PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
PERGI BERSAMA


__ADS_3

Hari ini Evan mengantar Tari ke bandara untuk menghadiri acara pernikahan sepupunya. Jadi dia akan di sana selama 2 minggu. Terlihat Tari yang berat untuk pergi. Dia berkali-kali menoleh ke belakang menatap Evan. Evan berkali-kali membalas lambaian tangan Tari. Hingga dia hilang di balik pintu bandara.


Setelah Tari pergi, Ada gurat senyum tersungging di bibir Evan. Dia segera meninggalkan bandara. Dan melepas kancing baju kemeja lengan panjangnya, dia menariknya hingga sampai siku.


"Anto, kita liburan. Telfon yang lain," seru Evan dengan senyum sumringah sambil terus berjalan menuju mobilnya. Anto yang tidak tahu apa-apa hanya bisa melongo. "Nto, lo denger gue kan?!" seru Evan lagi dari seberang telfon.


"Lo dari hutan mana? sampe kayak kesurupan gini?!" tanya Anto yang masih belum paham.


"Aaahhh... Gini kalo ngomong sama manusia kebanyakan mabok," gerutu Evan kesal karena Anto yang kurang tanggap. "Udah. Gue siap-siap. Kita ke lombok sekarang. Gue tunggu jam 7 di bandara. Jangan telat," seru Evan lagi. Anto mulai paham, senyumnya pun mulai mengembang dengan lebar dan tertawa kegirangan. Dia segera menelpon yang lain, dia punya rencana bagus.



(Evan sedang menelpon)


...***...


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Evan sudah sampai bandara, saat itu terlihat Anto, Dea, Silvi dan.... Aluna. Evan kaget Aluna juga ada di sana. Dia menatap Anto tidak paham. Anto hanya tersenyum tanpa jawaban. Evan menghampiri Anto.


"Kenapa lo ajak dia?! Gue bisa di bantai sama Tari!" bisik Evan.


"Tenang aja. Cuman 4 hari. Dia di sana kan 2 minggu, nggak akan ketahuan," bisik Anto santai. Evan hanya bisa geleng-geleng kepala. Dan menatap Aluna yang tampak cuek.


"Ooo... Ya. Brian nggak bisa ikut. Dari pada kita pergi berdua aja. Ntar orang-orang salah paham. Makanya gue ajak mereka biar rame sekalian. Gue takut di kira-kira jadi simpanan duda keren kalo liburan berdua aja sama lo," goda Anto menjelaskan, kali ini dengan suara lantang tidak bisik-bisik lagi. Evan menatap Anto dan melepaskan napasnya dengan kasar.


"Lo jebak gue Anto," seru Aluna.


"Lo bilang cuman kita," lanjut Aluna tidak terima.


"Hahaha... Nikmatin aja. Ini akan jadi liburan berkesan," ucap Dea.


Lalu merekapun pergi menuju pesawat mereka yang akan take off sebentar lagi. Evan masih memikirkan Tari, dia akan salah paham bila mengetahui ini. Tapi, sudah lah. Benar kata Anto. Hanya 4 hari, lagian jika hanya berdua saja pastinya tidak akan seru.


Belum lagi melangkah tiba-tiba Aluna lewat dan dengan sengaja menabrak Evan. Itu membuat Evan kaget dan menatap Aluna yang berlalu seolah tidak terjadi apa-apa. Aluna menoleh kebelakang.


"Oh... Maaf nggak sengaja. Habis nggak keliatan sih," seru Aluna seolah mengejek. Evan mengernyitkan keningnya tidak paham.


'di kantor lo bos, bisa marahin gue seenak jidat lo. Di sini kita sama. lo bukan atasan gue,' Ucap Aluna membatin.


Evan tersenyum tanpa sepengetahuan semua orang. Setidaknya kali ini dia dapat lepas dari bebannya, dia bersedia membayar mahal untuk momen ini jika itu konsekuensinya. Evan terus menatap langkah Aluna sambil berjalan mengikutinya dari belakang.


Mereka segera menuju pesawat. Evan sudah menyewa penginapan yang bagus di sana, sebelum keberangkatan mereka. Dengan kekuasaan yang Evan miliki sekarang, ia menjadi kenal banyak orang-orang penting, termasuk pemilik penginapan yang akan mereka kunjungi saat ini. Sehingga Evan bisa mendapatkan tempat yang bagus di pulau pribadi tanpa transaksi yang merepotkan.


