
Saat sedang asyik mengobrol, Brian datang dengan stelan jas mahalnya dan di tunjang jam tangan mewah.
"Hay semua. Maaf telat. Tadi macet di jalan," tuturnya ramah.
Pria berkaca mata itu terlihat sangat Exclusive, Aluna menatap kagum padanya begitu pula dengan yang lain, hanya Evan yang terlihat biasa saja. Dia duduk di samping Aluna dengan seulas senyum yang mengembang kearah Aluna. Disambut dengan senyum pula oleh Aluna, Evan melihat interaksi keduanya dengan tatapan tak suka terhadap tingkah keduanya.
"Hay, Aluna. Mas dengar kamu sudah nikah, ya? Kok nggak ngasih kabar, sih? " sapanya.
"Habis mas Brian ngilang, nggak tau kemana, gimana mau kasih tau," timpal Aluna manis.
Itu memberi reaksi pada Evan, apa lagi tanpa segan laki-laki itu mengusap kepala Aluna. Evan benar-benar tidak suka melihat Aluna di sentuh oleh orang asing seperti itu.
"Eh iya, mas. Ini suami Luna. Evan. Evan ini mas Brian," ucap Aluna pada ke duanya, dan di sambut jabat tangan perkenalan oleh ke duanya. "Mas Brian ini udah kayak pahlawan bertopeng buat aku," terang Aluna sambil terkekeh. Di sambut tawa oleh Brian.
"Kamu itu manja banget. Kalo nggak di ikutin suka ngambekan," ucap Brian gemas dan sekali lagi dia mencubit pipi Aluna.
Evan melihatnya dengan perasaan kesal. Evan menutupi perasaan kesalnya dengan pura-pura sibuk pada handphonenya. Dea dan Silvi seolah paham dengan perasaan Evan, lalu berinisiatif mencairkan suasana kembali.
"Eh, mas Brian kapan nyusul, nih? Aluna bentar lagi punya bayi lo, mas," seru Silvi dan di setujui oleh Dea dengan anggukan. Wajah Brian seketika berubah saat dia mendengar berita kehamilan Aluna.
"O, oya? Wah cepat ya!" ucap Brian masih tidak percaya.
"Iya, mas. Makanya mas Brian juga cepetan donk cari pengganti nya," tambah Aluna seraya menepuk paha Evan yang seketika menoleh kearah Aluna dengan senyum tipis.
"Pengennya gitu. Makanya cariin, donk," timpal Brian seolah-olah memelas.
"Kelas berat kayak mas Brian mah, susah nyarinya, harus kenal sosialita kitanya!" sahut Dea yang di sambut tawa oleh yang lain.
Malam itu mereka makan malam dengan lahap sambil mengobrol. Ternyata Brian berencana untuk membangun penginapan di daerah Puncak Bandung. Dia mengundang mereka semua untuk hadir di peresmiannya.
"Kapan rencana peresmiannya?" tanya Evan basa-basi karena merasa tak enak hati sedari tadi dia belum menyapa Brian.
__ADS_1
"Mungkin sekitar 1 bulan lagi beres. Siap-siap ya kalian jadi tamu pertama kita," ucap nya dengan senyum ramahnya.
"Makin sukses ya mas Brian sekarang," timpal Silvi. Brian hanya tersenyum.
Selesai makan mereka pun pulang. Di mobil Aluna banyak cerita tentang Brian.
"Dia itu kayak pahlawan buat aku. Setiap aku punya masalah, aku selalu ngadu ke dia. Kalo daddy lagi nggak ada," cerita Aluna yang tanpa Aluna sadari malah membuat Evan semakin kesal.
"Kapan kamu kenal dia?" tanya Evan datar.
"Aku kenal waktu itu gara-gara aku hampir di rampok terus dia nolongin aku. Sejak itu aku jadi dekat sama dia. Waktu nggak tau kenapa tiba-tiba kartu kredit aku bermasalah untung ada dia yang datang bayar. Dia itu kayak pahlawan banget buat aku, Van. Sekarang dia makin sukses kayaknya. Hampir 4 tahun kita nggak ketemu, sekarang ketemu. Yang aku denger katanya dia jadi direktur di salah satu perusahaan asing. Kemungkinan dia akan pindah kesini kayaknya. Dia mimpin perusahaan cabang nya yang ada di sini," cerita Aluna. Evan hanya menjadi pendengar yang baik. Sebenarnya dia mulai bosan dengan Aluna yang terus membicarakan tentang Brian sepanjang perjalanan mereka.
"Dulu dia sempat tunangan sama Alice. Alice juga anak pengusaha sukses yang kaya raya. Daddy sama ayahnya Alice itu saingan bisnis, mereka kayak perang dingin gitu. walau keliatan baik, tapi kadang-kadang suka bertentangan," cerita Aluna sambil tersenyum mengenang bagaimana pertentangan ayahnya dan ayah Alice "Sejak mas Brian bertunangan dengan Alice dia ikut keluarga Alice ke Jerman. Tapi katanya nggak lama tunangan mereka putus. Yang aku denger sih, gara-gara Alice nya selingkuh. Tapi nggak tau juga, sih. Sebab nggak dengar berita apa-apa lagi setelah itu," cerita Aluna panjang lebar.
"Kamu up to date ya sama perkembangan hidup si Brian itu. Kamu naksir dia?" celetuk Evan datar. Aluna sontak membelalakkan matanya seraya menggeleng.
