
Evan dan Aluna segera menuju kediaman orang tua Evan. Tepat saat semua orang baru mulai sarapan.
"Hei, Kok pagi-pagi sih?" sapa Rima ramah menyambut kedatangan anak dan menantunya seraya menghampiri keduanya.
"Iya, mih. Ini ngidam pengen sarapan bareng katanya," tutur Evan yang di sambut senyum malu-malu Aluna seraya melotot kearah Evan.
"Oya? Ya udah, Ayok kita sarapan sama-sama sayang," Rima segera merangkul pinggang menantunya itu dan mengajaknya langsung menuju ke ruang makan keluarga untuk sarapan bersama.
Di meja makan sederhana itu, Aluna begitu menikmati sarapan paginya. Apa lagi di temani oleh Evan. Suami yang sangat di sayangi nya, itu membuat sarapan nya semakin bermakna.
Aluna menyukai sarapan di rumah Evan bukan hanya karena Evan, tapi karena ada kasih sayang orang tua di sana. Obrolan akrab antar keluarga yang ramah, dan kedua orang tua yang lengkap dan perhatian. Aluna merasa seperti memiliki keluarga yang utuh di rumah itu. Dia begitu menikmati sarapan paginya di kediaman mertuanya itu.
Apa lagi dia mendapatkan perhatian lebih dari anggota keluarga yang membuatnya merasakan kehangatan keluarga yang tulus dari orang tua seutuhnya. Di mana selama ini Aluna sudah lama kehilangan itu, terutama kasih sayang seorang ibu. Aluna sudah lama tidak merasakan kasih sayang seorang ibu karena ibunya meninggal sejak dia di bangku SMP. Dan sejak itu otomatis dia besar bersama pengasuhnya, sedangkan ayah dan bibi nya sibuk dengan pekerjaan mereka dan jarang memberikan perhatian pada Aluna. Aluna hanya di berikan uang tanpa batas, tapi tanpa kasih sayang yang utuh.
Evan melihat mata Aluna berkaca-kaca, dia mengerti dengan kekosongan hati Aluna selama ini. Dia menggenggam tangan istrinya yang membuat Aluna membalas nya dengan tatapan hangat dan senyuman tulusnya. Selama ini dia selalu bersikap arogan dan bossy hanya untuk mendapatkan perhatian, dan hari ini Aluna mendapatkan kasih sayang yang ia rindukan. Tiba-tiba Aluna merasa tidak kuat ia memeluk Evan dan menangis di tengah sarapan pagi mereka. Dia terisak di pelukan Evan, Evan hanya bisa mengelus lembut kepala Aluna dengan perasaan bingung, begitu pula yang lainnya.
"Aku kangen mami," bisik Aluna di pelukan Evan. Perlahan sekarang Evan mengerti kenapa Aluna ingin sarapan bersama keluarganya.
Aluna mengurai pelukannya dan menatap semua orang.
"Hari ini ulang tahun mami aku. Aku kangen mami. Jadi ingat kalo mami Rima suka masak kayak mami. Aku pengen makan sarapan pagi mami Rima buat obatin kangen aku sama mami di ulang tahun mami ini," ucap Aluna seraya menyeka air mata haru dan rindunya.
Rima meraih tangan Aluna yang berada di atas meja dan mengusap punggung tangan Aluna dengan penuh kasih sayang. Aluna yang masih di pelukan Evan menatap Rima dengan hangat. Rima hiba dengan kesendirian Aluna, ternyata dia menyimpan kerinduan yang besar pada ibunya selama ini. Setelah sekian lama, baru kali ini Aluna mengungkapkan kerinduannya.
"Nggak papa. Kamu bisa sarapan di sini kapan saja kamu suka. Bahkan kamu bisa tinggal disini kalo di rumah lagi nggak ada Evan atau keluarga kamu. Kamu nginep aja disini. Di kamar Evan," ucap Rima penuh kasih sayang. Aluna terharu mendengarnya dan segera memeluk Rima di sampingnya seraya berbisik.
