PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
Akan Sempurna Pada Waktunya


__ADS_3

Hari ini kepulangan Caroline ke negara asalnya.


"Kamu yakin nggak mau antar, sayang?" tanya Aluna sekali lagi berharap Evan mau berubah pikiran. "Nanti kamu nyesal, sayang," tutur Aluna seraya membenahi dasi suaminya yang akan bersiap berangkat kerja. Evan tak menjawabnya. Di terlihat dingin dan tampak ada guratan tak suka padanya saat ini. Aluna tidak berani lagi bertanya. Dia hanya menatap kepergian suaminya yang tanpa mengecup keningnya seperti biasa. Evan pergi begitu saja. Aluna tertunduk, begitu keras hati Evan.


***


Akhirnya Aluna mengantarkan kepergian ibu mertuanya itu sendirian bersama ke tiga anaknya, Rima, Wisnu dan Tama sekeluarga.


Masih ada 30 menit lagi dari waktu keberangkatannya. Mereka menyempatkan untuk mengobrol sebentar di sebuah Cafe yang ada di dekat bandara tersebut.


"Maaf, buk. Sampai sekarang Evan masih keras tidak mau datang. Aku harap ibuk nggak marah, ya. Dia memang keras kalo marah," tutur Aluna meras bersalah. Caroline tersenyum dan menggenggam tangan Aluna. Sesaat Aluna mendongakkan wajahnya menatap senyuman hangat Caroline.


"Tidak apa-apa Aluna. Ini juga sudah cukup. Ibuk sudah lihat bagaimana dia sekarang. Dia sudah sukses dan memiliki rumah tangga yang bahagia, anak-anak yang lucu menggemaskan dan pintar seperti ini. Ini sudah cukup, nak," tuturnya seraya tersenyum. Aluna pun segera memeluk ibu mertua nya itu.


"Seandainya Evan tidak sekeras ini, buk," tutur Aluna sedih dengan air mata yang tumpah tak tertahankan lagi. Air mata itu segera membasahi wajah cantiknya.


Tangan Caroline terangkat untuk mengelus bahu menantu cantiknya itu. Sampai akhirnya ia mengurai pelukannya dan menatap Aluna dalam.


"Jaga Evan. Ibuk titip dia sama kamu." Aluna mengangguk keras. Mereka berdua pun kembali menangis, begitu pula yang lain.


Diam-diam aluna mencoba menghubungi Evan. Di mengirim chat kepada Evan.


"Van, ibumu akan berangkat 1 jam lagi. Mau kamu tolak sekeras apapun dia tetap ibumu, Van. Bukannya kamu bisa memaafkan mami dan papa, lalu kenapa kamu tidak bisa memaafkan dia. Dia tidak meminta apapun, Van. Dia hanya ingin bertemu putranya dan memeluknya untuk meminta maaf. Sayang, ayolah demi aku dan anak-anak kita, agar mereka dapat belajar dari ayahnya tentang memaafkan." Aluna mengirimkan pesan tersebut. Sesaat ada 2 centang biru di pesan tersebut yang menandakan bahwa pesan tersebut sudah terbaca.


***


Di sisi lain tampak Evan yang tengah memimpin rapatnya. Tiba-tiba handphone Evan berdering tanda pesan masuk. evan segera membukanya dan menerima pesan dari Aluna. Sesaat Evan tercenung menerima pesan tersebut. Tatapan nya kosong menatap jiwanya seperti di tempat lain setelah ia menerima pesan Aluna.


Dia mulai memikirkan sesuatu. Dia mendesah nafasnya kasar memejamkan matanya sesaat. Dan... Tiba-tiba ia berdiri. Mata semua orang kini tertuju padanya. Termasuk salah seorang manajer yang kini tengah menjelaskan laporan grafik perusahaan pun menghentikan penjelasan nya.


"Kalian silahkan lanjutkan rapatnya. Saya ada urusan. Permisi," ungkap Evan tiba-tiba membuat mata semua orang terperangah dengan kepergian Evan tiba-tiba meninggalkan rapat yang tengah berlangsung.


***

__ADS_1


Evan dengan terburu-buru segera menuju tempat parkir dan memacu mobilnya cepat berharap dia tidak terlambat. Berkali-kali dia menekan klakson mobil nya untuk bisa memecahkan kemacetan. Setiap detik waktunya sekarang sangat menentukan baginya.


Evan begitu frustasi dengan kemacetan ini. Berkali-kali ia menekan klakson dan memukul stirnya. Seketika rasa takut merayap di hatinya, ia sangat takut datang terlambat menemui ibunya. Ia tidak ingin menyakiti ibunya di saat kepergian nya. Ia ingin memperbaikinya sekarang.


***


Akhirnya mobil nya berhasil sampai di bandara. Tapi dia masih tidak tahu apa dia terlambat atau tidak. Dia segera merogoh saku celananya mengambil ponselnya. Lalu mulai melakukan panggilan.


***


Aluna kaget saat melihat panggilan dari Evan, padahal tadi dia mengatakan sedang ada rapat dan tidak mau di ganggu.


"Ya, sayang," sahut Aluna.


"Dimana kalian?"tanya Evan yang baru turun dari mobilnya.


