
Malam ini malam Minggu, Evan biasanya akan berkumpul bersama Brian dan Anto, di rumah Brian. Begitupun malam ini, Evan ke sana sendirian. Dia memang tidak pernah membawa Tari ikut bersamanya saat dia bersama teman-teman nya.
Evan seolah tidak ingin Tari memasuki dunianya terlalu jauh. Dia tidak ingin Tari menjadi bagian dari seluruh hidupnya, ada keraguan dan ganjalan di hatinya yang membuat dia tidak ingin Tari benar-benar menjadi bagian dari dunianya. Berbeda saat dia bersama Aluna, walau Aluna tampak tidak pengertian seperti Tari tapi Evan terus berusaha membawa Aluna menjadi bagian dari dirinya, hingga dia selalu mengatur apapun yang Aluna lakukan. Akan tetapi terhadap Tari, Evan seolah membiarkan Tari sendirian berusaha menjajaki hidupnya tanpa mau terlalu ambil bagian.
...***...
Tidak lama Evan sampai di kediaman Brian dan Alice, mereka memang sudah menikah sekarang. sudah sekitar 6 bulanan. Masih baru dan mereka masih sering mengundang teman-teman ke rumah mereka, sama seperti kebiasaan mereka sebelum menikah.
Saat Evan datang sudah ada Anto di sana, dia di sambut hangat oleh pasangan pengantin baru itu, begitu pula Anto.
"Eh...Apa kabarnya Aluna selama kerja!? Bertingkah nggak?!" tanya Anto.
"Awal-awal masih bertingkah, tapi makin ke sini makin bisa diajak kerja sama. Awal-awal dulu dia setiap kali gue omelin dia ngadu ke daddy nya. Tapi beberapa hari ini mulai nggak lagi kayaknya," terang Evan.
"Kalau salah satu memperbaiki diri itu biasanya masih jodoh, tuh," goda Alice seraya tersenyum usil.
"Udah. Jangan di pancing. Ntar di putusin nya beneran si Tari. Liat aja, mana pernah dia mau bawak Tari sama kita," ucap Brian menyindir Evan, Evan hanya tersenyum seraya menenggak minumannya.
"Bukan gitu. Lo kan kalo ngomong mulut udah kayak sampah. Semua lo-lo sebutin tanpa filter, dia itu anaknya serius, gampang tersinggung. Dari pada ribut, mending nggak usah ikut aja. Daripada ntar baperan," ucap Evan mencoba menjelaskan.
"Alaaaahhh ... Alasan. Bilang aja lo berencana buat mutusin dia. Apa lagi ini, Aluna udah balik. Cuman nunggu bom waktu aja lo mutusinnya," Ucap Anto "Inget! Itu hati jangan di jadiin mainan. Anak orang itu," ucap Anto dengan gaya khasnya lagi.
"Dari pada lo sibuk jadi penasehat hidup gue. Mending lo terima aja tawaran mak lo buat nikahin lo sama sepupu lo itu. Biar lo punya kesibukkan, jadi nggak sibuk ngurusin hidup orang lain," ucap Evan mulai kesal, tapi Anto hanya terkekeh melihat kekesalan Evan.
Anto memang tengah di jodohkan dengan sepupu jauhnya. Tapi dasar Anto, dia masih mencintai kebebasannya.
Di tengah ke bersamaan mereka yang rame itu, mereka tiba-tiba kedatangan tamu.
"Itu pasti Dea sama Silvi," ucap Alice seraya pergi membukakan pintu. Wajah Evan mulai berubah, apa Aluna juga akan ikut serta. Evan menunggu agak grogi, dia menenggak minumannya beberapa kali. Anto dengan cepat menangkap gelagat Aneh sahabatnya itu.
__ADS_1
"Cie ... Ada yang bakal ketemu mantan istri nih di malam minggu," goda Anto. Evan hanya menautkan alisnya seraya tersenyum untuk menutupi kegelisahannya. Tapi saat masuk, ternyata hanya ada Dea dan Silvi saja. Evan sedikit lega, setidaknya dia tidak harus menghadapi situasi canggung.
"Aluna mana?" tanya Brian.
"Dia nggak mau ikut. Dia mau beres-beres, katanya mumpung libur," terang Silvi.
"Udah rajin dia sekarang?!" tanya Anto.
"Ya iyalah. Dia kan punya motivasi hidup saat di sana buat berubah. Tau nya motivasinya malah udah ada yang lain," ucap Dea melirik Evan.
"Apa?!" seru Evan tidak terima dengan tatapan menuding Dea padanya.
