PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
BERDAMAILAH WAHAI HATI


__ADS_3

Wisnu tampak masih setia menunggu di depan ruangan ICU tersebut. Richard pun masih di sana. Hanya ada mereka bertiga di sana. Wisnu, Richard dan Tama.


"Kau tahu Richard! Aku menunggu dia pulang selama 10 tahun. Aku menunggu dia mengampuniku. Memberi aku kesempatan untuk menjadi ayah yang baik baginya," ucap Wisnu seolah-olah lupa bahwa Richard adalah musuhnya. Richard menoleh kearah Wisnu, dia menatap laki-laki itu. Apa yang dia harapkan. Simpati? rasa kasihan? Apa dia lupa jika mereka saat ini sedang bermusuhan? Tapi Richard melihat Wisnu seolah-olah butuh teman untuk bicara saat ini.


"Aku tau dia anak yang baik. Aku kagum dengan kegigihan dan ketekunannya, apalagi dia juga sangat cerdas," lirih Richard tulus. Wisnu pun menoleh kearahnya. Richard mengakui itu walau dia terlihat masih enggan untuk berdamai.


"Jadi, kenapa kamu ingin membunuhnya? Dia datang untuk bertanggung jawab, bukan untuk menyakiti kalian, dia datang untuk meminta maaf pada putrimu Richard. Kau tau Richard? Dia hanya ingin kau mengembalikan pekerjaan wanita yang kau pecat bersamanya. Pakdenya yang cerita. Kalau Evan merasa bersalah pada housekeepernya yang kau pecat gara-gara dia memarahi anakmu. Sesederhana itu yang dia minta dari mu, Richard. Dan sesampainya dia di sana kalian hajar dia tanpa mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu" Ucap Wisnu dengan mata berkaca-kaca. Richard hanya diam mendengar ucapan Wisnu, baginya tidak ada yang penting selain putrinya saat ini.


Tak lama dokterpun keluar dari ruang perawatan Evan.


"Masa kritisnya sudah lewat, dia mengalami cidera abdomen atau cidera pada organ dalam perut, jadi kita tunggu sampai keadaannya stabil, baru kita ambil tindakan operasi!"


"Apa keadaannya sangat buruk, dok!?" tanya Tama khawatir dengan keadaan adiknya, Richard pun ikut mendengarkan.


"Kita coba lihat lagi saat operasi apa ada cidera atau pendarahan di organ dalamnya. Jika ada kita akan coba untuk atasi itu," ucap dokter lagi.


"Dia harus sadar, om. Dia harus ada saat anaknya lahir," ucap Aluna yang entah sejak kapan ada disana. Wisnu menoleh kearahnya begitupun Tama. Wanita cantik itu tengah berdiri tidak jauh dari sana bersama pelayannya. Dengan mata yang tampak sembab dan tubuh yang kurus.


"Kamu!?" ucap wisnu terputus.


"Dia putriku, Aluna!" ucap Richard seraya mengelus pucuk kepala Aluna lembut penuh kasih sayang yang langsung di sambut Aluna dengan pelukan hangat dan tangisnya.


Wisnu menatap Aluna lekat-lekat. Gadis itu terlihat pucat dan tidak begitu baik. Mungkin dia menjadi begitu karena Evan, tapi tidak mengurangi kecantikkannya sedikitpun. Masih terlihat cantik jelita dengan dress selutut nya, rambutnya yang tergerai begitu saja. Wajahnya yang tirus membuat dia terlihat anggun.


"Hidup putriku hancur karena anakmu. Kau beruntung punya 3 anak. Sedangkan aku hanya punya dia seorang di hidupku. Apa kau tidak akan marah jika jadi aku!?" Tantang Richard dengan tatapan tajam dan gigi bergemerutuk menahan amarahnya.


Wisnu terdiam sesaat.


"Bukan berarti kau boleh membunuh putraku Richard!" seru Wisnu.


"Lalu bagaimana lagi? Putramu licik. Dia membersihkan semua bukti untuk menutupi kejahatannya. Dia berencana matang untuk menyakiti putriku! Bahkan dia membuat putriku menjadi bungkam tidak berani bicara karena ketakutannya atas kejadian tersebut," ungkap Richard lantang.


Perdebatan itu semakin panas, Tama kewalahan melerai keduanya, hingga dokter datang lagi untuk melihat kondisi Evan. Baru mereka bisa tenang lagi.


