PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
Tak Akan Kabur Lagi


__ADS_3

Malam itu Evan pulang dari bekerja tepat jam 9 malam. Tentu semua anak-anaknya sudah tertidur. Tapi saat Evan membuka pintu, ternyata Aluna masih terjaga. Dia tengah memandangi box bayinya. Di sana ada Kyu si bungsu yang masih berusia 6 bulan, tampaknya dia baru tertidur.


Evan menutup pintu perlahan, dan Aluna masih tidak bergeming di sana. Dia masih menatap bayi mungil itu, bisa Evan tebak. Pasti Aluna habis menangis lagi. Entah kenapa sejak melahirkan Kyu Aluna sangat sensitif, sering menangis dan sangat mudah tersinggung. Terkadang membuat Evan agak ngeri jika berkomunikasi dengannya.


Evan segera mengganti pakaiannya bersiap untuk mandi lagi karena lengket habis pulang bekerja. Sesaat dia langsung ke kamar mandi. Tapi dia tidak mendapati handuknya.


"Lun, tolong donk handuk. Aku lupa bawak," seru Evan dari kamar mandi. teriakan Evan barusan sontak membangunkan si bungsu Kyu yang memang tidur bersama mereka di box bayi. Aluna membelalakkan matanya kesal seraya menyerahkan handuk dengan kasar kepada Evan. Evan tau Aluna kesal karena ulahnya Kyu terbangun.


Saat keluar Evan mendapati Aluna tengah menidurkan Kyu kembali. Kali ini Evan bingung dengan pakaian tidurnya yang tidak ada di tempat biasa.


"Lun, baju tidur aku mana?" tanya Evan seperti berbisik. Aluna menatap sekilas dengan tatapan yang masih kesal kepada Evan.


"Tuh, di lemari aku. Pelayan salah masuk keknya," sahut Aluna datar. Evan segera mencarinya di tempat yang Aluna maksud. Sesaat Evan kembali keluar dari walking closetnya.


"Nggak ada," seru Evan.


"Kenapa sih soal baju aja susah banget. Kalo nggak ada cari di tempat lain kan bisa. Kenapa harus aku yang nyariin semuanya, harus aku yang urus semuanya. Apa kalian nggak ada yang bisa ngerjain semuanya sendiri. Apa harus aku yang lakuin semuanya ....," omel Aluna mulai tampak tidak dapat menahan dirinya. Sesaat Evan terdiam lalu langsung kembali ke walking closet dan memakai pakaian apa yang ada saja, yang bisa ia temukan. Aluna kembali nampak kesal.


"Itu kan bukan baju tidur," omel Aluna lagi.


"Aku nggak nemu baju tidurnya," sahut Evan mulai malas menanggapi Aluna yang seperti sedang cari gara-gara. Evan bersiap akan beristirahat lagi. Dia langsung naik keranjang bersiap untuk tidur karena memang dia sudah sangat lelah.


"Di cari donk. Gimana bisa nemu kalo nggak nyari," sahut Aluna.


"Kan udah aku bilang nggak ada. Lagian mau aku cari dimana dengan kamar yang super berantakan kayak gini," sahut Evan mulai tidak sabar.


"Kamar ini berantakan karena ada 3 anak yang selalu berantakin. Dan yang beresin cuman aku seorang karena pelayan nggak di bolehin masuk kamar ini sama kamu. Belum lagi aku juga harus urus semua keperluan kamu," keluh Aluna mulai mau menangis lagi sambil terus mengomel. Evan berdiri dan mulai tampak jengah.


"Aku juga capek, Lun. Aku juga baru pulang kerja. Jam segini aku baru bisa pulang. Aku juga stress di kantor, nyampek rumah aku harus hadepin kamu lagi. Kalo kamu rasanya nggak sanggup aku disini. Aku bisa ketempat lain," tukas Evan yang sudah habis kesabarannya menghadapi Aluna.


Dengan tidak sabar lagi dia segera menarik koper dari walking closetnya dan mulai mengeluarkan semua pakaiannya. Aluna membelalakkan matanya tidak percaya jika Evan akan kabur lagi.


"Kamu mau kemana?" seru Aluna, ternyata kegemaran Evan kabur masih saja belum menghilang. Evan tidak menjawab pertanyaan Aluna. Dia terus saja membongkar barang-barangnya.


Aluna jadi bertambah kesal dan ikut gemas dengan tingkah Evan. Dia segera menghampiri koper Evan yang tengah di tinggal sebentar oleh Evan.


