PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
BELAJAR BERSIKAP DEWASA


__ADS_3

Hari itu perdana Aluna satu ruangan bersama Evan. Dia di bimbing pak Hans untuk tugas-tugasnya. Evan memperhatikannya yang sedang di bimbing pak Hans, seraya terus melanjutkan pekerjaannya. Aluna tampak serius memperhatikan petunjuk dari pak Hans. Setelah selesai dia ditinggal oleh pak Hans dengan sebuah laporan yang coba Aluna selesaikan.



(Stelan kerja Aluna di hari pertama)


Untuk beberapa saat mereka diam dengan kesibukan masing-masing. Aluna diam-diam memperhatikan terus Evan yang tengah sibuk itu. Dia terlihat keren saat sedang serius begitu.


Setelah selesai dengan pekerjaan nya, Aluna menyerahkan nya pada Evan. Evan mengecek nya sebentar. Kemudian melemparnya ke meja.


"Cek lagi. Itu masih salah," ucap Evan setelah melihat laporan tersebut sekilas tanpa menoleh pada Aluna. Aluna pun mengambil laporannya itu dan kembali merevisi ulang laporannya. Setelah selesai Aluna kembali menyerahkannya.


"Masih salah," ucap Evan, yang masih hanya melihatnya sekilas.


Aluna memicingkan matanya heran. Dia sudah cek berkali-kali dan semuanya benar tidak ada yang salah. Karena malas berdebat, Aluna kembali memeriksanya. Dan menyerahkannya pada Evan lagi.


"Masih salah," ucap Evan. masih seperti tadi, menjawab dengan melihat sekilas sambil sibuk dengan pekerjaannya. "Ulang! Itu masih salah," ucap Evan pada Aluna yang tidak kunjung mengambil laporannya yang salah.


"Saya sudah cek berkali-kali, dan tidak ada yang salah," ucap Aluna formal.


"Kalo gitu. Otak kamu yang belum nyampe. Belum siap jadi sekretaris," ucap Evan memancing kekesalan Aluna.


Aluna mengambil kembali laporannya barusan. Dan kembali mengecek nya lagi, jumlah dan datanya. Walau sudah dia cek berkali-kali, dia tetap tidak dapat menemukan kesalahannya di mana.

__ADS_1


"Mau di bilang bodoh juga aku nggak peduli. Tapi ini beneran aku nggak nemu kesalahannya dimana!" seru Aluna kesal. Evan tersenyum penuh kemenangan, akhirnya perempuan ini menyerah juga.


"Kamu tulis p di kata 'laporan' dengan huruf besar. Belajar PUEBI di mana kamu?!" tanya Evan sambil tersenyum yang membuat Aluna kesal.


"Kamu habisin waktu aku seharian, cuman karena pekara 'p' besar sama 'p' kecil?" seru Aluna kesal.


Evan hanya tersenyum melihat kekesalan Aluna. Sambil terus melanjutkan pekerjaannya. Entah kenapa hatinya beberapa hari ini tiba-tiba rasanya jadi tenang seketika saat ada Aluna.


"Bilang aja kalo kami cari perhatian aku, iya kan?" tembak Aluna penuh percaya diri. Evan menoleh pada nya.


"Yang seharusnya ngomong kayak gitu, itu aku. Kamu pakek rok pendek kekantor apa maksudnya?! Pakek baju dengan belahan dada rendah kayak gini. Kamu pikir ini mall yang bisa kamu buat ajang cari perhatian dan hiburan?! Di sini semua orang fokus sama kerjaan. Apa kamu bermaksud cari perhatian aku?! Kamu pikir dengan pakek baju seksi gitu aku akan tertarik?!" ucap Evan frontal. "Kamu pakek baju ataupun nggak, nggak ada bedanya buat aku. Letak bekas jerawat kamu pun aku udah hafal. Jadi nggak usah di buat terbuka. Di mata aku, kamu sama aja," ucap Evan dengan senyum usil yang membuat Aluna semakin kesal. Dia langsung pergi keluar ruangan itu, dia menuju ruangan ayahnya.


Di sana sudah ada ayahnya yang tengah bersama salah satu karyawannya. Mereka langsung berhenti berdiskusi saat Aluna datang. Dan dia langsung permisi keluar meninggalkan Aluna dan ayahnya.