"Sudah, Dad. Kita pulang. Biar kan Evan di tangani dokter dulu," bujuk Aluna yang tentu akan di ikuti Richard. Dia mendekap putri kesayangannya itu. Dia menatap Wisnu tajam sebelum pergi. Aluna terus mendesak ayahnya untuk pulang. Richard pun akhirnya menuruti permintaan putri semata wayangnya itu. Dia hanya menitip anak buahnya di sana untuk berjaga-jaga agar Evan tidak di bawa kabur lagi.


Sekarang tinggal Wisnu yang setia menunggu putranya di luar ruangan Evan di rawat.



...***...


Setelah beberapa hari di rawat pagi itu Aluna datang bersama pelayannya untuk menjenguk Evan. Tepat saat Rima akan pergi.

__ADS_1


"Eh Luna, tante titip Evan dulu, ya. Dia belum sadar sejak habis di operasi. Tapi keadaannya sudah mulai membaik, takutnya dia sadar nggak ada orang di sini. Tante mau pulang sebentar dulu," ucap Rima mencoba bersikap netral agar tidak terjadi ketegangan di hubungan mereka. Aluna senang merasa dirinya mulai di terima, walau dia belum tau bagaimana dengan reaksi Evan padanya.


Sekarang tinggal Aluna dan Evan yang masih belum sadar di ruangan tersebut pasca operasi Laparotomi. Aluna menatap Evan. Entah kenapa dia tidak seperti seorang korban, dia malah merasa bersimpati pada Evan. Apalagi melihat bagaimana Evan datang menemuinya tanpa takut dengan resikonya. Itu membuat Aluna semakin tersentuh.


Tapi dia selalu diawasi gerak-gerik nya oleh Richard sekarang. Itu membuat dia kesulitan, sehingga Aluna harus bekerja sama dengan pelayannya untuk keluar rumah.



Tiba-tiba Evan mulai bergerak. Berlahan dia mencoba membuka matanya. Aluna tersenyum senang melihat kesadaran Evan.


"Kamu sudah sadar?" tanya Aluna. Evan masih tampak linglung karena baru sadar. Aluna segera memanggil dokter untuk mengecek keadaan Evan yang baru sadar.


Tidak lama datang dokter muda bersama perawat masuk ruangan untuk memeriksa keadaan Evan. Setelah selesai merekapun pergi.


"Kamu sendirian?" tanya Evan yang terlihat mulai sadar dan mulai stabil kesadarannya.


"Iya, daddy lagi kerja. Aunty lagi pergi!" terang Aluna dengan senyuman tipisnya.


"hmmm! Siapa yang bawa aku ke rumah sakit?" tanya Evan belum tau apa-apa.


"Keluarga kamu!" ujar Aluna yang membuat raut wajah Evan berubah.


"Dimana mereka sekarang?" tanya Evan lagi.


"Kamu ... Nggak takut sama aku?" tanya Evan agak ragu.


"Hmmmm!" Aluna menggeleng pelan seraya tersenyum. "Aku cuman khawatir sama kamu. Aku di kurung aunty sampe nggak bisa menghentikan dia. Maaf," ucap Aluna. Evan tersenyum. "Aku udah jelasin sama papah bahwa itu bukan kesalahan kamu. Aku bilang kita udah sering lakuinnya, dan malam itu kita bertengkar, karena itu aku depresi. Aku harap itu bisa lindungin kamu dari daddy dan aunty supaya nggak apa-apain kamu," terang Aluna dengan tertunduk "Walau daddy masih nggak percaya. Dia bilang nggak mungkin kita pacaran kalo baru seminggu ketemu," terang Aluna dengan tawa geli karena ingat bagaimana dia berbohong semalam.


"Terus?" tanya Evan masih bingung.


"Bilang aja kita kenalan waktu di Inggris," lanjut Aluna. Evan tersenyum, melihat Aluna sudah terlihat lebih lembut.


"Kenapa kamu ngelindungin aku!? Aku jahat sama kamu!" lirih Evan seraya tersenyum kecut dengan bibir lemah dan pucatnya.


"Anak aku butuh ayahnya!" ucap Aluna dengan tatapan dalam. Evan mengernyitkan dahinya tidak paham. "Udah 3 minggu! Karena khawatir makanya aku cek pakek tespack dan ternyata bener positif," ucap Aluna lagi dengan senyum kaku serayq memainkan jarinya karena grogi harus mengakui kondisinya pada Evan. Dia takut Evan tidak mau menerima itu.


