PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
Pergilah


__ADS_3

Siang itu Wisnu dan Rima menemui Caroline di rumah sakit. Dia membuka pintu kamar tersebut perlahan dengan di dampingi oleh Rima. Saat ia membuka pintu itu tampak Caroline tengah duduk sendirian di kamar, karena Liam sudah tidak satu ruangan dengannya lagi. Liam sudah di pindahkan ke ruang rawat anak.


"Kalian datang," sapa Caroline ramah seraya meletakkan handphone nya diatas meja samping .


"Kita harus bicara," tutur Wisnu. Caroline hanya diam dengan anggun dan seulas senyum tenang terukir dari bibirnya. Sedangkan Rima diam memperhatikan.


"Jangan usik Evan. Jika kamu mengungkit masalah ini lagi aku takut hanya akan membuat dia terluka nantinya. Selama ini dia sudah melaluinya dengan sangat berat. Kamu tidak tau bagaimana dia berjuang sendirian selama ini. Apa yang kamu lihat saat ini adalah kebahagiaan yang baru dia dapatkan. Jangan sampai kehadiranmu menghancurkan dia lagi. Aku mohon Caroline, mengertilah," mohon Wisnu penuh harap. Menatap Caroline yang masih tampak tenang dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajah cantiknya.


"Apa salah ku, jika aku datang menemuinya. Aku juga melalui hari-hari ku dengan tak mudah selama ini tanpa dia. Apa aku tak boleh memeluk putraku sebentar atau sekedar berbincang dengannya? Aku tidak inginkan lebih,aku hanya rindu pada putraku," tutur Caroline masih tenang.


Wisnu terdiam, begitu Rima. Rima merasa dia tidak berhak untuk permasalahan ini. Namun jauh di relung hatinya dia merasa kasihan kepada Caroline, tapi bagaimana pula dengan Evan. Rima mendesah nafasnya kasar. Mencoba untuk berpikir tenang.


"Aku hanya ingin memeluk putraku sekali saja Wisnu. Aku tidak akan merebutnya dari kalian. Aku tau aku yang salah meninggalkannya, tapi izinkan aku egois sekali ini saja. Hatiku tidak pernah bisa berhenti merindukannya sejak aku bertemu dengannya di Inggris waktu itu. Betapa ingin aku mengakui semuanya di hadapannya saat itu tapi aku tidak bisa. Biarkan dia mengetahui tentang aku dan setelah itu biarkan dia yang putuskan," terang Caroline terisak. Wisnu semakin terdiam saat melihat tangis di wajah cantik itu, cantik yang tak pernah memudar di makan usia. Dia pun terasa begitu tulus saat ini.


"Apa-apaan ini!" seru seseorang.


Tanpa mereka sadari Evan sudah berdiri di ambang pintu tengah berdiri terpaku kaget dengan apa yang ia dengar barusan.


"Evan!" seru Rima pelan hingga semua matapun tertuju padanya saat ini. Entah sejak kapan Evan terpaku di ambang pintu kamar tersebut. Tatapan hampa shock tampak jelas di wajahnya saat ini. Entah apa yang ia rasakan sekarang.


"Van," gumam Rima lembut dan berjalan menghampiri putranya.


"Oh, ternyata kau ibuku?!" tutur Evan dingin dengan tatapan menantang Caroline. Seketika Caroline kaget mendengar pernyataan Evan.


"Hewan pun masih menoleh kebelakang saat meninggalkan anaknya. Tapi kau lebih buruk dari itu. Tidak satupun kau sisakan untukku sebelum kau pergi. Lalu sekarang kau bilang merindukan aku?!" Senyum sinis Evan tersungging.


"Bagaimana bisa kau merindukan sampah seperti aku?" seketika air matanya menetes mengenang masa kecilnya kembali. Caroline pun tak bisa menahan tangisnya mendengar pernyataan Evan.

__ADS_1


"Aku minta maaf. Kau bukan sampah. Aku yang terlalu jahat saat itu. I-ibuk ... Ibuk ... Minta maaf, nak," tutur Caroline dengan perasaan terluka dan bersalah.


"Pergilah. Aku tidak pernah mengharapkan kau datang,"


"EVAN!" geram Rima yang langsung berdiri dari posisinya.


"Ibuku sudah meninggal!" tukas Evan keras menatap kearah Rima.


