PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
AYO KITA BERPISAH


__ADS_3

Aluna kaget mendapat surat gugatan perceraian atas nama Evan Pratama kepada Aluna Jeanela. Aluna merasa lemas hingga dia terduduk di lantai, air matanya mengalir deras. Dia tidak percaya Evan akan menceraikannya. Kenapa Evan tidak mau mendengarkan penjelasannya. Dia langsung mengambil keputusan itu.


Ayah Aluna baru saja datang dan mendapati Aluna tengah menangis di lantai, dia yang tau keadaannya karena memang sudah di telfon Wisnu ayah Evan pun baru bisa pulang sekarang, dia terlambat. Evan sudah mengurus perceraian mereka. Padahal dia berharap dia bisa bicara dengan Evan.


"Nanti kita temuin Evan, ya. Kamu jangan nangis," bujuk ayahnya.


Aluna memeluk ayahnya sambil menangis. Dia sangat hancur menerima kenyataan ini.


***


"Evan kenapa kayak gini?!" teriak ayahnya. "Apa karena Soni?!" tanya Ayahnya lagi.


"Aku capek, pah. Soni begitu mudah dia undang dalam hidup kami. Seolah dia memberi celah untuk siapapun masuk. Aku capek harus ngertiin dia terus," keluh Evan yang tengah terduduk lemas di sofa ruang keluarga. Wisnu pun mencoba untuk duduk bicara dari hati ke hati dengan Evan.


"Mereka hanya berteman. Coba dengar penjelasan Aluna dahulu. Ayahnya menjelaskannya sama papa tadi. Soni datang Aluna pun nggak tau kapan dia datang," terang Wisnu lembut seraya menyentuh bahu Evan pelan berharap Evan akan melunak dan berubah pikiran. Evan menoleh pada ayahnya, dan menatap dalam mata ayahnya yang tengah menatapnya.


"Berteman tidak akan mengunjungi rumah dan memberi bunga, apa lagi menyentuh. Jika ada yang seberani itu, itu karena mereka sudah di beri tempat, di beri celah. Pernikahan sesuatu yang sakral, tidak bisa di permainkan, atau di ombang-ambingkan begitu saja," ucap Evan tajam lalu pergi meninggalkan ayahnya yang masih terpaku di posisinya. Dia tau sekarang, Evan tengah sangat kecewa pada Aluna dan apa yang telah terjadi belakangan ini.


Di kamar dia menelpon Aluna.


"Van!" Sapa Aluna serak. "Aku bisa jelasin. Soni kerumah karena kemauan dia. bukan aku undang," terang Aluna mencoba menjelaskan, terlihat jelas guratan penyesalan yang dalam di matanya saat ini.


"Dia masuk dari pintu depan Aluna, dan kamu biarkan itu. Dia nggak masuk diam-diam. Apa arti pernikahan kita buat kamu!? Hanya ikatan yang longgar, yang bisa kau lenturkan kemana saja?! Kenapa hanya aku yang menghargainya, sedangkan kamu sibuk dengan tingkah kamu yang harus aku ngertiin setiap saat," ucap Evan tajam. Aluna terdiam. "Aku capek. Sangat capek. Seandainya takdir memperbaiki salah satu diantara kita, mungkin kita akan bertemu. Tapi jika kita masih 2 orang yang sama. Kita akan bertemu dengan mereka yang terbaik buat kita," ucap Evan lalu mematikan handphone nya.


Aluna terpaku di kamarnya, matanya nanar menatap. Dia tengah terbaring di ranjangnya, perlahan dia memiringkan posisinya menghadap kearah dimana Evan biasanya tidur bersamanya, dia mulai berfikir.


Mungkin ini memang salahnya. Dia membuat Evan tidak nyaman dengan kekurangannya. Dia tidak bisa menghargai hubungannya. Dia seolah melupakan Evan sebagai orang yang berhak atas dirinya. Lelah kah Evan mengikuti tingkahnya.


