
Keesokan harinya Aluna langsung VC dengan dua sahabatnya itu. Dia sangat gemas dengan sikap Evan yang terlihat pura-pura tidak mengerti dengan maksudnya Aluna. Dia tidak tahan, dia harus meluahkannya dengan seseorang.
"Semalem gue udah usaha buat deketin dia. Udah pakek lingerie seksi, aku godain dia, deketin, bahkan aku pepet terus. Tapi tetap saja dia nggak peka. Jangan kan di lirik, diajak ngobrol aja dia nggak jawab. Gimana aku bisa tau masih trauma apa nggak sama dia, kalo dia dingin gitu," curhat Aluna pada sahabatnya itu dan di sambut tawa oleh mereka berdua.
"Nih lingerie nya, kurang seksi apa coba? Kalo nggak gue hamil sama dia, gue pasti udah ngira dia homo, tau nggak!" umpat Aluna lagi. Membuat Dea dan Silvi makin keras tawanya.
"Lo, sih! Waktu dia siap, lo malah keringat dingin, ya ngeri lah dia deketin lo. Apa lagi keadaan lo lagi hamil. Mana berani dia buat lo khawatir lagi. Udah, jangan di pancing lagi. Kasian dianya," nasehat Silvi sambil terkekeh tertawa geli dengan tingkah pengantin baru itu.
"Eh, Kalo memang niat, ngomong langsung aja, nggak usah pake kode semaphore kayak pramuka. Nggak ngerti cowok sama kode-kodean. Langsung serang aja," tambah Dea seraya tertawa.
"Idih, Ogah. Ntar di kiranya cewek gimana lagi," ucap Aluna merasa geli sendiri.
"Sama suami sendiri nggak perlu gengsi, kalian itu udah saling memiliki. Jadi mau ngomong apa aja sah, mau ngelakuin apa aja juga boleh," timpal Silvi sambil terus terkekeh bersama Dea. Aluna hanya mendengus kesal dengan pendapat sahabatnya yang tidak membantunya sama sekali.
"Udah, ah. Aku mau turun dulu liat dia lagi ngapain tuh di bawah bareng aunty. Aunty sekarang lagi suka sama brondong, nggak aman dia kalo di biarin berduaan lama-lama," seru Aluna sambil mengintip Evan dan Marissa dari balkon kamarnya. Mereka tampak sedang mengobrol akrab. Aluna pun segera mengakhiri VC nya.
...(Halaman belakang kediaman Aluna)...
"Udah dulu ya, gue mau nyamperin mereka lagi." Aluna mengakhiri VC mereka.
...***...
Di sisi lain Dea dan Silvi yang sedang makan-makan di salah satu Restauran masih terkekeh ingat curhatan Aluna tadi. Mereka tengah di traktir Brian di salah satu restoran yang cukup mewah bersama Brian yang baru datang dari kamar mandi.
"Siapa tadi?!" tanya Brian penasaran.
"itu Aluna curhat," ucap Dea.
"curhat apa?" tanya Brian tertarik.
"Itu Evan sama Aluna belum pernah malam pertama dia .... " ucap Dea ke coplosan. Yang langsung mulutnya di bekap oleh Silvi.
__ADS_1
"Nggak penting, Mas," ucap Silvi mencoba menutupi. Tapi Brian terlihat sangat tertarik, hingga dia terus memancing Dea dan Silvi untuk menceritakannya.
"Nggak papa cerita aja. Kali aja mas bisa bantu kan," ucapnya meyakinkan.
"Beneran, mas. Nggak penting. Mas kan tau sendiri Aluna suka bertingkah. Biasalah tingkah Aluna caper," ucap Dea masih ingin menutupi. Tapi Brian terus mendesak.
"Nggak papa cerita aja. Nggak akan mas sebar, kok. Mas cuman pengen jagain Aluna aja," ucap nya masih membujuk.
Akhirnya Dea dan Silvi pun luluh. Mereka menceritakan semuanya tentang awal pertemuan Aluna dan Evan, serta bagaimana mereka bisa menikah, hingga tentang trauma Aluna terhadap Evan. Brian seperti menemukan peluang bersama Aluna. Tidak seorangpun menyadari bahwa Brian adalah orang yang berbahaya untuk hubungan Evan dan Aluna.
***
Di rumah yang besar itu, Aluna kesulitan mencari Evan. Dia sudah menelusuri setiap sudut rumah, bahkan tantenya terlihat bersantai di pinggir kolam renang dengan majalah nya tanpa Evan. Padahal tadi dari atas dia melihat mereka sedang mengobrol akrab, sekarang tantenya terlihat sendirian bersantai.
Para pelayan hilir mudik sibuk dengan pekerjaannya. Aluna segera pergi, lanjut mencari sosok suaminya itu. Di rumah yang besar bak istana itu memakan cukup banyak tenaga bagi Aluna untuk menyusuri di setiap ruangan.