Saat Evan kembali dengan membawa barang-barangnya yang lain ternyata Aluna tengah mengeluarkan barang-barangnya yang sudah ia susun di koper tersebut untuk kembali ia susun ke tempat semula.

__ADS_1


Tidak jauh dari mereka ada Kyu si bungsu yang tengah menangis histeris. Bayi mungil itu di abaikan kedua orang tuanya yang tengah bertengkar. Saat tangis Kyu semakin keras, Evan dan Aluna segera melirik bayi tersebut.


"Tuh, dia nangis," timpal Evan datar dengan tatapan lurus kepada Aluna. Aluna segera menghampiri Kyu dan menggendong bayinya.


Evan kembali terus memasukkan semua barang-barangnya kedalam koper. Dan sesaat Aluna segera menghampiri koper Evan dan mengeluarkan semua pakaian Evan kembali. Sesaat Evan menghentikan kegiatannya dan berganti menatap Aluna yang tengah mengeluarkan barang-barangnya dan menyusun nya kembali ke tempat semula.


"Kamu udah janji, kalo kita bertengkar kamu nggak akan kabur lagi. Tapi sekarang kamu malah mau kabur lagi. Kita itu udah punya 3 anak. Kalo kamu ninggalin aku, mau aku kemanain mereka semua?!" isak Aluna seraya terus mengeluarkan barang-barang yang Evan susun di dalam kopernya dengan Kyu yang masih di gendongannya. Sedangkan Evan masih mematung di posisinya. "Aku capek, urus 3 orang anak kita seharian. Aku pengen istirahat aja nggak bisa. Jadi wajarkan kalo aku ngomel dan ngeluh buat luahin perasaan aku. Kamu malah mau ninggalin aku. Aku tau, aku itu nggak kayak dulu lagi, banyak perempuan di luar sana yang lebih dari pada aku yang tertarik sama kamu. Kamu muda, sukses dan tampan. Sedangkan aku, jangan kan buat dandan buat istirahat aja aku nggak punya waktu," omel Aluna tanpa henti dan akhirnya dia lelah karena terus mengeluarkan barang-barang Evan seraya menyusunnya dan mengomel membuat dia kehabisan tenaga dengan cepat. Sekarang ia terduduk seraya menangis.


Evan menatapnya datar. Semenjak mereka memiliki 3 orang anak dia jadi sangat suka sekali mengomel. Seperti saat ini, dia mengomel lagi dan itu membuat Evan lelah dan jengah di rumah. Puncaknya Evan sampai ingin pergi saja rasanya. Walau dia tidak serius dengan ancamannya. Dia hanya berniat menggertak Aluna agar berhenti mengomel.


Evan segera mengambil Kyu dari pelukan Aluna dan menggendong bayi 6 bulan itu. Ia juga menarik Aluna ke pelukannya. Itu membuat tangis Aluna kembali pecah dan memeluk erat suaminya.


"Jangan tinggalin aku, Van," isak Aluna.


Ternyata benar, Aluna tengah mengalami sindrom baby blues. Evan sengaja membuat Aluna mengomel untuk mengeluarkan isi hatinya agar ia bisa merasa lega.


"Aku nggak akan ninggalin kamu dan anak-anak kita. Aku tau kamu capek," bisik Evan lembut dengan Aluna yang masih di pelukannya dan Kyu si bungsu yang tengah di gendongannya.


"Tapi jangan ngomel terus, aku capek dengernya," keluh Evan membuat Aluna mengernyitkan keningnya.


***


Setelah pertengkaran mereka kini mereka kembali berbaikan. Masa lalu cukup menjadi pelajaran bagi mereka untuk tak melarutkan lagi masalah. Aluna dan Evan telah banyak belajar tentang bagaimana cara mengalahkan ego demi mempertahankan hubungan mereka. Setelah itu Evan tertidur dengan membelakangi Aluna. Sedangkan Aluna masih terjaga untuk menyusui si bungsu Kyu yang sudah berusia 6 bulan. Aluna melihat sekilas ke arah Evan yang sudah pulas tertidur.


Setelah selesai menyusui Kyu dan bayi mungil itu pun sudah kembali terlelap. Dia segera kembali keranjang. Masih sempat dia melihat Evan yang tengah tertidur dengan selimut yang tak menutupi seluruh tubuhnya. Aluna pun dengan lembut dan penuh kasih sayang menarik selimut itu hingga dengan sempurna menutupi seluruh tubuh suaminya. Dan satu kecupan hangat Aluna darat kan di wajah lelaki yang telah 7 tahun ini menikahinya itu. Bukan, tepatnya 12 tahun menjadi kekasihnya.


