
Evan pergi menemui Anto. Dia tidak bisa menuduh Brian tanpa bukti. Jadi dia akan mengecek nomor pengirim foto itu.
"Gimana? Ada hubungannya sama Brian nggak nomor itu?" tanya Evan pada Anto. Karena Anto kenal dekat dengan orang dalam Brian. Jadi dia menemui bartender yang biasa bekerja bersama Brian di kosnya.
"Ini nomor bisnisnya pak Brian. Biasanya cuman orang-orang tertentu saja yang tau nomor itu," terang si bartender tersebut. Sekarang Evan yakin akan menemui Brian, dia sudah cukup muak dengan tingkah Brian yang lama-lama sudah seperti stalker maniak di hidup Evan.
"Gue bilang apa, Van. Dia pasti punya tujuan. Lo harus bertindak, sebelum dia makin parah. Ini istri lo sama Jamia udah sampe di rawat gara-gara ulahnya dia. Buat gue sih, ini udah keterlaluan," ucap Anto. Evan diam beberapa saat.
"Ayok temenin gue ke sana. Lo nggak perlu masuk. Tunggu aja di luar. Gue hadapin dia sendirian," ucap Evan mulai emosi.
Mereka berdua pun segera menemui Brian di kantornya. Brian memang selain bekerja di perusahaan asing sebagai direktur cabang, dia juga memiliki beberapa bisnis pribadi. Cukup sukses untuk pria seusianya.
Di gedung pencakar langit ini Brian bekerja, sudah hampir 12 tahun. Dia bekerja disini hingga mencapai posisinya sekarang. Dia gigih dan pekerja keras serta ambisius. Dia bisa lakukan apapun untuk mendapatkan tujuannya.
Evan segera menemui resepsionis untuk bertemu Brian. Dia segera menelpon ruangan Brian dan tidak lama Evan di antar menuju ruangan Brian.
Tampak Brian sedang duduk di kursi kebesarannya seraya menyatukan kedua tangannya yang menyentuh dagunya dengan kedua siku yang menopang tangannya di meja seraya tersenyum sinis. Evan sangat muak dengan senyuman Brian itu, setelah merusak hidupnya sekarang dia seolah sedang tersenyum merayakannya.
"Ada apa!?" tanya nya tenang.
Evan segera menghampirinya dengan anak buah Brian yang sudah siap di luar pintu ruangan Brian. Tapi itu tidak membuat Evan gentar sedikitpun untuk menghadapi Brian. Brian telah lancang memfitnahnya dan membuat orang-orang terkasihnya tersakiti karena ulah Brian.
"Apa maksud lo ngirim foto Jamia sama gue ke Aluna? Terus ngapain juga lo tarok bungkus k0nd0m di dalam dashboard mobil gue?" tanya Evan dengan tatapan tajam.
"Itu baru permulaan. Karena kamu sudah merusak hidup saya," ucap Brian yang tidak kalah tajamnya dan penuh Makna.
__ADS_1
Evan mengernyitkan keningnya bingung mendengar pernyataan Brian barusan.
"Maksudnya apa? Kenal aja baru. Gimana bisa merusak hidup?" ucap Evan bingung.
"Ingat dengan gadis ini?" Brian menunjukkan sebuah foto. Evan seperti mengenalinya tapi tidak begitu yakin. Evan menatap Brian dan gadis di dalam foto tersebut secara bergantian. Evan masih bingung dengan arah pembicaraan ini. "Masih belum ingat!?" Brian seolah paham dengan kebingungan Evan. "Kalau foto ini kau ingat? " tanya Brian seraya menunjukkan foto Evan dan seorang gadis seperti di sebuah pantai. Evan pun segera tersadar siapa gadis itu. Tapi, apa hubungannya semua ini dengan gadis itu.
