
Hari ini Evan mengunjungi Jamia ke rumah sakit, untuk memeriksa bekas operasinya. Karena akhir-akhir ini dia merasa agak perih dengan bekas operasinya itu.
"Ini gara-gara kamu terlalu aktif habis operasi. Kayaknya kamu harus istirahat dulu, deh. Sebelum ini jadi infeksi, nanti bisa lebih sakit lagi," terang Jamia.
"Kan udah lama dari beberapa bulan lalu," sanggah Evan.
"Kamu bener-bener nggak bisa di bilangin, ya. Dari dulu kamu selalu super sibuk. Sampe sekarang masih nggak berubah. Punya mertua kaya raya, masak masih harus kerja keras juga dalam keadaan sakit gini?!" goda Jamia.
"Harga diri laki-laki itu dari kerja kerasnya. Kalo nggak bisa kerja, bisa hilang harga diri aku di hadapan mertua," Evan tetap keras kepala. Jamia hanya geleng-geleng kepala.
Selesai di periksa Evan bangkit dari posisi baringnya, dia bersiap untuk turun dari ranjang rumah sakit itu.
Saat Evan bersiap akan pergi, Jamia menahan Evan.
"Van, bisa temenin aku beli baju, nggak? Aku beli baju batik couple di butik buat acara aku sama Malik. Cuman, aku kurang yakin sama ukurannya. Tapi udah terlanjur aku pesen. Nah, berhubungan dia nggak ada disini kamu bisa nggak bantu aku buat jadi ukurannya. Dia kan seukuran kamu badannya, jadi tolong temenin aku buat ngukur ya," papar Jamia. Evan menghentikan langkahnya dan mengangguk setuju.
Jamia memang sedang manjalin hubungan dengan Malik yang tengah S2 di Mesir. Setelah 3 bulan taaruf, akhirnya Jamia setuju untuk menikah walau pun dia tidak begitu yakin. Hanya sekedar menuruti keinginan kedua orang tuanya.
Sekarang mereka berencana menikah setelah Malik selesai wisudanya. Saat ini Jamia sedang menyiapkan persiapan pertunangan mereka minggu depan. Pertunangan sekaligus lamarannya. Malik sengaja mempercepat semua karena tak ingin Jamia keburu berubah pikiran lagi.
...***...
Evan menunggu Jamia di lobby rumah sakit, karena jamia yang masih harus menangani beberapa orang pasien lagi. Hingga waktu istirahat tiba baru selesai.
Selesai dengan tugasnya Jamia dengan buru-buru segera menemui Evan di lobby yang sudah lama menunggu. Evan menyambutnya kedatangan Jamia dengan senyuman simpul.
"Kapan Dia pulang?" tanya Evan saat mereka berjalan keluar dari rumah sakit.
"Mungkin 2 hari lagi baru nyampe. Takut nggak keburu fitting nantinya kalo nungguin dia," terang Jamia.
Evan mengangguk paham. Akhirnya mereka pergi menuju ke tempat fitting baju, yang ternyata tidak terlalu jauh dari rumah sakit, hingga tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai.
Tapi belum lagi masuk, Heels Jamia sudah patah, spontan Evan mencoba menahan tubuh Jamia yang hampir terjatuh dari tangga dengan memegang lengan Jamia dan Jamia pun secara spontan memegang bahu Evan untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Dan mereka sama-sama terkekeh saat melihat keadaan heels Jamia yang sudah patah itu.
"Yah ... Patah!" seru Jamia seraya menunjuk heelsnya yang patah. Evan hanya tertawa melihatnya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik mereka. Dia mencoba membidik moment yang tepat untuk memotret mereka berdua. Dia seperti memiliki niat terselubung dari tindakannya itu. Tapi Evan dan Jamia tidak menyadari itu.
"Gimana ini?" seru Jamia mulai terlihat panik.
"Beli lah, mau gimana lagi?" timpal Evan. "kamu kan mau balik ke rumah sakit lagi, kan?" tanya Evan dan di jawab anggukan oleh Jamia. "ya udah kita ke toko sepatu aja dulu. Nanti, kita balik buat fitting lagi," ucap Evan.
"Emang kamu nggak papa nemenin aku kelamaan gini? Takutnya kamu lagi ada kerjaan gitu," tanya Jamia tidak Enak hati.
"Nggak. Aku lagi libur sekarang, tenang saja," pungkas Evan dengan seulas senyuman.
Mereka pun segera menuju toko sepatu terdekat. Di sana Evan membantu Jamia memilihkan sepatu yang cocok untuk Jamia. Jamia juga ikut mencari sepatu yang cocok. Evan menemukan salah satu sepatu yang terlihat nyaman untuk Jamia. Sejenis flatshoes yang sederhana namun cukup cantik.
"Nih. Flatshoes aja. Ntar patah lagi. Lagian, emang nggak sakit pakek heels buat kerja? mondar-mandir, nggak pegel kaki kamu?" seru Evan. Jamia pun tersenyum seraya mencoba pilihan Evan yang ternyata sangat nyaman untuknya.
