PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
Lilin Yang Hampir Padam


__ADS_3

Sesaat senyum caroline merekah dengan indah. Wanita cantik itu berdiri untuk menyambut kedatangan putranya. Kebahagiaan Caroline berbanding terbalik dengan Evan. Dia terlihat sangat terpaksa untuk memenuhi undangan makan malam ini. Caroline mendekati Evan berniat untuk memeluk putranya itu, tapi Evan dengan dinginnya langsung duduk di kursinya tanpa perduli dengan sambutan Caroline padanya, malunya caroline saat ini tidak di perdulikan oleh Evan.


Caroline tersenyum kaku lalu ia dengan anggunnya segera duduk di kursi di hadapan Evan menutupi perasaannya yang sebenarnya. Evan menatap wanita di hadapannya saat ini dengan tatapan dingin.


"Terimakasih sudah datang. Aku senang akhirnya kau mau datang," tutur Caroline lembut dengan senyuman manisnya. Evan tampak datar menanggapinya. Tidak ada senyum sedikitpun di wajahnya saat ini. Tapi tidak masalah bagi Caroline. Cukup Evan mau datang saja, itu sudah cukup baginya.


Ia segera mengambil sebuah gelas lalu memberikannya kepada Evan. Evan menerimanya dengan dingin sambil terus berharap hari ini akan cepat berakhir. Sekesal apapun dia saat ini, dia masih berusaha untuk tetap tenang menghadapi Caroline. Dia memegang tangkai gelas pemberian Caroline.


"Apa kau ingat, kita pernah bertemu. Saat itu kamu wisuda, aku datang sebagai tamu undangan di acara wisudamu. Kita sempat berjabat tangan di sana," kenang Caroline seraya menuangkan anggur merah kedalam gelas yang Evan pegang saat ini.


"Apa kau tau? Aku sangat ingin memelukmu saat itu, hingga aku tidak sanggup menahan tangisku. Melihat putra tampanku menjadi siswa lulusan terbaik saat itu. Betapa terharu dan bangganya aku saat itu walaupun aku tidak bisa menunjukkan nya padamu langsung" ungkap Caroline panjang lebar dengan perasaan terharu tiap kali ia mengingat momen itu.


Evan menyunggingkan senyuman sinisnya. Dia tidak tertarik untuk menimpali, malahan ingin rasanya ia segera pergi saja. Tapi masih ia tahan karena toh sudah datang dan ia juga ingin tahu apa tujuan wanita ini tiba-tiba kembali ke kehidupannya.


"Bahkan saat aku tau kau pergi dari rumah, aku segera menghubungi dosenmu untuk menjagamu selama pelarianmu. Aku juga menghubungi ayahmu Wisnu untuk menenangkannya. Tapi ternyata kau malah membuat masalah di tempatmu bekerja. Aku juga menemui pria yang kau hajar waktu di Singapure dan memintanya untuk tidak menuntut mu. Kau ingatkan kejadian di Singapure waktu itu?" tambah Caroline lagi.


Mereka hening sesaat. Evan pun masih tidak ingin menimpalinya, dia terlihat tidak shock dengan keterangan Caroline serta tampak tidak tertarik juga. Dia meminum wine di tangannya sedikit demi sedikit dengan menggoyangkan gelasnya dan menyesap beberapa saat aroma khas wine itu dengan seuntai senyum sinisnya.


Caroline memperhatikan itu, dia terus menikmati steaknya seraya menatap Evan.


"Kau sangat tampan. Pantas saja putri Richard tertarik kepadamu. Pembawaanmu juga menarik," puji Caroline seraya memasukkan daging steak kedalam mulutnya. Evan mulai menatap Caroline dengan serius. Sepertinya wanita ini tak juga segera mengatakan tujuan pertemuan mereka saat ini. Ini akan lama untuk di selesaikan.

__ADS_1


"Kenapa mencariku? Untuk apa kau datang? Apa maumu?" Cerca Evan tajam dengan tatapan elangnya yang seolah siap menerkam mangsanya.


"Aku ibumu. Apa aku tidak boleh menemui putraku?" tanya nya balik dengan tenang dan anggun.


"Ibu?!" Seru Evan sinis. "Seorang ibu itu selalu ada di sudut mata anaknya. Selalu menjadi pelindung yang baik setiap saat dan akan mempertahankan anaknya apapun yang terjadi," ungkap Evan tenang walau terlihat jelas bahwa saat ini dia tengah menahan emosinya. "Sekarang aku tanya. Apa kau sudah memenuhi salah satu dari itu? Kau tidak ada di sudut mataku. Kau tidak pernah melindungiku saat aku butuhkan. Kau juga tidak mempertahankan aku untuk kau rawat sendiri. Kau hanya mengambil segelintir cuplikan adegan hidupku dan membuat seolah aku kuliah dan bekerja saat itu semua karena berkat dirimu. Apa kau pikir tanpa mu aku tidak bisa dapatkan itu semua? Aku belajar dan bekerja keras untuk itu semua. Dan sekarang kau datang mengatakan kau melindungiku dan membantuku saat itu," sinis Evan. "Apa mau mu? Kau mau menuntut uang atau apa untuk semua yang kau ceritakan barusan?" Caroline terdiam, dia meletakkan garpu dan pisau di piringnya dengan makanan yang masih belum habis. Dia mengelap sedikit ujung bibirnya dengan serbet yang ada di pangkuannya.