"Apa?!" ulang Dea. " Gue pikir lo bakal setia nungguin Aluna," ucap Dea.
"Dia di paksa maminya. Tenang aja. Dia udah janji sama maminya, kalo cocok lanjut, kalo nggak putus," terang Anto tanpa di minta. Anto seperti melanggar terlalu jauh, Evan segera menghampiri Anto. Tapi tetap Anto tidak ingin tutup mulut.
"Anto! lo jangan buat masalah, deh!" seru Evan mulai tidak terima.
"iya, ya. Cuman menjelaskan situasinya aja. Kalo lowongan masih terbuka," ucap Anto masih tidak bisa diam. Hingga Evan melemparnya dengan botol minuman bekas.
Baru dia berhenti dan tutup mulut. Dea dan Silvi seolah menemukan celah bagi sahabatnya itu untuk kembali pada cinta sejatinya. Mereka saling tatap dan tersenyum.
***
Pagi-pagi Tari sudah datang ke apartemen Evan. Tepat saat Evan masih tertidur, dia baru bangun saat menyadari kedatangan Tari.
"Dari mana kamu semalam?!" tanya Tari.
"Dari tempat Brian," ucap Evan.
__ADS_1
Tari sebenarnya mulai khawatir dengan kedekatan Evan bersama teman-teman nya itu, karena teman-teman Evan merupakan teman-teman Aluna juga. Itu akan membuat mereka jadi lebih sering bertemu.
"Aku nggak suka kamu terlalu sering ngumpul-ngumpul gitu," Ungkap Tari. Membuat Evan menatap Tari. Tari terasa terlalu mengekang hidupnya sekarang dan Evan tidak menyukainya.
"Mereka itu temen aku dari dulu. Apa lagi Anto. Dari kecil aku sama dia," ungkap Evan keberatan.
"Kamu itu akan terlalu sering ketemu Aluna jadinya," ungkap Tari tidak dapat menutupi kekhawatirannya.
"Udah, deh. Jangan ngajak ribut pagi-pagi," seru Evan mulai malas membahasnya. Dia langsung ke kamar mandi untuk mandi. Selesai dia segera turun. Di Sana Sudah ada Tari yang tengah menyiapkan sarapan pagi mereka.
"Aku serius soal kamu jangan terlalu sering ngumpul-ngumpul gitu. Aku takutnya kamu akan terpengaruh sama mereka," ungkap Tari mencoba mencari alasan. Malah terdengar terlalu ikut campur di mata Evan.
"Kamu jangan suka mengatur segala hal di hidup aku. Aku juga mau kebebasan dan privasi. Udah cukup di rumah kamu atur aku. Jangan sampe urusan itu pun kamu atur juga. Aku nggak suka terlalu dikekang," ungkap Evan mulai kesal dan marah. Tari mulai tidak berani lagi membantah, jika Evan sudah terlihat keras, Tari akan segera berhenti.
Mereka sarapan dengan kebisuan. Pertengkaran di pagi hari membuat suasana menjadi buruk. Evan tidak tahan dengan keadaan itu, dia pun segera keluar sebentar mencari ketenangan, meninggalkan Tari yang masih sibuk beres-beres.
***
Evan mulai memikirkan hubungan dia dan Tari yang kelihatannya tidak akan berhasil ini. Dia ingin segera mengakhirinya, tapi ibunya pasti tidak akan setuju. Tapi mempertahankan ini terlalu lama juga akan membuat masalah semakin rumit.
Dia bingung kenapa ibunya begitu keras ingin menjodohkan mereka berdua, padahal dia tau sendiri jika Tari dan dirinya sangat bertolak belakang.
Selesai menghabiskan satu puntung rokoknya, Evan segera kembali ke apartemen. Tapi dia masih tampak kesal pada Tari. Jadi dia masih mengabaikan Tari. Dia segera masuk ke kamar tanpa menyapa Tari.
Tari hanya diam mematung dengan tingkah Evan yang terlihat sulit untuk menerimanya itu. Tapi dia masih belum putus asa. Dia akan tetap berusaha untuk merebut hati Evan.
Tari sangat mencintai Evan, hingga dia rela menahan sakitnya dalam proses dia berdaptasi bersama Evan. Dia selalu percaya, Evan akan luluh suatu saat nanti. Dia hanya perlu bersabar sedikit lagi, untuk memenangkan hati Evan. Selalu itu yang Tari yakini setiap saat untuk bertahan.
BERSAMBUNG...
__ADS_1