PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
SUDAH CUKUP MUAK


__ADS_3

Setelah beberapa hari Evan pun sembuh. Dia pergi menemui Jamia dan Anto. Sudah lama dia tidak ke sana.


Dia di sambut Jamia dengan senyumnya saat dia datang. Jamia tengah menjaga tokonya bersama ayahnya. ayahnya tampak akan bersiap-siap akan ke masjid.



"Kok kurusan kamu," tanya pak haji.


"Habis demam waktu pulang kemaren pak aji," jawab Evan. "Kecapean pak haji, habis di sana belajar terus, terus juga cuaca nya dingin banget." Pak haji tersenyum mendengar jawaban Evan. Dia selalu kagum dengan sifat gigih dan tekun Evan.


"Kamu itu kadang terlalu ambisius. Tenang lah dikit. Jangan terlalu memaksa kan diri," ucap pak haji.


"Iya, bah. Kadang apa yang di mau harus dapat," ucap Jamia menambahkan.


Evan hanya tersenyum mendengar ucapan pak haji dan Jamia.


"Oh, ya! Anto mana?" tanya nya yang sekarang tengah duduk di salah satu kursi di dalam toko.


"Lagi di Medan dia. Dia ikut tes Di USU," terang Jamia.


"Kamu apa?" tanya Evan pada Jamia.


"Aku rencananya kedokteran aja, kalo bisa UI," ucap Jamia.


"Calon dokter," ucap Evan.


"Amin!" ucap Jamia mengamini.


"Udah ya. Abah tinggalin dulu, udah waktunya zuhur lagi," ucap pak haji yang lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Jamia tengah duduk di kursi kasir. Dan Evan duduk di hadapannya.


"Gimana Udah ada kabar kamu lulus apa nggak?" tanya Jamia.


"Belum, mungkin minggu ini bisa keluar hasilnya."


"Kalo lulus kita nggak ketemu lagi, ya!" gumam Jamia Sedih.


"Iya, Mungkin Sampe 4 tahun. Atau... selamanya!" ucap Evan, membuat Jamia menoleh kearahnya. Dia mencari arti dengan ucapan Evan barusan. Jamia menatap Evan dalam, ada firasat aneh saat Evan menekan kan kata 'Selamanya' tadi.


"Maksudnya selamanya gimana? Kamu nggak balik kesini lagi?" Ada rasa khawatir di wajah Jamia jika Evan benar-benar pergi dan tidak kembali.


"Hehehe! lebay, Canda kali, ah," ucap Evan yang mulai melihat mimik serius Jamia. Dia menarik hijab Jamia hingga miring untuk mencairkan suasana yang mulai kaku.


Jamia pun kesal lalu memukul Evan, Evan hanya pasrah dengan pukulan bertubi-tubi Jamia. Lalu mereka tertawa bersama dan bercanda. Itu membuat Jamia semakin dekat dengan Evan. Dia semakin jatuh cinta pada Evan, cinta yang tidak berani dia ungkapkan sampai kapanpun.


Siapapun akan tertarik dengan wajah blasteran Evan, apa lagi dia pintar dan baik hati. Hanya saja Evan tidak punya banyak teman dekat. Dia hanya punya Anto dan Jamia teman dekatnya. Karena itu Jamia tidak berani menunjukkan perasaannya pada Evan. Dia takut itu akan merusak persahabatan mereka. Dan lagi pula Evan tampak hanya menganggapnya sebatas teman tidak lebih.

__ADS_1


...***...


Beberapa hari kemudian hasil tesnya pun keluar, Evan lulus beasiswa penuh dari Jardine dan juga lulus masuk Oxford. Itu membuat dia bahagia sekali, karena bisa kuliah dengan beasiswa di Universitas impiannya. Dan yang penting dia dapat pergi dari rumah ini.


Berkali-kali dia membaca E-mail dari Jardine dan Oxford itu. Dia merasa ini seperti mimpi baginya. Dia tidak henti-hentinya tersenyum dan tertawa kegirangan. Dia meloncat-loncat seperti anak kecil di kamarnya. Sambil terus mengulang-ulang membaca E-mail tersebut dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya.


Dia segera mempersiapkan kepergiannya. Menyusun semua pakaiannya di Kopor dan juga Surat penting lainnya menyangkut keberangkatan dan pendaftarannya di Oxford. Dia membongkar semua pakaiannya untuk di susun di kopor, sambil terus senyum bahagia.


Akhirnya hari ini datang juga. Di mana dia bebas dengan belenggu ini, yang selama ini membelenggunya. Dia akan kuliah di universitas terbaik dunia. Di mana itu selama ini hanya impiannya dan kini menjadi kenyataan.


Dia masih merahasiakan itu dari keluarganya. Dia akan memberitahu jika dia akan berangkat saja. Dia sudah malas dengan drama keluarga ini. Ke jadian ayahnya menghajarnya karena pencurian itu sudah benar-benar melukai hatinya yang paling dalam. Dia selalu sakit bila mengingat kejadian tersebut, apa lagi dengan perlakuan mereka selama ini. Itu sudah cukup alasan baginya untuk pergi dari rumah ini segera. Dia sudah cukup dewasa sekarang untuk menentukan hidupnya sendiri.


