnya. Yang membuat Alice menatapnya.
__ADS_1
"Kau membuat aku kehilangan segalanya, Brian. Kau meninggalkanku sendirian menghadapi ini semua," ucap Alice mulai histeris.
"Aku tau aku salah, Alice. Aku ingin memperbaikinya. Alice beri aku kesempatan satu kali lagi. Aku janji kali ini aku jadi yang terbaik untuk kamu. Aku akan mendengarkan ucapan mu. Dan aku akan segera menikahi mu dan membawa pergi dari ini semua," bujuk Brian meyakinkan. "Alice... Tidak ada detik yang aku lalui tanpa merindukanmu. Aku mengikuti mu selama ini, karena aku takut kehilanganmu. Tapi aku tidak mampu mengatakannya karena aku telah salah menilai mu," ucap Brian lagi berusaha membujuk Alice.
Brian menceritakan tentang Evan yang dia temui, dan awal kesalah pahaman nya, serta tentang aborsi yang Alice lakukan. Juga tentang alasan dia membawa kabur uang keluarga Alice sebelum ia pergi meninggalkan Alice.
Sekarang Alice paham apa yang terjadi di masa lalu.
"Jadi kamu pikir itu anak laki-laki yang aku temui di Hawai itu? Apa kau gila? Aku bahkan tidak tau nama laki-laki itu. Dia hanya orang yang kebetulan aku temui. Dia ramah dan baik. Karena itu aku bersamanya di Hawai, apa lagi dia sama-sama dari Jakarta. Dia sangat sopan dan hangat, itu membuat aku bercerita banyak tentang masalah kita hari itu. Karena aku orang yang mudah melupakan wajah orang yang baru aku kenal, jadi aku meminta dia untuk berfoto bersamaku... Itu saja, tidak lebih, " terang Alice. "Kenapa kau tidak pernah bertanya kepadaku? Kau selalu mengambil keputusanmu sendiri. Kenapa kau memandangku serendah itu Brian?" Alice mulai terisak. Kesal dengan semua yang telah terjadi di hidupnya dalam beberapa tahun ini. Ternyata bersumber dari sebuah kesalahpahaman semata. "Setelah aku kehilangan ayah, juga semua harta kami. Semua orang menjauhi kami seperti penyakit. Padahal dulu mereka mendekati kami dan seolah-olah seperti penjilat. Kau tau bagaimana rasanya di tolak oleh orang-orang yang selama ini kau bantu? Sangat menyakitkan. ITU YANG AKU RASAKAN, BRIAN," teriak Alice histeris dan tangisnya pun pecah. Brian mencoba mendekati Alice lagi dengan ragu, dia takut di tolak Alice lagi. Saat Alice terlihat tidak menolak, dia mencoba memeluk Alice. Dan kali ini Alice tidak menolaknya. "Ibuku sakit. Adikku butuh biaya untuk kuliah. Aku rasanya ingin bunuh diri saja, Brian," isak Alice di pelukan Brian. Brian mendengarnya dengan hati teriris. Ternyata yang dia lakukan dulu berakibat sangat besar bagi keluarga Alice.
Ouwh.... Waktu. Seandainya bisa di putar mungkin banyak hal yang akan Brian rubah. Seandainya waktu itu di ulang, ia akan mendengarkan Alice. Bodohnya dia membiarkan semua ini menjadi kesalahpahaman yang besar.
"Alice... Aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi. Aku mencintaimu, Alice. Aku sangat mencintaimu....," ucap Brian bersungguh-sungguh. Alice pun membalas pelukan Brian. Mungkin ia harus memulai lagi dengan Brian.
BERSAMBUNG...
__ADS_1