
Aluna pun ikut Evan ke apartemen nya. Evan segera mengganti pakaiannya yang basah di kamar, sedangkan Aluna di kamar tamu. Dia mengenakan baju kaos Evan untuk sementara, sampai pakaiannya yang lembab kering. Dia mencoba menggunakan hairdryer untuk mengeringkan bajunya yang lembab.
Setelah menunggu beberapa saat, pakaiannya masih juga belum kering. Aluna merasa bosan, ia pun mematikan hairdryer dan menggantungkan pakaiannya, agar kering dengan alami saja.
Ia beranjak melangkah ke jendela, hujan masih terlihat lebat. Dia tidak mungkin pulang sekarang. Sesaat Aluna ingat pada Evan. Sedang apa kira-kira laki-laki itu sekarang.
Aluna pun segera turun menemui Evan. Setelah plonga-plongo beberapa saat, dia melihat Evan tengah berada di dapur, dia tampak sedang memasak sesuatu, tercium dari aromanya yang mengundang rasa lapar bagi Aluna. Aluna pun menghampirinya, Evan sempat menoleh sekilas dengan kedatangan Aluna lalu kembali melanjutkan kegiatan masaknya.
"Bikin apa!? " tanya Aluna. yang kini sudah berdiri di samping Evan.
"Masak mie. Laper," ucap Evan seraya terus mempersiapkan masakannya.
Aluna segera mencari sesuatu di lemari dapur. Dia tampak membuka satu persatu pintu lemari dapur itu, Evan hanya melihatnya sekilas tanpa bertanya, karena dia juga sedang di sibukkan dengan masakannya. Setelah membuka beberapa pintu lemari, akhirnya ia menemukannya di lemari gantung yang terdapat tidak jauh dari sana. Ia pun menghampiri Evan kembali, dengan sebuah mangkuk, sendok dan garpu.
Evan menatap kearah Aluna dan mangkuk yang ia bawa dan sodorkan kepada Evan tanpa Evan minta terlebih dahulu.
"Ngapain?! Siapa yang bilang ini untuk kamu?!" goda Evan.
"Ih, kok gitu, sih! Aku juga laper," ucap Aluna mengernyitkan keningnya kesal sekaligus memelas dengan wajah yang ia tekuk, tampak lucu dan menggemaskan. Evan tertawa geli melihatnya. Lalu ia menuangkan mie tersebut ke mangkuk yang Aluna bawa tadi. Aluna segera membawanya dengan hati-hati ke meja makan.
"Kenapa aku beramal terus, ya, sama kamu hari ini?!" ucap Evan seraya terkekeh dan mengacak rambut Aluna, Aluna pun tertawa mendengarnya.
...***...
Akhirnya mereka berdua makan dalam satu mangkuk satu mangkok yang sama. Mereka makan dengan lahap dan di selingi canda tawa keduanya yang tampak lepas itu. Tapi saat mie nya tinggal sedikit, Aluna membawa mangkuk tersebut menjauh dari Evan. Evan hanya bengong melihat tingkah Aluna dengan garpu yang masih ia pegang.
Lalu Evan tersenyum, ia mengusap kepala Aluna dengan hangat dan segera mengambil air minumnya yang habis dan menyodorkan sisanya untuk Aluna. Mereka memang minum di gelas yang sama.
"Aku sama Tari putus. Aku udah ngomong sama dia. Tapi, masih nggak tega rasanya," cerita Evan pada Aluna.
Aluna terdiam seraya memegang gelas minuman di tangannya. Ia menatap Evan dalam, terlihat expresi sedih di wajah Evan saat ia menyampaikan hal tersebut barusan.
Tiba-tiba ia juga merasa bersalah. Seakan-akan dia sudah merebut Evan dari Tari. Ia menundukkan pandangannya seolah berusaha menahan perasaannya sendiri.
"Apa kita egois, Van?!" gumam Aluna dengan perlahan kembali mengangkat wajahnya menatap kearah Evan.
__ADS_1
Ia menatap Evan yang tampak tidak bisa berkata-kata. Itu membuat Aluna semakin merasa bersalah. Melihat raut kesedihan yang terlihat nyata di wajah Aluna saat ini, membuat Evan tersenyum.
