
Keesokkan harinya Evan sudah bersiap akan ke rumah sakit bersama Aluna. Sekarang ia tangah menunggu di ruang tamu sambil memainkan handphone nya. Tidak lama Rima datang dan duduk di sampingnya. Evan tampak masih sibuk dengan handphone nya, sehingga dia tidak begitu peduli dengan kedatangan ibunya.
Rima menatap Evan sekilas lalu menatap keluar rumahnya dengan perasaan gelisah. Sesekali dia melihat keluar saat ada mobil yang lewat. Sedangkan Evan masih santai dengan handphone nya, dia tampak tenang menunggu, hanya Rima yang terlihat gelisah.
Tapi lama di posisinya membuat Evan penat dan mengubah posisi duduknya, Rima memperhatikan Evan tampak agak meringis menahan perutnya saat bergerak. Membuat Rima menatapnya khawatir. Evan benar-benar tengah memaksakan dirinya terhadap kemauan Aluna.
"Kamu kalo masih sakit jangan di paksain," tutur Rima mulai tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Udah nggak papa, Mi." Evan masih bersi keras dan tersenyum kearah ibunya.
Tidak lama terdengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Evan dan Rima pun segera menoleh ke pintu. Tidak lama Aluna pun masuk. Tampak gadis cantik itu datang dengan senyum manisnya. Rima tersenyum menyambut calon menantunya itu.
"Mi!" sapa Aluna seraya memberi salam cipika cipiki pada Rima.
"Cantiknya calon mantu mami," sambut Rima sumringah menyambut Aluna, Aluna hanya tertawa mendengar pujian Rima. Memang Aluna terlihat lebih segar di bandingkan saat pertama kali Rima bertemu dengannya. Saat itu Aluna terlihat kurus dan kusut secara penampilan.
"Ah mami bisa aja!" ucap Aluna senang. "Eh ya, Kita langsung aja, yuk! Udah ada driver di luar," ajak Aluna pada Evan. Evan pun segera bangkit dari posisinya bersiap akan pergi lagi.
"Mi, aku pergi dulu!" pamit Evan seraya salim pada ibunya, Rima menyambut nya dengan tatapan yang menyimpan rasa khawatir pada Evan. Melihat itu Evan mengerti dengan kekhawatiran ibunya itu. "Nggak papah, mi!" ucap Evan meyakini ibunya akan keadaannya, Rima hanya tersenyum kecut tidak begitu yakin. Evan dan Aluna pun pergi.
Mereka pergi dengan mobil BMW 330i M Sport itu. Sederhana namun cukup mewah dan yang terpenting sangat nyaman untuk mereka saat ini. Aluna sengaja memakai driver karena dia tau keadaan Evan yang belum begitu baik untuk menyetir sedangkan dia juga tidak begitu baik untuk menyetir saat ini.
...***...
Sesampai nya di rumah sakit mereka segera mengantri bersama pasien lainnya. Aluna merasa senang karena dia pergi bersama Evan. Dia terus menggandeng tangan Evan dengan perasaan yang sangat bahagia, dia merasa seolah seperti istri Evan sesungguhnya. Apa lagi saat mengantri menunggu giliran periksa, Aluna menatap mereka yang ikut mengantri. Mereka semua tampan bahagia, Aluna pun merasakan hal yang sama. Dia menatap Evan, dia beruntung mendapat suami setampan dan sebaik Evan. Saat menyadari Aluna tengah menatapnya, Evan pun tersenyum kearah Aluna dengan mengusap lembut kepala Aluna. Aluna sangat senang di berlakukan begitu, ada rasa hangat dan cinta yang ia rasakan. Tampilan keren Evan dan cantik Aluna, membuat mereka berdua terlihat lebih menonjol. Tidak ayal merekapun menjadi pusat perhatian, apa lagi melihat perlakuan sweet mereka berdua seolah seperti pengantin baru yang tengah menunggu kehadiran buah hati pertama mereka, itu menambah kesan manisnya mereka.
