
Siang itu Aluna datang ke perusahaan Soni karena penasaran dengan yang di katakan Soni. Dia pergi ke kafe yang berada dekat kantor tersebut yang sering dikunjungi para karyawan untuk makan siang. Aluna dengan dandanan cantiknya datang dengan menggunakan kaca mata hitamnya. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kafe. Dia mencari ke beberapa kafe terdekat di sana.
Sampai akhirnya dia menemukan sosok yang di carinya. Terlihat sosok pria tampan yang tampak mencolok dari yang lain, karena perawakan blasterannya dan postur tubuh jenjang yang agak kurus itu terlihat di mata Aluna. Aluna tersenyum melihatnya, pria itu selalu tampak menawan dari sisi mana pun di mata Aluna.
"Gampang banget nemuin dia. yang paling banyak temennya, yang paling heboh. Di situ ada dia. Suka banget orang-orang sama dia kayaknya," gumam Aluna seorang diri.
Tapi seperti sudah menduga Aluna akan datang, Soni pun segera ke kafe dekat kantornya, biasanya tempat para karyawannya paling favorit untuk makan siang.
Dia mencari sosok wanita cantik itu. Dia harus mencari tau apa Aluna dan Evan bertengkar atau baik-baik saja. Kalau mereka berdua bermasalah, maka saat itu lah Soni berencana untuk menggunakan ilmu tikungan tajamnya.
Benar dugaan Soni, Aluna terpancing untuk datang. Dia terlihat di sudut dengan kaca mata hitamnya dan topi floopynya. Seperti sedang bersembunyi tidak ingin terlihat. Tapi, tetap saja tidak akan ada yang bisa menyembunyikan kecantikan Aluna Jeanela dari kumbang liar seperti Soni. Bau harum dari kecantikan Aluna akan tetap memancing Soni untuk segera menemuinya dan menghampirinya.
Dengan tiba-tiba Soni langsung duduk di samping Aluna. Aluna kaget saat mendapati Soni, tiba-tiba Soni duduk di sampingnya, Soni menyeret kursi untuk dapat berdekatan dengan Aluna. Hingga ia bisa berdempetan dengan Aluna. Secara spontan Aluna mendorong Soni dengan Keras hingga terjatuh.
Melihat sosok Soni terjatuh, itu sontak mengundang perhatian dari lingkungan sekitar. Terutama Evan, dia menoleh ke arah sumber keributan. Saat melihat Evan menoleh ke arahnya, Aluna panik, dan dia berusaha bersembunyi tapi sepertinya terlambat, Evan sudah terlanjur mengetahui keberadaannya. Evan menatap tajam ke arah Aluna.
Karena merasa ketahuan, Aluna pun segera pergi. Dia mendorong Soni sekali lagi untuk keluar dari kursinya, tapi kali ini Soni yang baru bangkit bisa menahan tubuhnya dengan berpegangan pada meja dan kursi di sampingnya.
Aluna melihat Ke sekeliling, dia tidak menemukan pintu keluar lain kecuali di dekat Evan. Dengan buru-buru dia berjalan di samping Evan sambil terus menarik topinya agar menutupi wajah cantiknya yang malu itu. Evan segera bangkit dan mengejar Aluna keluar, di susul oleh Soni.
Sesampainya di luar di tempat parkir mobil, Evan segera meraih tangan Aluna. Dan menyudutkannya ke mobil milik Aluna, dengan kedua tangan Evan yang merentangkan kedua tangan Aluna di kiri kanan Aluna, dan menahannya seperti tawanan, yang membuat Aluna tidak bisa kabur. Aluna mencoba memberontak, tapi tetap tidak bisa karena kalah kuat dari Evan. Akhirnya dia menatap kecut ke arah Evan yang menatap tajam padanya.
"Kamu ngikutin aku!?" tanya Evan dengan tatapan menghunus. Aluna menatap mata tajam yang sangat memikat itu, tapi segera Aluna tersadar dan membuang muka. Dia tidak tidak mau terpikat lagi dengan tatapan itu. Evan hanya tersenyum melihat reaksi Aluna yang seolah menghindarinya.
"Nggak. Emang nya cuman kamu yang boleh makan di sini," tukas Aluna.
"Kenapa kabur waktu aku lihat kamu!?Terus ngapain pakek kaca mata hitam sama topi segala?!" tanya Evan menyudutkan seraya menarik turun topi Aluna, dengan tangan kiri Evan yang masih menahan tangan kanan Aluna di mobil. Aluna gelagapan tidak tau harus menjawab apa.
__ADS_1
Seperti mendapat kesempatan, Soni segera menghampiri mereka berdua. Dan mencoba membela Aluna yang tersudutkan itu.
"Aluna ke sini buat nemuin gue. Dia mau makan siang bareng gue," ucap Soni tiba-tiba. Aluna segera membelalakkan matanya di balik kaca mata hitamnya itu. Evan seperti tersambar petir saat mengetahui Aluna bersama Soni. Seketika Evan melepaskan genggamannya lemas senyumnya pun seketika luntur.
Seakan menyadari Emosi Evan, Aluna segera meraih lengan Soni yang membuat Soni kaget.
"Iya... Aku nemuin Soni ke sini. Buat apa aku nemuin kamu ke sini. Kita udah nggak ada urusan lagi," ucap Aluna mencoba menutupi kebenarannya bahwa ia menguntit Evan.