"Sembarangan kamu. Aku nggak punya perasaan apa-apa sama mas Brian. Aku udah anggap dia kayak kakak aku sendiri. Bahkan aku juga ikut bantuin mereka mempersiapkan pertunangan mereka," kenang Aluna.
"Kamu bantu apa saja?" tanya Evan.
"Aku bantuin dia pilih cincin lamarannya, waktu itu dia mau lamar Alice sebelum bertunangan. Karna kartu dia limit semua jadi aku bantu dia beliin cincin lamarannya dia. Waktu mobil nya rusak, juga aku bantuin dia minjam-in mobil aku buat pergi ke pertunangannya. Juga gedung hotel, dia pakek gedung hotel keluarga aku," kenang Aluna.
"Baik banget kamu sampe minjam-in barang-barang mahal sama dia. Nggak takut di tipu?" tanya Evan asal.
"Nggak lah. Dia kan juga sering bantuin aku," ucap Aluna seraya tersenyum, Evan malah mulai berfikiran buruk tentang Brian.
***
Sesampainya di rumah Evan dan Aluna segera masuk kamar. Evan segera ke kamar mandi untuk berganti pakaian, dia tidak pernah berganti pakaian di hadapan Aluna demi menjaga perasaan Aluna. Semakin Aluna mengenali Evan, semakin ia mengagumi Evan. Dia tidak begitu yakin kalau dia masih trauma terhadap Evan, tapi dia tidak berani mengatakannya pada Evan.
Sebagai seorang wanita dia tetap menjaga prinsip laki-laki lah yang harus terlebih dahulu. Tapi saat mendapati fakta jika Evan selalu duduk di sofa hingga Aluna tertidur, itu membuat Aluna kesulitan mendekati Evan. Evan juga selalu tidur membelakangi Aluna.
__ADS_1
Itu adalah usaha Evan untuk menjaga hasratnya sebagai seorang laki-laki terhadap istrinya sendiri. Dia berusaha menjaga dirinya dengan baik di hadapan Aluna, dia tidak ingin membuat Aluna berfikiran bahwa dia adalah laki-laki yang bejat.
Tapi tanpa Evan sadari Evan seperti menjauhi Aluna secara perlahan, Evan tidak tau jika Aluna mulai menginginkan dirinya sebagai seorang kekasih seutuhnya. Seperti Aluna yang mulai mengenakan pakai tipis dan pendek saat di kamar, atau dia yang tiba-tiba bersikap manja dan ingin dekat dengan Evan. Evan malah menghindari pancingan Aluna, karena takut Aluna akan trauma lagi dengannya. Evan tidak menangkap sinyal itu dengan baik. Dia masih berfikiran bahwa Aluna masih takut dengannya. Sikap tertutup mereka malah perlahan membuat mereka seperti tanpa sadar membuat tembok kesalahpahaman dia antara mereka semakin sering terjadi.
***
Malam ini pun Aluna sengaja mengenakan baju tidur tipis berjenis Lingerie, Tapi itu malah membuat Evan makin menjauhinya dengan pura-pura sibuk dengan laptopnya. Bahkan terkesan sangat menghindar.
...(Lingerie)...
Aluna tetap mencoba mendekatinya dengan duduk di samping Evan. Aluna bejalan perlahan mendekati Evan, dengan sengaja duduk di samping pinggiran kursi Evan dengan baju nya yang agak tersingkap dan belahan dada yang rendah. Aluna melingkarkan tangannya di leher Evan yang tampak tetap saja fokus dengan pekerjaannya, tanpa melirik Aluna sedikitpun. Seolah sama sekali tidak terganggu dengan tingkah Aluna.
Aluna terus mencoba untuk lebih dekat lagi, memeluk Evan hingga membuat dadanya menyentuh bahu Evan, tapi tetap saja tidak ada reaksi. Berbagai cara dan trik, tapi tetap saja membuat Evan tidak kunjung mengerti.
Aluna mulai kesal, dia bersidekap dada dan menghembuskan nafasnya dengan kasar meninggalkan Evan.
Lelah dengan sikap Evan, Aluna pun pergi ke ranjang. Tarik selimut, pejam mata, bobok cantik lagi. Aluna bersungut kesal di ranjang.
"Ih! Nyebelin. Nggak peka banget," sungut Aluna lalu menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya, tapi terasa pengap, akhirnya dia membuang selimut itu begitu saja, hingga akhirnya ia pun tertidur.
Setelah Aluna tidur Evan pun mematikan laptopnya, dia melirik Aluna yang terlihat sudah terlelap. Evan ke ranjang dan mengintip Aluna yang ternyata memang sudah terlelap.
"Suka banget bikin jantungan," umpat Evan berbisik.
Lalu merapatkan selimut Aluna hingga menutupi tubuhnya sampai leher, hingga bahu mulusnya itu tidak terlihat lagi. Evan pun tersenyum dan mengecup lembut kepala istrinya itu.
Saat Evan sudah terlelap, Aluna kembali terbangun. Kali ini dia berbalik dan dengan ragu melingkarkan tangannya di pinggang Evan yang tengah tertidur lelap membelakanginya. Dia mendekap wajahnya di punggung Evan sesaat menghirup wangi tubuh Evan yang lembut dengan tenang. Setelah puas dia kembali ke posisi semulanya. Entah kenapa dia merasa tenang setelah melakukan itu, seolah rasa kesalnya tadi terbayar lunas. Dia kembali terlelap dengan mengulum senyumnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1