PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
MALAM YANG PANAS


__ADS_3

Aluna memapah suaminya ke kamar dengan di bantu oleh seorang pelayan, sesampainya di kamar Aluna menghempaskan tubuh Evan dengan segera ke ranjang, pelayan yang mengikuti mereka segera pergi dan menutup pintu kamar.


Di kamar, Evan semakin tidak terkendali. Dia menarik Aluna hingga jatuh menimpanya, tanpa basa-basi dia segera membalikkan tubuh Aluna, hingga Aluna berada di bawah kukungannya. Dia menindih tubuh Aluna dan menyentuh bibir Aluna dengan agak kasar dan ciuman itu semakin lama semakin liar. Evan seperti sudah tidak perduli apapun, dia hanya menginginkan istrinya malam ini. Tangannya pun turut bereaksi membuka pakaian nya dan Aluna dengan terburu-buru, tanpa melepas cumbuannya pada Aluna.


Aluna kaget dengan reaksi Evan yang di luar kewajaran ini, tapi walau bingung, dia tetap mengikuti permainan Evan. Hanya saja dengan cara agak kasar, itu membuat Aluna agak khawatir dengan kandungannya. Berkali-kali dia mencoba memperingati Evan agar lebih tenang, tapi Evan seolah kesetanan, dia tidak menggubris ucapan Aluna sama sekali.


Dia terlanjur tidak bisa menahan hasratnya. Lama ke lamaan Aluna pun ikut larut dengan permainan itu. Dia mempasrahkan apapun yang akan Evan lakukan padanya, tanpa terlihat gurat ragu atau takut darinya lagi.


Hingga sampai lah mereka pada inti dari permainan mereka, dan Aluna sama sekali tidak menunjukkan traumanya sejauh ini. Malah dia terlihat semakin terbawa suasana, dengan nafas yang sama-sama memburu dan mata yang terpejam, Aluna menikmati setiap sentuhan itu seperti seorang wanita yang memang sudah lama merindukannya.


Walau dia harus selalu sigap menahan tubuh Evan, agar tak sampai menindih perutnya terlalu keras, itu membuat dia sedikit kewalahan. Tapi tetap saja membuatnya berhasrat. Hingga mereka mencapai puncak dari ini semua. Aluna menatap wajah Evan tanpa ragu, malahan dia tersenyum bahagia. Aluna merasa bahagia bisa memenuhi tugasnya sebagai seorang istri. Mulai malam ini, ia tidak akan di hantui rasa bersalah lagi.


Evan dengan nafas masih tersengal, segera ia rebahkan ke sampingnya. Sebelum Evan yang mulai lemas, benar-benar menindih tubuhnya. Aluna menyelimuti Evan yang tampak masih tidak sadar dengan apa yang barusan ia lakukan pada Aluna. Tidak lama Evan malah benar-benar tertidur. Untung Aluna segera memindahkannya tadi.


Aluna masih terus menatap Evan yang tengah terlelap, dengan hanya seutas selimut yang menyelimuti tubuh keduanya. Aluna mencium lembut bahu suaminya dengan penuh kasih sayang, dengan terus memeluk suaminya.


"Van, aku sayang kamu," gumam Aluna lembut dengan memeluk suaminya erat hingga ia pun ikut terlelap.


***


Pagi menjelang. Aluna sudah bangun dan mandi, dia tengah sibuk dengan mengeringkan rambutnya di depan cermin. Padahal jam baru menunjukkan pukul 6 pagi. Sesuatu yang di luar kebiasaannya, Evan masih terlelap dan tidak menyadari semuanya. Aluna terus memperhatikan Evan yang tengah tertidur dengan tenang.


Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Aluna mendekati Evan yang masih pulas. Aluna bersenandung riang dan terus memperhatikan wajah suaminya itu dari dekat. Hidungnya yang mancung, kulit wajah yang halus serta bentuk wajah yang panjang dan kecil. Itu menunjukkan betapa tampannya suami yang ia miliki saat ini.


Dia mengusap lembut wajah Evan dengan telunjuknya. Hingga Evan terbangun dan secara reflek menepis tangan Aluna.

__ADS_1


Evan membuka matanya perlahan, tapi masih belum begitu sadar. Dia mengedipkan matanya beberapa kali-kali, sambil terus mengumpulkan kesadarannya. Dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.


Pandangan Aluna tak pernah lepas dari Evan yang baru bangun. Dia merasa gemas dengan tingkah Evan yang terlihat ling-lung saat baru bangun tidur. Tidak lama dia sudah cukup sadar, tapi masih tidak menyadari dengan apa yang terjadi. Kepalanya masih terasa agak pusing karena minuman.


Ia menatap Aluna yang tengah duduk di sampingnya dengan seutas senyum hangatnya. Aluna pun membalas senyuman itu.


"Jam berapa sekarang?" tanya Evan dengan suara parau seraya menggenggam tangan Aluna dengan manja dan menciumnya lembut. Hal itu biasa ia lakukan saat baru bangun. Biasanya dia akan menyentuh dan mengelus lembut Aluna saat membangunkan Aluna di pagi hari, tapi pagi ini Aluna lah yang terlebih terdulu terbangun.


"Jam 6," jawab Aluna singkat.