"Bagus, Van. Pinter ya, kamu milihin nya!" seru Jamia pula. Evan hanya tersenyum. Setelah mendapat nomer yang pas dan selesai membayarnya. Mereka pun segera kembali untuk fitting lagi.
Disana Evan melakukan fitting bersama Jamia, mereka terlihat bak sepasang kekasih. Perasaan yang selama ini Jamia coba redam malah kembali membara, saat melihat Evan melakukan fitting bersamanya. Dia seolah di beri gambaran, betapa sempurna nya hidupnya, seandainya Evan lah pasangannya saat ini. Apa lagi pakaian itu terlihat pas saat Evan kenakan.
"Gimana?!" ujar Evan yang sontak membuyarkan Lamunan Jamia.
Selamanya Evan tidak akan pernah menyadari perasaan Jamia yang lebih padanya, dan selamanya Jamia tidak akan pernah bisa mengungkapkannya. Terkadang memang banyak hal di dunia ini yang hanya tuhan dan kita yang tahu.
"Makasih ya, udah nemenin aku," ucap Jamia. Evan hanya tersenyum.
...***...
Setelah selesai mengantarkan Jamia kembali ke rumah sakit, Evan pun pulang.
Di rumah, ternyata Aluna masih belum pulang. Evan melihat jam sudah menunjukkan pukul 4:45 sore. Evan mencoba mem VC Aluna.
Tampak Aluna tengah berada di suatu tempat bersama Dea dan Silvi. Seperti kafe, mungkin mereka makan-makan di sana.
"ya, sayang," sapa Aluna dari seberang sana.
__ADS_1
"Pulang!" pungkas Evan singkat singkat dengan tatapan tajam.
Tiba-tiba Brian tampak di dalam VC mereka. Itu membuat Evan sontak menjadi kesal, mendapati Aluna tidak mengindahkan ucapannya semalam, untuk tidak mendekati Brian.
"Pulang, jangan lewat dari jam 5 sore. Atau salah satu tas kamu itu bakal aku jadiin salah satu maha karya aku," ancam Evan tegas.
Sontak itu membuat Aluna ketar-ketir. Pasalnya lemari tas yang Evan tunjuk adalah lemari penyimpanan tas kesayangan Aluna yang sudah Aluna seleksi, itu khusus tas favorit Aluna. Terakhir Evan menghancurkan puluhan heels Aluna karena Aluna yang tidak menurut untuk tidak menggunakan heels saat hamil. Sekarang dia tidak mau tas mahalnya yang Limited edition itu menjadi korban Evan lagi.
"IYA SAYANG! Aku pulang, aku pulang sekarang," teriak Aluna panik. Dia segera berdiri walau agak susah karena dia yang tengah hamil membuat ruang geraknya agak kesulitan.
Dea dan Silvi hanya menatap bengong dengan expresi panik Aluna. Mereka masih sibuk dengan makanan mereka belum habis.
"Kenapa, Lun? Itu makanan kamu juga belum habis," tegur Dea.
"Evan ngamuk," jawab Aluna singkat, lalu ia segera bergegas pergi.
Brian sempat menawari Aluna untuk mengantarnya pulang, tapi Aluna menolak keras. Karena Aluna sudah di wanti-wanti Evan untuk tidak mendekati Brian lagi.
"Biar aku antar, ya!" tawar Brian.
"nggak usah, mas!" Seru Aluna seraya menggeleng keras dan langsung buru-buru pergi pulang bersama supirnya.
Dea dan Silvi tampak khawatir melihat Aluna ketakutan seperti itu. Mereka tidak pernah melihat Aluna sepanik itu selama ini. Kecuali tentang koleksi barang-barang Limited edition nya.
Pasalnya Aluna biasanya menjadi ratu, dia tidak pernah di larang melakukan apapun di hidupnya, selama itu tidak berhubungan dengan laki-laki, ayah Aluna selalu membenarkan tindakkan Aluna. Tapi jika Sudah berhubungan dengan laki-laki barulah Richard keras, hingga jarang ada laki-laki yang betah lama berdekatan dengan Aluna, karna intimidasi dari Richard.
...***...
Sesampainya di rumah, Aluna mendapati Evan tengah berdiri di depan pintu utama. Evan menunggu Aluna dengan bersidekap dada. Matanya tampak nyalang menatap kedatangan Aluna, bertanda dia sedang sangat kesal. Aluna dengan langkah ragu turun dari mobilnya yang pintunya sudah di bukakan oleh supirnya itu.
Ingin rasanya dia tidak keluar, tapi Evan sudah mengkode Aluna untuk segera mendekat padanya. Dengan langkah pelan Aluna mendekati Evan.
"Sayang. Jangan liatin aku kayak gitu," rengek Aluna.
"Masuk!" perintah Evan penuh tekanan.
__ADS_1
Aluna pun masuk, Evan mengikutinya dari belakang. Aluna berjalan dengan perasaan bergidik, pasalnya Evan terus menatapnya dengan tatapan tajam sepanjang perjalanan mereka ke kamar. Aluna melirik Evan yang berjalan di depannya. Apa yang akan laki-laki ini lakukan padanya sekarang. Aluna hanya bisa menghembuskan nafas pasrah.
BERSAMBUNG...