
"Pergilah. Aku membencimu. Kau tidak ada saat aku dan dia berjuang. KAU DIMANA?!" Aluna histeris dan kembali menangis. Evan berusaha mendekap Aluna, Aluna memberontak dan berusaha melepaskan pelukan Evan. "PERGI! Aku bilang pergi, aku benci kamu, Van," usir Aluna pada Evan seraya mendorongnya dengan keras. Air mata terus membasahi wajah keduanya.
"Aku minta maaf. Aku nggak bermaksud begitu," ucap Evan bergetar, Richard segera menghampiri Evan dan menenangkan Evan, sedangkan Aluna bersama Marissa.
"Aku dan dia berjuang sendirian," gumam Aluna seraya menangis dan kali ini Marissa yang mendekapnya, tangis Aluna pun terdengar semakin sakit dan menyayat.
Di usia kandungannya yang ke 8 bulan, Aluna harus melahirkan anaknya, karena kontraksi yang terjadi akibat dari kecelakaan jatuhnya tempo hari bersama Jamia.
Tidak Ada yang bisa Evan lakukan sekarang, Aluna terlihat sangat membencinya. Sangat konyol bukan, baru kali ini dia bertindak konyol dan malah berakibat fatal untuknya.
Evan menatap Aluna dengan penuh penyesalan, tidak ada alasan yang tepat untuk tindakkannya itu. Aluna berhak marah. Dia menghilang saat Aluna membutuhkannya.
Mengerti keadaan yang semakin kacau, Richard pun segera membawa Evan keluar. Di ikuti oleh Wisnu dan Tama, sedangkan yang lain bersama Aluna di kamar perawatan.
***
Dengan perasaan hancur Evan melihat putra nya di kamar mayat. Di sana dia mendapati bayinya tengah terbaring berbungkus kan kain putih polos dalam keadaan sudah tak bernyawa lagi. Wajahnya terlihat sangat tampan dengan struktur wajah yang terlihat menyerupai Evan, dengan hidung yang juga terlihat mancung. Kulitnya yang putih pucat. Melihatnya begitu membuat hati Evan semakin hancur, tangis Evan pecah dan ia berlutut di hadapan jasad anaknya yang telah terbujur kaku.
Ayah Aluna mencoba mengangkat tubuh Evan yang lemas, tapi Evan tidak ingin beranjak dari sana. Dia sudah menunggu hari ini, dan sekarang dia kehilangan momen ini karena kebodohannya.
Saat ini ia sangat, sangat, sangatlah hancur. Ini kah yang orang-orang sebut dunia seperti runtuh. Ternyata sangat menyakitkan.
"Maaf nak. Maaf ... Maaf." Hanya itu yang mampu Evan ucapkan seraya berlutut di hadapan jasad anaknya. Saat ini tidak ada kata yang mampu menggambarkan dukanya.
Mertuanya kembali mencoba menenangkan Evan.
"Ini sudah takdirnya. Ini bukan salah kamu." Mertuanya terus bersamanya untuk menenangkannya. "Aluna hanya sedang sangat emosional. Jangan dengarkan ucapan Aluna. Ini bukan salah kamu," ucap mertuanya lagi.
Tapi itu tidak mampu mengurangi rasa sesal Evan. Dia dengar bagaimana Aluna menahan kontraksi nya demi menunggu kedatangan nya, hingga ia kehilangan putra nya.
Evan mendekap wajahnya dan kembali terisak. Ayah Aluna terus mengusap bahu menantunya itu.
***
__ADS_1
Hari ini pemakaman putra mereka. Mereka mengantar putra mereka ke peristirahatan terakhir. Setiap langkah terasa sangat menyakitkan bagi mereka. Evan hanya bisa diam seribu bahasa dan Aluna tidak henti-hentinya menangis dan tengah di tenangkan oleh Marissa. Tangis Aluna semakin tak terbendung saat tanah mulai menutupi makam tersebut. Aluna merasa
semakin hancur saat menghadapi kenyataan bayi yang ia kandung 8 bulan harus pergi meninggalkannya.
Sedangkan Evan hanya terpaku tanpa kata dengan pakaian putih nya. Evan hanya sedang merasa semua ini masih seperti mimpi.
...***...
Semua orang larut dalam duka. Aluna masih tidak mau bicara dengan Evan. Keadaannya masih lemah pasca melahirkan, tapi dia tidak mau makan apapun. Dia masih sangat berduka, itu membuat semua orang khawatir. Evan pun masih sama kacau nya dengan Aluna.
...***...
Malam itu mereka tidur dengan saling membelakangi. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka.
Aluna tidur sambil menangis dengan air mata yang membasahi bantalnya. Evan tidur walaupun tidak dengan air mata, tapi terlihat jelas di wajahnya jika ia sangat berduka. Matanya kosong menatap. Hingga dia terlelap dalam dukanya.
...***...
"Kamu nggak mau makan?! Dari kemarin kamu belum makan," ucap Evan mencoba mendekati Aluna.
"Apa peduli mu, aku hidup atau mati, APA PEDULI MU?!" bentak Aluna. Membuat Evan tercekat menelan ludahnya yang terasa pahit itu.
