
Keesokkan harinya semua orang sibuk menyiapkan kedatangan Aluna. Khusus kamar Aluna, Andri sendiri yang turun tangan. Evan hanya menjadi penonton yang baik. Dia membiarkan si caper itu bekerja dengan baik, tanpa dia sendiri mau terlibat.
"Kalo dia kurang cocok dengan jabatannya yang sekarang ngapain dia ambil, coba," rutuk Evan pada salah satu Housekeeper bawahannya.
"Biarkan saja lah, Pak. Kan bagus bapak bisa istirahat," ucap Si Housekeeper sambil tersenyum. Evan menoleh kearahnya sekilas 'Benar juga' batin Evan ia pun tersenyum usil.
"Kamu benar. Ya udah lah, saya mau istirahat saja kalo gitu." Ucap Evan lalu pergi meninggalkan Andri dengan para Housekeeper.
Seharian Andri menyusun ini itu nya untuk menyambut Aluna. Mondar-mandir seperti setrikaan yang tidak kenal lelah. Dia bahkan seperti tidak pakai istirahat seharian ini sangking semangatnya dia menyambut putri bosnya itu.
Dari kamar, makanan kesukaan nya, Bunga penyambutan, semua sudah disiapkannya. Sangking lebaynya, dia juga menggelar karpet merah untuk menyempurnakan acara penyambutan itu. Evan menatapnya tidak percaya dari kejauhan jika Andri akan melakukannya hingga sejauh ini. Dia terpaku di posisinya sambil berkacak pinggang.
"Kita cukup jadi penonton aja, mas Evan," ucap Bella. Kebetulan Evan baru datang dan duduk di depan meja resepsionis.
Sedangkan Andri sangat sibuk dan riweuh dari tadi. Melihat keberadaan Evan tengah mengobrol bersama Bella, dia segera memanggil Evan untuk membantu tapi dengan licik Evan segera menghindarinya dan kabur. Andri yang tidak punya banyak waktu itu tidak bisa mengejar Evan, akhirnya dia melepaskan Evan begitu saja.
...***...
Hari yang di tunggu pun tiba. Evan tengah santai di salah satu kamar hotel yang kosong. Dia menikmati makan siangnya di sana sendirian, tampak pemandangan laut pantai Kuta dari jendela kamar hotel tersebut. Dia sengaja memilih makan siang di kamar hotel karena tidak mau terlibat dalam permainan Andri.
Baginya itu bukan tugasnya, karena itu dia tidak ingin terlibat. Tidak ada manfaat baginya mengurus itu semua. Yang terpenting apa yang menjadi tanggung jawabnya sudah terpenuhi.
Tidak lama tampak sebuah mobil masuk ke hotel dan orang-orang mulai mengerubunginya melakukan penyambutan dengan arahan Andri. Evan hanya menyaksikannya dari teras balkon atas kamar hotel.
"Dia kerja keras demi ini?" gumam Evan tidak percaya.
Evan pun memakan pudingnya sebagai makanan pencuci mulut. Dia sangat menikmati waktu santainya yang berharga. Dia merasa menjadi tamu VIP di hotel ini sekarang. Dengan gaya santainya dan bossy yang sangat menyenangkan.
Sedangkan di lantai bawah sedang terjadi kehebohan. Wanita cantik dengan dandanan glamornya baru masuk lobi hotel. Dia mendekati resepsionis untuk menanyakan kamar VVIP nya. Setelah mendapatkan kunci kamarnya, ia pun pergi diikuti oleh pegawai hotel yang membantunya membawakan barang bawaannya yang seabrek itu. Tidak ketinggalan Andri juga ikut di iringan tersebut, dia sibuk mengarahkan ini itu.
__ADS_1
Si wanita dengan kaca mata hitamnya tampak elegan berjalan menuju lift di ikuti oleh mereka pegawai hotel. Setelah sampai di lantai tujuan, mereka pun keluar lift dan segera menuju kamar si wanita cantik itu.
Dia lah Aluna Jeanela, wanita arogan dengan segala kekuasaan dan kekayaan orang tuanya. Dia begitu cantik dan mempesona dengan tampilan super berkelasnya dengan tubuh tinggi semampai dan di tunjang dengan tampilan limited edition yang menambah nilai plus keparipurnaan tampilannya.
Saat tengah berjalan menyusuri lorong hotel, Aluna berpapasan dengan Evan yang tampak cuek seakan sama sekali tidak tersentuh dengan kecantikkan Aluna. Tapi, Aluna lah yang malah terpesona dengan penampakkan di hadapannya. Pria bertubuh tinggi dengan sorot mata tajam, tampak sangat keren dengan gaya cool nya itu. Sejenak membuat Aluna terpesona dengan tampilan Evan.
Dia tampan dan tampak sangat berkharisma. Tubuhnya yang tinggi dan profesional, di tambah wajah blasteran meksiko-indo membuat dirinya berperawakan sempurna, dari hidung yang mancung, kulit yang putih bersih, wajah yang tirus, dan tubuh yang jenjang. Sangat sempurna, apa lagi stylenya yang sederhana tampak tidak berlebihan, sangat pas padanya.
Dia menatap Evan yang berlalu begitu saja dari hadapannya, tanpa melirik sedikitpun kearahnya. Tampak Aluna sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Siapa dia?!" tanya Aluna penasaran.
