PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
SAMUDRA HATI


__ADS_3

Di teras malam itu, Evan tengah menikmati pemandangan ombak yang meliuk-liuk di lautan. Walau gelap, deru nya terdengar jelas. Berkali-kali ombak itu menerpa pinggir pantai. Entah apa yang berusaha ombak itu hancurkan. Entah apa yang ombak itu berusaha buktikan, hanya kerasnya yang terlihat.


Tiba-tiba Silvi datang menghampiri Evan dan duduk di sampingnya. Evan melihat sekilas kedatangan Silvi. Lalu dia kembali menatap laut.


"Jangan buat dia berharap, Van. Gue nggak mau Aluna kecewa," ucap Silvi tanpa menoleh pada Evan.


Evan menatap Silvi dengan tatapan bingung dan heran mendengar pernyataan tiba-tiba Silvi. Sesaat Silvi menoleh kearah Evan dan menyunggingkan senyum tipisnya melihat wajah bingung Evan.


"Kamu dan Aluna, Van," jelas Silvi yang membuat Evan segera paham. Ia tersenyum dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangkunya.


"Aku harus bagaimana!?" ucap Evan dengan tatapan dalam tanpa menoleh pada Silvi kali ini. Silvi kembali menatap Evan intens.


"Kamu seperti ombak itu, Van. Menolak, mendorong, tapi kamu tetap menyeretnya ketengah. Kamu menolak Aluna, tapi lama-lama seperti menyeret Aluna ke pelukanmu. Saat dia sampai di pelukanmu, lalu kamu tenggelamkan dia, dengan sikap yang membingungkan. Apa kalian akan terus begini!? Tanpa bicara, kamu biarkan dia lakukan apapun yang dia suka. Lalu kamu jabarkan sebagai kesalahannya!" ucap Silvi dalam. Evan menoleh pada Silvi." Itu yang kamu lakukan pada Aluna!" Ucap Silvi lagi, kali ini mereka saling pandang. "Van, Berhenti mencurigai semua orang. Tidak semua orang akan menyakitimu. Jangan jebak mereka. Kalau kamu ingin bersama Aluna. Lakukanlah. Jangan membingungkan!" ucap Silvi mulai menemukan ketakutan Evan. "Aluna menerima kamu saat semua orang menolak kamu. Dia memelukmu saat semua orang menyalahkanmu. Saat dia meninggalkanmu, kamu mulai ketakutan. Kamu mulai menjadi badai yang ganas. Berusaha menenggelamkan Aluna dan mencampakkannya ke pinggir. kamu mencoba menutupi perasaanmu dengan menyakiti Aluna. Kamu mengombang-ambingkannya, Van. Berhenti mengukur masa lalu! Aluna bukan ayahmu!" ucap Silvi membuat Evan semakin terhenyak.


"Saat aku bayi dia membawaku pulang bersamanya. Dia menerimaku. Tapi saat ada yang menolakku. Dia mengasingkanku. Dia membuat aku seperti kesalahan. Dia menepikanku. Tapi saat aku menjauh, dia berusaha mendapatkanku kembali. Itu yang Aluna juga lakukan. Seperti ayahku," ucap Evan seraya menahan sesak di dadanya dengan pandangan terus ke laut. Silvi terdiam, Evan jauh lebih terluka, jauh lebih ketakutan. Evan selalu menyimpan lukanya seorang diri dan bersembunyi di balik sikap diam dan tertutupnya.


Ini pertama kali Silvi melihat Evan menangis. Pria yang di kenalnya tangguh dan sangat kuat di hadapan siapapun, tengah berusaha keras menahan tangisnya. Evan selalu mampu memperlihatkan sisi tangguhnya. Sekarang malah terlihat lemah, dan seakan membuka tabir yang selama ini dia coba sembunyikan. Terbuka saat seseorang mulai membuka kebenarannya, dia tidak mampu menyangkalnya lagi.


Evan tampak dengan cepat menyeka air matanya dengan senyum dan seolah sedang menggosok matanya, tapi terlihat jelas jika dia menahan tangisnya. Silvi tahu Evan selalu takut di tinggalkan. Tapi dia tidak menyangka bahwa Evan seluka itu dengan masa lalunya. Dia seolah memaafkannya, tapi dia tetap mengingat nya. Luka itu seperti sebuah penggaris yang selalu Evan ukur pada setiap orang, karena itu hanya Anto dan beberapa orang saja yang benar-benar dapat menyelami hatinya. Sedangkan yang lain hanya menjadi teman biasa bagi Evan. Bukan tempat berbagi.

__ADS_1


"Saat ayahku membakar semua yang aku punya, aku merasa tidak memiliki apapun lagi. Setiap ada yang menyentuh barang-barangku, aku merasa mereka akan merebutnya. Aku selalu hidup dengan rasa takut kehilangan dan takut di abaikan. Aku tidak ingin milikku di sentuh, apa lagi berpaling. Anto adalah orang yang tidak pernah mengabaikan aku. Setiap aku memanggilnya, dia selalu menoleh, dia tidak pernah memalingkan wajahnya dari ku. Karena itu, dia Satu-satunya orang yang bisa menemani aku selama ini. Satu-satunya orang yang selalu aku cari dan tidak akan pernah menepikan aku. Kenapa Aluna tidak bisa seperti Anto, dia tidak ada di saat aku terpuruk. Dia pergi dan berpaling," ucap Evan semakin larut.