Lelah mencari dan gagal melatih insting istrinya, akhirnya Aluna menyerah. Dan duduk berselonjoran di salah satu sofa di rumahnya. Dalam keadaan hamil begitu, membuat dia cepat merasa lelah dan kepanasan.
'Apaan! Katanya kalo kita udah nikah, insting kita sama suami akan kuat. Nyariin dia di rumah aja gue nggak nemu. BULSHIT.' Gerutu Aluna membatin seraya menghentakkan kakinya karena kesal.
Aluna pun segera menuju dapur. Seorang karyawan menyadari ke datangan Aluna dan meng-kode yang lain hingga membentuk barisan kiri kanan, mereka akan menunduk hormat saat Aluna melewati barisan mereka.
Aluna melihat Evan sedang asyik masak di dapur. Di dampingi dengan seorang koki yang memang sering di undang masak di rumah mewah Richard ini. Dan hari ini koki ini di undang untuk masak karena ayah Aluna yang akan mengundang keluarga Evan untuk makan malam.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Aluna.
Evan menoleh kearah Aluna dan tersenyum. Evan memperlihatkan masakannya yang baru selesai di masaknya itu pada Aluna.
"TTEOKBOKKI!" Teriak Aluna histeris senang.
__ADS_1
...(Tteokbokki)...
Aluna yang merupakan penggemar berat drakor itu memang pernah mengatakan pada Evan, jika dia ingin makan Tteokbokki, tapi tidak di sangkanya Evan akan membuatnya sendiri. Itu membuat Aluna kegirangan histeris dan melompat. Hingga membuat Evan dan semua orang jadi panik, mengingat Aluna tengah hamil.
"SAYANG! Jangan lompat-lompat," teriak Evan spontan.
Sontak membuat Aluna terdiam mendengar panggilan Evan barusan padanya. Aluna pun tersenyum bahagia mendengar Evan memanggilnya dengan sebutan 'sayang' untuk pertama kalinya di depan banyak orang.
Evan menghampiri Aluna, dengan sepiring Tteokbokki yang tengah di bawa Evan dalam keadaan masih panas. Dengan tidak sabar Aluna mengikuti Evan yang menuju meja makan dan diintili oleh para pelayan yang penasaran dengan kemesraan majikannya itu.
Marissa yang baru datang melihat kerumunan pelayan itu, ternyata mereka tengah memperhatikan Aluna dan Evan. Marissa langsung menghampiri kerumunan para pelayan itu.
"Jangan suka membuat apapun di rumah ini menjadi tontonan. Kalian di sini di gaji bukan untuk jadi penonton di rumah ini. PAHAM!" bentak Marissa kesal, karena merasa para pelayan itu terlalu lancang "Sekali lagi kalau saya melihat kalian kurang profesional dalam bekerja, saya tidak segan-segan memecat kalian," ancam Marissa membuat mereka ketar-ketir.
"i-iya... Nyonya," jawab mereka serentak.
Mereka pun bubar dengan cepat dan tidak ada yang berani mengintip lagi. Di rumah itu Marissa terkenal paling seram dan paling bossy, jadi jika dia sudah bicara maka tidak akan ada yang berani membantahnya terutama para pelayan.
Aluna tampak sedang menikmati masakan suaminya itu yang juga ikutan makan bersama Aluna di piring yang sama. Marissa membiarkan sepasang kekasih itu menikmati quality time mereka berdua. Dia segera pergi setelah melihat tidak ada yang mengganggu keponakannya lagi.
"Enak banget sayang!" seru Aluna puas. Evan hanya tersenyum mendengar pujian istrinya itu. "kamu belajar dari mana bikin ini?" tanya Aluna lagi sambil terus menikmati tteokbokki nya.
"Lihat di youtube sama Google tadi, kebetulan ada kokinya juga, jadi diajarin dia juga," terang Evan. "Kamu suka?" tanya Evan dengan seulas senyum.
"Banget!" ucap Aluna sambil tersenyum manja seraya menyandarkan kepalanya di dada Evan sebentar, lalu kembali menikmati makanannya. Evan senang dapat membuat Aluna tersenyum bahagia.
"Baru aja aku liat kamu ngobrol bareng aunty. Eh, waktu aku turun kamu udah selesai masak." Ucap Aluna.
"Ooo... Itu. Tante manggil aku karena ada urusan. Itu aku lagi masak. Selesai, aku langsung kedapur lagi," terang Evan.
'pantesan cepet banget ngilangnya,' ucap Aluna membatin.
Evan memang laki-laki yang serba bisa, mungkin karena dia terbiasa mandiri sejak kecil membuat dia terbiasa melakukan apapun sendiri. Aluna mengusap punggung tangan suaminya itu, terkadang dia merasa Evan sering kali membiarkan dirinya menanggung beban sendirian. Berbeda dengan Aluna yang selalu terbiasa membagi masalahnya dengan orang lain, Evan lebih sering menyelesaikan masalahnya seorang diri.
__ADS_1
BERSAMBUNG...