PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
ALUNA SI CANTIK YANG ABSURD


__ADS_3

Setelah pesawat mendarat. Semua orang berdesakkan untuk turun. Evan memperhatikan Aluna kesulitan untuk keluar dengan kakinya yang masih sakit. Evan pun menghampirinya.


"Tunggu terakhir saja keluarnya," seru Evan.


Mereka pun setuju. Mereka menunggu hingga sepi. Tapi kaki Aluna terasa lebih sakit karena terlalu lama duduk di pesawat tadi. Evan pun segera menggendong Aluna tanpa banyak bicara. Yang lain segera membawakan tas mereka.


"Ya ampun. Ribet banget sih si Luna," rutuk Dea. "Gini jadinya demi sendal 50 ribuan," umpat Dea lagi. Silvi hanya tersenyum seraya menatap Dea sekilas.


Aluna Terus memandang wajah Evan yang begitu dekat darinya. Wajahnya yang tampan terlihat jelas sekarang. Betapa dia pernah memiliki kesempurnaan ini dulunya, tapi lenyap karena kebodohannya yang tidak bisa menjaganya dengan baik. Seandainya kesempatan itu masih ada, akan ia gunakan sebaik mungkin dan tidak akan ia sia-siakan lagi laki-laki ini.


Aluna semakin takut kehilangan Evan, mulai muncul perasaan yang kuat untuknya memiliki Evan kembali di kehidupannya. Ya.... Dia semakin yakin, Evan adalah miliknya. Dia akan memperjuangkannya untuk segera mendapatkan miliknya lagi.


Aluna terus menatap wajah Evan. Dia pun semakin mempererat kan lilitan tangannya di leher Evan dan menyandarkan kepalanya di dada Evan yang terasa sangat nyaman. Terdengar deru nafasnya dan suara detak jantung Evan yang sangat merdu terdengar oleh Aluna. Hingga bau parfumnya pun tercium jelas oleh Aluna. Bau nya lembut, segar dan sangat menenangkan.


Tanpa terasa sampai lah mereka di bandara. Evan menatap Aluna yang masih tampak nyaman di dekapan gendongannya. Dengan usil Evan melepas pegangannya pada pelukan Aluna hingga membuat Aluna terlucuti dari gendongan Evan bahkan nyaris terjatuh yang membuat dia berteriak kaget. Tersadar dari khayalan dalamnya. Dea, Anto dan Silvi hanya terkekeh melihat tingkah dua insan itu.


Evan menatap Aluna dengan tangan yang terasa pegal, nafas yang terengah-engah dan punggungnya pun terasa semakin perih, karena memang juga sempat terkena hantaman kayu saat di laut kemarin.


Aluna tidak mengetahui itu. Yang dia ketahui, Evan kesal karena harus menggendongnya sejauh itu. Dia melihat Evan yang tengah berkacak pinggang menatapnya dengan keringat yang bercucuran. Dia hanya bisa menunduk tidak berani menatap Evan lagi. Nyali nya seketika Ciut saat di tatap tajam oleh Evan. Dia sekarang gantian di papah oleh Silvi dan di bantu oleh Dea, sedangkan Evan masih menatapnya dengan tatapan kesal.


"Kalo bukan anak atasan gue. Udah gue tinggal dia di Lombok. Ikut juga nggak izin, pulangnya ngerepotin," omel Evan yang terdengar lucu oleh yang lain.


"Maaf!" gumam Aluna dengan expresi nya yang lucu masih tidak berani menatap Evan.


"Haaahhh! Sudah lah. Di omelin juga bentar lagi bertingkah lagi dianya. Capek!" seru Evan lagi seraya meninggalkan Aluna bersama Dea dan Silvi begitu saja. Sedangkan Anto segera berlari menyusul Evan untuk pulang bersama.


"Kalo sayang, kenapa nggak di deketin?" tanya Anto.


"Apaan, sih! Jangan bikin masalah, deh," seru Evan yang masih tampak lelah setelah menggendong Aluna seraya masuk ke taxi, Anto pun ikut serta.


"Kalihatan kali gimana cara Lo lihat-in Aluna. Itu beda dari cara Lo lihat-in Tari. Kalo lo liat Aluna itu dalam kesannya, sedangkan Tari B aja. Bahkan terkesan cuek," ungkap Anto kepada Evan yang kini sudah berada di dalam taxi. Evan mulai tampak berpikir kembali.


Sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama. Entah kenapa dia tidak begitu memperdulikan Tari, bahkan terkesan tidak mau tahu tentang Tari. Tapi jika Aluna, dia selalu bereaksi dengan cepat dan spontan. Bahkan dia menjaga Aluna lebih baik daripada Aluna menjaga dirinya sendiri.


"Gue langsung ke tempat lo, ya!" ucap Anto di mobil taxi, yang sontak membuyarkan lamunan Evan.

__ADS_1


"Gue mau kekantor juga dulu habis pulang. Lo sendirian di apartemen nggak papa, kan?" ucap Evan.


"Nggak papa. Gue malas pulang," seru Anto yang memang juga sering menghabiskan waktunya di apartemen Evan.


...***...


Sesampainya di apartemen, Evan dengan segera mengganti pakaiannya. Saat di kamar Evan Anto melihat punggung Evan memar cukup luas.


"Di urut Van!" saran Anto pada punggung Evan.


"Nggak papa lah, cuman sakit dikit doank. Ntar juga sembuh," ucap Evan seraya bersiap-siapa akan ke kantor lagi.


