
Keesokkan harinya Aluna datang menemui Evan lagi. Ada ayah dan ibunya juga. Sedangkan Evan sedang di suapi bubur oleh kakaknya Tama. Keadaannya sudah cukup membaik. Dia sudah bisa duduk dan berjalan walau masih di bantu papah saat turun ranjang.
"Eh Aluna. Sini nak masuk, nak. Kamu sendirian ya!?" Sapa Rima ibu Evan Ramah.
"Iya, tante. Gimana keadaan Evan?" tanya Aluna setelah masuk dan duduk di samping Rima di sebuah sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Udah baikkan, kok. Tinggal nunggu pemulihan aja dokter bilang," ucap Rima lagi.
Mereka pun mengobrol cukup akrab. Hanya saja Evan dan ayahnya sama sekali tidak terlibat komunikasi, dia hanya mau bersama Tama. Ibunya pun tidak mau mengganggu Evan dulu. Dia tidak mau memaksa Evan untuk menerima mereka. Biarlah pelan-pelan waktu akan melunakkan hati Evan kepada mereka.
Di tengah kebersamaan mereka tiba-tiba ada seseorang datang mengetuk pintu. Dia adalah Jamia, dokter muda nan cantik.
"Assalamu'alaikum!" sapanya ramah.
"Waalaikumsalam!" ucap yang lain dan Rima langsung sumringah menyambutnya.
"Eh, Jamia. Masuk sayang!" sapa Rima. Itu membuat Aluna cemburu dengan kedatangan dokter muda tersebut.
"Ini, tan. Mia bikinin jus buat Evan biar cepat sembuh," ucap Jamia menyerah kan sebotol jus.
"Aduh! Kok malah ngerepotin kamu, sih! Tapi terima kasih ya. Ayok duduk. Tuh Ada Aluna juga!" Terang Rima lalu menyerahkan jus itu pada Evan dengan menaruhnya di atas meja di samping ranjang Evan. Evan baru selesai makan bersama Tama.
"Tuh! Kakaknya Tama belum nikah. Eh, Evan yang udah mau nikah duluan," ucap Rima membuat Aluna tenang dengan kejelasan hubungannya dan Evan. Jamia pun berusaha bersikap biasa saja dan sewajar mungkin, menutupi emosi batinnya sekuat mungkin agar tidak terlihat.
"Namanya juga jodoh, tante," ucap Jamia.
"Ini jus apa, Mia? " tanya Evan saat Tama memberikan botol tersebut kepada Evan.
__ADS_1
"Itu wortel sama ada campuran buah juga. Agak aneh mungkin rasanya tapi bagus buat pemulihan kamu," terang Jamia yang langsung bergerak membuka penutup botol jusnya tersebut. Aluna hanya bisa memperhatikannya interaksi akrab Evan dan Jamia, tanpa tau harus berbuat apa. Jamia hebat punya banyak kemampuan tidak seperti dia yang anak manja, diam-diam Aluna iri dengan Jamia yang serba bisa, bahkan dia juga merupakan dokter muda. Evan dan Jamia terlihat serasi saat bersama.
Menyadari perubahan pada Aluna Evanpun mengkode agar Aluna dekat dengannya. Aluna pun duduk di samping Evan, Evan menggenggam tangan Aluna agar Aluna tidak salah paham antara dia dan Jamia. Sedangkan Jamia masih berusaha membuka bungkusnya setelah terbuka Jamia memberikan pada Aluna agar dia menyuapi Evan untuk meminumnya. Aluna senang sekali dapat lebih dekat dengan Evan. Jamia tersenyum berusaha memahami posisinya.
Setelah mengobrol sebentar Jamia pun harus pergi karena tugas, begitu pula ayah dan Tama mereka pun bergegas untuk pergi. Sedangkan Rima pergi mencari sarapan diluar karena tadi dia belum sempat sarapan. Sekarang tinggal mereka berdua saja.
...***...
Setelah semua orang pergi sekarang tinggal Aluna dan Evan berdua di kamar. Evan menyentuh perut Aluna. Aluna kaget, dia masih tidak biasa di sentuh oleh laki-laki apa lagi Evan. Jauh di lubuk hatinya, dia masih trauma, dia meremas sprai dan nafasnya tidak beraturan, matanya liar menatap. Evan melihat perubahan itu pada Aluna, dengan cepat dia menarik tangannya. Dia paham jika Aluna memiliki trauma padanya. Dia berusaha bersikap wajar.
"Jangan pakek heels lagi, terus usahain pakek rok yang melebihi lutut ya lain kali. Nggak bagus buat kamu kalo terus-menerus pakek baju terbuka," nasehat Evan lembut. Aluna mengangguk pelan seraya tersenym.
