
Ayahnya benar-benar sudah berubah, seperti hari ini ayahnya datang berkunjung ke Inggris. Dia datang membawa banyak sekali oleh-oleh dari indonesia. Evan tampak biasa saja, tidak ada istimewanya. Bahkan Evan tidak pernah mau tiap kali Wisnu mengajaknya pulang saat liburan semester. Evan selalu menolak dengan berbagai alasan. Hanya ini upaya Wisnu yang bisa ia lakukan untuk meminta maaf dan membujuk Evan kembali, walaupun itu tampaknya sia-sia. Evan selalu bersikap diam dan tidak banyak bicara.
"Lihat ini. Mami kamu siapin ini semua untuk kamu. Dia bilang takut kamu nggak makan dengan baik disini. Papa udah...," ucap ayahnya terputus.
"Pah, aku pergi kampus dulu," ucap Evan datar dan terkesan tidak peduli dengan kedatangan ayahnya. Ayahnya terdiam tercekat, menelan ludahnya yang terasa pahit itu.
Ia menatap kepergian anak laki-laki nya dengan tatapan nanar penuh rasa bersalah dan berdosa, dengan oleh-oleh yang ia bawa masih dalam keadaan terbungkus itu, belum sempat ia buka.
***
Evan pergi ke kampusnya seharian. Dia membiarkan ayahnya di rumahnya sendirian menunggunya. Setiap ada yang datang ayahnya tersenyum dan bangkit menengok ke pintu yang terbuka seolah itu putranya kembali. Tapi ternyata bukan. Dia harus menelan pil pahit, jika pada kenyataannya dia terlambat untuk pengampunan dari Evan.
***
Evan masih tidak kunjung pulang. Dia merapihkan kamar tersebut, menyusun barang-barang yang berantakan dan ke mini market untuk berbelanja, tapi Evan tidak kunjung pulang juga. Anak itu tengah menghukum ayahnya.
Untuk mengusir ke bosanannya dia membaca buku-buku Evan yang kebanyakkan berbahasa Inggris itu. Hingga ayahnya tertidur di ranjang Evan. Evan masih belum pulang, hingga jam menunjukkan pukul 10 malam.
Tiba-tiba pintu di buka, itu adalah Evan. Dengan wajah lelah dia melangkah kedalam kamarnya. Di Sana sudah ada ayahnya yang tengah tertidur pulas di ranjangnya dengan salah satu bukunya di tangan si ayah. Dia menghabiskan waktu nya untuk membaca dan beres-beres seharian ini. Tampak kamar yang lebih rapih dari pada sebelumnya.
Evan menatap ayahnya dengan tatapan dingin. Dia segera membersihkan diri di kamar mandi. Setelah selesai, dia segera mengambil bantal dan selimutnya lalu dia tertidur di sofa panjang.
Saat Evan sudah tertidur ayahnya terbangun, dia mendapati Evan sudah tertidur pulas di sofa. Dia menatap wajah blasteran yang tampan itu. Dia duduk di hadapan Evan yang tengah tertidur itu. Betapa ingin dia mengobrol dengan putranya ini, tapi mungkin dia sudah terlalu marah hingga dia selalu menghindari ayahnya ini. Dia mengusap kepala putranya dengan tatapan sendu.
"Kamu masih marah nak? Baik lah. Besok papa pulang. Hati-hati di negeri orang, nak." Ucap ayahnya. Sebelum pergi dia membenahi selimut Evan, lalu dia pun segera tidur lagi di ranjang Evan itu.
Pagi-pagi sekali ayahnya sudah berkemas, dia bersiap akan kembali ke Indonesia. Evan yang baru selesai mandi melihat ayahnya yang tengah berkemas. Ada perasaan kasihan di hatinya, tapi segera di tepisnya. Mereka menyakitinya seumur hidupnya, kenapa dia harus tidak tega kepada mereka. pikirnya lagi, yang kembali mengeraskan hatinya.
"Papa pulang dulu. Itu ada rendang buatan mama, ada juga sambal kesukaan kamu yang di buat Minah. Di tas itu ada cemilan buat kamu. Jaga kesehatan kamu. Kemaren papa sempat ke mini market beli buah, di makan, ya. Kalo kamu sakit di sini nggak ada yang urus. Belajar jangan sampe malam. Baik-baik di negeri orang, jangan buat masalah," nasehat ayahnya, Evan hanya diam, sesaat ia menghentikan kegiatannya. Dia tertegun, menelan ludahnya yang terasa pahit tertelan, hatinya mulai terasa teriris. Matanya dan hatinya terasa perih hingga membuat matanya berkaca-kaca. Sesaat Evan kembali tersadar, dia segera mengalihkan pandangannya. Ego mudanya segera menutupi perasaan itu. Dia kembali bersikap dingin. Tanpa berkata apapun, dia langsung beranjak mengenakan pakaiannya untuk segera pergi mengantarkan ayahnya ke bandara.
