PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
SUASANA YANG BURUK


__ADS_3

Siang nya di perusahaan akan diadakan rapat, mereka berkumpul ke ruangan meeting. Semua orang mulai berkumpul dan mengambil posisi masing-masing. Tiba-tiba Soni memanggil Evan dan Evan pun menghampirinya.


"Tolong belikan Starbuck buat kami," ucap Soni seolah ingin merendahkan Evan dengan menyerahkan kartunya.


"Kan ada OB kenapa harus saya! Sebentar lagi kita akan ada rapat, kan," Evan tidak mengerti dan merasa Soni mulai ingin melecehkan harga dirinya.


"Udah beli aja jangan ngebantah," tukas Soni.


"Maaf, tapi itu di luar tanggung jawab saya. Dan lagian kita akan ada meeting sebentar lagi," sergah Evan menolak.


"Kamu berani sama saya HAH! Saya atasan kamu!" bentak Soni. Dan...


CRASSS...


Air tersiram ke wajah dan baju Evan. Tepat saat Richard datang. Dia melihat bagaimana Soni memperlakukan Evan dengan buruk. Wajahnya seketika merah padam. Menatap tajam ke arah Soni. Sedangkan Evan masih tidak menyadari kehadiran mertuanya itu.


Dia segera menghampiri mereka dengan kasar membuka tutup botol dan menyiram nya ke atas kepala Soni. Soni hanya bisa tertunduk. Dan ayah Soni ke habisan kata-kata.


Evan menatap mertuanya itu, begitu pula semua orang.


"Jangan perlakukan karyawanmu seperti budak kamu semua. Yang kau bayar tenaganya bukan harga dirinya," Richard tampak sangat kesal melihat Evan di rendahkan oleh Soni langsung di depan matanya.


Richard menatap Evan, menyerahkan sapu tangannya dan menepuk bahu Evan pelan . Sapu tangan tersebut di terima Evan dengan perasaan sungkan. lalu dia pun pergi meninggalkan ruangan rapat. Ayah Soni menatap tajam ke arah Soni. Tari datang menghampiri Evan dan mencoba mengelap baju Evan yang basah.


"Nggak papa," ucap Evan dengan senyum yang di paksakan sambil terus mengelap wajah dan pakaiannya yang basah. Rapat pun gagal di laksanakan hari itu. Richard tidak bersedia melanjutkan rapatnya. Ayah Soni benar-benar marah pada Soni. Dia sudah bersusah payah membujuk Richard agar mau bekerja sama, Tiba-tiba kacau karena tingkah konyol Soni.


"Kamu tau siapa Evan kan!? Kenapa kamu masih berani perlakukan dia begitu?" bentak ayahnya marah di ruang kerjanya. Dia tampak sangat murka atas apa yang sudah terjadi. "Membujuk Richard itu susah. Karena kamu sekarang kita kehilangan investor besar," bentak Ayah Soni lagi. "Sekarang temui Evan dan minta maaf," perintah ayahnya dengan nada yang menekan dan tatapan tajam pada Soni. Soni tampak kaget dan keberatan, tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa mengikuti perintah ayahnya.


Dia pergi menemui Evan di ruangannya dengan langkah berat. Tampak Evan yang tengah bersama dengan rekan kerjanya. Semua yang ada di ruangan tersebut langsung terdiam saat melihat kedatangan Soni menghampiri Evan.


"Maaf untuk kejadian tadi," ucap Soni berat.


"Tidak Apa-apa," jawab Evan singkat. Dia pun langsung pergi tanpa banyak basa-basi lagi, semua orang menatap kepergian Soni, lalu mereka menatap kasihan kepada Evan.


***

__ADS_1


Sejak saat itu Evan tidak pernah di perlakukan buruk lagi oleh Soni. Soni sudah di ingatkan oleh ayah nya juga Richard sendiri untuk tidak mengganggu Evan. Semua orang kini tahu siapa Evan yang ternyata bukan orang sembarangan.


***


Malam itu mereka mengadakan makan malam bersama sepulang dari kantor. Sebuah restoran cukup berkelas menjadi pilihan mereka. Ini adalah usaha Wibowo ayah Soni untuk menetralkan keadaan yang buruk kemaren. Dia ingin membuat suasana kembali hangat setelah tegang karena tingkah Soni.


Semua orang menikmati nya. Silvi duduk di samping Evan memang karena hanya Evan yang dikenalnya, begitu pula Tari. Dia duduk di samping kanan Evan. Silvi menangkap gelagat mencurigakan dari Tari. Walaupun Evan bersikap wajar, Tari seperti terus mencari perhatian Evan. Mengajak Evan mengobrol hingga mengabaikan Silvi yang agak kesal jadinya.


Dia mengirim pesan pada Aluna.


'Lun... Evan dinner bareng cewek cantik!' Pesan Silvi untuk Aluna. Beserta dengan fotonya.


***


Aluna yang menerima pesan dari Silvi jadi tambah panas.


"Kamu mau main api Evan Pratama? Baik! Kita lihat siapa yang akan terbakar malam ini," rutuk Aluna kesal.


