PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
TARI DAN ALUNA


__ADS_3

Hari ini Tari akan pulang, dia meminta Evan menjemputnya ke bandara. Evan pun datang menjemputnya. Dia menunggu di bandara sambil terus memainkan Handphone nya. Beberapa saat kemudian panggilan untuk kedatangan pesawat yang di tumpangi Tari pun datang. Evan pun berdiri untuk melihat kedatangan Tari. Tidak lama Tari terlihat diantara kerumunan banyak orang berdesakan. Tari melambaikan tangan nya pada Evan. Evan pun tersenyum dan Tari segera menghampiri Evan. Evan tersenyum menyambut Tari, dia segera membawa koper yang di bawa Tari.



(Tari, tunangan Evan)


Mereka segera pulang. Di rumah Evan di sambut keluarga Tari. Keluarga Tari adalah keluarga yang sangat baik terhadap Evan. Terutama ayah Tari, dia sangat antusias tiap kali Evan datang. Evan sangat di terima di keluarga Tari.


Setelah selesai membersihkan diri, Tari segera menemui Evan. Dia mengobrol bersama Evan di taman belakang rumahnya.


"Tari," panggil Evan. Tari pun menoleh. "Aku takut dengan harapan orang tua kamu. Mereka sangat berharap kita akan menikah. Tapi aku ... " Ucap Evan tidak sanggup melanjutkannya.


"Kita hanya perlu waktu, Van," ucap Tari mencoba meyakini Evan seraya menggenggam kedua tangan Evan dengan tatapan penuh harap, agar Evan mau bersabar bersamanya. Tapi Evan masih tidak yakin.


"Waktu kita berteman, aku suka cerita banyak hal sama kamu. Tapi saat kita jadi pasangan. Aku merasa kita berjarak. Semakin lama, semakin jauh. Dan akhirnya kita menjadi dua orang asing yang di paksa bersama," ucap Evan seraya menatap Tari mencoba meyakini Tari dengan keadaan hubungan mereka yang rentan. Evan menatap Tari dalam. "Apa kita tidak bisa seperti dulu? Kita lebih cocok menjadi sahabat, Tari," ucap Evan yang membuat Tari takut.


"Kita hanya butuh waktu, Van. Kasih aku kesempatan. Aku tau kamu hanya terbawa suasana karena kamu sering bertemu Aluna. Percaya lah. Kita hanya butuh waktu. oK!" ucap Tari mencoba meyakini Evan. Evan hanya terdiam, dia takut Tari akan terluka jika dia selalu keras kepala seperti ini.


"Aku takut kau terluka Tari," gumam Evan dan berlahan melepas genggam Tari. Sedangkan Tari hanya terpaku. Dia diam dengan dada yang terasa sesak, karena menahan gejolaknya.


Hari semakin larut, Evan pun meminta izin untuk pulang. Ayah dan ibu Tari serta Tari mengantar kepulangan Evan hingga dia hilang di balik belokan gang.


Tari masuk ke dalam rumah bersama kedua orang tuanya.


Di kamar Tari mulai berpikir. Mungkin Evan benar, dia akan terluka jika terus bertahan bersama Evan. Tapi dia sangat menginginkan Evan sebagai suaminya. Dia telah lakukan yang terbaik untuk Evan, tapi Evan tidak pernah membuka hatinya sedikitpun untuknya. Jangan kan bermesraan seperti kekasih lainnya, sekedar berpegangan tangan saja Evan selalu menghindar. Sia-sia kah kesabarannya selama ini. Harus kah dia melepaskan Evan.


***


Hari ini hari Sabtu, hari libur sebenarnya. Tapi Aluna harus ke kediaman Evan karena ada tugasnya yang tidak sempat di selesaikan nya kemarin. Aluna yang memang masih sangat mentah dalam bekerja selalu mengandalkan Evan untuk menyelesaikannya. Dia pun memutuskan untuk menemui Evan langsung ke apartemennya.

__ADS_1



Ternyata membangunkan Evan bukan hal yang mudah. Dia mengebel berkali-kali, tapi Evan masih tidak bergeming dari tempat tidurnya. Hingga dia menekannya tidak henti dengan kesal. Itu membuat Evan terganggu dan terpaksa bangun. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


"Orang gila mana yang nekan bel sepagi ini?!" rutuk Evan yang terpaksa bangun dalam keadaan masih mengantuk. Dia melangkah turun dengan malas. Dan membukakan pintu.


Aluna kaget saat mendapati Evan dalam keadaan acak-acakkan karena baru bangun tidur. Baju kaos dan boxer pendeknya, terlihat sangat fulgar. Berbanding terbalik dengan reaksi Evan yang tampak cuek.


"Beraninya bukak pintu dalam keadaan kayak gini," seru Aluna yang merasa malu melihat keadaan Evan.


"Nggak usah pura-pura. kamu bahkan udah biasa lihat aku tanpa sehelai benangpun," ucap Evan seenaknya dengan mata yang masih separuh terpejam. Dan di sambut aluna dengan pukulan keras pada kepala Evan dengan menggunakan berkas laporannya. Itu sontak membuat Evan mengerang kesakitan.


"Aouwh... Gila! sakit," rutuk Evan kesal.


