
"Si biang kerok itu lagi. Jangan sampe aja dia nginap di kamar kita kayak kemaren," kesah Evan kepada Aluna dan juga tampak tak menyukai kehadiran Dea saat ini. Karena Dea seringkali menginap dan ingin tidur di kamar Aluna dan Evan yang membuat Evan tersingkir dari kamarnya sendiri.
Dea masih seperti dulu, masih selalu ingin dekat dengan Aluna. Apalagi semenjak Silvi ikut suaminya ke Firlandia dan menetap di sana itu membuat dia sering kekediaman mereka untuk mencari teman.
Dea memang masih memilih melajang di usia ke 32 tahunnya itu. Dia selalu tidak bisa berhubungan dengan laki-laki dalam jangka waktu yang lama, selalu ada saja yang membuatnya tidak cocok dan memutuskan hubungannya. Alhasil Evan yang harus bersabar menghadapi tingkah sepupu Aluna ini.
"Lunaaa ...," serunya histeris dan berlari kepelukan Aluna yang baru saja berdiri beranjak dari ranjangnya. Membuat Evan menatapnya datar tak suka. Ingin rasanya dia menarik wanita bersuara cempreng ini keluar kamarnya sekarang juga dan mencampakkannya keluar jendela agar dia berhenti menjadi pengganggu antara dia dan Aluna.
"Pergi lo dari kamar gue," usir Evan dengan kasar, tapi tak membuat Dea bergeming dari posisinya.
"Nggak, gue masih mau di sini. Di rumah gue lagi nggak ada orang. Gue mau nginap di sini. Gua mau curhat sama lo malam ini, Lun. Gue butuh teman curhat," kesah Dea tanpa perduli dengan Evan yang tengah menatap nyalang padanya.
Evan mengernyitkan dahinya tidak percaya. Dia tampak tak sabar lagi menghadapi tingkah sepupu istrinya itu.
"Boleh ya, Lun," bujuk Dea memelas. Aluna menatap Evan yang tampak tam suka.
"Nggak!" sanggah Evan cepat.
"Gue nggak nanya lo, gue nanya Luna," bantah Dea dengan tatapan menyebalkannya dan mata yang sembab karena menangis.
"Sayang. Jangan lagi," ucap Evan memelas seolah memohon kepada Aluna.
"Lun, gue baru putus. Ntar kalo gue kepikiran bunuh diri gimana? Lo mau gue mati bunuh diri," rayu Dea lagi
__ADS_1
"Sayang, dia udah biasa putus sama pacarnya dan kenyataan nya dia masih hidup sampai sekarang, kan," sanggah Evan mulai terlihat tidak dapat menahan emosinya lagi.
"Sayang, aku juga butuh kamu. Aku baru kehilangan apartemen kesayangan aku," kesah Evan.
Aluna malah nampak bingung harus berkata apa, dia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal dengan kelakuan sahabat dan suaminya itu.
"Lun, hati dan perasaan gue lagi rapuh dan butuh teman buat curhat. Kalo dia punya banyak waktu bareng lo," tunjuk Dea kepada Evan yang tampak mulai tidak tahan dengan tingkah Dea.
"Onty De bobok sini aja bareng, Li diatas kasur nanti ayah sama bund bobok bawah kayak maren lagi," tutur Liam si bandel yang penyayang itu seraya mengusap air mata Dea. Membuat Dea gemas dan terharu padanya.
"Ouwh... Keponakan onty De yang ganteng, onty sayang sama Li," tutur Dea seraya memeluk bocah tampan itu. Dia tampak tengah memegang mobil-mobilan ke sayanganya.
"Iya onty, tidur sama kita aja di sini. Nanti ayah di kamar tamu. Onty De bisa curhat sama kita sepuasnya malam ini," timpal Manuela.
"Udah ah. Gila aku sama kelakuan perawan tua ini," rutuk Evan yang langsung ambil kunci mobilnya bersiap akan pergi, membuat Aluna bingung harus bagaimana. Dan Dea malah terus mengumpat Evan karena marah dengan umpatan Evan padanya barusan.
