
Pagi itu Tari pergi ke minimarket untuk berbelanja. Dia masih terlihat murung dan sesekali tatapannya terlihat hampa dan bingung. Selesai belanja Tari segera keluar dengan menenteng belanjaannya.
Tiba-tiba handphone nya berdering, karyawannya menelponnya. Tari segera menjawab panggilan itu. Tapi karena tidak hati-hati, tiba-tiba sebuah mobil mengklakson nya karena Tari yang hampir tertabrak. Tanpa sengaja handphone Tari terlepas dan terlindas. Tari mengambil Handphone nya yang sudah pecah itu dengan perasaan masih kaget dan sekarang handphone nya rusak.
Si pemilik mobil segera menghampiri Tari setelah memarkirkan mobilnya.
"Maaf mbak, maaf. Gimana handphone nya?!" tanya si pemiliki mobil. Tari memperlihatkan kondisi handphone nya yang sudah pecah.
"i-iya, mbak. Saya ganti," ucap pria itu lagi dengan perasaan bersalah. Tari diam sesaat.
"Tapi saya nggak bisa sekarang, saya masih ada kerjaan. Kamu datang aja ke toko saya buat bahasnya," ucap Tari seraya menyerahkan alamat tokonya berupa kartu. Si pemuda pun mengambilnya dan tersenyum.
"Baik, mbak. Nanti saya ke sana," ucap nya lagi dengan sopan.
"Yaudah. Saya buru-buru." Tari langsung pergi.
Si pemuda melihat Tari yang berlalu. Dia terlihat tertarik pada Tari.
"Perempuan yang cantik dan keliatannya juga mandiri," gumamnya dengan seulas senyuman kagum.
...***...
Siang itu seperti biasa Aluna dan Evan baru saja menyelesaikan meeting nya bersama klien. Aluna seperti biasa kembali lagi untuk mengambil barangnya yang ketinggalan. Evan dengan Expresi kesal menunggu di luar. Tidak lama kemudian Aluna datang. Dia menatap kedatangan Aluna.
"Sorry!" ucap Aluna mengerti dengan kekesalan Evan. Evan tidak mengatakan apapun, dia langsung membuka pintu mobil untuk Aluna. Dan merekapun kembali ke perusahaan lagi.
Di mobil mereka mengobrol.
"Tari ngajak kita ke tempatnya tadi. Nanti sore kita ke sana, ya. Aku juga ada yang mau aku omongin sama dia," ucap Evan, Aluna hanya menjawabnya dengan anggukan.
...***...
__ADS_1
Setelahnya mereka ke tempat Tari. Tari menyambut mereka dengan seulas senyuman hangat, walau masih terlihat gurat cemburunya pada Evan dan Aluna. Evan sengaja tidak ingin terlalu berdekatan dengan Aluna demi menjaga perasaan Tari. Seperti mengerti perasaan Evan, Aluna pun melakukan hal yang sama dia agak menjaga jarak dengan Evan.
"Maaf ya Luna. Aku buang cincin kamu tempo hari," ungkap Tari menyesal. Aluna tersenyum mendengarnya seraya mengusap cincinnya.
"Nggak papa kok, Tar. Aku ngerti perasaan kamu. Kalo aku jadi kamu juga akan gitu." Aluna mencoba memahami Tari, Evan baru sadar jadi itu penyebab cincin Aluna jatuh di got. Evan pun tersenyum, Aluna mulai bisa menyembunyikan perasaan buruknya. Buktinya dia tidak mengadu pada Evan tentang Tari.
"Seharusnya aku nggak hadir diantara kalian." Tari menunduk tidak sanggup menatap mereka berdua. Aluna menggenggam tangan Tari. "Maaf, ya. Aku ngerasa malu. Karena, tanpa aku sadari aku sudah memaksa Evan untuk menerima aku," ucap Tari. Evan jadi merasa bersalah. "Benar yang kamu bilang, Van. Kita lebih cocok jadi teman dari pada pasangan," Ucap Tari mulai menerima keadaan. " Jaga Evan baik-baik, Lun. Dia susah diatur, dia lebih suka ngatur," ucap Tari dengan seulas senyuman dan nada bercanda. Aluna hanya tertawa mendengarnya, begitu pula Evan.
Saat sedang asyik mengobrol mereka kedatangan seseorang. Seorang laki-laki muda dengan perawakan rapi dan manis, dengan janggut tipisnya, menambah kesan maskulinnya, tapi wajahnya yang manis membuat dia terlihat lebih lembut dan tampan.
Tari mencoba mengingatnya beberapa saat, tapi dia tetap masih bingung.
"Saya yang tadi pagi, yang ngelindas handphone kamu. Tadi pagi kamu kasih aku kartu ini." Si pria menunjukkan sebuah kartu yang memang Tari berikan padanya tadi pagi. Tari pun kembali ingat.
"Oh, iya," seru Tari.
"Saya Alex. Kita belum sempat kenalan pagi tadi," ucapnya seraya mengulur tangan untuk bersalaman dan di sambut Tari dengan ramah.
"Tari," ucap Tari memperkenalkan dirinya. "Ini teman-teman saya. Aluna dan Evan." Tari memperkenalkan Aluna dan Evan sebagai temannya, tanda mereka sudah sepakat untuk memulai lembaran baru sebagai sahabat. Alex pun menjabat tangan Aluna dan Evan.
