PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
RUMAH YANG NYAMAN


__ADS_3

Evan berjalan berlahan menuju ayahnya. Langkahnya yang pelan karena memang dia harus hati-hati agar perutnya tidak terasa perih. Dia duduk di samping ayahnya yang tengah menonton tv. Wisnu kaget dan segera membenahi duduknya saat menyadari kedatangan Evan.



(Ruang keluarga Wisnu Pratama)


"Eh! Kamu udah bangun?" tanya Wisnu seraya membantu Evan duduk.


"Kemana semua orang?" tanya Evan.


"Tama pergi keluar sebentar, mami kamu di dapur sama Minah. Sebentar lagi Jamia datang juga buat periksa luka kamu. Papa lihat kamu kesakitan terus. Mungkin ada infeksi atau apa takutnya," ucap ayahnya khawatir. Evan tersenyum senang merasa di perhatikan "tadi mami mau bangunin kamu buat sarapan, tapi kamu tidurnya lelap sekali jadi tidak tega buat bangunin. Jadi kalo kamu mau sarapan semua udah di siapin di meja makan," terang ayahnya.


Evan memang sudah sangat lapar. Semalam dia hanya makan sedikit, nafsu makannya terganggu akibat permasalahannya dengan Aluna. Tapi pagi ini setelah semuanya selesai dia merasa sangat lapar.


Evan segera menuju meja makan. Meja makan yang tidak pernah barang sekali pun ia duduki karena di larang saat kecil. Hari ini dia makan di sana. Ayahnya membantu Evan mengambil piring dan memasukkan nasinya. Maminya segera datang membawa ikan bakar besar yang sengaja dia buat untuk Evan. Agar Evan cepat sembuh dengan makanan berprotein tinggi.



(Ikan bakar yang di sajikan Rima untuk putranya)


Ayahnya menatap putranya yang makan dengan lahap. Dia tersenyum bahagia, sekaligus merasa berdosa karena baru kali ini dia bisa memberi putranya tempat yang layak, setelah bertahun-tahun dia di lupakan.


Setelah selesai dengan urusan dapur Rima duduk di samping Evan.


"Enak masakan Mami?" tanya Rima senang melihat Evan makan dengan lahap Evan mengangguk dan tersenyum ke arah ibunya itu.


"Makan yang banyak biar cepat pulih, ikannya di makan yang banyak juga." Ucap ibunya terharu melihat Evan menikmati yang dia masak.


Sesaat kemudian seseorang datang. Seorang gadis muda yang cantik dengan hijab coklat susunya dan gamis panjangnya. Dia adalah Jamia, dia datang karena memang tadi di telfon di minta datang memeriksa keadaan Evan. Evan yang baru selesai makan segera di hampiri Jamia. Jamia menemuinya di meja makan dengan senyum manis.


"Gimana Mr.Evan? Kabur kemana kemarin? Kayak anak ababil aja pakek acara kabur segala. Kamu itu udah ketuaan buat betingkah! " tutur Jamia membuat Evan tertawa mendengarnya.


"Pergi refresing dulu. Hampir 2 minggu di rumah sakit, bosan!" balas Evan dengan senyum usil.


"Bercanda nya jangan bikin jantungan. Papa kamu sama mami kamu kayak orang gila panik nyariin kamu. pakek acara nonaktif handphone segala lagi," omel Jamia.

__ADS_1


"Aku itu pasien, jangan di omelin!" ucap Evan memelas.


"Ya udah, supaya nggak di omelin lagi. Yok kita cek lukanya dulu." Ucap Jamia pada Evan yang baru selesai makan.


...***...


Lalu mereka pun pergi ke atas, ke kamar Evan. Disana mereka tidak berdua, sudah ada ayah Evan dan maminya.


"Ini lukanya basah lagi Gara-gara kamu banyak gerak. Kalo sakit itu harus anteng. Tau kok, kamu itu anaknya suka kerja, aktif, nggak bisa diem. Tapi kalo sampe cara istirahat juga lupa, itu juga bahaya kalo lagi sakit," omel Jamia lagi.


"Kamu suka ngomel ya sekarang," gurau Evan seraya menatap Jamia yang tengah mengganti perbannya dengan seutas senyum.


"Kalo pasien kayak kamu gini harus sering-sering di omelin. Biar mau anteng dulu. Udah, stirahat dulu. Jangan banyak gerak, aku yang dokter aja ngilu ngeliat kamu luka basah kayak gini masih di bawak jalan-jalan. Ntar kalo udah sembuh kamu bisa pacaran sepuasnya. Nggak sabaran banget, sih! Kalian mau nikah, kan!? Gimana mau nikah kalo masih belum sembuh." Omel Jamia panjang lebar. Omelan Jamia sangat di rindukan Evan, setelah bertahun-tahun hari ini dia kembali mendengar omelan gadis ini lagi.


