PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
KAU SANGAT MENARIK


__ADS_3

Aluna dan Evan berjalan menuju Pantai Kuta untuk menikmati sunset. Aluna berjalan terlebih dahulu. Setelah beberapa langkah Aluna terlihat kesulitan menggunakan heelsnya di atas pasir. Dia pun membuka heelsnya dan menyerahkannya pada Evan. Evan menenteng heels tersebut tanpa banyak kata dan mengekori Aluna dari belakang dengan tenang.


Tampak banyak wisatawan yang juga menikmati sunset seperti mereka. Aluna menikmati deburan ombak dengan wajah ceria sedangkan Evan terdiam di bibir pantai seraya membiarkan air laut sesekali membasahi kakinya. Celana panjang yang ia kenakan sudah di lipatnya ke atas hingga membuat air laut tidak sampai membasahi pakaiannya tersebut.


Pikirannya mulai menerawang jauh ke masa lalunya. Kenangan masa kecilnya kembali ia ingat. Bagaimana dulu saat dia begitu berharap ayahnya akan memeluknya dan menggendongnya. Bagaimana dulu dia selalu berharap ibunya mau membagi masakannya untuknya. Bagaimana dulu ia berharap akan di ajak bertamasya bersama. Hingga pada titik ia putus asa dan berhenti berharap.


Evan melangkah sedikit maju ke lautan, hingga deburan ombak laut semakin terasa menyapu kaki jenjangnya. Aluna memperhatikan Expresi Evan. Ia ingin mengajak pria ini mengobrol tapi ia urungkan kembali. Ia lebih memilih menikmati bagaimana matahari perlahan hampir hilang di ujung samudra dengan cahaya jingga yang indah menemani senja hari ini.


Evan yang tengah berdiri di samping Aluna masih larut dalam pikirannya. Lautan lepas benar-benar membawa ketenangan untuknya, sekali lagi ia mengingat tentang ayahnya. Kenangan terakhir saat bersama ayahnya juga masih segar di ingatannya. Bagaimana lelaki paruh baya itu menangis di jalanan London saat itu, dia hanya menyaksikan itu dari kejauhan. Pertama kalinya Evan menyaksikan ayahnya menangis histeris seperti anak kecil yang tersesat kehilangan ibunya di jalanan. Tapi saat itu dia benar-benar butuh waktu untuk mengampuni ayahnya atas semua yang terjadi bertahun-tahun di hidupnya. Setelah itu dia benar-benar hilang dari kehidupan keluarga itu. Membawa luka yang dalam di hatinya. Membawa dendam yang menyiksa jiwanya. Hingga perlahan luka itu mengubah dirinya menjadi sosok yang berbeda seperti saat ini.


Ah... Sudah terlalu lama, apa luka hatinya masih belum sembuh, apakah dia masih belum mampu memberi kesempatan kedua untuk ayahnya. Dulu dia begitu berusaha keras mendapatkan hati ayahnya, tapi saat dia dapatkannya kenapa dia menolak. Evan menghela nafas panjang, dadanya terasa sesak tiap kali ia mengingat masa lalunya.


Aluna memandang Evan dengan tatapan kosong ketengah lautan lepas, dia masih menenteng heels gadis itu. Entah apa yang di pikirkan pria di sampingnya ini, namun jika sedang diam begitu dia terlihat tampan dan berwibawa, hanya saja kadang dia terlalu liar dan dingin.


Aluna kembali mengalihkan perhatiannya, terlihat hari semakin gelap. Matahari pun telah kembali ke peraduannya.


"Udah yuk! Pulang lagi!" ucap Aluna membuyarkan lamunan Evan. Ia segera melangkah menjauh dari pantai dan di ikuti Evan di belakangnya. Mereka kembali ke hotel yang juga lumayan dekat dari pantai yang mereka kunjungi.


...***...


