PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
CINTA YANG SEMPURNA


__ADS_3

Siang itu Aluna datang bersiap-siap dengan tas dan kopernya. Dia sudah tidak sanggup hidup penuh dengan tekanan dari keluarganya. Dia ingin pergi bersama Evan untuk meninggalkan semuanya. Dia sudah membulatkan tekatnya, tampak dari tas yang ia bawa. Evan menatap ke datangan Aluna kaget sekaligus bingung.


"Kamu udah sembuhkan? Nggak ada waktu lagi. Sore ini daddy aku pulang dari Brunei. Aku denger aunty telpon daddy buat bawa aku pergi. Aku nggak mau pergi. Aku mau sama kamu. sama anak kita. Ayo Evan kita pergi." Ucap Aluna dengan wajah panik. Evan bingung mau pergi kemana mereka. Setelah berfikir beberapa saat Evanpun mencoba mengikuti keinginan Aluna. Tidak ada gunanya menentang Aluna yang tengah emosional.


"Kemana?" Tanya Evan.


"Kemana aja. Ayo buruan, sebelum aunty aku tau aku pergi. Kalo dia tau dia pasti nyariin kita." Bujuk Aluna lagi.


Evan pun bangkit dari tempat tidurnya, masih terasa perih di perutnya pasca operasi itu. Aluna tampak khawatir dengan keadaan Evan yang terlihat masih sakit. Evan tampak menekan perutnya.


"Kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Aluna.


Evan menggeleng. Dia ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dan pergi menyelinap keluar rumah sakit.


"Mau kemana kita?" Kali ini Aluna yang bertanya.


"Kemana saja!" Ucap Evan sambil mengambil jaket dan tasnya dengan gerakan berlahan karena dia tengah menahan sakit. Aluna membuka tas ranselnya. Isinya entah berapa banyak uang cash di dalam tas itu. Tampak uang pecahan 100 ribu terikat rapi di dalam tasnya.


"Ini cukup?" Tanya Aluna. Evan menatapnya tidak percaya.


"Waw! Aku bisa nabungin bertahun-tahun buat dapat segitu." Ucap Evan tidak percaya. Aluna benar-benar putri seorang konglomerat, uang segitu masih dia ragukan kecukupan nya, sedangkan bagi Evan itu bisa membiayai hidupnya bertahun-tahun tanpa bekerja.


" Ya udah, kamu beruntung bisa dapatin ini semua beserta dengan tuan putrinya." Ucap Aluna manja seraya melilitkan tangannya di leher Evan dan Evan menyambutnya dengan memegang pinggang ramping Aluna. Hingga hidung mereka bersentuhan. Dan mereka tersenyum.

__ADS_1


***


Mereka pergi menggunakan mobil Aluna yang di stir oleh Aluna sendiri, karena kondisi Evan yang belum memungkinkan untuk menyetir. Aluna selalu sumringah sepanjang perjalanan mereka, tapi Evan tampak lebih banyak berfikir. Aluna menceritakan banyak mimpinya dalam rumah tangga mereka. Evan hanya menjadi pendengar yang baik, dia tampak masih pucat dengan bekas operasi yang masih perih.


"Aku akan ikut kamu kemana pun, Van." Ucap Aluna bahagia. Evan tampak punya pemikiran lain yang sedang di renungkannya. Dia mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya pada Aluna.


...***...


Sampai lah mereka di sebuah pantai. Pantai dengan angin yang berhembus, hingga menggelombangkan air di lautan lepas itu. Membuat hati menjadi tenang saat memandangnya.



(Pantai)


"Aku mau kita buat rumah tangga yang bahagia sederhana," ungkap Aluna dengan mata yang berbinar. Evan tersenyum kearahnya, senyum nya tampak tak begitu lepas, seperti ada beban di hatinya. Dia masih mencari kesempatan untuk bicara dengan Aluna.


Dia merasa tidak setuju untuk menikah seperti ini. Ini bukanlah gaya Evan, melakukan sesuatu tanpa perencanaan dan sangat gegabah. Tapi dia butuh momen yang tepat untuk membicarakan ini dengan Aluna. Dia tidak ingin menyakiti Alun.


Hingga beberapa saat diam, Evan merasa inilah waktu yang tepat untuk bicara. Dia menarik nafas panjang bersiap mengatakannya.


"Aluna!" seru Evan menoleh sekilas pada Aluna. "Apa kita bisa bahagia tanpa restu orang tua kita? Bagaimana kalau ini juga membuat kita tidak bahagia? Bagaimana kalau aku tidak bisa mencintai kamu sebesar ayahmu mencintaimu, Aluna? Apa kamu akan pergi dan menyesali keputusan kamu sekarang? Bagaimana kalau nanti aku rindu dengan keluarga ku dan bosan denganmu. Lalu aku meninggalkanmu? Kemana kamu akan pergi, Aluna?" ungkap Evan tetap tanpa menatap Aluna, dia menatap laut yang tak berujung itu sambil terus memikirkan kata-kata yang tepat agar Aluna tidak tersinggung dengan yang akan ia utarakan.


