PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
LUPAKAN SEMUA SEJENAK


__ADS_3

Tidak lama, Dea, Silvi dan Anto datang dengan membawa jagung mentah yang mereka beli tadi. Mereka heran melihat Evan sendirian di api unggun.


"Aluna mana?" tanya Silvi.


"Ke penginapan," ucap Evan seolah tidak terjadi apa-apa sambil menambah kayu api unggun yang mulai habis.


Silvi pun segera menyusul Aluna ke penginapan. Dia mencari Aluna di kamar, dan tampak Aluna yang baru keluar dari kamar mandi, ia baru saja selesai mencuci wajahnya yang merah karena malu atas kejadian ia bersama Evan barusan. Ia kaget saat melihat kedatangan Silvi yang datang tiba-tiba.


"Ngapain!? Yuk, kita bakar jagung," ajak Silvi. Aluna pun mengangguk.


Mereka pun keluar berjalan menuju tempat api unggun. Aluna masih malu menatap Evan, sedangkan Evan berusaha bersikap wajar walaupun dia juga grogi setelah itu. Mereka berdua menghindar untuk saling tatap.


Mereka semua tampak sangat menikmati malam itu hingga larut. Tidak terasa sudah jam 3 dini hari. Semua sudah mulai mengantuk. Dea sudah mulai tidak tahan menahan kantuknya, beberapa kali ia harus di tahan Silvi agar tidak terjatuh. Akhirnya Mereka pun mengakhiri kegiatan mereka dan segera pulang untuk beristirahat lagi ke penginapan.


***


Pagi hari semua bangun kesiangan, hanya Aluna yang bangun lebih awal. Dia menyiapkan sarapan pagi untuk semua orang dengan gembira. Aluna yang sekarang sudah bisa masak tidak sabar melihat reaksi Evan akan masakannya. Tapi sampai semua selesai sarapan Evan masih belum bangun. Aluna terus memperhatikan kamar Evan dan Anto. Saat terbuka Aluna mengira itu Evan, tapi ternyata Anto.


"Evan mana?!" tanya Aluna tidak sabar seraya mendongak mencari sosok laki-laki tampan itu.


"Masih tidur dia. kalo libur emang gitu, dia tidur lupa bangun," ucap Anto seraya bersiap sarapan.



"Ini masakan siapa?! Kayaknya enak! Lo, Sil?" tanya Anto.


"Bukan. Ini masakan nona Aluna. Aluna kan pinter masak sekarang. Dia juga pinter mengurus rumah tangga sekarang," puji Silvi yang membuat Aluna malu.


"Banyak kemajuan gara-gara cerai kayaknya. Sayang ... si kumbang udah ada kebun bunga baru," ledek Anto, yang membuat Aluna agak kecewa. Tapi dia berusaha menutupinya.


"Gue berubah buat diri gue. Bukan orang lain," elak Aluna. Membuat Silvi dan Dea tersenyum mendengarnya.


"Ooo ... " Jawab Evan tiba-tiba seraya menuruni tangga. Sontak membuat Aluna kaget dan menatap kedatangan Evan. Yang lain hanya tersenyum melihat reaksi kaget Aluna.


Lalu Evan pun ikut sarapan bersama mereka. Aluna melihat Evan makan dengan lahab. Dia tersenyum bahagia. Akhirnya Evan makan masakannya.


"Gimana!? Enak?" tanya Aluna penuh harap Evan akan menyukainya. Membuat yang lain ikut menyaksikan tingkah 2 sejoli ini.


"Lumayan. Di banding nasi goreng yang pakek ketumbar dulu," ledek Evan seraya menyuapkan lagi nasi goreng buatan Aluna dengan sendok. Membuat yang lain terkekeh, Aluna malah memanyunkan bibirnya, karena Evan membandingkan dia yang dulu.

__ADS_1


"Eh, Kita jalan ke pasar, yuk. Pengen cobain makanan pasar. Udah lama nggak makan masakan mbak-mbak pasar," ucap Silvi.


"Yuk, yuk. Di Belanda makanan instant mulu kita. Nggak ada bakwan goreng di sana. Apa lagi mie ayam mamang pinggir jalan," keluh Dea. "Apalagi waktu awal-awal Aluna belajar masak, tiap hari kita di racun-in masakan Aluna yang rasanya aneh tiap hari. Hampir aja gue mati di sana," curhat Dea ceplas-ceplos seraya melirik Aluna yang tampak kesal dengan pernyataan Dea barusan. Aluna segera menjambak Dea dan memarahinya habis-habisan, walau sebenarnya Aluna hanya bercanda dan yang lain pun mengerti itu. Mereka tertawa dengan amukan Aluna kepada Dea yang mulai meminta ampun.


...***...


Tidak menunggu waktu lama mereka segera menuju tempat makan mie ayam pinggir jalan. Mereka segera memesannya dan memakannya bersama. Walau sebenarnya mereka masih cukup kenyang karena barusan mereka juga habis sarapan di rumah, tapi karena makan rame-rame, merekapun jadi berselera untuk makan lagi walau Evan tampak kesal karenanya.


"Jauh-jauh ke Lombok. Malah nyariin mie ayam pinggir jalan," Keluh Evan. "Buang-buang duit aja jauh-jauh liburan kesini," rutuk Evan seraya menuangkan kecap ke mangkok mie ayamnya.