"Iya nanti aku ganti," jawab Aluna lembut.
"Kamu ... Masih takut sama aku," ucap Evan ragu seraya tertunduk.
"Aku butuh kamu buat ngobatin trauma aku. Buktikan kamu bukan orang seperti itu," ucap Aluna menatap Evan dalam tepat saat Evan juga menatapnya. Pelan-pelan Aluna mendekati Evan, semakin lama semakin dekat, Tiba-tiba Aluna tidak sanggup. Dia akan pergi Evan menarik nya ke pelukannya.
"Peluk aku saja jangan pergi," ucap Evan. Aluna memejamkan matanya, bau Evan tidak seperti malam itu, tidak ada parfum itu sekarang. Aluna pun jadi bisa menerima pelukan itu. Perlahan tangannya terangkat untuk membalas pelukan Evan yang terasa hangat saat ini. Dia bisa rasakan, jika pria ini adalah laki-laki baik. Dia tidak seburuk itu dan juga tidak sedingin dulu lagi.
"Van, jangan pakek parfum itu lagi, ya!" lirih Aluna di dalam pelukan Evan. Evan tersenyum, padahal hatinya teriris mendapati fakta bahwa Aluna menganggap nya brengsek.
"Jangan takut! Aku akan buktikan aku mencintai kamu," bisik Evan menenangkan Aluna, dia mendekap Evan semakin Erat tanpa melihat sosok Evan dan tanpa parfum Evan itu membuat dia tidak takut padanya.
Tepat saat Jamia juga menyaksikan itu dari luar karena pintu kamar mereka yang tidak tertutup. Dia yang tengah berjalan bersama rekannya langsung terpaku melihat kemesraan sepasang kekasih yang tengah kasmaran itu. Tepat saat hatinya semakin sakit menyaksikan itu semua ia kembali buru-buru menyadarkan dirinya bahwa dia tidak berhak untuk cemburu. Wanita berhijab itu langsung menyusul rekannya untuk pergi.
Evan dan Aluna masih bersama hingga waktu Aluna pulang. Dia harus segera pulang sebelum tante dan ayahnya menyadari kepergiannya.
__ADS_1
"Aku pergi dulu, ya!" ucap Aluna.
"Eh, Besok kita cek kandungan kamu sama dokter di rumah sakit ini, ya. Nanti Aku temenin kamu," ucap Evan seraya tersenyum. Aluna menyambutnya dengan anggukan keras dan senyuman lebar.
"Daaa!! Aku pergi dulu, ya!" ucap Aluna seraya lagi melambaikan tangannya. Evan membalasnya dengan seulas senyuman dan mengangkat tangannya untuk membalas lambaian Aluna.
...***...
Sekarang tinggal Evan seorang diri di kamar. Dia menghabiskan waktunya berselancar dengan handphone nya. Tiba-tiba pintunya di ketuk oleh seseorang dan ternyata itu adalah Jamia yang datang memeriksa keadaannya.
"Kamu sudah mulai sembuh. Bekas operasinya juga udah mulai kering, paling 2 hari lagi udah bisa pulang," terang Jamia. Lalu duduk di sampingnya Evan.
"Hebat ya, kamu sekarang sudah jadi dokter." ucap Evan.
"Kamu kurang hebat apa lagi, kuliahnya nggak pakek bayar terus langsung kerja di hotel bintang 5," ucap Jamia tidak mau kalah memuji Evan juga.
"Aku pengangguran sekarang, udah di pecat." ucap Evan keki karena malu menjadi pengangguran.
"Kayak kamu mah gampang. Lamar kerjaan di mana aja pasti di terima. Kamu terjamin ijazahnya," puji Jamia menyemangati. Mendengar itu Evan hanya tertawa mendengarnya.
"Eh, kapan kamu nikah? Katanya mau nikah! Cepetan lamar, anak konglomerat kayak gitu banyak yang incar, loh," seru Jamia yang sebenarnya berharap Evan tidak menikah.
"Hmh! Kayaknya susah, ayahnya nggak restuin. Karena itu aku di hajar mereka. Karena Aluna hamil dan kami nggak di restuin," ucap Evan membuat Jamia kaget.
"Hamil!? Anak kamu?" ucap Jamia spontan. Evan menoleh kearah Jamia seraya mengernyitkan dahinya atas ucapan spontan Jamia.
"Maksudnya? Kamu raguin aku? Alhamdulillah Jamia! Aku nggak impoten!" goda Evan seraya tertawa usil di sambut tawa malu-malu Jamia. Evan masih seperti dulu, masih suka menggodanya. Itu membuatnya semakin menyukai Evan. Jamia memelihara cinta yang menyakitkan di hatinya, di mana semakin besar cinta itu maka semakin sakit pula dia nantinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...