"Kenapa ini?" tanya Richard masih belum paham.


"Masak iya, cuman pekara 'p' besar sama 'p' kecil, Luna sampe ngulang berkali-kali bikin laporannya," adu Aluna mendramatisir.


"Memang begitu kerja, Lun. Kalo kamu setiap Evan tegur kamu, kamu aduin daddy kayak gini, Kapan kelarnya kerjaan kamu?" ucap Richard memberi pengertian.


"Daddy kok gitu, sih! Daddy udah nggak sayang Luna lagi? Sekarang daddy lebih suka belain Evan di banding belain Luna anak daddy," rengek Aluna.


"Sayang. Kamu sudah dewasa. jangan suka memperbesar masalah. Kamu harus bisa bersikap bijak dan dewasa. Kamu harus pandai menutupi perasaan buruk kamu. Rasa kesal, marah, benci itu perasaan buruk yang tidak harus semua orang tahu. Kalau memang harus di selesai kan. Maka, bicarakan dengan baik-baik, bukannya menunjukkannya kepada semua orang biar semua orang tahu. Kamu harus bisa menyimpan perasaan buruk itu untuk kamu sendiri tanpa orang lain harus tau. Luna sudah besar. Kamu harus pandai mengimbangi perasaan orang lain juga, nak. Jangan selalu menuntut untuk di mengerti terus," nasehat ayahnya, sepertinya mulai sadar untuk mendewasakan putri manjanya ini.

__ADS_1


Aluna terdiam, ayahnya benar. Selama ini setiap dia marah, kesal atau merasa buruk. Dia akan membuat semua orang sekelilingnya mengetahui itu. Walau sudah di beritahu Evan tentang privasinya Aluna tetap membandel. Dia selalu membuat orang lain harus memahami dia.


Apa selama ini dia selalu merepotkan orang lain dengan tingkah manjanya itu. Aluna kembali ke ruangannya, di sana ada Evan yang tampak masih terus bekerja.


"Udah ngadunya?" tanya Evan masih terus fokus dengan laptopnya.


Aluna hanya diam, mulai sekarang dia bertekat untuk tidak membuat semua orang tahu emosinya. Dia akan mulai dari belajar menghadapi Evan dengan sabar dan tidak banyak mengeluh lagi. Dia langsung duduk tanpa menjawab apa-apa.


Evan melihat Aluna yang terlihat sudah tidak kesal lagi. Biasanya dia paling ahli membuat masalah kecil jadi besar. Apa yang terjadi, Aluna tiba-tiba kehilangan keahliannya. Mungkin Richard mengatakan sesuatu yang menyentuh hatinya. Pikir Evan.


***


Saat waktu makan siang, Evan pergi menemui Tari di toko miliknya. Disana Evan di sambut hangat oleh Tari. Tari menyediakan makan siang yang dia masak sendiri di rumah untuk Evan. Mereka akan makan siang di toko tersebut bersama. Di sela makan siang mereka, Evan menyampaikan perihal Aluna yang sudah menjadi sekretarisnya beberapa hari ini.


Tari terdiam beberapa saat mendengar penjelasan Evan, terus terang itu membuat dia takut. Apa lagi mereka bekerja dalam satu ruangan.


"Kamu nggak keberatan, kan?" tanya Evan menanyakan pendapat Tari. Tari menggeleng dengan seulas senyum, tapi raut wajahnya tetap memperlihatkan kekhawatiran yang dalam. Dia tau selama ini Evan selalu menyimpan perasaan pada Aluna. Walaupun Evan orang yang bertanggung jawab, tapi jika mereka terus bertemu bukan hal mustahil bagi Evan untuk menghianatinya.


...***...


Selesai makan siang bersama Tari, Evan kembali ke perusahaan. Di sana sudah ada Aluna. Aluna tau Evan menemui Tari setiap kali jam makan siang. Dia merasa cemburu pada Tari yang bisa bersama Evan setiap hari sebagai kekasihnya yang akur, sedangkan Evan saat bersamanya dulu selalu bertengkar. Entah wanita seperti apa dia di mata Evan, yang ia tahu terakhir kali Evan menyebutnya perempuan yang menghancurkan hidupnya.


Sepertinya benar, bersama Aluna hidup Evan berantakan dan saat bersama Tari, Evan menjadi orang yang sukses seperti sekarang ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2