PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
AYO KITA BERTEMAN SAJA


__ADS_3

Di kamar Evan mulai berfikir. Walaupun Aluna tidak sehebat Tari, tapi dia adalah wanita yang bisa membuat nya jatuh cinta berkali-kali. Kekurangannya yang seolah selalu membutuhkan Evan itu membuat Evan semakin menyukainya. Manjanya yang merepotkan membuat Evan merasa berguna di sampingnya. Harus sigap melindungi dia yang ceroboh, membuat hidup Evan terasa semakin bermakna. Repotnya saat bersama Aluna malah membuat Evan merindukannya.


Aluna tidak perlu membuktikan apapun padanya, pada kenyataannya dia mencintai Aluna tanpa syarat, dia mencintai Aluna apa adanya. Kelemahannya adalah kehidupan Evan. Aluna adalah perempuan paling merepotkan yang sangat di cintainya.


Evan tersenyum tiap kali mengenang Aluna. Bersama Aluna Evan selalu terlihat konyol dan sedikit gila, tapi itu pula kelebihan Aluna, hanya dia yang bisa membuat Evan menjadi dirinya tanpa beban. Bersama Aluna Evan bisa menjadi sosok lain dari dirinya yang menyenangkan, bukan Evan kaku yang penuh wibawa lagi, tapi Evan konyol yang iseng. Dia selalu tertawa lepas saat bersama Aluna, dan melakukan apapun tanpa canggung.


***


Di lain sisi Aluna tengah kegirangan karena mampu mengungkapkan perasaannya pada Evan. Dia tidak perduli apapun, dia menginginkan Evan. Walaupun dia terlihat egois itu tak mengapa, baginya hanya itu yang dia inginkan.


Dia tidak bisa tanpa Evan. Evan adalah orang yang mampu melindunginya. Walau dia terkadang menyebalkan, tapi dia melindungi Aluna sepenuh hati. Kadang kala tidak mau kalah, membuat Aluna yang selalu seperti ratu malah jadi seperti budak saat berhadapan dengan Evan. Bagi Aluna itu menyenangkan. Evan selalu memarahinya, tapi juga mendekapnya dengan hangat. Membuatnya marah, tapi juga membuatnya nyaman. Dia tidak pernah merasa bosan saat bersama Evan karena laki-laki itu mampu membuat Aluna menjadi dirinya sendiri. Membuat dia tidak takut dengan kelemahannya, karena sosok Evan selalu mampu melindunginya.


Malam ini mereka tidur dengan saling mengingat satu sama lain.


"Bodoh!" gumam evan di kamarnya pada Aluna dan seraya tersenyum mengingat Aluna.


"Nyebelin!" gumam Aluna di kamarnya untuk Evan.


Lalu mereka tersenyum dan tertidur di kamar Masing-masing.


***


Semenjak kejadian itu, Evan dan Aluna terlihat semakin dekat walau sikap Evan pada Aluna masih tidak berubah. Dia masih suka membentak Aluna saat Aluna salah. Dan Aluna masih suka bertingkah, tapi mereka menikmatinya dengan penuh suka cita. Jika sudah keterlaluan Aluna akan menangis dan Evan pun terpaksa membujuknya, selanjutnya Aluna akan tertawa lagi. Hal itu terus terjadi di hari-hari mereka.


...***...


Hari ini Aluna membuat kopi untuk ayahnya, setelah membuatnya untuk Evan.

__ADS_1


"Enak nggak, Dad?!" tanya Aluna terhadap kopi buatannya. Ayahnya tersenyum senang dengan expresi sangat menikmatinya.


"Ini kopi tereeeennnakkk ... Yang pernah daddy minum," ucap Richard seraya tertawa bangga, Aluna pun tersenyum senang.


"Kamu belajar dari mana bikin kopi?" tanya Richard pada Aluna, Karena selama ini Aluna tidak pernah membuat kopi untuknya. Ini pertama kalinya Aluna membuatkannya kopi.


"Sering buatin untuk Evan. Dan sering di hinanya buatan Aluna. Ada aja salahnya," adu Aluna, yang malah membuat Richard tertawa keras. Ternyata hanya Evan yang mampu merubah sifat manja putrinya ini. Selama ini Richard selalu membuat putrinya bak tuan putri, tapi saat bersama Evan, Aluna berubah menjadi sangat penurut. Seperti nya Aluna tidak salah pilih suami.


***


Di sisi lain Tari kedatangan pelanggan istimewa. Yaitu mantan bosnya, alias Soni.


"Eh pak Soni," sapa Tari ramah. Soni pun kaget saat melihat Tari.


"Hey... Tari! Apa kabarnya?" tanya Soni ramah.


"Baik, pak. Bapak mau pesan apa, nih? Nanti biar di siapin," jawab Tari penuh hormat dan ramah.