"Saya pagi tadi tidak sengaja melindas handphone nya. Mau langsung kesini tadi, tapi saya sudah ditunggu pasien. Makanya baru sekarang bisa datang," terangnya.
"Kamu dokter?!" tanya Evan antusias.
"Iya. Saya baru pindah dari Surabaya. saya dokter spesialis anak-anak di rumah sakit Pondok Indah," terangnya dengan senyuman sumringah.
"Bunda kamu kerja di sana juga kan, Tar?" ucap Evan seperti menyadari sesuatu.
"Iya. Bunda aku spesialis bedah di sana. dr. Anindya, tapi sering di panggil dokter nindi," terang Tari. Alex pun terbelalak mendengarnya.
__ADS_1
"Iya. Dia dokter yang ramah. Semua orang di rumah sakit kenal dia," ucap Alex bersemangat menceritakannya dan mereka berdua terlihat mudah akrab. Evan menangkap gelagat kecocokan antar Tari dan Alex. Dia pun mengkode Aluna untuk segera membiarkan mereka berdua saja untuk mengobrol. Evan dan Aluna pun permisi untuk segera pulang dan meninggalkan Tari mengobrol bersama Alex.
...***...
Aluna dan Evan pulang bersama. Aluna sekarang selalu minta Evan jemput dan antar. Walau terlihat merepotkan, Evan menyukainya.
"Kita ke tempat mami, ya," ucap Evan. Membuat Aluna kaget dan menatap Evan.
"Gimana kalo mami nggak suka aku?" ucap Aluna takut.
"Luna! kita berdua nggak punya ibu. Hanya mami yang kita punya," ucap Evan seraya mengusap kepala Aluna. " Kita usahakan restu mami ya, sebelum kita nikah," bujuk Evan lembut. Aluna mengangguk seraya tersenyum. Seketika rasa takut Aluna hilang, mendengar Evan ingin memiliki seorang ibu. Dia tidak bisa membuat Evan kehilangan hal yang berharga darinya.
"Iya. Kita akan nikah dengan restu mami," ucap Aluna dengan senyuman tulus.
...***...
Merekapun menuju kediaman orang tua Evan. Mereka di sambut Wisnu. Tapi Rima terlihat masih dingin. Dia tidak banyak bicara, dia hanya diam. Walau beberapa kali Aluna mencoba menyapanya, dia tetap diam. Wisnu memperhatikan itu. Dia melihat expresi sedih Evan dan Aluna. Saat Aluna membantu membereskan piring kotor Evan menghampiri Aluna.
"Kamu nggak papa, kan?" tanya Evan khawatir pada Aluna. Aluna mengangguk. Rima melihat bagaimana Evan mengkhawatirkan perasaan Aluna. Tapi rasa kesalnya masih besar pada Evan, karena kejadian ini. Dia merasa malu pada keluarga Tari, karena merasa mempermainkan Tari putri sahabatnya itu.
Tapi dia tidak bisa menampik bahwa Evan benar-benar bahagia bersama Aluna. Itu terlihat dari expresi Evan.
Selesai makan malam di kediaman orang tua Evan, Aluna dan Evan pun segera pamit pulang. Wisnu mengantar Aluna dan Evan keluar.
Setelah Evan dan Aluna pulang, Wisnu segera menghampiri Rima.
"Kamu apa-apaan, sih!" seru Wisnu kesal. "Kenapa kamu masih belum terima kenyataannya kalau Evan mencintai Aluna! Dari awal dia sudah bilang dia tidak mau bertunangan dengan Tari. Tapi kamu malah ajak Evan ribut buat paksa dia. Terus sekarang kalau pertunangan itu gagal, sebenarnya yang salah itu kamu. Kamu yang paksa Evan. Jadi, jangan sudutin Evan lagi. Aku tidak mau Evan pergi dariku lagi," ingat Wisnu keras. "Berhenti menyudutkan Evan karena permasalahan ini. Yang harusnya minta maaf itu kamu," ucap Wisnu kesal. Rima hanya mematung.
Rima hanya diam mendengar kemarahan suaminya. Dia mulai berfikir, dia terduduk di kursi makan. Dia menangis, mungkin Wisnu benar. Dia terlalu memaksa kehendaknya pada Evan. Rasa bersalahnya pada Evan dan niat nya untuk menebus kesalahannya. Malah membuat dia jadi mendominasi di kehidupan Evan.
"Mami nggak bermaksud kayak gitu," gumam Rima mulai menyadari kesalahannya dan meneteskan air matanya. Wisnu menjadi tidak tega. "Mami hanya mencoba memperbaiki kesalahan mami, mami hanya ingin yang terbaik, Mami ... Mami ... nggak bermaksud mendominasi, mengingat bagaimana egoisnya mami dulu, itu bikin mami nggak sanggup menatap wajah Evan. Mami merasa tidak pantas, tapi mami merasa malu dengan keluarga Nindi. Mami harus gimana, Pah?!" isak Rima.
__ADS_1
"Ya, sudah. Perbaiki semuanya, jangan menyulitkan mereka... Restui apa yang menjadi kebahagian Evan, Evan sudah memaafkan kita, Mih" ucap Wisnu, dan memeluk istrinya itu.
BERSAMBUNG...