Wanita manjanya ini ternyata sudah mulai belajar memahami perasaan orang lain juga sekarang. Evan sekali lagi mengusap kepala Aluna dan tersenyum meyakinkan. Ia menarik nafas panjang dan melepasnya berlahan.
"Nggak tau!" ucap Evan seraya menaikan bahunya dengan senyuman miris, "Yang jelas aku ngecewa-in Tari," ucap Evan kelihatannya juga merasa bersalah. Itu terlihat dari Evan yang terus tertunduk dengan tatapan kosong saat bicara.
Aluna menggenggam erat tangan Evan. Evan menatap Aluna sesaat sebelum ia membalasnya dengan menggenggam erat tangan Aluna pula. Mereka saling menguatkan.
Aluna tersenyum pada kekasihnya itu, senyum yang selalu terlihat indah di mata seorang Evan Pratama. Evan pun menariknya untuk membawanya ke dekapannya. Aluna menyambutnya dengan senyuman hangat. Pelukan yang terasa sangat nyaman untuk mereka berdua saling menguatkan.
...***...
Selesai makan dan beres-beres, Aluna menghampiri Evan yang berbaring di sofa sedang menonton TV. Dia langsung menuju dekapan Evan, Evan tersenyum dan menyambutnya dengan membawa Aluna semakin dalam, dalam dekapannya. Aluna membenamkan wajahnya di dada bidang Evan, masih terasa nyaman seperti dulu, bau parfum yang wangi dan lembutnya selalu Aluna rindukan dari laki-laki yang sangat menyukai kebersihan dan kerapihan ini. Bodohnya dia dulu sempat meragukan perasaannya terhadap Evan. Hingga membuat dia sempat kehilangan lelaki yang sangat ia cintai ini. Aluna semakin mempererat pelukannya seolah tak ingin kehilangan lagi. Cukup sekali ia melepaskannya dan hampir saja kehilangan untuk selamanya.
Evan pun merasakan hal yang sama, ia merasa sangat nyaman disaat suasana yang buruk ini Aluna menemaninya. Dia beruntung memiliki wanita seperti Aluna, wanita yang selalu menerimanya apapun keadaannya. Seperti yang pernah Silvi katakan. Akuna adalah wanita yang menerimanya di saat semua orang menolaknya. Mereka cukup lama di posisi itu.
"Jangan tinggalin aku lagi, Luna," bisik Evan di telinga Aluna seraya mempererat pelukannya pada Aluna dan mengecup hangat kening Aluna. Aluna memejamkan matanya menikmati hangatnya pelukan Evan.
"Aku akan pertahankan kamu kali ini. Apapun yang terjadi," bisik Aluna hangat.
...***...
Pagi-pagi sekali Aluna terbangun, semalam mereka tidur di sofa di depan televisi yang menyala. Dia melihat Evan masih tertidur. Ternyata ia tidur di lengan Evan semalaman.
Aluna menatap wajah polos Evan yang masih tertidur, sangat mempesona dan lembut. Berbanding terbalik saat dia bangun. Dia akan berubah menjadi Evan yang suka bicara seenak jidatnya dan sangat frontal saat bicara dengannya. Tapi Aluna menyukai itu.
Saat Evan memarahinya, yang ia rasakan adalah cinta. Saat Evan menggertak nya, dia tidak takut malah menyukainya. Saat Evan melindungi setiap langkahnya yang kurang, membuat Aluna semakin merasa dia tidak bisa kehilangan laki-laki menyebalkan ini. Dia lebih sekedar cinta, tapi dia membutuhkan laki-laki ini dalam hidupnya. Hanya laki-laki ini yang bisa menguasainya tanpa takut pada ayahnya. Hanya dia yang berani menentang anak tuan Richard Brahmana.
Sesaat kemudian Evan terbangun, Aluna masih menatapnya. Evan sering menggeliat saat baru bangun tidur dan itu terlihat sangat lucu bagi Aluna. Evan menatap Aluna yang tengah menatapnya dan sebuah ciuman mendarat di bibir Aluna, Membuat Aluna kaget dan spontan memukul Evan. Evan malah balas mendekapnya hingga Aluna sesak dan berusaha melepaskan diri.
"Lepas. Sesak, ah," seru Aluna yang sebenarnya sangat menyukai di perlakukan usul Evan itu.