"Eh makan yang bener aja deh. Ntar keselek sibuk nyolot mulu dari tadi," seru Dea kesal. Evan hanya tersenyum melihat expresi lucu kesal Dea yang memang paling bawel itu.



(OOTD Evan Pratama)



(OOTD Aluna Jeanela)


***


"Eh... Mending kita tinggalin aja mereka berdua. Sekarang kita pelan-pelan satu-satu ke mobil. Biar mereka baikan apa gitu. Biar nggak kayak musuhan lagi," ucap Silvi.


Dan di setujui oleh ke duanya. Mereka pelan-pelan menghilang satu persatu. Hingga Aluna kebingungan mencari sahabat nya itu, Evan yang baru kembali dari kamar mandi kaget mendapati sudah tidak ada yang lain. Dari ke jauhan dia melihat Aluna yang mendekat.


"Mereka hilang," seru Aluna panik. Tapi Evan tampak tenang, dia merasa mereka bertiga sengaja meninggalkan dia dan Aluna di pasar.


"Ya udah lah. Nanti juga ketemu. Kalo nggak ketemu kita balik aja nanti," ucap Evan tenang.


"Terus kita mau kemana?" tanya Aluna.


"Terserah kamu. Maunya kemana?" tanya Evan balik. Aluna tersenyum,


Mereka pun berkeliling pasar. Membeli beberapa pernak-pernik dan makan jajanan di pinggir jalan. Sepanjang hari itu mereka lalui dengan gembira, hingga tiba-tiba sandal Aluna pun putus.


"Duh, gimana nih?" tanya Aluna.


"Itu ada yang jual sendal," tunjuk Evan pada salah satu pedagang. Merekapun segera menghampirinya. Aluna menoleh kepada Evan.

__ADS_1


"Ini sendal murah," bisiknya.


"Kalo mau nyeker ayok kita beli di mall," jawab Evan seraya menatap Aluna. Aluna hanya diam seraya memanyunkan bibirnya. Dia pun mengalah.


"Berapa?" tanya Aluna.


"50, dek," jawab si pedagang.


"30!!" tawar Aluna. Evan menatap Aluna yang suka menawar dan tersenyum.


"40 deh penglaris dari pagi," jawab si pedagang, membuat Aluna terdiam. Dia sudah berdagang dari pagi ternyata belum ada pembeli.


"200," sela Evan. Aluna menatap Evan. Begitu pula si pedagang.


"Saya nggak mau beli barang murah untuk dia. Karena dia spesial," ucap Evan seraya menatap Aluna. Si pedagang menerimanya dengan terharu. Aluna mengenakan sandal itu dengan senang, apa lagi Evan mengenakannya langsung di kaki Aluna. Dia membayar perbuatannya pada Jamia beberapa tahun lalu pada Aluna. Waktu itu Aluna kesal karena Evan membelikan sendal untuk Jamia. Tapi Aluna tidak menyadari alasan Evan itu.


Aluna menatap Evan dengan suka cita. Si pedagang pun hanya bisa diam menyaksikan 2 sejoli yang tengah membangkitkan perasaan mereka yang telah mereka coba redam sekuat mungkin itu. Akhirnya mereka tidak mampu. Malah terlihat semakin nyata.


Mereka pun kembali berjalan, kali ini Aluna menggenggam erat lengan Evan sepanjang perjalanan seraya menyandarkan kepalanya pada Evan. Evan menatapnya dan mengelus lembut kepala mantan kekasihnya itu. Sekarang dia tidak peduli jika Evan milik wanita lain. Yang jelas saat ini dia hanya ingin bersama Evan tanpa perduli apapun juga. Begitu pula Evan, dia sudah tidak bisa pura-pura lagi. Selama ini dia menunggu Aluna untuk melewati momen ini. Dan dia akan menanggung resikonya seandainya dia harus membayar mahal untuk momen ini.


Hari sudah mulai sore. Entah kenapa hari ini berlalu dengan cepat. Mereka pun pulang menggunakan taksi online yang mereka pesan. Sesampainya di rumah, mereka di sambut oleh teman-teman mereka.


"Cie... Sore baru inget pulang. Dari mana!? " Tanya Dea.


"Inget yang nunggu di Jakarta?" goda Anto. Evan dan Aluna tidak perduli. Evan langsung ke kamarnya, Aluna ikut bergabung bersama teman-teman nya dan bercerita tentang hari ini yang ia lalui dengan perasaan berbunga-bunga.


Sedangkan Anto segera menghampiri Evan.


"Dari mana Kalian?" tanya Anto.


"Dari pasar. Jangan pura-pura bego. Lo ngapain pergi ninggalin kita," ucap Evan kesal.


"Alaaaahhh... Buang Orang kayak lo mah Kayak buang kucing, pasti tau jalan pulang," ledek Anto. "Aluna di apain aja sampe kesenangan gitu," pancing Anto.


"Tau ah. Gue gerah mau mandi," seru Evan kabur ke kamar mandi.


"Heh... Ni anak," gerutu Anto kesal.


Cinta mereka terlalu besar untuk dapat di sembunyikan dari teman-teman mereka.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2