"Makasih mi," bisik Aluna di pelukan Rima.
Yang lain pun ikut terharu. Evan mengusap lembut punggung istrinya itu. Rima menatap putranya itu dengan hangat dan di sambut senyuman oleh Evan, seolah senyuman itu mengartikan terima kasihnya pada Rima karena bersedia menerima Aluna di rumahnya.
__ADS_1
***
Selesai sarapan Aluna mengunjungi kamar Evan. Di sana tidak banyak yang dapat di temukan nya. Kebanyakan hanya ada pakaian Evan yang tertata rapi di lemari, dan sebagian lagi masih kosong.
"Ini baju kamu persiapan buat kabur kalo kita lagi berantem, ya?" tanya Aluna agak kesal, melihat suaminya sudah mempersiapkan bekal untuk kabur. Evan memang setiap kali bertengkar dengan Aluna, selalu pergi ke rumah orang tuanya dan tidak jarang ke esok kan harinya baru dia pulang.
"Kalo kamu di bilangin suka ngeyel. Makanya aku suka kabur. Kalo punya istri muda pasti enak ya, bisa kabur kapan saja," canda Evan asal tanpa mengalihkan perhatian dari handphone nya.
Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba sebotol parfum mendarat di kepala Evan.
'BUG...'
Benda itu mendarat di jidat Evan. Itu membuat Evan mengerang kesakitan.
"Sshhh...Auuu .... " rintih Evan seraya mengusap jidatnya yang baru saja kena sambitan Aluna.
Tatapan Aluna tajam kearahnya dengan wajah di tekuk. Tapi bukannya membuat Evan takut, Malah Evan merasa lucu dengan tingkah istrinya itu. Evan segera mendekatinya yang tengah duduk di kursi itu.
"Bercanda, ah .... " goda Evan seraya duduk berlutut di hadapan Aluna dan mencubit hidung mancung Aluna. Tapi tidak membuat Aluna berhenti cemberut.
"Ayo, donk... Nggak usah ngambek lagi. Mana mungkin aku selingkuh. Aku udah punya istri yang cantik, penurut, baik hati, kaya raya dan gampang di manfaatin. Apa lagi coba?" Aluna masih saja cemberut, apalagi saat mendengar sindiran Evan di ujung pujiannya. Lelah dengan tingkah Aluna. Evan pun berdiri.
"Ah... Udah, ah. Kamu suka ngambekan. Mending aku main sama Anto." Evan pun berlalu pergi.
"EVAN! tuh kan, Kamu ninggalin aku lagi!" teriak Aluna manja.
"Kan ada mbak syahila. Mami juga ada. Kamu ngobrol aja bareng mereka. Aku ada urusan sama Anto sebentar," seru Evan sebelum menghilang di balik pintu kamarnya meninggalkan Aluna yang masih kesal di kursi meja belajar Evan.
***
__ADS_1
Evan pergi menemui Anto di tokonya. Dia melihat Anto yang tengah santai dengan karyawan yang masih sibuk menyusun barang-barang. Gaya pemalas Anto benar-benar abadi dari dulu sampai sekarang dia masih saja dengan gaya slengean nya. Evan tersenyum melihat sosok sahabat masa kecilnya itu, seburuk apapun kelakuan Anto di mata Evan dia adalah sahabat terbaiknya.
"Eh, Van," sapa Anto seraya menghampiri Evan dan memberi salam persahabatan mereka.
"Apa kabar lo? Sehat? Semalam ngapain? Minum segitu doank langsung sangean," ledek Anto dengan gaya khasnya.
"Itu juga yang mau gue tanyain sama, lo? Ayok kita cari tempat yang enak buat ngobrol," ajak Evan.
Merekapun pergi ke sebuah kafe yang tidak jauh dari situ.
...***...
Sesampainya mereka di kafe tersebut dan setelah minuman pesanan mereka datang, Evan langsung mengintrogasi Anto.