Sedangkan Aluna mulai bingung dengan apa yang sedang Evan fikirkan, apa yang ingin di sampaikannya sebenarnya. Apa dia ingin menghindari tanggung jawabnya. Curiga Aluna mulai merasa tak suka.

__ADS_1


"Hampir 10 tahun aku pergi meninggalkan orang tua ku. Ayah dan ibuku memperlakukanku dengan buruk di saat aku kecil. Itu membuat aku marah dan dendam. Tapi saat ayahku mengunjungiku di Inggris, dan aku mencoba mengabaikannya. Entah kenapa rasanya itu bukan hanya menyakiti ayahku tapi aku juga terluka di waktu yang bersamaan. Melihat dia pulang tanpa bisa bicara denganku, aku malah merasa hatiku semakin sakit, tapi aku tetap keras kepala saat itu," Aluna mulai berpikir, dia tidak menyangka jika Evan memiliki masa lalu yang pahit. Pantas saja hubungannya dengan keluarganya begitu kaku saat di rumah sakit. "Aluna ... Saat aku putuskan pergi meninggalkan mereka 5 tahun lalu, Entah kenapa yang aku ingat tatapan seorang ayah dan ibu yang hangat. Aku mulai lupa dengan ke marahanku pada mereka. Aku mulai lupa dengan dendamku. Setelah sekian lama aku mulai merasa merindukan mereka, dan aku butuh ayahku. Aku merasakan itu sekarang. Saat ini aku merindukan ayahku ...," ungkap Evan dalam dan penuh makna. Aluna mulai berfikir kemana arah pembicaraan Evan dia menatap Evan yang bicara sambil terus memandang lautan itu.


"Aluna!" Panggil Evan yang kali ini menatap Aluna dalam. "Jika orang tua seburuk itu masih tetap aku rindukan, bagaimana dengan kamu yang memiliki ayah penuh cinta, ayahmu memperlakukanmu seperti tuan putri. Dia selalu ada untukmu. Dia adalah cinta pertamamu Aluna. Aku takut jika aku tidak bisa sesempurna ayahmu, karena cinta pertama mu terlalu sempurna untuk aku tandingi. Aku takut aku tidak mampu sesempurna itu. Aku takut kamu pergi seandainya aku tidak sesempurna dia. Nanti kamu akan meninggalkan aku seperti sebatang kara," ucap Evan lagi. "Aluna! Kalau memang kamu mencintai aku, bisa tidak kamu bujuk ayah kamu buat merestui kita. Agar kamu bisa tetap memiliki semua dalam pernikahan kita tanpa kehilangan cinta sempurna dari ayahmu, Aluna." tutur Evan lembut. Aluna terharu mendengar ucapan Evan. Dia tidak menyangka Evan memikirkan semuanya dengan baik. Dia semakin yakin terhadap Evan, dia yakin Evan adalah lelaki yang tepat untuk menjadi suaminya, sekaligus ayah dari anaknya.


Evan benar, cinta ayahnya sangat sempurna untuknya, tidak ada alasannya utuk menyakiti ayahnya seperti ini. Ayahnya selalu berikan yang terbaik untuknya. Apapun yang terjadi, ayahnya selalu ada untuknya. Evan benar, dia tidak boleh menghianati ayahnya seperti ini. Tapi bagaimana jika ayahnya tetap tidak merestui hubungan mereka.


"Bagaimana kalau daddy tetap nggak restuin kita dan membunuh anak kita," ucap Aluna khawatir.


Evan menatap Aluna dan menggenggam tangan Aluna.


"Itu bakti kita. Anggap saja ini pertaruhan kita... Bersikap baik lah dengan ayahmu, jangan menentangnya. Luluhkan dia dengan ketulusan kita. Bukan dengan pertentangan kita," tutur Evan meyakinkan Aluna.


"Kamu ngorbanin dia?" lirih Aluna Seraya memegang perutnya.


"Tidak! Aku menyelamatkannya. Aku berusaha untuk memiliki kalian semua di pernikahan kita kelak. Yakini daddymu Aluna. Yakini dia bahwa aku tidak menginginkan uangnya. Aku hanya menginginkan putrinya dan anak kita saja. Yakini dia bahwa aku mampu mencintaimu." ucap Evan dengan seulas senyuman tulusnya.


Aluna terharu mendengarnya. Aluna sontak kepelukan Evan, dia memeluk erat tubuh Evan, Evanpun mengelus lembut rambut Aluna.


***


Di sisi lain, Richard sangat murka saat dia tahu Aluna membawa kabur uang milyaran miliknya bersama Evan. Dia semakin yakin bahwa Aluna diperdaya oleh Evan.


"Bajingan itu benar-benar penipu yang licik. Dia memanfaatkan keluguan Aluna," geram Richard sangat murka.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2