Evan pun bangkit dan mencoba untuk duduk, dia kaget saat menyadari ada sesuatu yang aneh. Bahwa saat ini tidak ada sehelai benang pun pakaian yang melekat di tubuhnya, kecuali seutas selimut. Dia coba untuk memastikan lagi, memang benar, dia tidur tanpa mengenakan pakainya. Dia mendekap wajahnya dan meremas rambutnya, menariknya ke depan wajahnya. Dia berusaha mengingat sesuatu.


Dia mulai ingat yang terjadi semalam. Dia menatap Aluna, tapi kelihatannya Aluna baik-baik saja. Jangan-jangan dia melakukannya dengan orang lain, Evan mulai panik. Ada ketakutan menjalar di relung hatinya. Tapi dia berusaha untuk tenang dan tetap terus berfikir mencerna apa yang telah terjadi padanya.


"Aku... Aku... Kenapa nggak pakek pakaian, ya?!" tanya Evan polos dan berusaha mencari tahu. Aluna hanya tersenyum geli melihat expresi bingung dan polos Evan. "Terus kamu kenapa pagi-pagi udah mandi?!" tanya Evan yang masih mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi.


"Hahaha.... Sana aduin ke polisi sekalian," ledek Evan tidak kalah usilnya. Aluna sadar sekarang Evan mengingat semuanya. Dia terkekeh bersama Evan.


"Hahaha.... Udah bangun ternyata. Udah, ah.


Ayok siap-siap kita ke tempat mami. Aku pengen nyobain sarapan di rumah kamu, gimana rasanya. Aku bosan sarapan berdua aja di rumah kita. Ayok, di sana kan rame, pasti seru sarapan di sana," ucap Aluna manja.


"Emang Aunty kamu kemana?" tanya Evan masih belum mau beranjak dari tempat tidur, walau Aluna sudah mencoba menariknya.


"Dia udah berangkat jam 5 tadi pagi ke bandara, nggak tau mau kemana lagi dia. Paling nyariin calon suami baru lagi," ucap Aluna santai. Evan melirik Aluna, Aluna tampak tersenyum dengan expresi tak berdosanya.

__ADS_1


"Nggak ada dia aja kamu berani ngomong gitu," ucap Evan sambil terkekeh. Ia segera bangkit dan mengambil handuk Aluna yang ada di atas pundak Aluna, handuk itu Aluna gunakan untuk menggulung rambutnya yang basah tadi. Evan segera ke kamar mandi menggunakan handuk itu.


Sepertinya perkiraan Brian salah, Aluna tidak membenci Evan, Aluna malah sebaliknya. Ia sudah lama menunggu momen ini bersama Evan, bahkan Brian membantu mereka untuk lebih dekat dan menghangatkan ranjang mereka yang telah lama membeku, karena trauma Aluna dan ketakutan Evan mendekati Aluna kembali. Sekarang berkat obat yang Brian masukkan ke minuman Evan, malah membuat Evan berani menyentuh istrinya lagi dan trauma Aluna pun ternyata sudah tidak ada lagi.


Saat Evan baru selesai mandi, Aluna kembali memeluk suaminya itu dari belakang. Evan pun menghentikan langkahnya.


"Udah. Jangan mancing lagi. Katanya mau sarapan sama mami tadi. Keburu telat kita nanti," pungkas Evan memperingati Aluna dan mencoba melepas pelukan Aluna lembut. Aluna tetap tidak melepas pelukannya. Dia malah membalikkan tubuh Evan ke arahnya dan melucuti berlahan piyama mandinya sendiri, sampai memperlihatkan bahu mulusnya, hingga agak tersingkap turun kearah dadanya. Aluna benar-benar memancing Evan, Evan bahkan belum sempat mengeringkan rambutnya yang basah itu. Air masih menetes dari rambutnya yang basah tapi Evan malah kembali ikut terpancing dengan ulah Aluna padanya. Dia segera mencium lembut bibir merah istrinya itu dengan tangan yang melingkar di pinggang Aluna, sedangkan Aluna melingkari tangannya di leher Evan. Mereka berciuman hangat dengan lembut.


"Nggak kayak semalam," bisik Aluna.


"Hmmhhh... Kamu suka di kasarin, ya?!" bisik Evan balik dengan senyuman keduanya, Aluna tersenyum seolah mengiyakan dan mereka pun kembali melakukan nya dengan sedikit lebih kasar dan liar. Aluna malah tersenyum senang mengetahui Evan mengerti maksudnya.


...***...


Setelah itu mereka kembali mandi berdua, Evan segera mengeringkan rambut Aluna, yang sudah 2 kali keramas pagi ini. Mereka tidak henti-hentinya tersenyum bahagia.


"Lucu, ya?" gumam Aluna seraya tersenyum ke arah suaminya itu.


"Lucu kenapa?!" tanya Evan tidak paham.


"Nggak!" Ucap Aluna lagi.


Setelah hampir 5 bulan mereka menikah, mereka selalu di selimuti perasaan takut untuk memulai. Dan sekarang mereka terlihat sangat bahagia, seperti beban yang selama ini mereka tanggung terlepas sudah.


Setelah selesai dandan keduanya pun segera menuju kediaman orang tua Evan seperti permintaan Aluna. Untuk sarapan di sana.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2