Hari ini mereka tidak terlibat banyak obrolan. Sikap diam Evan membuat Aluna penasaran terhadap Evan, Evan tidak begitu tertarik dengannya padahal biasanya banyak laki-laki yang berusaha mengejarnya, karena dia cantik dan juga kaya raya. Memiliki Aluna seperti memiliki kehidupan idaman. Kekuasaan, harta berlimpah, dan dia sendiri sosok yang cantik jelita. Tapi Evan berbeda dengan yang lain, dia bersikap acuh dan tidak perduli pada Aluna.


Aluna terus memperhatikan Evan yang menyetir. Pria ini sama sekali tidak meliriknya sedari tadi. Dia terus berusaha menghindari Aluna, bahkan dia terkesan sangat dingin padanya. Jika mengingat sikap Evan padanya membuat Aluna merasa kesal, ia pun menghembuskan nafasnya kasar seraya kembali mengenakan kaca mata hitamnya.


***


Tanpa terasa mereka sampai di lobi hotel. Mereka langsung di sambut valet yang segera memarkirkan mobil tersebut. Andri yang sudah menunggu dari tadi sangat kesal melihat kepulangan Evan dan Aluna. Evan dan Aluna terlihat seperti sepasang kekasih yang baru pulang bertamasya. Ia segera berjalan menghampiri Evan yang di sambut Evan dengan senyuman tipisnya.


Sedangkan Aluna segera menuju kamarnya di ikuti staf yang membantu mengangkut barang belanjaannya. Evan tanpa perduli pada Andri langsung ke meja resepsionis, disana sudah ada Bella dan Heru.

__ADS_1


"Bagaimana jalan-jalan nya, menyenangkan, kah?!" goda Heru dengan gaya centilnya menggoda Evan.


"Hmhh!!! Pegel!" keluh Evan seraya duduk di meja depan meja resepsionis tersebut.


Andri pun kembali datang menghampiri mereka, Andri menatap Evan dengan tatapan tidak bersahabat. Sedangkan Evan tampak santai dengan seulas senyum di wajahnya. Dia tau pasti bagaimana kesalnya perjaka tua ini kepadanya saat ini.


"Saya capek ngerjain tugas kamu seharian, kamu enak-enakan jalan-jalan," sungutnya, yang pasti sudah dapat Evan tebak.


"Itu perintah pak Richard langsung pak Andri. Dia yang minta Evan nemenin anaknya," terang Bella tanpa di minta. Timbul niat iseng Evan.


"Tadi kita keliling, makan, terus kencan di pantai sambil nikmatin sunset. Apa pak Andri pernah?" goda Evan dengan senyum usilnya yang seolah sengaja membuat Andri semakin kesal.


Bella dan Heru saling pandang sambil tersenyum, sedangkan Andri langsung pergi tidak tahan mendengar kelanjutannya. Saat Andri telah hilang dari pandangan mereka seketika senyum bahagia Evan kembali hilang.


"Dia nggak punya kaca yang gede ya!? Buat liat siapa dia, siapa Aluna?" gumam Evan tidak habis pikir.


"Nggak ada, pak Evan. Kalo ada dia pasti tau diri!" ucap Heru Julid di sambut tawa oleh Bella.


Dia berjalan kebelakang tempat beristirahat para karyawan. Disana sudah ada pakaian gantinya di salah satu loker. Dia pun mengambilnya untuk segera mandi disana sekalian. Selesai mandi dia segera melaksanakan tugasnya kembali. memeriksa semua kebersihan dan kenyaman pengunjung hotel sebagai tanggung jawabnya.


Di saat sedang di lobi tiba-tiba ada seorang staf yang datang menghampirinya.


"Pak, ada komplain dari buk Aluna. Dia minta menu makanan yang sudah habis. Kokinya pun sudah pulang," ucapnya. Evan melihat jam di tangannya, jam 10 malam lewat. Benar-benar tidak ada habis-habisnya gadis itu mencari masalah.


Evan segera menemui gadis itu di restoran hotel tersebut. Tampak 2 orang waiters sedang menghadapinya.