"Maaf!" ucap Evan pelan dan merasa bersalah atas penderitaan Aluna. Aluna melihat kearah Evan, dia menatap dalam ke mata Evan.


"Bertanggung jawab lah!" ucap Aluna bersungguh-sungguh dan penuh harap seraya menatap mata Evan. Evan kaget mendengarnya, dia membalas tatapan Aluna kaget tidak percaya. Lalu dia tersadar, Evanpun tersenyum.


"Asal aku nggak di bunuh. Tapi, Apa mungkin? Aku nggak pantas buat kamu!" ucap Evan tau diri dan mulai merasa tidak percaya diri.


"Maaf ya! Aunty aku bikin kamu kayak gini." ucap Aluna. Evan tersenyum.

__ADS_1


"Nggak papa kok. Ini pantas buat aku," ujar Evan.


"Kamu pantas buat aku. Pria jenius yang baik hati!" ucap Aluna.


"Hahaha! Itu bukan sesuatu yang bisa di banggakan di hadapan daddy kamu," ucap Evan tertawa pelan sambil menahan sakit di perutnya. Aluna terdiam, tapi melihat Evan yang mulai ramah dengannya. Dia malah semakin yakin pada Evan.


"Bagaimana kalau aku yang bersikeras!? Daddy nggak akan nolak. Asal kamu janji mau bertanggung jawab," ucap Aluna. Evan hanya tersenyum.


"Aku haus, apa boleh aku minum?" tanya Evan.


Aluna pun segera mengambil air, tapi dia bingung memberikannya bagaimana. Mengerti akan kebingungan Aluna Evanpun tersenyum.


"Pakek sendok aja!" ucap Evan. Aluna pun merasa malu karena tidak bisa apa-apa. Setelah mendapatkan sendok dia segera menyuapi Evan sedikit demi sedikit dengan air minum di gelas tersebut.


...***...


Tidak lama ayah dan ibunya Evan datang. Mereka senang melihat Evan sudah sadar. Dengan Tidak sabar ayahnya menghampiri Evan. Evan hanya diam tampak tidak sebahagia itu. Dia tampak masih canggung.


"Kamu sudah sadar, nak? Syukurlah! Tadi Mami sama Papa pulang sebentar," terang ibunya tampak ramah juga. Evan hanya diam, Aluna hanya kagok tidak tau harus berbuat apa melihat keadaan yang terlihat canggung ini


"Hei, Aluna. Makasih ya udah jagain, Evan? Apa kabar kamu? Tante dengar-dengar kamu sering muntah-muntah. Gimana, masih mual!?" tanya ibu Evan mencoba mencairkan suasana.


"Masih kalo pagi, tante. Kalo agak siang cuman sedikit," terang Aluna. Evan hanya terdiam mendengarnya, pikirannya masih kacau pasca kedatangan orang tuanya.


"Aluna pulang dulu, tante. Nanti daddy, pulang." ucap Aluna terlihat buru-buru. Lalu pergi meninggalkan Evan yang mematung.


"Bagai mana kabar kamu, Van?" tanya ayahnya. Evan hanya tersenyum tipis.


"Baik!" jawab Evan singkat.


"Papa senang akhirnya kamu pulang," ucap ayahnya berkaca-kaca. Ibunya pun hanya diam di samping.


"Kenapa nungguin aku? Aku tadinya ingin bunuh diri, makanya aku ke rumah itu. Aku ingin pergi selamanya. Karena aku udah nggak punya tujuan lagi. Aku udah selesai dengan semuanya. Karena itu aku cari orang yang bisa bunuh aku! Kenapa kalian bawa aku kesini?" tanya Evan tajam.


"Kamu masih marah sama Mami, Papa , nak!?" ucap ibunya.


"Nggak. Aku cuman capek," ucap Evan membuang muka.


"Apa yang bisa Papa lakuin buat tebus kesalahan Papa, nak?" tanya ayahnya mulai bergetar menahan tangisnya. Begitu pula si istri langsung berkaca-kaca matanya.


"Jangan lakukan apapun buat aku. Biarkan aku kayak dulu di mata kalian. Kalian kayak gini terasa aneh buat aku," ucap Evan.


"Van...." ucap Ayahnya terputus. Dia pun pergi dan di susul ibunya. Evan masih diam. Dia memejamkan matanya, dan buliran bening itu langsung menetes dari sudut matanya. Ayahnya menangis di pelukan istrinya di luar ruangan perawatan Evan. Sedangkan Evan seorang diri menahan sesak di dadanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2