Tidak ada laki-laki yang pernah mendekap dan mencumbunya seperti ini selain Evan. Aluna tidak tahu bagaimana cinta yang lain, baginya cara Evan menyayanginya adalah yang terbaik baginya.
__ADS_1
Mereka saling tatap dan tersenyum beberapa saat. Hingga akhirnya Aluna sadar bahwa mereka harus buru-buru pergi kerja hari ini.
"Aku mau ambil baju aku dulu, aku mau pulang. Mau siap-siap jadi sekretaris cantik kamu lagi," canda Aluna seraya mencubit kedua pipi Evan, terlihat expresi lucu Evan yang membuat Aluna tertawa. Lalu Aluna segera ke lantai atas, ke kamar tamu untuk mengganti pakaiannya yang sudah kering.
Setelah rapi, Dia bersiap akan pulang. Evan pun mengantar Aluna menjemput mobilnya di parkiran kantor. Karena hari yang masih gelap, Evan khawatir jika Aluna pergi sendirian. Setelah Aluna pergi dengan mobilnya, Evan pun segera kembali ke apartemennya.
***
Siang itu Aluna menemui Tari di tokonya. Tari tampak sibuk. Saat melihat Aluna datang, dia menatapnya.
Mereka pun kini saling berhadapan, Aluna mendekati Tari berlahan.
"Maaf Tari, aku ganggu," ucap Aluna.
"Nggak papa," ucap Tari mencoba tenang.
"Maaf, Tari. Kami menyakiti kamu. Aku benar-benar nggak bisa kehilangan Evan. Kalau kamu punya keluarga yang bahagia yang lengkap. Sedangkan aku hanya punya Evan tempat aku bergantung. Mungkin terdengar merepotkan dan sangat memanfaat kan. Tapi begitu lah cara kami mencintai. Aku tau kamu orang baik... Aku nggak maksa kamu memaafkan kami... Tapi mungkin suatu saat nanti kamu bisa mengerti... " Ucap Aluna bersiap akan pergi. "Maaf Tari Aku tidak bisa melepaskan cincinku... Aku pernah melepaskannya, aku pikir tidak apa-apa, tapi ternyata kami tidak bisa, Tari... Aku minta maaf..." Ucap Aluna berlahan. Tari hanya terdiam, tanpa banyak bicara, dia hanya tersenyum tipis penuh arti. Lalu Aluna pun pergi meninggalkannya. Sekali lagi, Aluna menatap Tari yang masih terpaku.
Tari tertunduk dan menangis. Dia sudah berusaha meyakini Evan tentang keberadaannya, menunjukkan sisi sempurnanya. Tapi dia tetap di kalahkan Aluna yang lemah dan manja. Mungkin ini yang di sebut cinta, kekurangannya bisa jadi sebuah alasan kebersamaan bukan pemisah. Tari salah telah memaksa masuk, Evan ternyata tidak pernah membuka hatinya untuk wanita lain. Kesetiaan Evan pada Aluna tidak tergoyahkan sedikit pun.
Aluna melihat dari kejauhan bagaimana Tari terluka, dia menyakiti hati wanita lain untuk mendapatkan cintanya. Dia benar-benar egois atau bahkan jahat saat ini. Tapi dia tidak bisa kehilangan Evan, dia mencintainya lebih dari segalanya.
"Aku harap laki-laki baik akan datang padamu Tari... " Doa Aluna tulus dari kejauhan dengan mata yang berkaca-kaca.
...***...
Di rumah Tari tengah bersama ibunya, Tari menatap cincin pertunangannya, dia melepaskannya berlahan.
"Tari sudah berjuang bunda... Tapi tetap menjadi orang ke tiga diantara mereka... " Ucap Tari lalu tangisnya pecah, dan ibunya memeluknya erat.
"Maaf nak... Bunda udah jebak kamu jadi kayak gini..." Ucap ibunya ikut merasa bersalah.
"Nggak bunda... Tari yakin... Ini cara tuhan mempersiapkan yang terbaik untuk Tari... " Ucap Tari bijak masih dalam keadaan menangis. "Bunda nggak salah... Makasih bunda, udah selalu ada buat Tari... " Ucap Tari lalu memeluk ibunya erat.
"Semoga tuhan gantikan yang terbaik buat kakak...! " Ucap ibunya lagi pada Tari.
__ADS_1
Semoga... ☺
BERSAMBUNG...