
Aluna masih diam di kamar, berkali-kali pelayan di rumahnya mengantarkannya makanan dengan menu yang berbeda, tapi tidak pernah di sentuhnya barang sekalipun. Ia terus terlihat termenung dengan tatapan hampa keluar jendela kamarnya. kejadian malam itu masih terus menghantuinya, bahkan beberapa kali dia seringkali kedapatan tengah menangis. Tubuhnya mulai terlihat kurus dan lemah. Bahkan hari ini dia sama sekali tidak mau turun dari ranjang. Marissa mulai khawatir pada keadaan Aluna.
Marissa adalah adik ayah Aluna yang memang tinggal bersama mereka di keluarga tersebut. Dia merupakan wanita single yang sebenarnya sudah pernah 4 kali menikah tapi selalu gagal. Dia tinggal di rumah kakaknya tidak lain untuk menjaga Aluna agar tidak kesepian di rumah mengingat Aluna adalah anak tunggal.
Marissa mulai mendekati pintu kamar Aluna dengan langkah anggunnya. Tubuhnya yang masih tetap terlihat indah di usia nya yang tak lagi muda dengan penampilan elegannya, cukup menunjukkan kelasnya, tapi ia juga sangat menyayangi keponakan tunggalnya itu. Ia mulai mengetuk pintu kamar Aluna, setelah mengetuk beberapa kali namun tetap tidak ada jawaban dari dalam.
Akhirnya Marissa memutuskan untuk masuk saja tanpa persetujuan empunya kamar. Saat dia masuk dia mendapati Aluna tengah menangis. Matanya tampak sembab karena sudah berhari-hari dia menangis.
Marissa tampak tak percaya dengan apa yang ia lihat. Awalnya ia mengira Aluna hanya tengah mencari perhatian saja. Tak di nyana ternyata keadaan Aluna benar-benar buruk.
"Aluna! Kamu kenapa?" Tanya Marissa tampak sangat khawatir. Ia duduk di pinggir ranjang Aluna. Dan menyentuh lembut bahu Aluna yang masih tampak terguncang. Aluna yang masih tidak menyadari keberadaan tantenya itu sontak membuatnya kaget dan berteriak memundurkan tubuhnya. Marissa di buat kaget dengan reaksi tak terduga Aluna, Marissa berlahan menarik tangannya. Dia menatap bingung pada Aluna.
"Kenapa Aluna? Ka-kamu kenapa?" Tanya Marissa masih bingung. Aluna hanya diam seraya menggelengkan kepalanya pelan. Marissa sangat yakin terjadi sesuatu pada Aluna, tidak biasanya Aluna diam seperti ini.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi, kalo nggak kenapa kamu nangis?" ucap Marissa penuh selidik. Aluna menatap tantenya, seketika tangisnya kembali pecah dan memeluk Marissa erat masih tanpa sepatah katapun darinya hanya tangisnya yang terdengar. Marissa semakin bingung. "Nggak papa, sayang. Ayo cerita sama aunty sayang. Kamu kenapa? Siapa tau Aunty bisa bantu kamu, sayang," ucap Marissa lembut seraya mengelus lembut rambut panjang Aluna.
"A-Aku, aku... di lecehin aunty," ucap Aluna yang kembali memeluk tantenya dengan tangis yang tidak dapat ia tahan lagi.
"Kapan? Sama siapa?"
"Waktu aku di Bali kemarin aunty!" jelas Aluna masih di pelukan Marissa. Marissa mengurai pelukan Aluna dengan tatapan tidak percaya, dia mencari kebenaran dari ucapan Aluna barusan. Apa Aluna tengah mempermainkannya saat ini? Aluna sering kali bertindak kekanak-kanakan hanya untuk mendapatkan perhatian. Tapi dia tidak menemukan kebohongan dari mata Aluna atas ucapannya barusan. Itu membuat Marissa membulatkan matanya kaget dengan kedua tangannya menutup mulutnya menatap Aluna dengan tatapan tidak percaya. Dia blank beberapa saat, dia merasa ini seperti mimpi.
"Seriusly?!" seru Marissa merasa lemas mendengarnya. Aluna mengangguk pelan membenarkan dengan mata sembab dan sendu. Marissa pun menarik Aluna kepelukkanya kembali, dia masih masih sulit mempercayai apa yang terjadi pada keponakan cantiknya itu.