Evan punya banyak pekerjaan yang menumpuk paska liburan mereka. Dengan keadaan punggungnya yang sakit dia harus bekerja dengan duduk seharian karena menyelesaikan pekerjannya. Itu membuatnya merasakan perih di punggungnya. Tapi dia mencoba menahannya hingga pekerjaannya selesai dan dia bisa pulang.


Evan pulang hari sudah gelap. Anto masih di kekediamannya. Jadi malam itu dia habiskan bersama Anto dan mereka juga mengundang Brian. Mereka menceritakan tentang liburan mereka.


"Udah, Van.Balikan aja lah sama Aluna. Kayaknya kalian berdua itu masih sama-sama cinta," seru Anto. Evan hanya diam. Dia tidak bisa memutuskan apa pun sekarang.


***


Untuk membujuk Evan agar tidak marah, dia sengaja membawa lasanya buatannya. Dengan senyum manis dia menyajikannya untuk Evan. Evan segera tahu dengan trik Aluna.



"Cobain deh," ucap Aluna seraya menyajikannya kepada Evan. Evan menatap Aluna penuh curiga.


"Ini anggap aja sebagai ucapan terima kasih aku, karena kamu udah nolongin aku di laut kemaren" ucap Aluna memberi Alasan.


"Nggak ada racunnya, kan?!" ucap Evan dengan mimik serius. Itu membuat Aluna kesal, karena niat baiknya di curigai.


"Nggak ada untungnya gue ngeracunin, lo!" teriak Aluna kesal.


"Siapa tau, kan sakit hati karena di omelin terus. Terus kamu ngeracunin aku!" ucap Evan yang sebenarnya hanya ingin menggoda Aluna. Aluna dengan emosi menyendok lasanya itu.


"PUAS?! Gue nggak mati!" seru Aluna kesal, lalu beranjak ke meja kerjanya.

__ADS_1


"Nggak ah. Ini bekas kamu," ucap Evan masih menggodanya. Aluna pun bangkit dari kursinya dan segera ingin mengambil lasanya buatannya kembali. Tapi belum juga dia sampai menyentuh lasanya itu. Evan dengan sigap mengambilnya dan memakan dengan senyum usil. Aluna terlihat kesal. Tapi dia senang akhirnya Evan memakan nya setelah drama panjangnya.


"Kok aneh gini rasanya?" Evan masih bertingkah usil. Aluna sudah tidak mau terpancing lagi. Dia mau fokus bekerja lagi sekarang, sudah tidak ada waktu. Evan terus memakannya sambil berkicau. Aluna tidak memperdulikannya, dia mencoba berkonsentrasi.


Setelah pekerjannya selesai. Aluna terlihat mulai bertingkah. Dia bekerja tanpa mau beranjak dari kursinya dengan alasan kakinya sakit jadi dia tidak kuat untuk kemana-mana. Dengan seenak jidatnya, dia meminta siapapun yang di perlukan nya datang menemuinya, termasuk pak Hans komisaris perusahaan ini. Evan tampak kesal dengan tingkah Aluna.


"Makasih ya, pak Hans. Maaf ya Luna ngerepotin. Habis Kaki Luna masih sakit," ucap Aluna memberi alasan untuk tingkah malasnya dengan senyum manja dan matanya yang di buat seolah seperti anak kucing yang menggemaskan, membuat Evan geli melihatnya.


"Tidak apa-apa. Kalau masih sakit, kamu bisa tunggu sembuh saja kerjanya," ucap pak Hans bijak. Aluna tersenyum mendengarnya.


"Nggak papa kok, pak Hans. Kasian Evan kalo saya nggak kerja. Nanti dia nggak ada yang bantuin, dia kan nggak bisa kerja dengan baik kalau saya nggak ada," ucap Aluna seraya menoleh ke arah Evan yang terlihat jijik mendengar tingkah manja Aluna yang terdengar aneh di telinga Evan.


"Nggak bisa kerja tanpa dia? Yang ada gue merasa sangat nyaman tanpa dia beberapa hari ini," gumam Evan kesal, lalu lanjut mengetik di laptopnya kembali, lama-lama melihat tingkah Aluna membuat dia pusing.


Setelah pak Hans pergi Aluna terlihat santai dengan tingkah konyolnya.



(Aluna bertingkah)


Evan menatapnya beberapa saat. Perempuan itu terlihat sangat menikmati kerja bossy nya hari ini.


"Mana laporan kamu? Bawak kesini!" seru Evan seraya menagih.


"Ambilin kesini. Nggak liat kaki aku sakit!" ucap Aluna ingin bertingkah dengan Evan. Evan menatap tajam kearahnya.


"BAWAK KESINI SEKARANG!" tegas Evan sekali lagi dengan penuh tekanan, membuat Aluna takut dan segera mengantarnya pada Evan.


"Iya, iya ya," ucap Aluna seraya cepat-cepat memakai sepatunya dan segera mengantarkan laporannya pada Evan, dengan wajah manyun karena hanya Evan di kantor yang tidak bersimpati dengan sakitnya dia. Dan hanya Evan yang berani menentang tingkah Aluna, yang lain hanya bisa tunduk dengan kekuasaan anak Richard Brahmana itu.


Dia bisa bertingkah dengan siapapun tapi tidak kepada Evan. Dia selalu kalah jika berhadapan dengan Evan. Sikap tegas Evan mematahkan semangat kekanak-kanakan nya yang membara seketika padam jika berhadapan dengan Evan Pratama.


Sebenarnya semenjak ada Aluna, Evan merasa sangat terhibur dan hidupnya menjadi lebih berwarna, walau dalam artian dia direpotkan jadinya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2