"Itu biar kamu bangun. Nggak ngelantur kalo ngomong," ucap Aluna.


"Hmmmh.... Ngapain?!" ucap Evan mulai tersadar dan menanyakan perihal kedatangan Aluna seraya bergelut dada. Aluna pun menunjukkan berkas laporannya yang belum selesai.


"Tunggu di sini dulu. Aku Mau mandi," ucap Evan langsung ke lantai atas kamarnya untuk mandi, sedangkan Aluna langsung duduk tanpa komando. Dia sudah menganggap itu rumahnya walau ini pertama kalinya Aluna kesana, dia bertanya pada security tadi untuk tahu nomor apartemen Evan.


Dia berkeliling bertamasya ria di apartemen Evan. Cukup bersih dan rapi, Karena Tari sering datang untuk merapihkannya kalau dia datang berkunjung.



(Apartemen Evan Pratama)


"Rumah cowok. Tapi kayak rumah cewek. Bersih banget. Pasti dia sering ngundang Tari tidur di sini. Dasar mesum," gumam Aluna, yang sebenarnya ada bias tak ikhlas di hatinya seandainya Evan dan Tari benar-benar sering tidur bersama. Membayangkan itu membuat Aluna pusing. Dia menggelengkan kepalanya dengan keras untuk menghilangkan bayangan buruk itu.


Tidak lama setelah itu Evan pun turun sudah dalam keadaan rapi dan bersih. Aluna tersenyum melihat kedatangan Evan, masih mempesona seperti dulu. Tubuh jenjangnya adalah pemikat yang sempurna, di tambah lagi kulitnya yang putih bersih. Sayang Evan selalu terlihat kurus, Evan memang memiliki perawakan kurus tinggi.

__ADS_1



"Ngapain kamu?! Mau Klepto?!" ucap Evan mulai lagi karena melihat Aluna berkeliaran di kediamannya. Aluna hanya memanyunkan bibirnya karena sudah terbiasa dengan mulut Evan yang sering terdengar sadis itu.


Mereka pun mulai mengerjakan tugas Aluna itu. Mengajari Aluna bukan lah hal mudah. Di ajari berkali-kali pun dia masih salah. Itu membuat Evan kesal dan mulai habis kesabaran.


"Udah, deh! Aku nyerah ngajarin kamu," ucap Evan seraya bersandar pasrah di sofa.


"Cobain lagi. Ayok! Pasti ngerti kali ini. Makanya Kamu nya pelan-pelan jelasinnya," bujuk Aluna belum menyerah.


"Nggak... Aku nggak sanggup lagi... Aku udah mulai laper... " Ucap Evan tidak mau lagi.


"Yaudah. Biar aku masakin," ucap Aluna semangat untuk menunjukkan bakat memasaknya. Tapi saat dia buka kulkas dan semua rak di dapur tidak ada apa-apa.


"Kok kosong semua?!" seru Aluna dari dapur.


"Mana sempet belanja. Kan kita habis liburan kemaren," Seru Evan dari ruang tamu. "Udah, kita makan bakmi aja di depan," ucap Evan lalu bangkit dari tempat duduknya. Aluna pun mengikutinya. Mereka berjalan menuju penjual bakmi di pinggir jalan yang tidak jauh dari apartemen Evan. Aluna mulai menunjukkan raut tidak suka. Karena terlihat kurang higenis dan terkesan jorok.


"Nggak ada tempat lain apa?!" tanya Aluna kurang setuju.


"Cobain aja dulu," ucap Evan seraya menarik kursi untuk Aluna. Dia pun segera memesan 2 porsi bakmi. Aluna tampak ragu untuk memakannya.


"Ayok, cobain. Nggak akan mati kamunya, kamu kan kecoak. Susah matinya," ucap Evan seraya tersenyum melihat expresi Aluna yang lucu.


Aluna pun mulai mencoba memakannya. Dan benar yang Evan katakan. Bakminya sangat lezat. Evan yang baru makan beberapa suap, Aluna sudah menghabiskan semangkok. Dia memesan semangkok lagi. Evan hanya bisa membelalakkan matanya menyaksikan ***** makan Aluna yang seperti kesetanan. Sudah 3 mangkok dia habiskan. Hingga membuat dia tidak sanggup bergerak lagi karena kekenyangan. Mereka pun diam di situ sebentar untuk beristirahat. Evan asyik menghisap rokoknya, Aluna masih terlihat kekenyangan.


"Katanya nggak suka. Tapi makan udah kayak orang kesurupan," ucap Evan. Aluna sudah tidak sanggup bereaksi lagi. Jadi dia hanya membiarkan Evan dengan ocehannya.


Evan merasa dapat menjadi dirinya saat bersama Aluna. Berbeda saat dia bersama Tari, dia merasa terbebani karena Tari yang selalu menuntut semua hal sempurna. Hingga Evan merasa jengah karena selalu diatur. Berbeda dengan Aluna yang tanpa aturan, bahkan terkesan dia sangat bergantung pada Evan. Itu membuat Evan merasa berarti di hadapan Aluna.

__ADS_1


Setelah selesai dengan sarapan mereka bakmi, Evan dan Aluna kembali ke apartemen untuk melanjutkan pekerjaan mereka tadi.


BERSAMBUNG...


__ADS_2