...***...


Sebelum keberangkatannya besok dia menemui ayah dan ibunya. yang tengah bercengkrama di ruang keluarga bersama Tama dan Sahila. Keluarga bahagia yang sempurna tanpa dia di tengah mereka. Yaaa... Dia memang tidak ada artinya di keluarga ini.


Sebenarnya jika bisa dia tidak ingin berpamitan. Dia ingin pergi tanpa mereka ketahui, tapi itu kurang etis baginya. Ya sudah lah hanya sebatas bicara sebentar apa salahnya juga.


"Besok aku ke Inggris. Aku lulus di Oxford dan beasiswa Jardine," ucap Evan membuat semuanya tercenung mendengarnya. Mereka yang tadinya sibuk menonton kini terdiam menatap Evan yang berdiri di hadapan mereka dengan kaku dan canggung.


"Kamu lulus, Van?!" seru Tama bangkit dari bangkunya. Evan mengangguk, dia memeluk Evan bahagia begitu pula Sahila, ayah dan ibunya.


"Kenapa baru bilang waktu kamu mau berangkat begini. Sudah jam 9 malam, apa yang bisa kita siapin untuk kamu," ucap ayahnya sedih.


"Semua udah di siapin, pah. Aku tinggal berangkat aja. Biaya kuliah keperluan sehari-hari aku pun udah di siapin di sana," ucap Evan.


"Kalau pergi jangan lupa pulang," ucap ibunya. Evan melihat nya sekilas dia tidak menjawab apapun lalu pergi.


"Dia pernah ngomong sama kamu kalo dia mau pergi besok?!" tanya ayahnya pada Tama.


"Nggak, pah. Aku sibuk akhir-akhir ini jarang di rumah," ucap Tama. Lalu ayahnya pergi menemui Evan ke kamarnya. Dia menangkap firasat tidak enak dengan anaknya itu akhir-akhir ini. Dia berjalan menyusul Evan.


Dia melihat barang-barang Evan sudah siap semua. Kamar itu sudah kosong dari barang milik Evan. Evan sudah memasukkannya kedalam tasnya. Dia seperti akan pergi selamanya, hingga dia tidak menyisakan apapun untuk di tinggalkan. Itu membuat ayahnya tertegun beberapa saat.


Evan tengah mempersiapkan surat-surat penting yang akan di serahkannya ke Oxford nanti.


"Kenapa baru bilang waktu kamu akan pergi?!" ucap ayahnya.


"Memangnya kenapa?" tanya Evan masih terus memeriksa barang bawaannyanya.


"Kalo kamu bilang jauh hari papah bisa siapin sesuatu untuk kamu. Baju kamu juga belum papa ganti," ucap ayahnya. Berharap anaknya akan melunak. Dia tau Evan menyimpan amarah padanya, tapi dia tidak tau bagaimana meredamnya. Mungkin saat ini api dendamnya sudah membakar semua di hatinya. Terlambat kah ia untuk menjadi ayah bagi Evan?


"Nggak perlu. aku masih ada pakaian. Nanti juga bisa di beli nyampe sana. Aku masih ada tabungan," ucap Evan cuek. Ibunya melihat dari pintu. Ada sesal di hatinya saat harus melepaskan Evan pergi dengan cara begini. Evan seolah menjawab tantangannya untuk kuliah tanpa meminta biaya padanya. Sekarang ini seperti tamparan telak baginya.


"Besok jam berapa kamu pergi?" tanya ayahnya.

__ADS_1


"Jam 8 ke bandara," ucap Evan Singkat dan dingin seraya terus mengetik sesuatu di laptopnya.


"Jangan lupa telfon nyampe sana," ucap ibunya mulai melunak. Evan tidak menjawab dia hanya menoleh sekilas. Benar-benar situasi yang canggung.


"Sebelum aku pergi. Boleh aku bertanya?" ucap Evan dengan menatap tenang mata ayahnya "ibu kandung aku siapa? Apa benar aku anak selingkuhan? " tanya Evan. Sontak itu mengagetkan mereka semua. Karena selama ini dia tidak pernah bertanya tentang itu.


"Itu... Ka-kamu bukan anak selingkuhan. Kamu anak sah papa dalam pernikahan yang sah. Papa sama mami kamu sempat bercerai, dan menikah dengan ibu kamu. Lalu papa balik ke indonesia dan kembali rujuk dengan mami kamu. Papa ninggalin ibu kamu dalam keadaan sakit. Karena itu dia titip kamu sama papa sebelum meninggal," terang ayahnya. Evan mulai paham keadaan.


"Baik!" ucap Evan dengan mata berkaca-kaca "aku ngerti kenapa aku di asingkan," ucap Evan tajam. Ibunya hanya diam, lalu dia pergi.


