
Selesai acara, Tari dan ibunya pun mengobrol.
"Tar, tadi maminya Evan cerita tentang Evan. Ternyata Rima itu ibu sambung Evan, ya. Dia anak pak Wisnu dari istri ke duanya. Jadi, katanya maminya itu sama papanya sempat cerai, terus papanya Evan nikah sama ibunya Evan. Tapi ibu Evan meninggal terus papanya rujuk lagi sama maminya. Dan Evan itu anak istri kedua nya pak Wisnu. Pantesan Evan muka bule, ya. Bunda pikir kok Evan beda banget sama kakaknya. Kakak-kakak nya cakep juga, tapi Evan itu keliatan beda. Lebih putih, lebih mancung, lebih tinggi juga. Kalo di bandingin sama Tama sama Syahila beda banget," cerita ibunya.
"Iya sih, Bund. Tari pertama kali lihat Evan juga kayak bule. Tapi waktu tau kedua orang tuanya Indonesia, Tari fikir cuman kebetulan," ucap Tari menambahkan.
"Tapi Evan bukan anak kandung Rima. Dia anak yang lahir dari pernikahan yang sah juga. Cuman, malang di tinggal ibunya waktu baru lahir. Makanya Rima maminya cerita. dia nggak berani paksa Evan buat di jodohin sama kamu. Katanya dia nggak memperlakukan Evan dengan layak waktu kecil."
"Hmmm... Namanya juga anak tiri, Bund. Tapi kayaknya hubungan mereka baik, Bund. Evan kelihatan nggak kayak di perlakukan buruk gitu," ungkap Tari heran.
"Namanya juga udah sukses. Pasti dianggap lah. Evan kan udah kerja di perusahaan besar sekarang. Dia udah nggak nyusahin lagi sekarang. Tapi kasihan juga Rima, kadang kayak merasa bersalah sekali," ucap Nindi dengan raut wajah sedih.
***
Pagi itu Richard meminta Evan menemuinya ke ruangannya. Evan pun segera menemuinya.
"Hari ini daddy mau ke Bali buat kontrol bulanan hotel yang di Bali. Tapi kita ada rapat di perusahaan Central Food. Kamu bisa gantiin daddy hari ini?!" tanya Richard. Evan tersenyum mendengar nama perusahaan itu. Ia mengangguk setuju dengan cepat.
"Bisa, dad," jawab Evan bersemangat.
"Semangat sekali kamu. Ada rencana apa kamu sama Soni?!" tebak Richard. Evan hanya tersenyum mengetahui Richard paham dengan tujuannya.
"Nggak. Daddy tenang aja. Aku akan ke sana buat gantiin Daddy," ucap Evan dengan seulas senyuman Richard pun hanya menyunggingkan senyumnya seraya geleng-geleng kepala.
"Ok lah kalo gitu. Kamu kerja yang baik ya, selama Daddy nggak ada. Semua Daddy serahin sama kamu beberapa hari ini," ucap Richard lalu bersiap akan pergi meninggalkan Evan yang masih duduk di ruangannya.
***
Evan pun segera menuju perusahaan Central Food. Dia ke sana bersama beberapa orang stafnya. Sesampainya di sana dia di sambut direktur utama nya langsung. Alias ayah Soni pak Wibowo. Ya Central food adalah perusahaan keluarga Soni.
__ADS_1
Pak Wibowo sudah tau tentang Evan yang bekerja di perusahaan Richard. Yang dia tidak ketahui bahwa Evan akan menggantikan Richard hari ini. Ada rasa segan karena harus hormat kepada mantan anak buahnya. Tapi, melawan sama artinya membatalkan kerja sama mereka lagi. Itu namanya cari masalah untuk Central food. Pak Wibowo terpaksa menurunkan harga gengsinya hari ini.
Dia mendampingi Evan hingga ke ruang rapat dengan obrolan ringan sepenjang perjalanan mereka. Dalam perjalanannya Evan sempat menyapa Ari dan Dodi dengan senyuman. Mereka kaget melihat Evan yang ternyata sudah bekerja di tempat Richard dan menjadi tangan kanannya. Mereka tidak sempat menyapa Evan lebih lama karena Evan buru-buru pergi. Evan hanya melambaikan tangan pada mereka semua.
Di ruang rapat Evan mulai duduk sebagai pimpinan rapatnya. Sebelum memulai rapat, Evan memulai aksinya pada Soni.
"Bisa belikan saya Starbuck?!" tanya Evan
Soni jadi bingung, dia ingat. Dia pernah melakukan itu pada Evan dulu. Soni sadar Evan tengah membalasnya sekarang. Dengan lemas dia menurut.
"Baik!" gumamnya nya patuh.
"30... Untuk kita semua," seru Evan lagi seraya menyerahkan kartunya untuk membeli Starbucks.