(OOTD Aluna Jeanela)
(OOTD Evan Pratama)
__ADS_1
Sampai lah pada giliran mereka untuk menemui dokter. Dengan langkah tidak sabar Aluna menuju ruang dokter seraya menggenggam tangan Evan. Evan dan Aluna pun masuk di sambut dengan senyum sumringah dari dokter, seorang wanita paruh baya dengan perawat wanita muda sebagai asistennya. Ruangan putih khas rumah sakit dengan alat medis membuat ruangannya terkesan menegangkan. Tapi karena sambutan dokter yang ceria membuat suasana menjadi lebih mencair dan bersahabat.
Dia sangat ramah dan friendly sehingga Aluna sangat senang menanyakan banyak hal Tentang bayinya. Dari keterangan si dokter di ketahui bahwa Aluna tengah mengandung 9 minggu. Aluna dan Evan sangat senang mengetahui bahwa calon bayi mereka sehat dan sempurna.
"Jangan terlalu capek, ya. Jaga kesehatan ibu itu yang penting. Ini masih di bawah 4 bulan. Masih sangat rentan," nasehat dokter ramah "Kalo berhubungan yang hati-hati!" ucap dokter seperti berbisik usil. Evan dan Aluna hanya tertawa mendengar nasehat usil dokter lucu itu.
...***...
Sepulangnya dari rumah sakit mereka langsung menuju rumah Aluna. Aluna memang di pesan untuk pulang bersama Evan ke rumah. Karena ada yang mau di bicarakan ayah Aluna pada mereka.
Sesampainya di rumah mereka di sambut Marissa. Karena ayah Aluna yang belum pulang.
"Tunggu aja dulu, sebentar lagi nyampe katanya tadi!" jelas Marissa yang baru datang tentang Richard kepada Evan dan Aluna yang terlihat tidak sabar memberi kabar bahagia itu, terutama Aluna.
***
Mereka sekarang tengah duduk di sofa ruang tamu. Mereka mengobrol sembari menunggu kepulangan Richard. Dari obrolan mereka Marissa dapat merasakan bahwa Evan adalah laki-laki yang tidak hanya cerdas tapi juga bertanggung jawab. Itu terbukti, saat sakit pun dia bersedia menemani Aluna ke rumah sakit. Padahal dia juga dalam keadaan mengkhawatirkan. Saat Aluna pergi Marissa berbisik lada Evan.
"Mau Aluna jangan di iyain semua. Dia kadang punya mau lebih banyak cari perhatiannya dari pada benar-benar butuhnya," bisik Marissa seraya mendekati Evan. Evan hanya tersenyum mendengarnya. Dan Marissa pun kembali pada posisinya
"Iya, tadi itu aku cuman khawatir karena dia belum pernah periksa. Dia juga kalo muntah-muntah sering parah kayaknya," terang Evan seraya tersenyum, dia terlihat masih kaku terhadap Marissa.
"Ngasih tau Evan biar nggak jadiin kamu kayak ratu. Kebiasaan kamu, kalo setiap ada mau harus dapet. Kalo sudah jadi ibu harus bisa jadi dewasa dan mawas diri. Jangan manja lagi!" nasehat Marissa yang tau betul dengan watak keponakan kesayangannya itu.
"Tenang aunty. Evan ini galak kok kalo lagi sembuh. Andri yang atasannya aja tunduk sama dia!" ucap Aluna seraya melirik Evan, Evan pun tertawa mendengarnya. Sudah lama dia tidak mendengar nama itu lagi. Sekarang dia kembali di ingatkan dengan tingkah konyol Andri.
"Kamu betah ya kerja sama dia," ucap Aluna dengan heran. Evan tersenyum mendengarnya.
"Dia itu nggak jahat, kok. Cuman kurang perhatian di usia senja aja. Makanya dia ngincar kamu. Aku penasaran gimana reaksi dia nanti kalo tau kita udah nikah," goda Evan sambil tersenyum usil ke arah Aluna. Expresi Aluna terlihat tidak terima.
"Iiihhh! Nggak mau!" teriak Aluna geli sekaligus kesal.
"Dia nyambut kamu datang semangat banget. Semua di siapin buat kamu seorang," Aluna tampak tidak suka membahas tentang si Andri, tapi Evan malah semakin suka menggodanya. Marissa hanya tertawa melihat tampang kesal Aluna "Haaahhh....! Liat dia hamburin duit hotel sebenarnya aku kesel juga waktu itu," kenang Evan.