...***...

__ADS_1


Sesampainya mereka di penginapan yang berada di pinggir pantai itu, Aluna langsung berlari ke pantai hingga kakinya menyentuh air laut. Evan melihatnya dengan seulas senyum, Anto melihat tatapan hangat Evan pada Aluna, tatapan yang tidak pernah dia lihat Evan pada Tari.


"I am coming ***** (Salah pelafalan)!" teriak Aluna.


"Itu bukan pelac*r. Itu pantai. Beach," seru Evan terkekeh.


Aluna menoleh, dia hanya salah pelafalan antara ***** dan beach. Evan menatapnya dengan senyuman menantang dan menaikan alisnya. Aluna tampak kesal, tapi dia malas membuat keributan. Masih terlalu awal untuk dia membuat keributan.


'Liat aja nanti,' batin aluna.


Anto menepuk bahu Evan, hingga Evan tersadar dan melanjutkan mereka menuju penginapan mereka. Di Sana Ada 3 kamar kosong. Evan dan Anto akan sekamar, Aluna, Dea dan Silvi di kamar lain dan kamar ke 3 untuk seandainya Brian dan Alice datang menyusul mereka, di kamar tengah.



Evan menatap sekeliling kamarnya. Dia membaringkan tubuhnya. Rasanya sangat nyaman dan tenang. Jauh dari semua permasalahan nya. Evan bangkit dan menatap keluar jendela kamarnya yang terbuat dari kayu itu. Tampak views langsung ke arah pantai.


Aluna masih tampak asyik bermain air di pantai bersama Silvi dan Dea. Mereka berlarian seperti anak kecil. Dia bahagia melihat Aluna yang tampak bahagia, Evan kembali tersenyum. Anto memperhatikan cara Evan memperhatikan Aluna. Hangat dan penuh cinta dengan senyum tipisnya yang menggambarkan isi hatinya yang paling dalam.


Saat Evan berbalik sudah ada Anto yang hampir saja membuatnya kehilangan keseimbangan karena hampir menabrak Anto. Itu sontak membuatnya kaget.


"Lemari penuh sama barang lo semua," gerutu Anto. Evan hanya tersenyum tidak peduli. Dia langsung berlalu begitu saja.


"Heh! Barang gue mau di tarok mana?!" seru Anto melihat Evan keluar tanpa bicara.


"Kalo barang dia gue pindahin pasti ngamuk, nggak gue pindahin mana tempat gue! Hah! temen kampret lo, Van," gumam Anto sendirian. Ia pun kembali menyusun barang-barang miliknya.


***


Malam harinya mereka membuat api unggun di tepi pantai. Bersenandung dengan suara pas-pasan ala Anto dan petikan gitar Evan yang terdengar tidak selaras dengan lagu yang Anto bawakan. Tapi mereka tidak peduli, mereka terus memainkannya. Dea, Silvi dan Aluna hanya tertawa melihat gaya Anto menyanyikan lagu ala kadarnya dengan suara yang pas-pasan. Lama-lama Anto merasa lelah juga akhirnya, tenggorokan nya mulai terasa kering. Ia pun segera meminum airnya. Lelah bersenandung tidak jelas Anto beristirahat sejenak.


"Capek. Nggak ada lagi nih yang bisa di makan?!" tanya Anto melihat bungkus cemilan yang sudah habis.


"Beli jagung aja," ajak Silvi


"Di pinggir jalan dekat sini tadi gue liat ada yang jual," seru Dea


"yok," ajak Anto pada Dea langsung berdiri.


"Gue ikut," susul Silvi.


" Terus lo, Lun?" tanya Silvi.


"Nggak ah. Kalian aja," ucap Aluna malas untuk ikut.

__ADS_1


"Cie... Berdua nih yeee... Kesempatan," ledek Dea.


"Aman nggak nih, Nto?" Goda Silvi pula.


"Terakhir ditinggal dikamar hotel mereka buat adegan panas. Nggak tau kalo ini habis pisah 3 taun mereka mau buat apa lagi," ledek Anto.


Yang membuat wajah Aluna dan Evan memerah. Evan dengan segera mengambil sebongkah kayu api unggun dengan bara merah menyala di ujung kayu. Dia mengangkatnya dan mengarahkannya pada Anto.


"Gue sumpel mulut lo pakek ini, Nto," seru Evan kesal. Anto langsung pergi di susul Dea dan Silvi. Sekarang tinggal mereka berdua. Aluna menatap Evan penuh tanya.