"Dia adalah tunangan saya," tutur Brian tajam dengan tatapan yang menghunus kearah Evan. Tapi, Evan masih tidak mengerti. "Kalian bermain di belakang saya. Kalian berselingkuh. Dan karena itu semua nya berantakan," ucap Brian penuh emosi. Evan membelalakan matanya tidak percaya sekaligus bingung. Sepertinya ada kesalahpahaman besar disini.
"Tunggu. Kayak nya lo salah paham. Gue emang sempet ketemu dia di Hawai. Tapi kita nggak ngapa-ngapain. Cuman sebatas ngobrol. Dan kita nggak punya hubungan apapun," terang Evan.
"Bohong! Dia hamil dan menyembunyikan nya dari saya. Itu artinya anak itu bukan anak saya, tapi anak kamu sebagai selingkuhannya," ucap Brian masih emosi. Evan tersenyum sinis mendengarnya. Dia menggeleng tidak habis pikir dengan semua tuduhan Brian.
"Biar gue jelasin. Lo salah besar. Kita ketemu di Hawai itu kebetulan dan cuman 2 hari. Gue emang brengsek, karena merusak hidup Aluna. Tapi demi apapun gue nggak sebrengsek itu. Gue sama Dhani ketemu dan langsung akrab karena merasa sama-sama dari Indonesia, dan karena ketemu di luar negeri ketemu orang yang senegara apa lagi sama-sama dari Jakarta bikin kita kayak ketemu saudara. Cuman itu nggak lebih."
"Namanya Alicia bukan Dhani," bantah Brian.
"Alicia Ramadhani!" gumam Brian.
"Whatever lah siapa namanya," celetuk Evan tidak perduli. "Dia lagi punya masalah terus kabur ke Hawai buat nenangin diri. Itu katanya. Dia juga bilang tunangannya berubah, udah nggak perduli sama dia. Sibuk sama kerjaan dan nggak pernah mau kalo di ajak ngomongin pernikahan. Mungkin dia udah hamil sebelum ke Hawai. Tapi lo cuek," ucap Evan kesal. Membuat raut wajah Brian yang tadinya sinis mulai berubah bingung.
"Lalu kenapa dia gugurkan, kalau itu anak saya? Dia bisa bilang dan saya akan nikahi dia," ucap Brian masih tidak mengerti.
"Karena lo sibuk dan dia pikir lo nggak mau di ajak nikah. Lo bisa tanyain itu ke dia. Lagian apa sebejat itu gue bisa tidur sama cewek yang baru 2 hari gue kenal. Apa lagi posisinya punya tunangan!" sinis Evan tidak terima dianggap sebejat itu oleh Brian. "Aluna adalah perempuan pertama dalam hidup gue. Gue sibuk belajar dan ikut bantu dosen sana-sini waktu kuliah. Nggak sempat ngurusin romance picisan," sanggah Evan.
Brian tampak mulai melunak. Kini terbit rasa bersalah di hatinya terhadap Evan dan Aluna. Mereka hening sejenak. Evan menatap Brian yang seolah tengah specless saat ini.
__ADS_1
"Kenapa salah paham kalian bisa separah ini, sih. Kalian kurang komunikasi ya?" tuding Evan kepada Brian yang masih diam terpaku. Sekarang malah terbit rasa kasihan di hati Evan terhadap Brian, sepertinya dia melalui hubungan percintaan yang cukup rumit.
"Bodoh... Bodoh... Aku ninggalin dia karena Aku pikir dia menghianatiku." Brian mulai menyadari kesalahannya sekarang. Dia kembali mengingat gadis yang ia cintai itu, bahkan tidak pernah dapat ia lupakan. Gadis yang merubahnya menjadi seperti saat ini. Gadis yang membuat ia menjadi sosok Brian yang sukses sekaligus bangsat. "Dan aku ambil semua hartanya karena merasa di permainkan. Aku perjuangkan perusahaan ayahnya yang di ujung tanduk tapi dia malah main serong di belakangku. Itu yang aku pikirkan," ucap Brian mulai merasa kacau. Evan mendengarnya dengan perasaan serba salah, ada simpati tapi dia juga masih kesal dengan perbuatan Brian kepadanya. "Ayahnya meninggal karena jantungan. Dan dia pergi setelah kehilangan seluruh hartanya," tambah Brian. Evan mulai paham dengan apa yang terjadi dengan hubungan Brian dan mantan tunangannya.