"Aku peduli, karena aku suamimu," ucap Evan lembut seraya menyentuh tangan Aluna, tapi dengan cepat di tepis oleh Aluna. Evan menarik tangannya, Aluna masih sangat marah, hingga ia selalu buang muka dari Evan.
Evan melihat wajah Aluna yang pucat, dia mencoba menyentuh kening Aluna. Hanya beberapa saat, kemudian tangannya kembali di tepis oleh Aluna.
"Kamu demam. Aku panggil dokter, ya," seru Evan khawatir.
"Sudah aku bilang! Jangan dekati aku lagi. Aku muak dengan Mu. Pergi dari sini," teriak Aluna histeris. Evan kembali tercenung mendengarnya. Sebegitu besar kah rasa benci Aluna padanya?
"Aku menahan kontraksiku demi menunggumu, hingga dia meninggal. Bodohnya aku mengharapkan laki-laki sepertimu. Kau hanya orang yang merenggut kesucianku dengan paksa. Kau hanya melakukannya karena sikap bejatmu. Mana mungkin kau peduli dengan anak itu. Kau hanya bajingan yang aku harap bisa jadi malaikat. Bodohnya aku berharap terlalu berlebihan pada orang seperti Mu ... Bodohnya aku hingga membunuh anak ku sendiri demi orang sepertimu." Aluna terus histeris dan emosional. Itu membuat Evan bingung apa yang harus dia lakukan, Evan berdiri menatap Aluna.
"Aku pikir kebersamaan kita selama ini sudah bisa meluruskan pikiranmu tentang aku," gumam Evan mulai geram dan ikut terbawa emosinya juga.
__ADS_1
"Aku tidak pernah tau siapa kau. Kau hanya orang asing yang datang tiba-tiba di hidupku. Pergi lah, aku muak denganmu. Melihatmu membuat aku ingat lagi dengan anakku dan kejadian itu," ucap Aluna tajam dengan air mata yang terus membasahi pipinya. Evan menatap Aluna dan menelan kambali ludahnya yang terasa pahit.
"Aluna kau hanya sedang depresi. Aku pergi dulu," Ucap Evan seraya akan melangkah pergi. Tapi baru saja dia membalik badan, Buuukkkk.... Sebuah vas bunga mengenai punggung Evan, Evan menghentikan langkahnya, dia mengepalkan tangannya berusaha menahan diri, sesaat dia mulai kembali menguasai dirinya, ia menarik nafas panjang tanpa menoleh pada Aluna. Dia segera pergi meninggalkan Aluna yang sedang tidak terkendali di kamar.
Sebelum pergi Evan mengambil kunci mobilnya, dia menatap Aluna sejenak, Aluna balik menatapnya tajam, di mata mereka berdua terlihat jelas mereka sedang terjebak dengan emosi masing-masing. Percuma bicara sekarang, yang ada malah akan memperburuk keadaan, pikir Evan. Lalu Evan pun menghilang dari balik pintu kamar nya.
***
Ibunya kaget saat mendapati Evan datang pagi-pagi. Evan langsung berlari ke kamarnya tanpa menyapa ibunya. Rima yang melihat ke datangan Evan pagi-pagi buta tampak kaget, ia segera menyusul Evan ke kamarnya di lantai atas.
Rima melihat Evan tengah duduk di ranjang dengan tatapan kosong. Seperti beban berat sedang di pikulnya.
"Ada apa?!" tanya Rima.
"Aku hanya butuh waktu untuk tenang, Mi," ucap Evan. Rima tau Evan pasti bertengkar lagi dengan Aluna.
"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Nanti kalo sudah tenang. Kamu turun makan, ya," ucap Rima.
"Mi!" panggil Evan sebelum Rima sempat beranjak pergi.
"Ya?!" seru Rima seraya menoleh kepada putranya itu.
"Peluk aku!" Seru Evan lagi, Evan tengah merasa sangat buruk saat Aluna menganggapnya sebagai seorang bajingan kembali. Rima menghampirinya, dan memeluknya dengan hangat, Evan sangat terluka saat ini, tapi Rima masih bingung dengan tingkah putranya itu. "Apa aku laki-laki yang sangat buruk, Mih? Aku udah berusaha menebus semuanya!" ucap Evan.
Sekarang Rima tahu pasti Aluna mengucapkan sesuatu yang menyakiti perasaan putranya, hingga ia terlihat sangat terluka mendengarnya. Rima melepaskan pelukannya, dan menatap Evan dalam.
"Saat seseorang marah, dia akan mencari kata-kata yang sangat menyakitkan agar dapat menyakiti orang lain. Tapi kalo udah reda, nanti juga mereka akan menyesal. Jadi jangan diambil hati kalo Aluna marah, ya," nasehat Rima lembut dengan tatapan yang hangat,itu membuat Evan menjadi tenang. Rima tersenyum memandang wajah putranya itu.
"Kau anak baik. Sangat baik. Lihat! Semua orang menghormatimu. Bahkan dosen di Oxford juga menyayangimu semua. Saat kecil pak haji dan tetangga semua menyukaimu," kenang Rima mencoba menyemangati putranya itu.
"Dia mengingat itu lagi. Seolah-olah baru saja terjadi," ucap Evan kembali kacau, seraya melempar pandangannya ke luar jendela. Rima menggeleng pelan, dan kembali memeluk Evan.
BERSAMBUNG...
__ADS_1