Aluna mendengar itu di balik pintu. Karena itu Evan selalu tidak menyukai miliknya di sentuh orang lain. Karena baginya dia tidak memiliki apapun. Menjaga apa yang di milikinya tetap bersamanya adalah cara dia membuat dirinya terlindungi. Bodohnya Aluna saat itu, dia pergi saat Evan kehilangan anaknya, dia malah menyalahkan Evan untuk kematian anaknya. Saat Soni menindasnya, dia malah bersama Soni. Saat Evan menceraikannya pun dia tidak berusaha untuk mempertahankan Evan.


"Karena itu kau membenci Aluna. Saat Aluna bersama Soni, kau merasa sudah kalah. Saat Aluna mengusirmu kau merasa Aluna mencampakkanmu, Saat itu lah Aluna berlahan kehilangan kamu, Van. Kalian berlahan kehilangan satu sama lain!" Ucap Silvi mencoba lebih memahaminya.


"Tapi aku tetap tidak bisa menjauhinya, apapun yang ia lakukan, aku tetap merindukannya. Walau untuk bersamanya aku takut. Aku takut dengan kelemahannya melindungi dirinya dan hubungan kami, seakan membuat aku merasa bisa kehilangan dia kapan saja dengan sikapnya itu. Aku membenci kelemahan nya itu, Aku berusaha menghindarinya.Tapi..., Aku tetap menginginkan dia. Hanya dia. Aku tidak bisa menerima orang lain lagi. Aku merasa terjebak. Pikiran ku meminta menjauhinya tapi hati ku selalu menarik dia ke kehidupanku. Setiap kali aku ingin menjauhinya, takdir selalu berusaha mengikat kami. Karena itu dia terjebak di ombakku," ucap Evan dengan senyuman dalam yang penuh arti, seperti tengah menertawakan dirinya sendiri.


"Kau mencintai Aluna, Evan. Kau sudah jatuh cinta. Jangan menghindar lagi. Kau tidak bisa mencintai Tari. Jadi, lepaskan Tari. Dia akan terluka nanti," ucap Silvi. Evan terdiam sesaat.


"Tapi... Dia terlalu baik!" ucap Evan tidak bisa memungkiri ketulusan Tari padanya.


"Aku pikir kalian bertiga itu sama. Dea yang kalo ngomong suka asal, Aluna dengan tingkah anehnya. Tapi ternyata masih ada juga yang bisa di ajak ngobrol," ucap Evan, membuat Silvi tertawa mendengarnya. Aluna yang kebetulan menguping dari tadi pun, ikut tertawa. Tapi untungnya tidak terdengar oleh Evan dan Silvi. Dia segera pergi sebelum ketahuan. "Udah malam. Siap-siap jam 9 kita pulang besok." Ingat Evan sebelum pergi. Silvi pun mengacungkan jempolnya. Mereka pun beranjak ke kamar masing-masing.


***


Di kamar Evan mulai berfikir. Silvi benar, Evan tidak pernah membuka hatinya untuk sembarang orang. Hanya Anto yang dia terima tanpa curiga, selebihnya akan dia ukur dan tunggu pembuktiannya.


"Nto! Emang gue kesannya sombong ya?" tanya Evan.

__ADS_1


"Lo tuh banyak yang suka, tapi lo kayak menghindar. Teman-teman tongkrongan aja sering ngomong, kalo lo anaknya susah di deketin. Padahal mereka pengen lah ngobrol bareng. Sekedar bertukar pikiran," ucap Anto santai.


Evan mulai berfikir lagi.


"Satu lagi. Kebanyakan mikir lo, Van," seru Anto lalu langsung tidur membelakangi Evan. Evan hanya menatap Anto sekilas lalu dia pun tidur di samping Anto.


***


Ke esokkan harinya mereka bersiap akan pulang. Mereka semua bersiap-siap, Aluna di bantu oleh Dea dan Silvi dalam beres-beres karena dia yang masih lemah akibat kejadian kemarin. Ditambah lagi kakinya juga terlihat masih bengkak karena saat di laut kakinya sempat menghantam bongkahan kayu yang terbawa ombak.


Selesai semua mereka langsung menuju bandara. Evan tampak khawatir dengan Aluna yang terlihat masih menahan sakit pada kakinya. Tapi dia tidak ingin mendekati Aluna. Dia tidak ingin membuat Aluna salah paham, bagaimanapun dia harus menjaga perasaan Tari. Dia tidak mungkin mengabaikan Tari demi dirinya. Dia hanya berani melihat Aluna dengan jarak tanpa berani menyentuh.


Sesampainya bandara mereka segera menuju pesawat yang akan take off sebentar lagi. Aluna melihat Evan yang berlalu sedangkan dia tengah di bantu Silvi untuk berjalan.


***


Saat di pesawat Evan duduk di bangku belakang, dia masih bisa melihat Aluna dari posisinya. Dia memperhatikan gadis cantik itu tengah bersandar di bangku pesawat bersama Silvi. Anto sudah dalam posisi nyamannya dengan headphone nya di samping Evan, Dea pun sama di seberang Aluna. Evan melihat kaki Aluna yang sedikit bengkak. Lalu dia kembali melihat Aluna, dia terlihat sudah nyaman juga dengan posisinya. Lalu Evan pun mencoba untuk beristirahat memejamkan matanya.


Aluna menoleh ke belakang, Evan tengah memejamkan matanya. Lalu ia pun kembali menatap ke depan saat pesawat mulai lepas landas.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2