"Aku tau kedatanganku mungkin sulit untuk di terima. Percayalah, nak. Saat itu aku sudah berusaha sedekat mungkin denganmu. Hanya tuhan yang tahu betapa aku ingin memeluk putraku saat itu. Tapi aku tidak bisa," terang Caroline berkaca-kaca.


"Kau sudah aku anggap mati. Kalaupun kita bertemu saat ini, kau ... Sudah tidak artinya lagi bagiku," timpal Evan sinis seraya berdiri dan bersiap meninggalkan Caroline. Tapi, baru saja Evan berbalik dan bersiap akan melangkah pergi. Tiba-tiba saja Caroline menghentikannya.


"Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja. Dan meminta maaf karena pernah meninggalkanmu waktu itu. Sungguh keadaan ku waktu itu tidak memungkinkan aku untuk membawamu. Aku sakit dan tidak ada dari keluargaku yang bersedia merawatmu. Karena itu aku memberikanmu kepada ayahmu, nak,” Evan berbalik.


Caroline berdiri mematung sesaat dan akhirnya ia menarik nafas panjang dan duduk berusaha menenangkan dirinya. Dia menenggak wine di gelasnya dengan sekali tenggak hingga alkohol dari wine tersebut terasa kuat di tenggorokannya, membuat ia memejamkan matanya menahan reaksi alkohol tersebut. Tapi ia juga menangis di waktu bersamaan, ia tersedu di posisinya. Ia merasakan sakit dari penolakan keras putranya. Dia terus menangis sendiri di restauran hight class yang telah ia booking. Untung saja tidak ada orang lain di sana saat ini hingga tangisnya tak mengundang perhatian, hanya beberapa orang waiters tampak curi-curi pandang dengan kejadian di hadapannya saat ini.


***


Di sisi lain Evan tampak terpaku di mobilnya. Dia diam dengan tatapan kosong dengan menggenggam erat stir mobilnya. Sesaat Evan tertunduk dan berusaha menguasai dirinya kembali setelah adegan di restoran yang cukup mengguncangnya tadi. Walaupun dia berusaha terlihat tenang padahal di dalam hatinya terjadi pergolakan hebat atas semua pernyataan Caroline padanya barusan.


Setelah merasa cukup tenang barulah Evan melajukan kembali mobilnya menuju pulang ke kediamannya.


***

__ADS_1


Evan pulang dengan tatapan kosong dan lurus ke depan. Entah apa yang ia rasakan saat ini . Yang jelas ia sangat tidak menyukai perasaannya saat ini. Dia terus memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju kediamannya. Tepat pukul 12 malam ia sampai. Sesampainya di kediamannya yang mewah itu, ia langsung ke kamarnya. Saat melihat Aluna, Evan segera memeluk istrinya. Yang baru saja selesai meletakkan Kyu di ranjang bayinya. Aluna terdiam kaget dengan suaminya yang tiba-tiba memeluk nya.


"Kenapa, sayang," tanya Aluna tanpa mengubah posisinya. Sesaat kemudian ia membalik tubuhnya dan menatap suaminya yang tengah tertunduk. Aluna mencoba memahami apa yang tengah terjadi.


"Aku tidak menyukai wanita itu. Jangan paksa aku menemuinya lagi," ucap Evan Aluna menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya seraya mengangkatnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Aluna lembut dengan tatapan penuh tanya dan sebelah tangannya terulur menyentuh wajah sendu suaminya.


"Aku membencinya. Bagiku ibu ku hanya mami Rima. Dia sudah ku anggap mati selama ini," Aluna mengangguk paham. Evan pasti sulit menerima ibunya saat ini. Ia memeluk suaminya itu. Evan membalas pelukan hangat istrinya itu dengan membenamkan wajahnya di ceruk leher Aluna.


"Dia hanya seorang ibu yang merindukan anaknya," tutur Aluna menatap suaminya dalam. Evan menggeleng seolah tak terima.


Saat tidur sepanjang malam Evan tertidur dengan membelakangi Aluna. Sedangkan Aluna terus memeluknya dari belakang seolah berusaha menenangkan badai di hati suaminya saat ini.


"Tidak apa-apa," bisik Aluna lembut.


Evan tak bergeming tapi hatinya terasa mulai damai walau dia masih enggan berbalik kepada Aluna. Hingga ia terlelap ia tetap tak ingin berbalik, Aluna memahami itu. Dia tidak marah atau pun kecewa, dia mengenali suaminya lebih dari siapapun. Dia hanya butuh waktu untuk berpikir lagi.


Baginya sudah cukup apa yang ia miliki saat ini. Dan ia tidak membutuhkan apapun lagi. Termasuk kehadiran ibu kandungnya saat ini.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2