"Terus kamu kenapa nggak nyambut aku?" tanya Aluna balik.
__ADS_1
"Ngapain!? Itu bukan tugas aku. Udah cukup satu orang gila di hotel, kalo aku ikutan juga, bisa berantakan kerjaan di hotel," ujar Evan santai.
"Eh iya, tapi aku suka pancake buatan kamu waktu itu." Aluna kembali ingat dengan masakan Evan untuknya waktu itu. "Kenapa kamu mau masak buat aku?" tanya Aluna dengan tatapan penasaran pada Evan, Evan pun menatap Aluna.
"Aku kasihan sama Waitersnya. Biar kamu nggak ngomel, makanya aku mau masak," sungut Evan. Itu adalah salah satu momen yang membuat Aluna jatuh hati kepada Evan. Melihat sikap dewasa Evan waktu itu membuat dia terpesona.
"Kamu masakin pancake apa, Van?!" tanya Marissa menimpali.
"Pancake khas Jerman gitulah, tante!" terang Evan.
"Aunty aja!" seru Marissa.
"Nggak nyaman, tante saja," sahut Evan segan.
"Hmh! terserah kamu," jawab Marissa santai. " Eh, iya. Karyawan yang di pecat waktu itu udah kerja lagi di hotel. Kemarin daddy nya Aluna udah minta dia di panggil kerja lagi," terang Marissa memberi tahu. Itu membuat Evan tersenyum sumringah, raut bahagia terlihat jelas di wajahnya.
"Beneran Tante?" seru Evan seraya membelalakan matanya tidak Percaya.
"Hmmmhhh..... " gumam Marissa menegaskan seraya mengangguk dan tersenyum. "Kenapa sih kamu perjuangin banget dia buat kerja lagi di hotel?" tanya Marissa penasaran.
"Hampir semua bawahan aku, aku kenal. Mereka sering cerita tentang hidup mereka kalo lagi istirahat makan siang, atau di sela-sela kerjaan mereka. Jadi aku tau bagaimana mereka berjuang buat kerja. Itu sih awalnya cuman trik aku biar mereka mau kerja sepenuh hati. Sebab nggak cukup waktu kalo harus awasin mereka semua terus. Jadi aku usahain bangun komunikasi dengan mereka. Ternyata itu malah membuat aku jadi emosional sama mereka karena ngerasa udah dekat," kenang Evan pada saat dia masih bekerja di hotel waktu itu.
"Kamu itu benar-benar laki-laki yang mengagumkan, Van. Aunty pengen laki-laki kayak kamu juga," goda Marissa genit seraya menatap Aluna usil, yang membuat Aluna langsung mengernyitkan keningnya.
"Tante!" seru Aluna manja pada Evan, seraya memeluk lengan Evan erat. Di sambut tawa Evan dan Marissa.
Di tengah Obrolan mereka tiba-tiba ayah Aluna datang. Dia baru pulang dari bekerja. Dia langsung duduk bergabung dengan mereka. Saat melihat kedatangan Richard pertama kali Evan sempat ragu dan takut. Dia takut jika Richard belum menerimanya. Tapi semua itu segera terbantahkan saat melihat senyum bahagia Richard saat ini.
"Apa katanya dokter tadi?" tanya Richard antusias seraya duduk di sofa.
"Sehat, dad. Ini USG nya," sahut Aluna seraya menyerahkan hasil USG nya pada ayahnya. Ayahnya tertawa bahagia melihat hasilnya yang merupakan foto hitam putih itu.
"Emang daddy ngerti?" timpal Aluna bingung.
"Nggak! Tapi daddy senang karena sebentar lagi akan ada bayi beneran di rumah kita ini," ledek Richard kepada Aluna.
__ADS_1
"hmmhhhh... DADDY!" teriak Aluna manja. Di sambut tawa semua orang. Evan senang karena Richard tampak begitu welcome dengan kehadirannya di tengah keluarga mereka saat ini.
BERSAMBUNG...