Dia yang sudah terlihat cantik siap keluar mobil dan di sambut Soni dengan senyuman yang mengembang. Aluna juga ikut di makan malam itu. Dia berjalan beriringan dengan Soni. Soni mencoba menggandeng nya, tapi segera di tepisnya.


Saat dia memasuki ruang restoran itu, dia mengedarkan pandangannya mencari sosok Evan. Dia menemukan Evan di salah satu kursi bersama Silvi dan di sebelahnya ada wanita lain lagi. Sepertinya itu adalah wanita wanita yang di foto Silvi tadi. Dia memang terlihat dekat dengan Evan, dan dia juga terlihat cantik. Aluna segera meraih lengan Soni dan melenggang dengan anggun bersama Soni. Di sambut bahagia oleh Soni. Sekarang Soni ingin membalas Evan dan Aluna juga ingin membalas Evan.


"VAN!" panggil Silvi. Tapi Evan sudah terlanjur pergi. Silvi merasa bersalah, karena ulahnya kini Aluna bertindak nekat.


Silvi kembali masuk dan segera menyeret Aluna keluar.


"Lo gila ya?!" seru Silvi kesal seraya menunjuk wajah Aluna.


"Apa!? Dia juga gitu. Kenapa gue nggak boleh?" tukas Aluna angkuh.


"Lun! Evan sama Tari itu rekan kerja. Kalo lo sama Soni itu mirip sama orang pacaran. Lo gandeng dia di hadapan kita semua. Apa kata orang-orang nantinya. Lo nggak hargain Evan, tau nggak! DIA ITU SUAMI ELO, LUN," seru Silvi kesal. "Ok lah, kalo lo marah sama Evan. Tapi gimana sama keluarganya nanti? apa yang mereka pikir-in tentang tingkah Lo ini?!" gerutu Silvi marah.


"Dia yang mulai!" ucap Aluna membela diri.


"Aaahhhh. Tau ah." Silvi mulai ke habisan kata-kata untuk menasehati sahabat sekaligus sepupunya ini.

__ADS_1


Ia pun pergi meninggalkan Aluna. Aluna segera menemui Soni, dia meminta Soni untuk mengantarnya pulang segera, karena suasana yang sudah kacau.


Di mobil Soni mencoba menggoda dan mendekati Aluna, Aluna mengacuhkannya. tapi tanpa terduga Soni berhasil mencium bibir merahnya dan memotretnya. Aluna menampar Soni keras, dengan mata yang berkaca-kaca. Dia merasa sangat di lecehkan oleh Soni atas sikap lancang Soni barusan.


"BUKA MOBILNYA!" teriak Aluna histeris.


"Sorry, Lun. Sorry! Gue nggak sengaja, Gue terbawa suasana," ucap Soni menyesali perbuatannya. Tapi tanpa Aluna sadari, Soni tersenyum penuh kemenangan.


"Jangan sentuh gue," bentak Aluna keras.


"Iya, iya. Kita pulang, oke?!" bujuk Soni.


Soni pun mengantar Aluna pulang. Di rumah sudah ada ayah Aluna yang menunggu. Dia menatap tajam kedatangan Aluna dan Soni.


"Selamat malam, om," sapa Soni ramah.


Sedangkan Aluna langsung berlari ke kamarnya. Sekarang tinggal Soni yang di tahan oleh ayah Aluna.


"Jangan dekati Aluna lagi. Atau kamu akan tahu akibatnya," ucap Ayah Aluna tajam. Itu membuat Soni bergidik mendengarnya. Sebelum semua semakin buruk, Soni pun langsung pamit pulang. Ayah Aluna menatap kepergian Soni dengan tatapan tidak suka.


Dia segera menghampiri Aluna di kamar.


"Apa Kamu ingin menghancurkan rumah tangga mu Aluna?" seru ayahnya. Aluna terdiam. "Daddy tidak habis fikir dengan tingkah kamu. Daddy yang jadi ayah kamu saja kesal dengan tingkah kamu. Apa lagi Evan!" ucap ayahnya keras. Ada gurat penyesalan di wajah Aluna. Mungkin dia memang sudah keterlaluan malam ini.


...***...


Di rumah Evan tampak sangat marah, dia masuk tanpa menyapa siapapun. Dia langsung ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya keras. Dia menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan mendekap wajahnya dengan bantal.


ayahnya segera menghampirinya ke kamar. Melihat Evan dalam keadaan suasana hati yang buruk.


"Ada apa?!" tanya ayahnya bingung.


"Nggak. Nggak ada apa-apa," ucap Evan sulit untuk terbuka.


"Kalo nggak ada apa-apa, kok kamu kelihatan marah," selidik Ayahnya tidak percaya.

__ADS_1


"Beneran nggak ada apa-apa, kok," ucap Evan lagi dan segera menuju kamar mandi untuk menghindari cercaan ayahnya lagi. Sulit bagi ayahnya untuk bisa memasuki dunia Evan. Evan terlalu tertutup, dan sulit untuk terbuka kepada nya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2