Rima terdiam, begitupun Wisnu. Ia pun pergi meninggalkan kamar tersebut dengan dingin. Wisnu segera mengejarnya. Sedangkan Rima dan Caroline masih tampak kaget.


Evan segera menemui Aluna di kamar Liam di rawat dan di susul oleh Wisnu yang mengikutinya tadi.


"Van, jangan seperti ini. Kita bicarakan baik-baik dulu, nak," bujuknya yang tidak di perdulikan Evan. Sedangkan Aluna masih tampak bingung dengan apa yang tengah terjadi.


"Awas, Pah. Aku mau pulang," tutur Evan dengan tatapan nyalang dengan mata berkaca-kaca. Sesaat Wisnu melihat luka yang dalam di mata itu yang membuat dia terpaku dan menatap diam kepergian Evan.


Mungkin dia tidak bisa memaksa Evan untuk memahami semuanya saat ini.


Evan langsung meminta stafnya mengurus kepulangan anaknya saat itu juga dan bersi keras tidak mau mendengarkan Jamia sekalipun. Akhirnya Jamia mengalah dan membantu mengurus kepulangan liam saat itu juga. Yang kebetulan memang di jadwal kan hari ini, hanya saja seharusnya Liam masih harus di periksa sekali lagi untuk memastikan keadaannya, namun kelihatannya sudah tidak bisa lagi saat melihat keadaannya begini.


***


Setibanya di rumah Evan langsung menuju kamarnya sedangkan Liam di tangani oleh Dea dan baby sitter Liam.


Aluna berjalan cepat mengikuti Evan menuju kamarnya. Dia mendapati Evan tengah duduk diam di atas ranjang. Aluna dengan perlahan duduk di sampingnya.


Aluna menyentuh bahu suaminya pelan dan tetap tak bergeming.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa dia datang setelah sekian tahun dia aku anggap mati," kesah Evan. Aluna hanya bisa diam mendengarkan.


Evan mendekap wajahnya. Aluna tau Evan masih sangat shock saat ini. Dia mungkin juga merasa di bohongi selama ini.


***


Di sisi lain di rumah sakit. Rima dan Wisnu masih bersama Caroline.


"Dia marah!" gumam Caroline dengan senyum dan air mata yang mengalir berbarengan. Dia mencoba menenangkan dirinya sesaat sebelum bicara.


"Kau pasti merawatnya dengan baik. Terimakasih," ucap Caroline tulus.


"Aku tidak merawatnya. Aku membencinya dulu. Aku dan Wisnu mengasingkannya. Kita sama-sama tak menginginkan dia. Dia besar sendiri, dia bertahan seorang diri untuk hidup. Aku membencinya karena dia terlalu tampan dan pintar melebihi anak kandungku. Aku membencinya karena dia anakmu. Dan dia di asingkan. Di campakkan. Sesakit itu dia dulu, sekarang kau datang seolah ingin membuat dia kembali mengenang rasa sakitnya. Kami membenahi semua dengan rasa sakit kami untuk sampai pada titik ini. Sekarang kau datang seolah seperti tak berdosa menemuinya. Kalau kau punya rasa rindu untuknya kenapa kau tidak merawatnya," ungkap Rima panjang lebar.


"Pergilah. Ini terlalu sakit untuk ia kenang kembali. Aku mohon pergi," mohon Rima. Wisnu segera memeluk Rima yang sudah tak sanggup lagi menahan dirinya. Sedangkan Caroline hanya diam membisu. Dia tau, dia sudah sangat terlambat untuk datang.


***


Di kediaman Evan dan Aluna. Dea yang seolah memahami keadaan segera membawa Manuela dan Liam bersamanya. Dia tidak ingin Liam dan Manuela mengganggu ayahnya saat ini.


Dia mendongengkan untuk kedua anak sahabatnya itu hingga mereka terlelap. Lalu ia pun bangkit dan melangkah keluar kamar tepat saat Aluna juga baru keluar kamarnya.


"Gimana?" tanya Dea kepada Aluna.


"Nggak tau, liat besok lah," sahut Aluna mengedikkan bahunya bingung dengan keadaan saat ini.


Mereka pun segera menuju ruang keluarga untuk mengobrol sebentar.

__ADS_1


Hari ini adalah hari yang berat bagi Evan dan Aluna.


BERSAMBUNG...


__ADS_2