"Maafin papa, nak. Jangan pergi dengan cara kayak gini. Kasih kesempatan papa sekali lagi buat jadi ayah kamu," ucap ayahnya berkaca-kaca. Evan diam dan memutar kursinya menghadap ke arah ayahnya yang tengah duduk di ranjangnya. Dia menatap ayahnya yang terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya barusan, tapi tidak menyentuh hati Evan sama sekali.


"Aku cuman pergi kuliah, kok," ucap Evan seakan tidak menyukai drama ini.


Dia segera mematahkan nya agar ayahnya tidak usah lagi meneruskan kalimat bullshit itu lagi. Keterangan ayahnya tentang ibunya sudah menjelaskan padanya bahwa mereka membencinya selama ini hanya untuk ego mereka. Memuakkan baginya jika setelah belasan tahun ayahnya baru mengucapkan kalimat ingin menjadi ayah yang baik baginya.


Bahkan selama ini dia mendapat kekerasan dan pengasingan bertahun-tahun tidak sekali pun mereka tersentuh hatinya untuk melihat anak kecil yang tidak berdaya itu. Kenapa baru sekarang? Saat dia sudah lelah dan kehabisan kesabaran.


"Jangan lupa hubungin papa. Nanti kapan-kapan papa jenguk kamu di sana," ucap ayahnya. Evan hanya dingin menanggapinya. Dia sibuk dengan pekerjaannya. Lalu ayahnya pun pergi meninggalkan Evan yang sibuk berkemas.


"Memuakkan!" gumam Evan tajam saat ayahnya pergi.


...***...


Keesokan harinya Evan sudah siap untuk pergi. Kali ini mereka semua bersiap mengantar Evan. Evan bersikap biasa seolah tidak ada istimewanya dengan perlakuan ini. Dia sudah terlalu muak selama ini. Dia selalu di anak tirikan. Bahkan saat ayahnya mencoba mengajaknya mengobrol dia sibuk dengan handphone nya. Sekarang ayah dan ibunya tau bahwa Evan sudah benar-benar hanya menyisakan dendam, setelah kejadian dia di tuduh tanpa bukti atas pencurian itu, Evan benar-benar menunjukkan pemberontakkannya.


Bahkan saat dia akan berangkat dia pergi tanpa menoleh kebelakang lagi. Dia berlalu dengan wajah dingin tanpa sepatah katapun. Ibunya seolah mulai menyadari dengan perubahan Evan.


...***...


Sesampainya di rumah ayah segera ke kamar belakang Evan. di melihat kamar itu sudah kosong. yang tertinggal hanya lemari kosong dan kasur single yang biasa Evan gunakan untuk beristirahat. Dia melihat sebuah kardus teronggok begitu saja di sudut ruangan. Wisnu segera mendekat ke arah kardus tersebut.


Betapa kagetnya Wisnu setelah melihat apa saja isi kardus tersebut. Evan meninggalkan laptop pemberiannya dan begitu pula pakaian yang ibunya dan Syahila belikan untuk menggantikan pakaiannya. Seketika wajah Wisnu pucat pasi dan terkulai lemas terduduk di lantai. Ia sadar sekarang, semarah apa Evan padanya.


"Dia tidak akan kembali," lirih Wisnu pelan, perlahan air mata penyesalannya mulai mengalir di wajah tuanya. Seketika sekelebat bayangan Evan membayangi ingatannya. Sosok tampan itu bahkan selalu menatapnya seolah menunggu kapan ia memeluknya. Tatapan itu selalu Wisnu lihat saat mereka berpapasan. Selama bertahun-tahun Evan selalu menatapnya begitu. Dan sudah beberapa hari ini dia kehilangan tatapan itu dari Evan. "Kamu marah, nak. Kamu marah sama Papa," lirih Wisnu dalam tangisnya yang menyayat hati.


Tanpa Wisnu sadari, Minah menyaksikan itu semuanya secara diam-diam. Dia ikut menangis saat menyadari majikan mudanya itu tidak akan kembali lagi. Dia kehilangan sosok majikan mudanya itu. "Evan ninggalin, Mbak," lirih Minah separuh berbisik.


Sedangkan di kamar Evan, Wisnu tak kalah emosionalnya "Baiklah, Papa akan memperbaiki semuanya, nak." Tekad Wisnu.


Dikamar malam itu. Tampak Wisnu dan Rima akan bersiap tidur lagi. Tapi, sebelum itu mereka tampak terlibat sebuah obrolan.


"Apa aku terlalu keras dengannya. Dia benar-benar dendam dengan kejadian pencurian itu," Lirih Wisnu. Rima hanya diam.


"Sebenarnya dia tidak bersalah, bahkan dia berjuang sendiri untuk hidupnya dari kecil. Kita terlalu besar kepala saat dia tidak menunjukkan kemarahannya hingga kita lupa untuk mengasihinya, sampai dia habis kesabarannya pada kita. Apa dia akan kembali?!" ucap ayahnya khawatir.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2