"Tapi... Kita akan mengadakan rapat. Kalau membeli sebanyak itu akan memakan waktu. Saya akan minta OB saja, ya?!" ucap Soni menawarkan solusi.
"Ooo... Kamu nggak mau?" tembak Evan. Ayah Soni langsung bangkit.
"Iya... Tidak Apa-apa, saya saja," ucap Soni lemah lalu pergi.
Tidak lama rapat pun di laksanakan tanpa ke hadiran Soni. Soni datang setelah 2 jam lebih kemudian, dengan membawa 30 minuman Starbucks. Dia tertunduk dan tanpa komando dari Evan langsung menyerahkan satu persatu minuman tersebut kepada orang-orang yang ada di sana.
Semua orang menerima minuman tersebut dari Soni, terlihat gurat segan mereka saat melihat wajah Soni saat memberikan minuman tersebut. Karena mengingat Soni adalah anak bos mereka. Evan tersenyum melihatnya. Melihat Soni kini merasakan apa rasanya bekerja tanpa sikap sombong yang selalu ia tunjukkan selama ini.
"Ok rapat selesai. Terima kasih kerja samanya semua." Tutup Evan seraya menutup laptopnya.
Soni datang menghampiri Evan dan menyerahkan minuman yang di minta Evan tanpa bicara sepatah kata pun. Evan menatapnya. Ada gurat tertekan dan kesal di wajah Soni.
Hari ini dia di buat merasa terhina oleh Evan. Evan pun menikmati minumannya sebentar, lalu dia berdiri seraya mengambil berkas dari sekretarisnya dan menyerahkan nya pada Soni yang tampak bingung menerimanya.
__ADS_1
"Itu catatan rapat kita hari ini. Saya sudah minta Rani menulisnya untuk kamu. Pelajari itu, karena kamu tadi terlambat. Lain kali pastikan kau bekerja dengan baik, supaya kau mengerti dengan tanggung jawab," ucap Evan menusuk hingga ke hati Soni. Mata Soni berkaca-kaca, lalu dia bergumam.
"Van! Makasih! Udah buat catatannya untukku," ucap Soni tulus.
Evan tersenyum, ternyata Soni paham dengan pelajaran yang ingin Evan sampai kan padanya. Ayah Soni menatap Evan seraya menekan kepalanya dan tertawa. Ternyata Evan hanya tengah mengajari Soni, dia tidak berniat membalas kan dendamnya.
Soni tidak kehilangan hasil rapatnya, karena sudah di minta Evan sekretarisnya menyalinnya untuk Soni dengan sangat detail, sehingga Soni bisa mempelajarinya juga.
"Van!" panggil Soni. Evan menoleh pada Soni. "Ada yang mau gue omongin," ucap Soni serius. Evan menatap Soni.
"Apa?!" Ucap Evan penasaran.
"Tentang Aluna," ucap Soni lagi. Evan mulai berubah raut wajahnya.
"Kenapa?!" tanya Evan.
"Kamu punya waktu?!" tanya Soni lagi.
Evan segera meminta stafnya untuk keluar terlebih dahulu. Kini tinggal Evan dan Soni saja di ruangan tersebut.
Mereka pun kembali duduk di salah satu kursi rapat yang tadi mereka gunakan. Mereka bicara hanya 4 mata. Evan menatap Soni serius. Walau tampak ragu awalnya, akhirnya Soni pun bicara.
"Sebenarnya foto itu aku ambil saat Aluna lengah. Itu tanpa persetujuan Aluna. Aluna sangat marah saat aku menyentuhnya. Maaf, pasti aku membuat kalian bertengkar, bahkan mungkin bercerai. Aluna tidak pernah melirikku sedikit pun, Van, cintanya pada mu terlalu besar, tidak ada orang yang mampu menggoyahkannya. Mana mungkin dia tertarik dengan ku yang tidak ada apa-apa nya bila dibanding kan dengan kamu," ucap Soni.
Evan terdiam mendengar pengakuan Soni. Walau terlambat, tapi Evan sangat menghargainya.
"Kamu bukan penyebab kami bercerai, Semua nya terjadi karena Akumulasi dari semua yang kami alami selama pernikahan kami. Kamu hanya seperti korek api yang tidak sengaja menyambar bensin yang tumpah. Kamu tidak perlu merasa bersalah. Dan terima kasih buat pengakuannya. Aku hargai itu," ucap Evan tulus dengan seulas senyum yang seolah-olah ingin menyampaikan bahwa dia tidak dendam kepada Soni, sama sekali tidak.
Sekarang Soni lega sudah mengungkapkan kebenarannya pada Evan. Evan menepuk bahu Soni seraya tersenyum, untuk memberitahunya bahwa semua baik-baik saja. Soni pun membalasnya dengan senyuman tulus.
__ADS_1
BERSAMBUNG...