"Dengar-dengar kamu sama Evan tunangan ya?" tanya Soni membuka pembicaraan.


"Hmmm... Iya pak. Sekitar 6 bulan yang lalu," terang Tari seraya tersenyum ramah.


"Hmmm.... Jadi karena itu kalian ke Lombok bareng?" tanya Soni basa-basi. Tari langsung berubah raut wajahnya bingung.


"Lombok?! Kapan?!" tanya Tari. Soni seakan menyadari jika dia sudah salah bicara.


"Eh... Itu pesanannya udah datang. Maaf Tari buru-buru," ucap Soni menghindar.

__ADS_1


Tari ingin bertanya lebih lanjut tapi Soni buru-buru pergi. Tari pun tidak dapat bertanya lagi. Dia harus bertanya pada Evan langsung tentang permasalahan ini.


...***...


Tari tidak sabar menunggu Evan pulang kerja, dia sudah di apartemen Evan dari jam 5 dan Evan baru pulang pukul 6. Evan kaget saat mendapati Tari sudah ada di kediamannya.


"Kapan kamu ke Lombok? Kenapa kamu nggak pernah cerita sama Aku? Kamu pergi sama siapa? JAWAB EVAN!" teriak Tari emosional.


Evan bingung dari mana Tari tahu tentang kepergiannya, karena orang tuanya pun tidak ada yang tahu. Dan mereka sudah sepakat untuk tidak memberitahu siapapun.


"Ka-kamu tau dari mana?" tanya Evan mulai merasa tersudutkan.


"Jawab pertanyaan aku, Van!" ucap Tari penuh tekanan dengan sorot mata yang tajam dan tubuh yang gemetar menahan gejolak di dadanya.


"Aku pergi sama Anto, Dea, Silvi... Dan ... Dan Aluna," jawab Evan. Tari langsung paham sekarang.


"Jadi kalian liburan bersama?! jadi karena ini kamu ingin mengakhiri hubungan kita?" Ucap Tari berkaca-kaca. "Apa yang udah kamu lakuin sama Aluna, Van? Apa kalian sudah seperti suami istri lagi? Apa kau sudah membawanya ke ranjang?" tanya Tari sinis. "Bahkan untuk berpegangan tangan sama aku aja kamu nggak sudi. Tapi dengan Aluna kamu rela melakukan semuanya," ucap Tari penuh prasangka.


"Aluna bukan perempuan seperti itu. Kamu berfikir terlalu jauh. Aku sama dia hanya liburan bersama. Kita nggak berdua di sana. Ada yang lain juga," Ucap Evan mencoba menjelaskan. "Sudah aku ingat kan sama kamu berkali-kali untuk segera mengakhiri hubungan kita. Karena aku takut akan hal ini terjadi. Aku nggak bisa lupain Aluna, Tari. Aku mencintai Aluna, aku menunggunya dan masih berharap bersamanya. Tapi kami selalu menjaga diri kami. Kami tidak pernah melakukan hal seburuk yang kamu tuduhkan," ucap Evan mulai terbawa emosi dan tanpa sadar sudah mengatakan semuanya pada Tari.


"Terserah. Aku muak," ucap Tari kecewa dan akan pergi. Sebelum Tari pergi, Evan menahan tangan Tari, Tari pun terpaku karena Evan menahannya, tapi dia tidak sanggup menatap Evan.


"Tari! Aku tidak ingin kita berakhir seperti ini. Aku sungguh menyukaimu, tapi hanya sebagai teman. Kenapa kita tidak bisa berteman seperti dulu," pinta Evan penuh harap. Tari tidak peduli dia sudah terlalu kecewa untuk saat ini.


Tari sudah tidak sanggup lagi menghadapi Evan, dia melepas genggaman Evan berlahan pada tangannya dan langsung pergi meninggalkan Evan yang masih terpaku. Tari berusaha menahan perasaannya saat ini tapi tidak sanggup ia tahan, hatinya terlalu sakit saat ini. Hingga air matanya terus mengalir sepanjang perjalanannya, hingga ia sampai di dalam mobilnya, Tari meluahkan semua tangisnya di dalam mobil.


Sedangkan Evan masih terdiam di tempatnya. Dia tidak ingin menyakiti Tari, tapi menahan Tari untuk tahu semuanya akan membuat Tari mungkin akan terluka lebih parah dari ini.

__ADS_1


"Silahkan membenciku," gumam Evan yang mulai menyerah dengan keadaannya. Karena dia benar-benar tidak dapat melepaskan Aluna. Evan mengusap wajahnya nya dan menarik nafas panjang. Terasa sangat melelahkan, tapi dia merasa lega. Karena sudah tidak ada yang dia sembunyikan lagi dari Tari.


BERSAMBUNG...


__ADS_2