"Jadi kamu tau malam itu aku?" tanya Aluna penasaran.


"Tau lah. Mana ada cewek panggilan pakek anting berlian. Kalo mereka sanggup beli berlian kenapa mereka jual diri! Lagian kita itu suami istri. Buta sekalipun aku pasti tau itu kamu," ungkap Evan. Aluna terdiam. "Malam itu aku cuman gertak kamu. Tapi waktu aku tau itu kamu, ya nggak nolak. Kalo bukan kamu, aku juga nggak akan sudi," ungkap Evan lagi seraya membenahi kayu api unggun seraya menatap Aluna sambil tersenyum. Aluna merasa telinganya panas karena malu mendengar pengakuan Evan.


"Tapi kita berpisah setelah itu. Kamu nggak percaya aku," ucap Aluna mulai mengungkap masa lalu.


"Kamu juga nggak mau mempertahankan aku. kamu lebih memilih menentang aku. Kamu nggak tau posisi aku waktu itu sangat tertekan! Aku kehilangan anak, pekerjaan, bahkan tabungan aku habis terkuras dan hal terakhir yang bisa aku harapin, yaitu kamu. Kamu malah bersama orang yang aku benci. Kamu terlalu sibuk dengan urusan kamu. Kamu bahkan mendekati Soni di depan mata aku berkali-kali," ungkap Evan agak emosional.


"Itu caranya agar aku tau tentang perasaan kamu sama aku. Kamu membuat aku sulit untuk dekat. Kamu nggak mau nemuin aku, kamu selalu membuat batas di antara kita. Aku berlari kejar kamu waktu kamu ke rumah. Semalaman aku nangis di kamar karena kamu nggak nemuin aku, malah pergi dengan prasangka buruk kamu sama aku. Bahkan kamu nyerahin surat cerai," ungkap Aluna mulai berkaca-kaca.


Sejenak mereka terdiam, Aluna melihat Evan yang tertunduk. Aluna pun berdiri hendak pergi. Dia mulai tidak tahan berdebat lagi. Mengingat itu membuat dia sakit.


Baru saja Aluna berpaling, tanpa Aluna duga Evan menarik tangannya. Dan sebuah ciuman mendarat di bibir merah Aluna. Sesaat Aluna memejamkan matanya. Ingin ia mendorong Evan saat itu, tapi dia tidak bisa melakukannya. Ia malah menikmati sentuhan lembut hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.



Dia merasakan gejolak di dadanya. Sesaat dia merasa jantungnya berhenti berdetak. Dia tidak melawan bahkan terkesan membiarkan apa pun yang akan Evan lakukan padanya. Beberapa saat mereka larut dengan cumbuan yang tak di sengaja itu.


Ciuman itu menyadarkan mereka, ada hasrat yang terlalu kuat untuk mereka tolak. Semakin lama mereka semakin larut. Beberapa detik kemudian, Evan tersadar dengan apa yang dia lakukan. Dia tidak berhak lagi atas diri Aluna.


Evan melepasnya dan menatap Aluna yang masih terpaku dengan mata yang terpejam. Ia tersenyum ke arah Aluna. Evan mengelus rambut Aluna. Aluna segera tersadar dan mendapati Evan tengah tersenyum memandangnya.


"Apa rasanya masih sama?" bisik Evan dengan senyum penuh arti.


Aluna langsung merasakan wajahnya panas dan merah karena malu. Dia melepaskan genggaman Evan pada lengannya. Dia melepaskan genggaman Evan dan berlari ke penginapan meninggalkan Evan yang masih terpaku menatapnya.


Aluna mencoba menguasai dirinya, sedangkan Evan masih di depan api unggun menatap Aluna yang berlari meninggalkannya dengan sebuah senyuman malu-malu. Entah setan apa yang sedang merasukinya barusan, hingga membuat dia seberani itu pada Aluna.


Ada rasa di dada mereka yang sulit untuk mereka bendung. Terluah kan saat ada kesempatan. 2 orang bodoh yang sulit untuk menyatakan perasaannya. Melawan tapi malah terlihat semakin gamblang dan nyata perasaan mereka.


Tanpa mereka sadari Dea sempat memergoki mereka tadi, dia segera berlari menyusul Silvi dan Anto karena kaget dengan apa yang dia saksikan barusan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2