
Malam saat semua orang sudah tertidur saat Caroline terbangun Evan pun sudah tertidur di sofa panjang yang ada di kamar tersebut.
Caroline mencoba turun pelan dari ranjangnya mendekat kearah Evan. Perlahan ia duduk berjongkok hingga wajahnya dapat berhadapan dengan wajah Evan yang tengah tertidur. Ingin rasanya ia menyentuh wajah tampan itu saat ini, tapi dia tidak berani lakukan itu.
'Aku merasa asing dengan anakku sendiri. Oh tuhan, izinkan aku memeluknya sebentar saja suatu saat nanti sebelum aku pergi,' bisik batinnya penuh harap. Sesaat tetesan bening itu tumpah juga mengalir di wajah cantiknya, hingga menyentuh wajah Evan. Evan bergerak dari posisi tidur nyenyaknya dan Caroline pun buru-buru pergi sebelum Evan terbangun. Benar saja, tepat saat dia sudah menjauh Evan terbangun.
Tapi dia kembali tertidur dengan membalikkan tubuhnya menghadap ke sandaran sofa panjang itu yang terlihat tidak nyaman baginya karena tidak cukup panjang untuk tubuh Evan yang jenjang.
Seulas senyum terbit di bibir Caroline. Kini dia beralih pandang kepada Liam. Dia mendekati balita tampan itu. Dia terlihat nyenyak di tidurnya dengan perban di atas pelipisnya. Caroline menyentuh wajah itu dengan seulas senyum hangat dari bibirnya.
"Dia mirip seperti ayahnya. Anak yang pintar," baiknya seraya mengusap lembut wajah tampan itu.
Tanpa Caroline sadari Evan terbangun dan tengah menatap Caroline dengan tatapan penuh curiga. Sesaat Caroline beralih pandang kepada Evan, Evan dengan segera memejamkan matanya kembali seolah tengah tertidur.
***
Pagi menjelang, pagi-pagi Aluna sudah datang dengan rantang makanan yang ia bawa. Liam tampak sudah di tangani susternya. Caroline pun sudah terbangun dia tengah duduk bersandar di ranjangnya.
"Gimana, Buk? Udah mendingan?" tanya Aluna ramah seraya menghampiri Caroline dan menyiapkan bubur hangat untuk nya. "Ini masakan saya, saya buatin di rumah tadi. Moga ibuk suka, ya. Bagus buat ibuk biar cepat pulih," tutur Aluna dengan seulas senyumnya. Caroline pun menatapnya dengan hangat dan segaris senyum tipis terlihat.
"Terimakasih. Saya merepotkan ya?" tuturnya sungkan. Aluna dengan cepat menggeleng.
"Nggak. Ini nggak seberapa dengan apa yang sudah ibu lakuin buat kita. Maaf juga gara-gara kita liburan ibuk jadi berantakan," tutur Aluna dengan tatapan dalam. 'Van, dia ibumu. Van, dia merindukanmu. Semoga kamu bisa menerimanya, ya,' batin Aluna dengan tatapan dalam. Membuat Caroline bingung.
"Kenapa, nak?" tanya nya ramah.
__ADS_1
"Ah, nggak. Aku cuman heran kok ibuk bahasa Indonesia nya lancar banget, ya," tanya Aluna menutupi perasaannya yang sebenarnya.
"Oh, itu. Saya suka dengan negara ini. Dan dulu juga mantan suami saya orang Indonesia, saya punya seorang putra disini. Saya kesini untuk menjenguk putra saya itu bukan untuk berlibur," tutur Caroline jujur tapi tak gamblang. Sesaat senyum Aluna luntur berganti dengan wajah kaget. Sesaat dia melirik Evan yang baru terbangun. Dia pun dengan cepat beralih kepada Evan.
"Sayang! Kamu udah bangun," tutur Aluna menghampiri Evan. Evan perlahan mencoba untuk duduk, tubuhnya masih lemas karena belum terjaga betul dari tidurnya. Dia terbangun karena suasana kamar yang terdengar sudah ramai. Semalaman dia tidak bisa tidur karena khawatir kepada Caroline. Evan menatap tajam kearah Caroline, Caroline membalasnya dengan senyuman hangat. Evan tak membalas senyum itu, dia malah menatap kedatangan Aluna di sampingnya yang tengah melingkarkan tangannya di lengannya. Evan menyentuh wajah istrinya dengan seulas senyuman.