Dia ingat, Evan menginginkan wanita mandiri, jahe dan laos saja dia sering susah membedakannya, masih bisa Evan terima itu. Dan di pagi hari Evan selalu bangun lebih awal dan menyiapkan semua keperluan nya sendirian, Evan masih tidak berkomentar. Dia sama sekali tidak mengerti dengan kebutuhan Evan, Evan masih diam. Jika Evan akan pergi keluar kota, Evan membereskan semua sendirian, Evan pun masih bisa terima. Pasti Evan tertekan saat bersamanya selama ini. Evan terlalu banyak berkompromi dengan dirinya tapi dia masih saja menuntut lebih. Mungkin sesuatu yang wajar jika saat ini Evan merasa lelah akan dirinya.


'Baik lah, aku akan mencoba mengikhlaskannya, memperbaiki salah satu ya, van. Aku akan perbaiki semuanya dari diri aku,' batin Aluna.


Dia mulai menyeka air matanya, dan mulai menatap dengan ikhlas.


***


Hari mereka bertemu di persidangan. Aluna menatap Evan. Evan terlihat lebih kurus dan tidak bersemangat dan lebih kusut. Saat pandangan mereka bertabrakan, dia segera mengalihkan pandangannya. Saat di depan majlis hakim Evan tertunduk sesaat sebelum dia mengucapkan talaknya untuk Aluna. Evan menjatuhkan talak 1 pada Aluna. Aluna hancur mendengarnya, tangisnya pecah dan Evan langsung terdiam mendengar Aluna menangis. Dia tidak sanggup menoleh ke arah Aluna, dia hanya menatap dengan tatapan nanar dan hampa kedepan.

__ADS_1


Mungkin ini lah yang terbaik untuk saat ini. Aluna histeris dan segera di peluk Richard yang saat ini bersamanya. Sedangkan Evan berusaha keras menahan sesaknya. Wisnu menepuk pelan pundak Evan. Evan menatap ayahnya seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukanlah keputusan yang salah. Wisnu mengangguk pelan seolah mengerti dengan kegundahan putranya saat ini. Ia memeluk Evan seolah menguatkannya.


***


Selesai persidangan Aluna dan Evan bertemu. Evan masih tampak tidak bersemangat, sedangkan Aluna masih menangis. Mereka berjabat tangan untuk terakhir kalinya.


"Izin kan aku pakai cincinnya. Sampai aku siap untuk melepasnya," lirih Aluna pelan.


Evan menatap cincin di jari manis Aluna. Lalu Evan mengangguk pelan tanda setuju. Tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Evan untuk Aluna. Evan tidak sanggup bicara lagi. Dia segera pergi meninggalkan Aluna yang masih menatap kepergian Evan dengan mata yang sembab. Yang tanpa sepengetahuan Aluna tengah menitikkan air matanya.


Sekarang Aluna tau sekeras apa Evan saat marah.


"Aku harap aku masih punya waktu untuk memperbaiki semuanya," lirih Aluna pelan hingga tak terdengar oleh siapapun. Ia segera mendekap ayahnya kembali. Richard hanya bisa mengelus lembut kepala putrinya.


...***...


Selesai persidangan mereka pulang ke tempat masing-masing. Aluna menangis sekencang-kencang nya di mobil.


"Sudah Aluna, sekarang kamu perbaiki apa yang salah. Daddy akan urus Evan dengan cara daddy. Kamu jangan khawatirkan itu," ucap Wisnu penuh makna. Aluna tidak terlalu peduli dengan ucapan ayahnya.


Sedangkan Evan hanya menatap hampa sepanjang perjalanan pulangnya yang di temani keluarganya. Ibunya Rima melihat gurat cinta yang besar dari keduanya, tapi sepertinya keadaan keduanya yang sulit membuat keduanya tidak bisa bertahan. Biarlah waktu yang menenangkan mereka. Jika seandainya tuhan masih menjodohkan mereka, maka mereka akan kembali bersama.


...***...


"Sampai kapan dia seperti ini?!" gumam Rima.


"Kita tunggu saja. Kalau sudah waktunya dia bangkit, dia akan memulainya lagi. Dia bukan orang yang terbuka, di paksa pun dia tidak akan bicara," ucap Wisnu menenangkan istrinya yang tampak khawatir sambil terus memperhatikan Evan yang tengah duduk di pinggir kolam renang di belakang rumah.