Itu menyakiti Evan sekaligus memberi sinyal lampu hijau pada Soni. Soni terlihat kegirangan mendapat kesempatan dari Aluna, kesempatan yang sudah lama dia tunggu, sedangkan Evan tampak kaget tidak percaya. Dia menatap Aluna dan Soni bergantian. Evan terlihat kesal dan segera meninggalkan mereka berdua. Itu membuat Aluna lega. Setidaknya dia bisa lepas dari Evan.
Aluna segera melepaskan pelukannya di lengan Soni. Dan segera masuk mobil. Soni berusaha menahannya tapi gagal. Tidak apa, setidaknya sekarang Soni tahu bahwa Evan dan Aluna sedang bertengkar. Itu artinya dia mendapatkan kesempatan untuk mendekati Aluna lagi.
...***...
Mengetahui Aluna sudah dekat dengan Soni lagi, itu membuat Evan kesal. Dia terlihat diam dan tidak bersemangat lagi untuk bekerja. Dia segera ke pantry untuk meminum kopi. Dia termenung sendirian di sana. Merenung seolah-olah membayangkan bahwa dia akan kehilangan Aluna. Itu membuat dia tidak bisa menerimanya. Evan tertunduk lesu.
Pak Iman seorang OB di sana datang, beliau baru habis bersih-bersih. Dia segera mengambil segelas air putih untuk minum, dan duduk di hadapan Evan, yang tengah menikmati secangkir kopi hitamnya. Evan tampak murung.
Evan kaget dan segera menoleh ke arah pak Imam sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya tanda jawaban dia tidak apa-apa.
"Pak Evan kelihatan lagi banyak beban fikiran," serunya lagi. "kalo lagi banyak masalah bawak sholat Pak. Biar tenang, nggak lari kemana-mana fikirannya, pak Evan," nasehat si OB. Evan tersenyum seraya mengangguk.
"Iya, Pak, " jawabnya singkat seraya tersenyum dan meminum kopinya lagi.
...***...
Di lain sisi Aluna segera menemui Silvi di kampusnya, di sana juga ada Dea.
"Eh, Sil. Lo udah nemu nggak tempat magang!? " tanya Aluna ke pada Silvi.
__ADS_1
"Belum, emang kenapa?!" tanya Silvi heran.
"Gue punya tempat magang yang bagus buat lo. Lo magang di sana sekaligus awasin Evan di sana," ucap Aluna. Yang membuat Dea dan Silvi tersenyum mendengarnya.
"Cieee... stalker nih ceritanya!" goda Dea seraya terkekeh bersama Silvi. Aluna jadi malu di sebut membututi Evan.
"Nggak. Gue cuman mau tau aja dia ngapain kerja di sana! Itu aja, kok," sanggah Aluna.
"Iya, iya, gue tau. Tugas gue adalah jagain Evan jangan sampe di deketin cewek lain," ucap Silvi dan kembali terkekeh. "tapi untungnya buat gue apa?!" tanya Silvi yang mulai memanfaatkan keadaan.
"Manfaatnya, ya itu... Lo dapat tempat magang yang bagus. Itu kan perusahaan besar, jadi kalo lo magangnya bagus di sana. Bisa aja lo beneran bisa kerja di sana," ucap Aluna berusaha untuk tidak terpancing dengan asas manfaat teman sekaligus sepupunya ini.
"Haahh... Kalo gitu mending gue cari perusahaan yang biasa aja kali. Buat bantu-bantu juga. Lagian perusahaan gede gitu pasti beban kerjanya berat buat anak magang kayak gue. Orang-orang yang kerja di sana pasti hebat-hebat," pancing Silvi lagi seolah menolak tawaran Aluna.
"Iya, iya. Gue paham. Biaya lo kerja di sana gue yang tanggung. Dari tas, sepatu, pakaian sampe uang saku gue yang tanggung," tawar Aluna mengalah. Itu membuat senyum mengembang dari Silvi dan di sambut tepuk tangan kegirangan dari Dea.
"Yeay... Kita shopping," seru Dea kegirangan.
Aluna dan Silvi hanya tertawa melihat reaksi sahabatnya itu.
Siang itu mereka pergi shopping bersama untuk persiapan Silvi, tapi barang yang mereka beli banyak untuk keperluan pribadi. Mereka berbelanja hingga mereka lelah dan beristirahat di salah satu bangku di mall dengan paper bag belanjaan mereka yang seabrek.
Tiba-tiba Aluna merasakan sakit di dadanya. dia terlihat pucat dan kesakitan. Dea dan Silvi pun menjadi khawatir.
" Kenapa, Lun," tanya Silvi khawatir.
" Nggak. Kayaknya ASI gue penuh lagi. Tunggu ya gue pompa dulu di kamar mandi," ucap Aluna lalu pergi ke kamar mandi. Dea dan Silvi memandang kepergian Aluna dengan tatapan sedih.
"Dia pasti sedih. Harus buang ASI terus. Itu kan seharusnya buat bayinya," gumam Dea sedih. Silvi pun tampak juga ikut sedih.
__ADS_1
Di kamar mandi Aluna mengurasnya sambil menangis. Setiap kali dia menguras ASI nya itu membuat Aluna teringat dengan bayinya lagi dan lagi, dia tidak dapat melupakan wajah mungil itu. Walau dia hidup tidak lebih dari 1 jam tapi meninggalkan perasaan yang dalam bagi Aluna. Dia selalu merindukan bayinya.
BERSAMBUNG...