Caroline menatap interaksi hangat suami istri itu, dia senang melihat kehidupan putranya terlihat begitu bahagia dan sempurna.
"Aku bawain sarapan buat kamu," tutur Aluna. Dia langsung mengambil rantangan makannya.
"Nanti dulu, aku belum bersih-bersih," tutur Evan bangkit dari posisinya. Saat melangkah ke kamar mandi Evan sempat melirik sekilas kearah Caroline. Dia masih merasa aneh dengan sikap Caroline semalam.
***
Dea di usianya yang sudah matang memang masih belum menikah. Membuat dia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Aluna dan anak-anaknya, bahkan dia tidak perduli jika Evan mengusirnya. Dia sudah kebal dengan umpatan dan cerewetnya Evan. Bahkan bermesraan di depannya pun sudah tidak mempan mengusirnya lagi. Sehingga Evan hanya bisa pasrah dengan kehadiran Dea diantara mereka. Walaupun sebenarnya Evan pun juga tidak benar-benar tidak menyukai Dea, dia lebih seperti menggoda Dea saja.
"Abang Lee pinter ya, nggak nangis lagi," puji Jamia kepada putra sahabatnya itu. Aluna pun ada disana tengah mendampingi Liam.
"Kan sama calon mertua mana berani dia nangis. Kalo di rumah mah lain cerita buk dokter. Udah ngereog dia," celetuk Dea yang kebetulan ada juga disana. Langsung di jawab amukan oleh Liam.
"Udah, De. Lo mah bikin rusuh kalo dateng,"
"Onty De nyebelin, Bunda," tangis Liam. "Udah di bilangin jangan ngomong gitu. Ayah bilang Liam masih kecil nggak boleh pacaran," labrak Liam tidak terima membuat Jamia segera menengahinya.
"Iya, iya, Liam nggak boleh pacaran iya kan. Nanti di marahin ayah. Onty De ini nanti kalo nakal terus kena suntik, mau?" sahut Jamia membela Liam yang memang dia sangat dekat dengan Liam karena putri keduanya bersekolah yang sama dengan Liam. Liam memang sudah sekolah di sekolah anak usia dini walau dia jarang datang karena sikap susah diaturnya. Dia akan ke sekolah saat dia mood saja. Di sekolah dia terkenal sebagai pemimpin permainan, sikap nakalnya kadang berbanding terbalik dengan sikap penyayang dan pemimpinnya yang kuat, seperti di turunkan dari karakter ayahnya.
__ADS_1
Aluna yang sedari tadi tertawa dengan canda di ruang itu tanpa sadar membuat Caroline tersenyum senang dan sangat bahagia melihat interaksi akrab cucunya bersama dengan orang-orang yang menyayanginya.
Dia juga memperhatikan betapa jelitanya istri putranya dan bahagianya keluarga kecil ini. Seharusnya ini sudah cukup baginya, tapi dia tetap merindukan satu pelukan hangat putranya.
'Baiklah, aku akan berusaha mendapatkan ikhlas itu dari mu, nak. Setelah itu ibu akan pergi,' batin Caroline.
***
Di kantornya Evan masih memikirkan tentang Caroline. Dia masih ingat bagaimana semalam Caroline menangis di hadapannya dengan tetesan air matanya dan dia juga menatap Liam dengan hangat.
'Apa mungkin dia bisa menolong Liam karena dia sudah lama mengintai. Jadi dia bisa dengan sigap menolong Liam. Siapa dia? Apa tujuannya?' batin Evan di ruangannya sendirian seraya mengetuk-ngetuk bolpoin di tangannya seraya berpikir.
***
Di rumah sakit Aluna datang menemui Jamia.
"Mia, kira-kira kapan ya mereka bisa pulang?" tanya Aluna kepada Jamia.
"Dua hari lagi udah bisa pulang, Liam nggak parah kok. Ibu Carolin juga kayaknya cuman keseleo tangannya. Nanti aku bantu urus ya biar cepat urusannya," tutur Jamia ramah.
"Makasih ya," tutur Aluna. Jamia mengangguk.
"Eh, udah dulu ya. Aku mau periksa bangsal dulu," tutur Jamia. Dia pun kembali melanjutkan pekerjannya untuk mengontrol pasien di ruang bangsal dan Aluna pun kembali keruangan rawat Liam.
BERSAMBUNG...
__ADS_1