***


Sekarang Aluna sedang sibuk dengan sidang skripsinya. Dia ingin cepat menyelesaikan nya dan setelah itu dia akan segera pergi, meninggalkan Jakarta dengan kisah menyakitkannya untuk Aluna.


Berminggu-minggu dia berkutat dengan skripsinya dan dosennya, sampai akhirnya dia berhasil di wisuda. Dan mendapatkan gelar S1 nya.


Malam itu Aluna menemui ayahnya, dengan manja dia merebahkan dirinya di pelukan ayahnya yang tengah duduk di sofa itu.


"Aluna pengen S2 di luar, Dad," pinta Aluna.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Ayahnya heran.


"Aluna mau cari tempat yang tenang, dan Aluna mau mandiri tinggal sendiri di luar," ungkap Aluna pelan.


"Kamu mau kabur kemana?!" tanya Ayahnya dengan seutas senyum hangat dan membelai lembut putrinya.


"Mau ke Belanda. Aluna boleh kan?!" tanya Aluna lembut.


"Siapa yang jagain kamu di sana?!" tanya Ayahnya lagi.


"Bawak Dea sama Silvi juga, Dad," pinta Aluna.


"Jadi Daddy biayain 3 orang kuliah nih ceritanya!" seru ayahnya mencoba lebih santai.


"Nggak papa kan, Dad!?" pinta Aluna lembut seraya tersenyum manja dan menyandarkan kepalanya pada dada ayahnya itu, dan di sambut usapan lembut ayahnya di kepala putri semata wayangnya itu.


"Nggak papa. Asal putri kesayangan daddy baik-baik di sana," ucap Ayahnya seraya tersenyum. Aluna pun tersenyum ke arah ayahnya. Lalu dia memeluk ayahnya erat.


"Luna sayang Daddy," bisik Aluna tulus seraya memeluk ayahnya dengan memejamkan matanya, ia meresapi kehangatan kasih sayang ayahnya seraya mempererat pelukannya pada ayahnya, sedangkan Richard hanya tersenyum mendapati tingkah manja putrinya ini.


Evan benar, ayahnya adalah cinta pertama yang sempurna yang di milikinya. Dia beruntung memiliki ayah yang sangat menyayanginya lebih dari apapun di dunia ini.


***


Hari ke berangkatkan mereka pun tiba. Aluna berpamitan dengan ayahnya dan berkali-kali mencium pipi ayahnya dengan manja. Itu membuat Richard terharu, anak buahnya hanya tersenyum melihat bos mereka yang biasa terlihat tegas dan ganas malah seperti boneka teddy bear saat bersama anaknya.


"Dah... Daddy," ucap Aluna sedih, lalu dia kembali berhamburan ke pelukan ayahnya lagi.


Richard pun membalas pelukan putrinya dengan hangat. Dea dan Silvi pun ikut serta. Orang tua Dea dan Silvi juga ikut mengantarkan kepergian mereka. Setelah melepas pelukannya Aluna pun segera berangkat, dia terus melambaikan tangan pada ayahnya hingga dia tidak terlihat lagi. Ada gurat berat di mata Richar melepas kepergian putrinya itu, apa lagi dia pergi dalam keadaan patah hati.


...***...


"Wah... Maaf ya, mas Richard. Habis Aluna maksa. Jadi nggak enak. Pasti biayanya nggak sedikit," seru ayah Dea. Setelah mereka selesai mengantar anak-anak mereka di bandara, dan tengah berada di depan bandara hendak pulang.


"Kalian ini apaan, sih. Dea dan Silvi itu sepupu Aluna juga," ucap Richard seraya terkekeh dan menepuk pelan bahu ayah Dea. "Dan kamu adalah kakak istri saya. Tentu kamu adalah saudara saya juga," ucap ayah Aluna ramah. Itu membuat ayah Dea terharu, begitu pula yang lain. Walau Richard di kenal kejam oleh orang lain, tapi saat dengan saudaranya dia sangat loyal dan baik.


***

__ADS_1


Evan juga mendengar berita keberangkatan Aluna bersama sahabatnya itu. Dia merasa bersalah karena Aluna pergi pasti karena perceraian mereka juga. Tapi apa boleh buat, mereka tidak mungkin bersama saat ini.


BERSAMBUNG...


__ADS_2