"Kalian kurang komunikasi, hingga buat kalian salah paham sebesar ini. Coba aja kalian sering ngobrol, pasti nggak akan terjadi salah paham," ucap Evan mulai bersimpati.
"Sekarang masalah gue. Lo bikin Aluna hampir celaka gara-gara ini, Jamia sampai terkilir tangannya. Perbaiki hidup gue yang udah lo buat berantakan," ucap Evan kembali kesal mengingat tragedi yang menimpanya karena kesalahan Brian.
"Maaf, ya. Saya salah paham sampai buat kalian celaka," ucap Brian bersungguh-sungguh. Sekarang dia benar-benar menyesal atas semua perbuatannya.
"Mungkin dia lagi nungguin lo. Buktinya. Setelah semua yang lo lakuin dan rebut dari dia. Dia nggak nuntut lo." Brian terdiam mendengar penuturan Evan. Evan benar. Alice tidak melakukan apapun kepadanya setelah apa yang telah ia lakukan kepada Alice. Sekarang dia paham dengan alasan Alice bungkam selama ini. "Jangan buat kesalahan yang kedua kalinya. Sekarang lo temuin dia. Bukannya lo juga nggak bisa kehilangan dia. Gue denger lo kabur ke Jerman gara-gara patah hati. Sekarang perbaiki kesalahan lo," nasehat Evan yang mulai santai tidak terbawa emosi lagi.
"Hmmhhh... Apa mungkin dia masih mau nerima saya, setelah apa yang sudah saya lakuin sama dia," ucap Brian mulai santai gaya bicaranya dan terlihat putus asa.
"Jangan mengulang kesalahan yang sama. Coba temuin dia," ucap Evan.
"Temuin Aluna juga dan jelasin semuanya. Tadi dia masih belum sadar, mungkin sekarang udah sadar," ucap Evan kembali kepada tujuan kedatangnya. "Awas aja kalo terjadi sesuatu sama Aluna dan anak gue," Evan masih tampak kesal dengan perbuatan Brian.
"Gantinya gue bantuin lo buat lurusin masalah lo sama Dhani. Bantu nyariin lah. Lo belajar buat menjalani komunikasi yang baik dan benar," ucap Evan membuat Brian tersenyum.
"Aku tau dimana dia. Aku ikutin dia selama ini... Karena terus terang aku tidak bisa kehilangan dia," ucap Brian dalam.
"Stalker sejati," Evan menyunggingkan senyumnya mendengar pernyataan Brian. Membuat Brian tertawa mendengarnya.
"Dia sudah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Aku liat itu beberapa hari ini. Karena itu aku jadi kesumat ingin hancurkan kamu, Van. Karena aku hampir kehilangan dia," ucap Brian. "Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus nemuin dia sekarang. Sebelum laki-laki itu melamarnya. Urusan kamu nanti bakal aku bereskan," ucap Brian buru-buru pergi sebelum sempat Evan menahannya lagi.
__ADS_1
"Heyyy.... Gue bisa di amuk Aluna," teriak Evan, tapi Brian tetap pergi tanpa perduli dengan teriakan Evan. "Brengsek, malah sibuk sama urusan dia. Alamat nggak bisa pulang gue kalo kayak gini," gumam Evan seraya meremas rambutnya dengan kedua tangannya dan mendekap wajahnya. Evan tidak tau harus menghadapi Aluna bagaimana nanti.
BERSAMBUNG...