Lalu Aluna pun menceritakannya dengan detail.
"Kita lapor polisi saja, biar bedebah itu di penjara." Ucap Marissa mulai emosi.
"Nggak. Aku nggak mau. Aku nggak mau semua orang tau, aunty. Ini sangat menyakitkan buat aku." Ucap Aluna masih menangis.
__ADS_1
"JADI MAUNYA GIMANA?!" seru Marissa yang masih tidak paham dengan pola pikir keponakannya itu, ia mulai terlihat tidak sabar. "Ya udah, bilang saja sama Daddy kamu. Biar dia yang hajar laki-laki itu," putus Marissa akhirnya. Ia pun segera bangkit dan bersiap untuk pergi menemui kakak laki-lakinya itu.
Aluna berusaha mencegah Marissa, dia takut jika ayahnya akan membunuh Evan. Aluna tau betul dengan watak ayahnya. Dia tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti Aluna yang merupakan putri semata wayangnya itu. Dia tidak ingin Evan mati walaupun Evan telah menghancurkan hidupnya.
"Jangan Aunty, daddy bisa bunuh Evan nanti. Please Aunty jangan bilang daddy dulu," pinta Aluna seperti memohon, tapi tak di gubris Marissa. Dia tetap akan melaporkan semuanya kepada Richard.
Marissa segera berjalan menuju mobil Lamborghini miliknya, sedangkan Aluna masih berusaha menahannya dengan terus mengejar Marissa yang terus melajukan mobilnya hingga keluar gerbang, tapi apa daya auntynya tetap bersikeras untuk pergi.
"AUNTY MARISSA!" teriak Aluna histeris tapi tetap tak berhasil menghentikan laju mobil auntynya. Aluna hanya bisa terduduk lemas di halaman rumahnya seraya menatap mobil Marissa yang terus melaju dengan cepat hingga hilang dari pandangannya.
Sebenarnya ada cinta yang ia sembunyikan untuk Evan. Evan tidak sepenuhnya salah baginya. Mungkin jika dia bersikap baik, Evan tidak mungkin melakukan hal seburuk ini padanya. Dia berharap Evan mau bertanggung jawab padanya atas apa yang telah terjadi. Hanya itu yang dia minta. Bukannya membunuh Evan.
***
Sesampainya di perusaahan kakaknya Marissa segera menuju ruangan kakaknya di lantai atas. Dengan langkah cepat dan emosional Marissa terus berjalan keruangan kakaknya tepat saat kakaknya sedang bersama kliennya. Tapi Marissa sudah sangat marah dan panik, dia tidak memperdulikan itu, dia terus menerjang masuk hingga semua mata tertuju padanya saat ini. Richard pun segera meng-kode kepada asistennya untuk mengakhiri pertemuan mereka hari ini.
"Marissa apa-apaan ini?!" teriak Richard kesal karena dia sedang ada tamu.
"Pulang lah, LIHAT LAH DI RUMAH ANAKMU SUDAH HAMPIR GILA, RICHARD!" teriak Marissa emosional dengan wajah memerah karena menangis. Merasa terjadi sesuatu yang buruk Richard pun segera pamit keluar sebentar bersama Marissa dan mengajaknya bicara di ruangan lain.
"Ada apa ini?" tanya Richard masih belum paham.
Marissa menatap kakaknya intens, dia mulai menarik nafas tenang dan melepaskan tangan kakaknya. Ia pun mulai menceritakan semua yang di ceritakan Aluna padanya tadi kepada Richard setelah ia bisa duduk dengan tenang. Richard langsung terduduk lemas mendengar semuanya. Dia terlihat sulit mempercayai apa yang baru saja di dengarnya. Dia sudah menjaga putrinya sedemikian rupa, tapi ternyata dia masih bisa kecolongan seperti ini.
"Akan aku bunuh anak itu!" ucap Richard geram penuh amarah, tangannya pun terkepal dengan mata yang memerah menunjukkan bahwa emosinya sudah sampai di ubun-ubunnya saat ini. Tidak ada yang berani menyentuh anaknya selama ini, tapi Evan malah dengan berani melecehkan anaknya.