"Dia Evan Pratama Executive Housekipeer kita yang baru, dia baru pindah dari Singapura. Baru 3 bulan ini dia disini," terang Andri. Aluna paham dan dia kembali melanjutkan perjalanannya ke kamarnya.
Saat dia membuka pintu kamarnya, dia langsung mengernyitkan keningnya. Merasa tidak suka dengan keadaan kamar tersebut.
"Panggil EHK nya kesini," tambah Aluna lagi. Salah satu karyawan itu pun segera mencari keberadaan Evan.
Tidak lama Evan pun datang menemui Aluna.
"Kamu ganti semua yang ada di kamar ini dengan yang baru, saya nggak suka dengan yang bekas," ucap Aluna santai tanpa menoleh pada Evan. Evan tampak kesal dengan keangkuhan Aluna.
"Ini sudah standar hotel ini. Ada waktunya mengganti semua peralatan kamar ini. Kami tidak bisa menggantinya begitu saja," ucap Evan tenang penuh wibawa dan sopan santun. Aluna menatap Evan tajam. Evan pun balik menatapnya dengan tenang, tak gentar sedikitpun. Baginya tidak ada yang menakutkan di dunia ini kecuali keluarganya.
"Kamu berani membantah saya, Hah?!" herdik Aluna.
"Bukan begitu, kami tidak punya uang operasional tambahan untuk itu. Jika anda mau, anda harus membayarnya secara pribadi," ucap Evan berusaha menjawabnya seprofesional mungkin.
"Saya kesini bukannya sekali atau 2 kali, saya sudah sering kesini," ucap Aluna tajam dan berusaha menunjukkan siapa bosnya di sini. "Hotel ini milik keluarga saya, kalau saya bilang ganti artinya ya ganti," serunya lagi tidak mau di bantah.
__ADS_1
"Kami benar-benar tidak bisa, sebab untuk penyambutan anda barusan juga memakan banyak biaya, jika harus memakai uang hotel lagi untuk membeli peralatan baru satu kamar. Itu akan membuat keuangan hotel terganggu.Saya tidak mau memangkas terlalu banyak biaya lain untuk liburan anda semata," ucap Evan tajam namun masih terlihat tenang dan dengan expresi ramahnya.
"KAMU!" tunjuk Aluna kehabisan kata-katanya.
"Kalau anda bersikeras, anda bisa memakai uang pribadi untuk itu." Evan masih tenang walaupun di hatinya dia sudah mulai muak menghadapi tingkah Aluna.
Andri hanya bisa diam dengan keberanian Evan.Tampak General Manager hotel tersebut berdiri dengan senyum di balik pintu kamar Aluna yang terbuka, dia tadi Kebetulan lewat dan tidak sengaja menguping pembicaraan mereka. Dia puas dengan keberanian Evan.
Aluna segera mengambil handphone nya lalu menelpon ayahnya.
"Dad! Ada pegawai baru resek nih!" adu Aluna manja. Setelah bicara beberapa saat, Aluna melirik pada Evan yang masih tampak tenang. " nih, daddy aku mau ngomong," ucap Aluna seraya menyerahkan handphone nya pada Evan.
"Halo! ya pak," jawab Evan tenang.
"Ada keributan apa itu? Kenapa putri saya?" Tanya pak Richard dari seberang telepon.
"Begini pak, anak bapak meminta kami mengganti semua yang ada di kamarnya. Tapi masalahnya kami tidak punya dana untuk itu. Kami tidak bisa menggunakan uang hotel sembarangan, hanya untuk keperluan pribadi anak bapak dalam jumlah sebesar itu. Kalau memang dia ingin mengganti semuanya, saya rasa bisa saja tapi harus menggunakan uang pribadi pak." Terang Evan. Aluna masih tampak kesal, wajahnya merengut tidak senang, matanya tajam menatap Evan.
"Ooo! Begitu, baik lah. Saya akan kirim biaya tambahan untuk itu. Ikuti saja maunya dia. Dia memang sedikit manja, jadi saya harap pengertian kalian semua di sana dalam melayani putri saya." Pak Richard terdengar sangat membela putrinya.
"Baik pak!" Pak Richard pun memutuskan sambungan teleponnya. Evan menyerahkan handphone tersebut kepada Aluna kembali. Aluna mengambil handphone nya dari tangan Evan dengan senyum penuh kemenangan. Evan pun terus menatapnya dengan tatapan nyalang.
"Gimana!? Denger kan daddy ngomong apa tadi barusan? Jadi, jangan cari gara-gara kamu sama saya di sini. Saya bisa pecat kamu kalo saya mau!?" ancamnya. Evan menyunggingkan senyumannya, ia sama sekali tidak takut dengan ancaman Aluna.
"Ganti semuanya, pak Richard akan kirim uang nya." Evan terus menatap Aluna dengan tatapan menantang. Dia sangat tidak menyukai sikap arogan Aluna tersebut. Para Housekeeper pun segera bekerja. Aluna hanya tersenyum penuh kemenangan mendengar permintaannya di kabulkan.
Andri yang sedari tadi diam mematung menyaksikan hanya bisa menelan ludah menyaksikan Evan yang ternyata tidak di marahi pak Richard karena menantang putri kesayangannya barusan, malah mendapat kiriman uang dari pak Richard. Dia pun segera melongos keluar dengan perasaan kesal sekaligus cemburu. Sekali lagi Evan menunjukkan keunggulan nya dalam bekerja.
BERSAMBUNG
__ADS_1