
Siang itu Aluna datang untuk menjemput Manuela ke sekolah nya. Di ikuti Liam dan Kyu yang ikut serta. Ke dua putra Aluna itu kompak tak ingin di tinggal saat ia akan menjemput sang kakak ke sekolahnya. Betapa riwehnya Aluna saat itu. Dengan Liam yang super aktif dan si kecil Kyu. Walau sudah ada 1 orang suster yang ikut dan tengah menggendong si kecil Kyu. Tetap saja itu tidak membuat kerepotan Aluna teratasi begitu saja. Dia masih saja di sibukkan dengan tingkah Liam yang tidak mau diam.
"Duh, ini anak kapan diemnya sih,"keluh Aluna mulai kerepotan.
"Udah, Lee. Duduk nanti kamu jatoh loncat-loncat di mobil. Nanti kalo kejedut kayak kemaren lagi kamu di marahin ayah lagi, loh," tegur Aluna dengan sebuah ancaman mencoba menghentikan Liam. Tapi tetap saja Liam tidak mau diam.
Lelah dengan tingkah Liam Aluna pun mulai diam. Dia sudah tidak sanggup lagi menenangkan Liam yang super aktif.
Dan beberapa saat kemudian, tiba-tiba benar saja. Liam tiba-tiba terjatuh dan menangis.
"Tuh kan. Udah di bilangin diem kamu masih aja loncat-loncat," seru Aluna panik dan dengan cepat segera mengangkat Liam dari posisi jatuhnya. Dan mengusap bagian kepala Liam yang sempat terbentur. Liam terjatuh dan sempat membentur tepian mobil itu membuat dia menangis histeris karena kesakitan.
***
Tidak lama mereka sampai di sekolahan Manuela. Kelihatannya sekolah masih berlangsung, Manuela tampaknya masih belum selesai kelasnya. Untuk menunggu kepulangan Manuela. Aluna mengajak Liam membeli es cream karena Liam memang sudah biasa membeli es cream saat ikut menjemput Manuela.
Saat akan menyeberang jalan, Aluna harus menggenggam tangan Liam erat. Karena sifat aktif Liam seringkali membuat dia terlepas dari Aluna.
"Ingat ya jangan lari-larian. Nanti kamu jatuh kayak tadi," ingat Aluna sebelum mereka turun dari mobil.
"Iyaaa ....," sahut Liam riang khas gaya anak-anak.
Aluna pun segera membawa Liam turun dari mobil. Baru saja Aluna melangkah kan kakinya satu langkah. Liam sudah mulai bertingkah lagi.
Tiba-tiba dia melepaskan kan genggaman tangan Aluna. Dia berlari ke jalanan
DAN .....
BRAKKK....
Sebuah mobil menabrak tubuh mungil Liam. Aluna panik dan segera berlari menghampiri putranya yang terpelanting beberapa meter karena tabrakan. Sesaat jantung Aluna rasanya akan lepas saja karena kaget dan takut. Aluna histeris panik menghampiri putranya tanpa perduli apapun lagi, tapi belum lagi shock nya teratasi, dia kembali dikagetkan dengan seseorang yang baru saja menyelamatkan Liam, dia tengah memeluk Liam erat untuk melindungi Liam dari benturan yang lebih fatal, wanita itu menyelamatkan Liam. Yang jadi permasalahan adalah wanita paruh baya yang menolong Liam ini adalah wanita yang sering Aluna lihat menguntitnya akhir-akhir ini.
__ADS_1
Lamunan Aluna buyar saat Liam mulai menangis karena darah dari kepalanya mulai deras mengalir. Aluna dengan cepat meminta orang-orang disekitar sana yang datang mengerubungi mereka untuk membantunya membawa Liam dan wanita yang menolong putranya itu kedalam mobilnya untuk di bawa segera kerumah sakit.
***
Di sinilah mereka saat ini. Rumah sakit. Aluna masih tampak cemas. Dia terus saja bolak-balik tidak tenang di depan ruang IGD dengan gelisah.
Tidak lama Evan datang. Dia tampak tidak kalah paniknya. Bahkan dia meninggalkan kliennya di meetingnya tadi.
"Bagaimana Liam?" tanya Evan yang saat ini terlihat jelas jika dia sedang ketakutan. Dia takut sesuatu yang buruk akan menimpa putranya.
"Tadi dia lepasin tangan aku gitu aja, Van. Dan langsung lari waktu lihat pedagang es cream di seberang jalan, dan ... Dan ....," cerita Aluna terpotong karena panik. Evan segera memeluk istrinya itu untuk menenangkannya.
"Iya. Nggak apa-apa. Aku paham," tutur Evan lembut seraya mendekap istrinya dan mengusap punggung Aluna untuk menenangkannya.
Tidak lama dokter keluar dari ruang perawatan Liam. Mereka segera menghampiri dokter tersebut.
"Tidak apa-apa. Dia hanya shock, dan ibuk yang selamatin Liam tangannya mengalami luka robek. Kalo Liam dia hanya lecet dan juga ada sedikit luka di pelipisnya," terang Jamia membuat Evan mengerutkan keningnya bingung.