"Itu minuman apaan? Kenapa gue merasa kayak orang gila habis minum? gue juga sering minum kali, tapi nggak kayak gitu juga. Kalo cuman 2 gelas doank, nggak mungkin kan mabuk. Temen lo masukin apa kedalam minuman itu?" selidik Evan langsung ke inti permasalahannya.
"Gue sempat liat dia masukin sesuatu, tapi nggak yakin juga. Mungkin itu sejenis obat. Sebab gue denger dia itu kan suka bisnis gelap juga. Kayak jual cewek, atau nyediain cewek simpanan gitu. Pasti lah dia punya obat gituan, biar si cewek rela kerja. Tapi yang jadi masalahnya, buat apa dia gituin lo. Kalo mau ngejebak lo, sama cewek-cewek yang ada di sana aja, dia juga nggak akan ngantar lo pulang lah!" tutur Anto yang membuat Evan tertarik. Brian seperti punya rencana lain.
"Masak, sih? apa motifnya dia? Kalo emang masalah dia cemburu gue sama Aluna, ngapain dia suruh gue pulang? Jelas lah gue akan lampiasin sama istri gue. kayak nya dia punya maksud lain." Evan mulai mencurigai Brian.
"Hati-hati, Van. Dia itu bukan orang yang bener. Bartender yang semalam ngobrol sama gue, banyak cerita tentang Brian. klub malam itu sebenarnya dulu bukan punya dia. Baru-baru ini aja, itu klub jadi atas nama dia. Terus semenjak di pegang sama dia, itu klub berubah jadi tempat rusak, dia suka perjual beli cewek-cewek gitu. Kalo di liat dari cara kerjanya dia. Dia udah cukup berpengalaman di bidang itu. Lo hati-hati aja berhubungan dengan dia. Dia pasti kenal banyak orang-orang yang nggak bener," Anto mencoba memperingati. "Gimana ceritanya, sih. Aluna bisa kenal sama orang kayak gitu?" tanya Anto lagi seraya meminum minumannya.
"Katanya, sih. Brian pernah nolongin dia dari perampokan. Terus, semenjak itu dia sering banget kebetulan bisa nolong Aluna, sampe-sampe Aluna anggap dia kayak pahlawannya. Tapi gue punya firasat kalo dia ngincar Aluna," Evan mulai khawatir. Brian terbilang orang yang sangat berani dalam bertindak.
"Van, dia itu dulu pernah tunangan sama cewek. Anak orang kaya, tapi nggak tau kenapa, tiba-tiba mereka putus. Padahal udah sempat tunangan. Semenjak dia putus sama tuh cewek. Pulang-pulangnya dia jadi kaya raya sekaligus jadi brengsek kayak orang kesumat . Ada yang bilang dia nipu tunangannya itu, dan ambil uang keluarga tunangannya, trus kabur ke Jerman. Tapi sampe sekarang nggak ada tindakan apa-apa dari keluarga mantan Tunangan nya itu. Kalo emang dia nipu kan seharusnya mereka bisa lapor polisi. Mungkin karena itu juga, berita dia nipu itu antara bener atau sekedar isu, doank," ucap Anto yang membuat Evan mulai menalar motif Brian sebenarnya pada Aluna. " mungkin waktu itu, dia emang ngincar Aluna. Tapi dia keburu nemu cewek yang lebih tajir yang gampang di dapat. Jadi dia berubah haluan. Lo kan tau sendiri gimana kerasnya bokap Aluna. Pasti nggak gampang dia dapetin Aluna, yang notabene nya dia waktu itu cuman cowok kere biasa. Nah, sekarang kan dia udah putus dan udah kaya raya juga, jadi dia mau deketin Aluna lagi, kali," terang Anto menambahi dengan hisapan sebatang rokoknya dan kepulan asap rokoknya yang bertebaran.
"Coba deh lo tanya-tanya temen Aluna, kali aja lo dapat petunjuk," saran Anto. "lo harus cepat, Van. Sebelum dia nyampek sama tujuannya dia," ingat Anto lagi.
BERSAMBUNG...
__ADS_1