...***...
Mereka sudah sampai di bandara. Berkali-kali ayahnya menatapnya, tapi Evan bersikap acuh seolah tidak tahu. Dia ingin mengobrol dengan putranya sebelum pergi, tapi Evan terus memasangkan headset nya. Itu membuat dia tidak bisa bicara dengan Evan.
Sampai pada panggilan keberangkatannya pun tiba, ayahnya harus pergi sekarang. Dia segera mengambil tasnya, sebelum pergi dia memeluk erat putranya. Evan hanya diam, walaupun dia merasakan kehangatan dari pelukan itu. Sekali lagi egonya terlalu kuat untuk saat ini.
__ADS_1
"Papa pulang, jaga diri kamu baik-baik, ya," ucap ayahnya sekali lagi sebelum pergi.
Lalu Wisnu pun beranjak pergi. Sebelum dia masuk, dia melambaikan tangannya pada Evan, Evan hanya menatapnya datar tanpa membalas lambaian itu.
Setelah ayahnya pergi Evan terduduk dan tertunduk, seketika tangisnya yang sudah sedari tadi ia tahan pun pecah. dia terisak sendirian. Hatinya sakit sekali, entah kenapa dia merasa sangat sakit dengan semua ini.
Seandainya dari dulu ayahnya begitu tentu dia tidak akan bersikap begini. Mengasingkannya bertahun-tahun dan baru sekarang ayah nya menunjukkan kepeduliannya. Kenapa mereka semua selalu menyiksanya, kenapa dia tidak bisa lepas dari keluarga itu. Kenapa dia tetap memberi tempat untuk ayah yang telah mengabaikannya selama ini. Bahkan lelaki itu tidak pernah menatapnya sekalipun sebagai putranya saat ia kecil, mengasingkan nya di tempat terpencil dari pandangannya. Seburuk itu ayahnya padanya, tapi masih sulit baginya untuk membenci.
"Kenapa baru sekarang, kenapa kau terlambat. Kenapa Papa? Kenapa?" isaknya dengan terus menunduk mendekap wajahnya di bangku tunggu bandara.
Setelah puas meluahkan segalanya dengan tangisnya, dia segera pulang. Sepanjang perjalanan dia memikirkan ayahnya. Apa kah dia jahat melakukan ini, tapi bukankah mereka juga jahat. Kenapa dia tidak bisa membalas mereka. Kenapa hatinya begitu lemah, bahkan untuk membuang perasaannya yang tidak pernah dianggap selama ini pun dia tidak mampu. Evan menutup kedua matanya dengan tangan kirinya di mobil taksi itu dan kembali menangis.
...***...
Sesampainya di rumah Evan membuka semua bawaan ayahnya dari Indonesia, semua adalah kesukaannya. Yang selalu dia harapkan ada di meja makannya dulu. Sekarang tersedia semua di hadapannya. Dia menatap itu semua, dia membukanya dan mulai memakannya. Makanan yang sudah lama tidak ia makan setelah 1 tahun di sini.
Dia menelan makanan itu seperti kerikil tajam yang menyakiti tenggorokannya, dia memakannya dengan linangan air matanya. Dia tidak tahan dan kembali dengan isaknya lagi.
"Papa kau terlambat, Pah, kau sudah sangat terlambat ... Kau terlambat, Pah ...," gumamnya di sela isaknya.
...***...
Setelah itu setiap hari ayahnya selalu menelponnya menanyakan kabarnya, walau lebih sering tidak di angkatnya. kalau di angkat sekalipun dia hanya menjawabnya Dengan singkat. Bahkan lebih banyak diam. Hanya ayahnya yang terdengar antuasias menceritakan semua hal sedangkan Evan terlihat biasa saja. Meskipun begitu, Wisnu tetap berusaha mengambil hati putranya itu.
...***...
Tidak terasa 4 tahun sudah berlalu, Evan berhasil menyelesaikan kuliahnya hingga MBA. Semua anggota keluarga menyambut wisudanya dengan gembira. Syahila sekarang sudah menikah, dia sudah memiliki seorang putra dan dia ikut suaminya tinggal di Singapura. Dan sekarang khusus wisuda MBA nya Evan, dia berusaha untuk datang sekeluarga. Karena waktu S1 Evan dia tidak bisa datang.