"Lihat saja ke dalam, Van. Itu udah beres kok," terang Jamia lagi dengan seulas senyuman.
Evan mengangguk paham dan segera masuk menghampiri putranya.
"Ayah!" histeris Liam saat melihat kedatangan ayahnya.
Evan segera memeluk putranya itu. Sedangkan Aluna tengah mengobrol sebentar bersama Jamia. Aluna memang sudah tidak secemburu dulu lagi terhadap Jamia, karena Jamia juga telah menikah bersama Malik bahkan sudah memiliki dua orang putra putri anaknya bersama Malik.
***
Evan melangkah pelan masuk keruang perawatan Liam dan wanita penolongnya. Di sana ada Liam yang tengah tertidur dan di sampingnya ada wanita paruh baya yang tampak seperti seorang bule dengan perawakan ala orang barat sana. Dia terlihat cantik dan kelihatan dari tampilannya dia bukan orang sembarangan.
Evan tidak berani membangunkannya. Sekarang dia fokus kepada Liam. Tampak pelipis Liam yang di perban dan luka lecet pada kakinya. Evan mengusap kepala putranya lembut. Begitu Aluna, dia dengan setia duduk di damping putranya. Rasa bersalah dan shock masih terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Manuela mana?" tanya Evan terhadap si sulung yang sedari tadi tak terlihat.
"Dia aku suruh suster nya tungguin di sekolahan sama Kyu. Aku buru-buru bawak Liam kesini tadi," terang Aluna. Evan hanya diam.
Aluna melirik wanita yang telah menyelamatkan anaknya itu. Dia penasaran siapa wanita ini. Kenapa dia sering menguntitnya belakangan ini.
Evan pun ikut melirik wanita yang tengah di rawat di samping anaknya itu. Entah kenapa ada getaran lain di hatinya saat menatap wanita paruh baya ini. Dia merasakan sesuatu pada wanita ini.
Dia terlihat begitu cantik dan sangat terawat. Sangat aneh jika dia mau mencelakai dirinya demi melindungi Liam. Apa yang wanita ini pikirkan tadi. Segala pertanyaan mulai bersemayam di benak Evan, tentang siapa wanita ini sebenarnya.
Evan dan Aluna sama-sama tengah merasa curiga dengan wanita penolong putranya mereka ini.
***
Setelah mengurus semua administrasi rumah sakitnya Liam dan wanita penolong Liam, Evan segera pamit untuk kembali ke perusahaan nya. Karena tadi dia meninggalkan kliennya begitu saja saat mendengar Liam kecelakaan.
"Nanti aku balik lagi kesini, ya. Semua udah di urus sama Anto. Kalo ada apa-apa kamu repotin dia aja dulu, ya. Buat kamar Liam dan ibuk ini, nanti baru ada kamarnya, soalnya ruang VVIP lagi kosong, besok baru ada. Jadi tunggu di sini sebentar, aku juga udah pesan sama Jamia buat liat-liat kalo ada apa-apa," tutur Evan lembut kepada istrinya seraya mengusap lembut wajah istrinya di sambut Aluna dengan anggukan lembut. Evan juga mengecup kening istrinya sebelum pergi dan tak lupa memberi pesan kepada Anto agar menjaga anak dan istrinya selama dia tidak ada. Anto yang tengah duduk bersama Dea mengangguk seraya mengangkat jempolnya tanda setuju.
***
Tidak lama Rima pun datang bersama Tama dan ayah mertuanya. Dia dengan terburu-buru menghampiri Aluna yang nampak kaget dengan kedatangan mertuanya yang terlihat panik.
"Manuela sama Kyu Mami titip sama istri Tama tadi. Mami panik waktu dengar Liam kecelakaan. Gimana ceritanya ini, Lun," cecar Rima masih panik.
Aluna pun segera mengajak mertuanya untuk duduk tenang terlebih dahulu.
"Tenang dulu, Mih. Liam nggak papa, dia cuman shock tadi. Ini dia lagi tidur. Tadi Evan juga udah datang tapi barusan pergi lagi katanya nanti dia balik lagi," terang Aluna. "Liam untungnya ada yang nolongin, Mih. Kalo nggak aku juga nggak tau apa yang bakalan terjadi. Malahan sekarang yang parah bukan Liam tapi ibuk yang nolongin Liam. Itu dia di samping, juga masih belum bangun. Mungkin habis di bius tadi waktu di obatin," terang Aluna. Semua orang pun segera menoleh kesamping dimana wanita penolong Liam tengah di rawat. Seketika wajah Wisnu dan Rima langsung pucat saat melihat siapa orang yang menolong Liam.
"Caroline!" bisik Wisnu tak percaya menatap wanita cantik yang tengah terbaring tak sadarkan diri di ranjang perawatan. Wajah Wisnu seketika menjadi pucat pasi.
BERSAMBUNG...
__ADS_1