"Ada di dalam. Ini lagi nunggu pesawat take off sebentar lagi," jawab aluna bingung. Tidak lama terdengar panggilan telah di putuskan dari pihak Evan.


"Evan. Dia nanya, kita lagi dimana," terang Aluna dengan wajah polosnya. Wisnu tersenyum mendengarnya. Dia segera memandang Caroline.


"Tunggu Caroline. Dia akan datang," gumam Wisnu menatap Caroline. Seketika Caroline menutup mulutnya tidak percaya sebuah senyum bahagia terukir di bibirnya dengan wajah yang berbinar terharu .


"Hey...," seru seseorang membuat semua orang menoleh ke sumber suara. Tampak seorang pria tampan yang memang sudah ditunggu sedari tadi. Caroline pun segera menoleh. Dia menatap putranya dengan mata berkaca-kaca, sedangkan Evan tampak terengah-engah karena dia berlari menuju ke sana tadi.


Evan tampak masih mengatur nafasnya.


"Dimana gelang itu?" tanya Evan masih dalam keadaan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Dia mengulurkan tangannya yang langsung di sambut Caroline dengan pelukan. Ia menabrak tubuh Evan cukup keras hingga membuat Evan memundurkan tubuhnya satu langkah. Lalu ia tersenyum dan tangannya pun terangkat membalas pelukan sang ibu padanya. Terasa begitu hangat pelukan itu bagi keduanya. Mereka mempererat pelukannya, semua orang pun tersenyum.


Sesaat kemudian ia mengurai pelukan mereka. Tampak semua orang yang tengah terharu melihat adegan di depan mata mereka.


"Mana gelang itu?" tanya Evan sekali lagi. Carolin segera menyeka air matanya dan merogoh cepat tas miliknya mencari gelang yang pernah ia berikan pada Aluna tempo hari. Lalu ia menyerahkan gelang tersebut kepada Evan. Evan tersenyum lalu menghampiri Aluna dan meraih tangan Aluna seraya memasangkan kembali gelang itu ke tangan Aluna. Aluna menutup mulutnya tidak percaya beriringan dengan air mata harunya yang terus mengalir. Setelah selesai mengenakan gelang tersebut kepada Aluna, Aluna pun dengan cepat memeluk suaminya itu.


"Terimakasih, sayang," bisik Aluna, Evan pun tersenyum.

__ADS_1


Setelah itu Evan mengangkat tangan Aluna dan menatap Caroline.


"Sekarang kau punya sesuatu yang tertinggal di sini. Kembali lah, karena kau punya alasan untuk kembali," ucap Evan bergetar menahan tangis harunya. Caroline mengangguk cepat dan segera memeluk putra dan menantunya mencium mereka secara bergantian.


"Terimakasih," lirihnya haru kepada Evan dan Aluna. Mereka pun mengangguk.


Tidak lama terdengar panggilan keberangkatan pesawat yang akan di tumpangi Caroline. Ia pun segera berpamitan untuk kembali ke negara asalnya. Sekarang ia bisa pergi dengan hati yang tenang. Keinginannya untuk memeluk putranya sebentar saja sudah terpenuhi. Ia melambaikan tangannya hingga ia hilang di balik pintu kaca.


Tama menghampiri Evan seraya menepuk pelan bahu adiknya.


"Kamu hebat. Kamu pemenangnya. Mas bangga sama kamu," ucap Tama seraya mengacak rambut Evan seperti saat mereka masih kecil dulu. Itu membuat Evan kesal, pertengkaran kecil diantara mereka terjadi. Rima seketika menjadi geram melihat tingkah kedua putranya itu.


"Ini anak udah bapak-bapak masih juga kayak anak kecil," seru Rima memukul kedua putranya satu-satu hingga keduanya tertawa dan memeluk Rima bersamaan, yang lainpun ikut tertawa. Terutama Liam yang paling keras tawanya.


***


Beberapa hari kemudian. Di pagi hari di meja makan. Evan dan keluarga kecilnya tengah sarapan bersama. Dia mulai merasa aneh, karena sudah beberapa hari ini dia seperti kehilangan sesuatu.


"Kok si biang rusuh itu udah lama nggak kesini, ya?" tanya Evan kepada Aluna. Aluna paham yang di maksud Evan adalah Dea.


Aluna membuka ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto kepada Evan. Sesaat tawa Evan pun pecah.


"Oh, udah ada pawangnya? Kapan mereka akan nikah?" tanya Evan mengerti setelah melihat Dea memposting cincin lamarannya.


"Tunggu orang tuanya balik dulu katanya," terang Aluna. Evan mengangguk paham. Sekarang dia bisa bernafas lega, Dea tidak akan mengganggu momen kebersamaanya dan Aluna lagi. Tapi dia juga sedih, karena sebenarnya kehadiran Dea diantara mereka cukup menghibur mereka terutama bagi Liam dan Manuela.


"Minggu depan kita ke Mexico ke tempat nenek, ya," seru Evan tiba-tiba membuat semua berteriak gembira, terutama Aluna. Dia kaget tak menyangka. Akhirnya suaminya mau mengunjungi ibu kandungnya itu.


_________________________________________


Ingatlah selalu, darah lebih kental daripada air. 😊🙏


SELESAI...

__ADS_1


__ADS_2