Keceriaan hari itu membuat semua orang lelah, setelah acara wisuda itu mereka segera makan bersama di salah satu restoran mewah disana. Semua orang tidak henti-hentinya memuji keberhasilan Evan yang lulus dengan nilai yang sangat memuaskan tersebut.
"Tadi dosen-dosen, profesor pada datangin Evan semua, mereka bilang kamu hebat. Dan bahkan ada yang nawarin kamu kerja bareng mereka. Tapi kenapa kamu tolak?" tanya Tama.
"Aku pengen kerja di tempat yang aku suka," ucap Evan dengan Wajah datar dan tanpa menatap Tama, seolah dia sedang memikirkan hal lain. Jiwanya tidak sedang bersama keluarganya saat ini.
"Eh kerja di inggris itu gajinya gede, loh!" ucap Tama. Evan hanya menjawabnya dengan senyuman dingin sekedar basa-basi, dengan segelas wine di tangannya dan segera di tenggaknya untuk sekedar menghangatkan tubuhnya yang terasa dingin karena cuaca tengah musim dingin.
__ADS_1
Obrolan mereka sekeluarga berlangsung cukup lama. Hingga mereka selesai, mereka segera kembali ke hotel. Keluarga Evan menyewa hotel berbintang untuk tempat menginap mereka.
Evan tampak tidak bersemangat sejak tadi, dia seperti memikirkan sesuatu. Syahila pun menghampirinya.
"Kamu kenapa?" tanya Syahila. Evan menggeleng pelan.
"Terus kenapa kamu diam?" tanya Syahila lagi.
"Nggak ada apa-apa," jawab Evan lalu beranjak pergi meninggalkan Syahila.
"Aku mau keluar sebentar," ucap Evan seraya mengambil jaket tebalnya, karena di luar sana salju sedang turun itu membuat suhu menjadi minus sangking dinginnya.
Syahila masih terdiam di tempat duduknya. Dia merasa Evan menyembunyikan sesuatu dari mereka. Karena dia terlihat tidak ceria selayaknya mereka yang sudah berhasil. Apa lagi dia lulus dengan nilai terbaik. Evan seolah menganggap itu tidak ada artinya.
...***...
Pagi-pagi mereka dikagetkan dengan Evan yang tiba-tiba menghilang dari kamarnya. Ayahnya kelabakan mencarinya dari kampusnya, kediaman lamanya. Dan menanyakan ke beberapa temannya, mereka semua tidak mengetahui keberadaan Evan.
Sampai ayahnya lelah mencarinya, sedangkan pesawat mereka tinggal beberapa jam lagi akan berangkat.
"Udah lah, pah. Kita tinggalin aja Evan. Dia mungkin butuh waktu buat sendiri," ucap Tama mencoba memberi pengertian kepada ayahnya yang tampak terpukul.
"Dia tidak pernah bisa memaafkan papah, Tam. Apapun yang papah lakukan dia tidak akan maafin, papah. Karena itu dia pergi!" lirih wisnu dengan tangisnya yang pecah di kamar hotel.
Rima ibu Tama hanya terdiam melihat suaminya yang cukup terpukul. Dia juga merasa bersalah atas semua yang terjadi. Tapi apa boleh buat, Evan tidak bisa di cegah lagi.
"Sudah, pah. Nanti kalo Evan udah tenang. Evan akan pulang. Kita doa in saja dia supaya baik-baik saja," ucap Syahila. "Sebenarnya Evan pamit sama Syahila pagi tadi, tapi Syahila nggak bisa cegah dia. Karena dia bersikeras ingin pergi. Dia bilang... Dia butuh waktu, pah. Biarkan dia pergi dulu," bujuk Syahila.
Tangis ayahnya pun pecah. Begitu keras hati putranya, dia tidak bisa memberikan kesempatan padanya untuk menyayangi putranya dengan layak.
Wisnu terduduk di tengah jalanan kota London tersebut, Tama memeluk ayahnya, dia tau ayahnya benar-benar ingin memperbaiki hubungannya dengan adiknya itu, tapi mungkin jiwa muda Evan mengeraskan egonya saat ini.
Akhirnya ayahnya bisa lebih tenang setelah mendengar penjelasan Syahila. Dia mencoba mengikhlaskan kepergian Evan. Dia akan menunggu kepulangan Evan, sampai Evan pulang dan memberi kesempatan untuk ia memperbaiki semuanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...