Setelah selesai mengobati Evan, Jamia pun di jamu keluarga Evan dengan kue hangat buatan ibu Evan.


"Nih! Tante habis masak kue tadi, baru mateng.Cobain deh!" Ucap ibunya seraya menyajikannya di kamar Evan.


"Wah!!! Tante rajin banget sampe masak kue segala!" Seru Jamia antusias menyambut kue buatan ibu Evan.


Jamia memperhatikan pria pendiam yang perhatian ini. Kini terlihat semakin tampan saat sedang lemas sakit begini. Apa lagi wajah blasterannya itu, membuat dia semakin terlihat tampan.



(Evan yang tengah menjadi pasien Jamia)


Tiba-tiba Evan menatap Jamia balik. Membuat jamia salah tingkah dan langsung membuang muka karena malu, dengan cookies yang masih menempel di mulutnya. Evan hanya tersenyum melihat tingkah malu-malu Jamia.


"Apa kabar Anto?" tanya Evan memecahkan kesunyian.


"Hmh!!! Dia bukak toko pakaian di pasar tanah abang. Toko Grosiran yang lumayan besar. Dia jago bisnis dagang gitu. Aku sering belanja sama dia soalnya murah banget."


"Pantes lah kalo dia jago dagang. Dia kalo ngibulin orang jago banget,"ungkap Evan mengenang tingkah Anto yang suka membohongi ibunya saat kecil. Jamia tertawa mendengar pernyataan Evan.


Mereka terus mengobrol hingga tiba-tiba Aluna datang. Dia di temani pelayan setianya. Dia sengaja dititipi seorang pelayan karena mengingat keadaannya yang tidak terlalu baik.

__ADS_1


"Van!" panggil Aluna manja. Sontak membuat Evan menoleh ke sumber suara. Ternyata Aluna yang datang. Evan menyambutnya dengan senyuman manis.


"Eh, Aluna!" sahut Jamia.


"Hei, Kamu di sini juga!?" sapa Aluna pada Jamia.


"Iya. Aku habis cek bekas operasinya tunangan kamu nih!" ucap Jamia seraya menepuk pelan bahu Evan. Evan hanya tertawa kecil mendengarnya. Sedangkan Aluna sekarang tengah duduk di pinggir ranjang di samping Evan dan Jamia yang tengah duduk di kursi seraya membereskan peralatannya.


"Mia! Kasih obat yang bagus, ya! Biar cepat sembuh. Biar kita bisa secepatnya nikah." Ucap Aluna seraya menggenggam tangan Evan dan menempelkannya di pipinya.


"Obat sebagus apapun kalo nggak bisa diem tetap aja lukanya lama sembuh. Tuh, suruh anteng calonnya," ucap Jamia sambil tersenyum.


Setelah membereskan semuanya, Jamia pun permisi pulang. Sekarang tinggal lah mereka berdua lagi.


"Kamu kabur lagi, yah!?" tanya Evan.


"Nggak! Tadi aku izin sama aunty Marissa." ucap Aluna. "Gimana keadaan kamu? Udah baikan? Kalo udah temenin aku ke dokter, ya," ucap Aluna.


"Boleh? Kapan?" tanya Evan.


"Besok bisa? Sore jam 3 aku jemput ya." Evan mengangguk.


***


Malam hari nya Evan menyampaikan kepada ayah dan ibunya rencananya menemani Aluna ke dokter. Ayah dan ibunya nampak keberatan, mengingat kondisi Evan yang belum begitu baik.


"Van! Kamu kan belum sembuh betul. Biar mami saja yang menemaninya, kalau dia tidak berani sendirian," tutur Rima keberatan. Dia merasa Aluna terlalu membebani Evan. Dengan kondisi Evan begini, dia masih di mintai menemaninya ke rumah sakit. sedangkan keadaan Evan untuk bergerak saja masih harus hati-hati. Bahkan Aluna mengajak Evan pergi meski dia tau Evan belum sembuh.


"Nggak papa, kok! Aku udah kuat." Evan mencoba meyakinkan ibunya, dia tau Rima tidak menyukai sikap manja Aluna.


"Jangan maksain, Van. Kalau tidak kuat bilang saja," tutur Wisnu menimpali.


"Beneran, Pah. Aku udah nggak papa, kok," ucap Evan sekali lagi meyakinkan. Evan sebenarnya juga hanya mencoba mengimbangi semuanya. Dia tidak mau Aluna salah paham jika dia menolak. Mau bagaimana pun toh kenyataannya mereka memang baru kenal dan akan mudah memancing kesalahpahaman. Evan tidak mau itu.


Karena melihat Evan yang keras kepala akhirnya ayah dan ibunya tidak bisa berbuat banyak.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2