"Cari anak itu sampai dapat, beri dia pelajaran yang setimpal!" ucap Marissa seraya menangis histeris. Dia pun sama masih tidak percaya ada yang berani melakukan hal seburuk itu kepada keponakan kesayangannya.
***
__ADS_1
Di lain sisi Evan tengah menikmati pemandangan sawah yang luas, seluas mata memandang terhampar padi yang mulai menguning. Udara yang sejuk membuat setiap orang akan betah berlama-lama di situ.
Evan duduk di salah satu bangku panjang di bawah pohon besar di pinggir sawah. Dia mulai memikirkan apa yang baru saja dia lakukan pada Aluna. Sebenarnya Aluna hanya korban dari masa lalunya yang menyakitkan. Aluna melakukan apa yang pernah terjadi di masa lalunya, hingga membuat dendam masa lalunya membara kembali. Setiap dia mendengar seseorang di hina di hadapannya dia selalu membayangkan itu adalah dirinya. Dan Aluna melakukan persis yang pernah ayah dan ibunya lakukan padanya.
Setelah hatinya tenang, ingin rasanya dia memperbaiki kesalahannya. Dia seperti binatang binal malam itu. Dia melampiaskan semua dendamnya pada Aluna. Entah apa yang gadis itu lakukan sekarang. Bunuh diri kah dia? Tapi jika mengingat bagai mana arogannya ayah dan anak itu membuat Evan berbalik hati membencinya. Keluarga itu tidak bisa di hentikan jika tidak di beri pelajaran. Aluna pantas mendapatkannya. Untuk membungkam keangkuhannya. Pergolakan jiwa Evan begitu hebat di dadanya, antar menyesalinya atau malah mensyukurinya.
"Bagaimana kalau ayahnya tau? Pasti dia akan membunuhku. Ahh...Sudah lah. Kalau mau bunuh, bunuh saja." ucap Evan pasrah seraya melempar batu kerikil kesembarang arah.
'Tapi hebat juga perempuan itu, aku pikir dia sering melakukannya dengan pacarnya. Tapi ternyata aku orang yang pertama menidurinya... Bajunya kan terbuka semua, pasti banyak laki-laki yang tergoda. hahaha... pasti dia suka menyiksa laki-laki yang di dekatnya dengan caranya itu... terbuka tapi jual mahal... Dasar arogan, dalam setiap tingkahnya dia arogan.' Batin Evan. Dia tersenyum tipis mengingat betapa lugunya wanita arogan itu.
'Apa mungkin sikapnya itu karena dia kesepian? dia hanya ingin menarik perhatian semua orang. Dia mungkin hanya ingin semua orang menyayanginya.' Batin Evan lagi. Dia mulai kasihan pada Aluna.
***
Di sisi lain ayah Aluna mulai mengerahkan anak buahnya untuk mencari Evan. Ayah Aluna benar-benar murka terhadap Evan.
"Temu kan bajingan ini dalam keadaan hidup atau mati! Bawa dia kehadapan saya secepatnya!!!" Umum ayah Aluna kepada anak buahnya. Lalu mereka bubar pergi meninggalkan ruangan kantor ayah Aluna.
Merekapun memulai penyelidikan tentang latar belakang Evan dan keluarganya, serta orang-orang terdekatnya. Untuk mempermudah mereka menemukan persembunyian Evan.
Sampai lah mereka kepada si pengantar makanan ke kamar Aluna malam itu, yang ternyata adalah adik laki-laki si pelayan yang di pecat. Dia di hajar habis-habisan di hadapan kakak dan ibunya. Sampai akhirnya dia mengakui perbuatannya dan memohon di ampuni.
"DI MANA LAKI-LAKI ITU SEKARANG!? " Tanya salah satu anak buah ayah Aluna.
"Kalau itu saya benar-benar tidak tahu. Setelah mengantar makanan saya tidak bertemu dia lagi om. Beneran om? Dia cuman ngasih uang katanya buat ibuk berobat, setelah itu saya pulang. Beneran om!" ucapnya gemetar ketakutan.
Orang suruhan Richard itu pun akhirnya pulang. Mereka melanjutkan pencarian Evan.
BERSAMBUNG...
__ADS_1