Lelaki paling sabar dan juga paling keras dalam menghadapinya. Akan tetapi sangat Aluna cintai. Dia tidak akan sanggup kehilangan suaminya ini.


Setelah memastikan semua baik-baik saja, Aluna perlahan pun mulai ikut tertidur terbawa ke alam mimpinya.


Malam pun semakin sunyi, yang terdengar hanya suara mesin AC yang tengah mendinginkan kamar tersebut. Sedangkan penghuninya sudah terbawa ke alam mimpi masing-masing.


***


Pagi menjelang, Aluna sudah bangun menyiapkan semua keperluan Evan untuk berangkat kerja. Dari pakaian, sarapan, hingga air panasnya. Setelah semua siap dia segera membangunkan suaminya yang masih terlelap di alam mimpinya.


Dia melihat betapa nyamannya tidur suaminya saat ini.

__ADS_1


"Sayang, bangun. Udah pagi," tutur Aluna lembut seraya mengusap wajah suaminya dengan telunjuknya. Hingga perlahan Evan mulai membuka matanya. Setelah mengumpulkan kesadarannya sesaat Evan pun tersenyum kearah anak dan istrinya itu. Si bungsu tampak riang dengan seulas senyumnya yang menggemaskan. Membuat Evan segera bangkit dan mengambil bayi mungil itu dari gendongan Aluna. Bayi 6 bulan itu tampak kegirangan saat bermain bersama ayahnya.


Evan dengan muka bantalnya sangat menikmati waktu bermainnya bersama anaknya. Di sela kesibukannya ini adalah momen yang paling menyenangkan baginya. Sementara Aluna tampak sibuk membereskan kamar mereka yang penuh dengan mainan anak-anaknya sementara Kyu bermain bersama Evan.


Tidak lama Liam datang dengan tablet iPhone nya.


"Ayah pulang lama?" tanya nya dengan wajahnya seraya menenteng tabletnya.


"Mungkin malam," sahut Evan. Terlihat raut tak suka Liam.


"Sekarang kunci mobil ayah kamu tarok mana?" tanya Evan. Liam memang sering menyembunyikan kunci mobil Evan karena tidak ingin Evan pergi atau sekedar ingin bermain dengan gantungan kunci mobil Evan yang merupakan miniatur mobil-mobilan. Hingga Liam sangat tertarik dengannya.


Liam dengan patuh walau enggan tetap mencari kunci mobil ayahnya. Dia tampak merogoh kedalam box mobil-mobilannya. Lalu menyerahkannya kepada Evan.


"Nanti pulang beli truk yang gede ya," tutur Liam lagi dengan lugu.


"Ini kunci mobil kenapa di sembunyiin terus," tanya Evan dengan gaya melotot sedangkan Aluna masih sibuk membenahi pakaian Evan dan dasinya.


"Li, suka mobil itu," tunjuk Liam pada gantungan kunci Evan. Evan menatap kunci mobilnya lalu tersenyum.


"Udah kasih aja itu, dari pada besok di sembunyiin lagi sama dia," tutur Aluna seraya masih sibuk merapikan dasi suaminya.


Evan pun melepaskan mobilan itu dari kunci mobilnya dan menyerahkannya kepada Liam. Liam menyambutnya dengan tawa riang. Evan dan Aluna hanya tersenyum melihat tingkah putra mereka yang super aktif dan pintar itu.


***


Setelah selesai berpakaian rapi dan sarapan Evan segera buru-buru turun di ikuti oleh anak dan istrinya.


"Aku pergi dulu, ya. Nanti jangan lupa jemput sekalian Manuela di tempat Mami. Nanti di bawa Mami ke Bandung lagi. Tinggal lagi sekolahnya," pesan Evan kepada Aluna sebelum pergi. Seraya mencium kening istri dan anak-anaknya.


Manuela si sulung memang sering menginap di tempat neneknya itu. Tapi karna Rima punya acara di Bandung Evan takut jika Manuela di bawa serta. Karena beberapa waktu lalu Manuela pernah di bawa Rima ke tempat saudara hingga beberapa hari. Evan tidak mau kejadian itu terulang lagi.


"Dadah ayah," teriak Liam antusias Evan pun membalas lambaian anaknya dengan menjulurkan kepalanya dari kaca mobil yang tengah di setir oleh supir itu. Liam terus melambaikan tangannya dengan riang hingga Evan hilang di balik pintu pagar rumah super mewah itu.


Setelah mobil yang membawa Evan tak terlihat lagi, barulah Aluna mengajak anak-anaknya untuk kembali masuk kerumah.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2