BRAKKK...
Evan membanting pintu keras sebelum pergi. Aluna menatap tajam kearah Dea karena Dea sekarang Evan marah padanya.
"Lo sih. Dia lagi kesel itu," sungut Aluna. Dea hanya diam tak menjawab, dia tengah sibuk bermain bersama Liam dan Manuela di ranjang. Aluna menepuk jidatnya gemas dengan tingkah Dea
***
__ADS_1
Tepat jam 12 malam Evan baru pulang dari kediaman Anto yang baru saja pindah menempati apartemen nya dan mampir sebentar ketempat Brian. Kebetulan besok libur hingga dia bisa sedikit santai. Toh di rumah pun dia tidak bisa nyaman karena Dea terus saja mengganggu.
Saat dia masuk kamar dia mendapati Aluna tengah menyusui Kyu di ranjang. Dan di ranjang sudah ada Manuela, Kyu dan ... Dea. Dea lagi-lagi mengganggu Evan dan Aluna. Evan melihat sekilas lalu segera menghampiri Aluna yang di sambut Aluna dengan senyum hangat. Evan mencium puncak kepala istrinya itu dengan lembut dan duduk di samping Aluna, sedangkan Kyu nampak mulai tertidur kembali. Aluna pun perlahan kembali meletakkan Kyu ke box bayi. Setelah itu ia pun kembali menghampiri Evan dan duduk di sampingnya.
"Dari mana kamu tadi," tanya Aluna kepada Evan yang tengah mengusap lembut tangan istrinya itu.
"Dari tempat Anto trus ketempat Brian. Pulangnya malah ada si biang kerok di kamar kita," ucap Evan seraya melirik Dea.
"Dia habis curhat tadi. Udah biarin aja dia malam ini. Kayaknya dia lagi butuh teman aja," Evan masih tak bersemangat. Jika Dea sedang ada di kamarnya maka dia tidak bisa bebas rasanya. Mengerti akan kekesalan suaminya, Aluna memegang wajah Evan hingga Evan menatap Aluna. "Besok aku usir dia," kekeh Aluna yang di sambut Evan dengan senyum. Aluna merentangkan kedua tangannya dan Evan pun segera masuk ke pelukan Aluna.
Terasa sangat nyaman bagi Evan tiap kali dia bisa memeluk hangat istrinya itu. Memeluk hangat istrinya seperti obat letih baginya. Dia bisa kembali merasa bersemangat tiap kali dia memeluk hangat Aluna istrinya. Betapa ia sangat mencintai istrinya ini dan tak ingin kehilangannya. Begitu pula bagi Aluna. Tak ada laki-laki yang lebih dicintainya kecuali Evan. Laki-laki yang sempat ia lepas dan berhasil ia dapat kan kembali ke pelukannya.
***
Dea tiba-tiba terbangun dan mendapati Aluna dan Evan sudah tertidur di bawah dengan dialasi kasur tipis berdua di lantai berkarpet bulu tebal itu. Sedangkan Dea malah enak-enakkan terlelap di ranjang empuk di atas bersama Liam dan Manuela.
Sesaat dia tersenyum bahagia melihat kedua sahabat sekaligus sepupunya itu kini bisa hidup bahagia setelah perjuangan mereka yang berat untuk sampai di titik saat ini.
"Manis banget sih kalian," gumam Dea sendirian seraya menatap sepasang suami istri yang tengah terlelap tidur itu, dengan Aluna yang tidur meringkuk di pelukan Evan, sedangkan Evan tidur terlentang dan membiarkan Aluna memeluknya sepanjang malam dalam tidur mereka.
"Hmmmhhh... Bikin iri aja," bisiknya manis lalu kembali tidur dengan memeluk Liam putra kedua sahabatnya itu.
"Ganteng banget sih anaknya Aluna ini," gemas Dea lagi seraya mencium pipi Liam. Setelah puas dia pun segera keluar kamar dan pindah ke kamar tamu.
__ADS_1
BERSAMBUNG