"Ada apa ini?" tanya Evan.


"Ibuk Aluna ingin steak Salmon, masalahnya ikan Salmon sudah habis, begitu juga dengan daging asap juga sudah habis. Tapi ibuk Aluna tetap ingin menu tersebut, pak," adu si waiters.

__ADS_1


"Kamu kemalaman pesannya, ini kita seharusnya nggak bukak menu makan malam lagi. Kalo kamu memang lapar, kita masak saja apa yang ada di belakang," ucap Evan mengajukan solusi.


"Kokinya sudah pulang semua, pak," terang si waiters lagi. Evan menatap si waiters dan Aluna.


"Saya yang akan masak. Kita masak apa saja yang ada di belakang," ucap Evan mengajukan solusi seraya melipat lengan baju nya hingga siku, lalu berjalan ke dapur di ikuti si waiters. Aluna hanya diam, dia penasaran apa yang akan di sajikan Evan untuknya.


Di dapur Evan mulai melihat bahan apa saja yang tersedia, dan mulai berfikir menu yang akan di sajikannya. Lalu dia mendapat sebuah ide, dia langsung mulai menyiapkan semuanya.


Si waiters terus memperhatikan Evan masak, dia terlihat seksi saat masak, Aluna pun menyaksikannya dari kejauhan, Evan terlihat sangat tampan saat masak. Dia sangat berbakat dalam semua hal. Dia selalu mendapat solusi dari semua permasalahannya, Aluna mulai mengaguminya. Selain tampan Evan juga pintar, serta tidak banyak bicara, dan yang penting dia tidak suka cari perhatian. Dia melakukan segala sesuatu dengan profesional, membuat dia jadi terlihat berkharismatik.


Tidak lama makanan Aluna pun selesai di masak Evan, Evan segera menyajikannya pada Aluna.


"Apa ini?" tanya Aluna.


"Pancake khas Jerman, Pancake Dutch baby, terbuat dari buah berry, telur, ham dan berbagai macam sayuran!" terang Evan.



...(Pancake Dutch baby)...


Aluna pun mulai mencicipinya. Dia tersenyum dan memakannya dengan lahap, melihat Aluna bisa menikmatinya Evanpun segera pergi sebelum Aluna menghabiskannya. Aluna menatap kepergian Evan sesaat, lalu lanjut menghabiskan makan malamnya.


Entah kenapa dia mulai tertarik pada Evan, tidak pernah ada orang yang bisa seberani itu dengannya. Biasanya dia lah yang menguasai dan mendominasi semua orang, tapi Evan mampu membuat dia di kuasai olehnya. Dia tidak bisa menentang Evan seperti dia menentang semua orang, seolah kharisma Evan mampu menyihirnya menjadi tunduk dan lemah.


Selesai makan malam, Aluna kembali ke kamarnya, dia kembali mengingat sosok Evan. Bagai mana dengan berani Evan menelpon ayahnya untuk meminta biaya tambahan, sesuatu yang tidak berani staf hotel lakukan selama ini. Menemaninya belanja dan jalan seharian tanpa banyak bicara dan terlihat tidak berusaha mencari perhatiannya dan saat dia ingin makan malam Evan pun mampu memenuhi keinginan nya saat semua orang di hotel panik karena koki yang sudah pulang. Evan bukan hanya pintar dan bertanggung jawab, tapi di juga berbakat dalam banyak hal, masakan yang dia buat pun terasa seperti buatan koki profesional.


Diam-diam Aluna mulai menaruh perhatian kepada Evan. Jatuh cintakah dia pada Evan, tapi bagaimana mungkin dia jatuh cinta dengan lelaki dingin seperti Evan. Dia pasti akan di tolak oleh Evan, mengingat dia selalu membuat masalah dengan Evan sejak pertama mereka bertemu.


Malam semakin larut, pelan-pelan Aluna mulai tertidur.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2