PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
TEMPAT TERSEMBUNYI UNTUKNYA


__ADS_3

Di kamar selesai mengganti pakaiannya Evan bersiap akan tidur, sebelum tidur Evan membuka laci yang ada di samping tempat tidurnya. Dia mengambil anting Aluna yang tertinggal waktu itu, anting berlian itu masih Evan simpan dengan baik. Dia tersenyum tiap kali melihat anting itu. Dia ingat bagaimana Aluna bersamanya malam itu.


Dengan lugunya dia bersedia mengganti kan wanita panggilan itu. Padahal Evan tidak benar-benar ingin bersama wanita panggilan tersebut malam itu. Dia hanya menggertak Aluna yang memanasi nya bersama Soni. Tapi ternyata, Aluna malah datang sendiri malam itu untuk menggantikan wanita panggilan tersebut.


"Bodoh!" gumam Evan seraya tersenyum. Lalu dia kembali menyimpan anting itu ke tempatnya semula. Ia pun bersiap untuk tidur.


***


Di tempat lain, Aluna tengah menatap cincin pernikahannya di kamar. Dia tengah terbaring dengan mengangkat kedua tangannya untuk menatap cincin jimat pelindungnya itu, pelindungnya dari laki-laki yang berniat mendekatinya. Dia tersenyum menatap cincin itu, setiap menatap cincin itu membuat dia merasa selalu menjadi istri Evan.


"Tidak akan ada cincin lain di jari manisku, kecuali cincin darinya," gumam Aluna sendirian seraya mendekap jarinya yang terdapat cincin pernikahan nya dulu.


***


Pagi itu keluarga Evan sarapan seperti biasa, di tengah sarapan mereka Rima menyampaikan kedatangan Tari semalam.


"Van... Semalam Tari datang kesini sama bundanya... Mereka ngundang kita buat datang di pembukaan toko rotinya... Hari Minggu ini... Kamu nggak sibukkan!? " Tanya Rima kepada Evan.


"Nggak... Cuman... Mami aja ya... Aku malas ke acara gituan... Paling banyak cewek-cewek di sana... Males aku cowok sendirian di sana... " Ucap Evan.


"Ya nggak enak lah mami... Dia minta kamu juga datang... Dia datang sendiri lo buat ngundang kamu... Lagian kalian kan temenan... Itu bukan acara ibuk-ibuk... Dia bikin acara keluarga gitu...Jadi semua orang sama temannya di kantor dulu juga datang... Kamu nggak sendirian kok... " Ucap Ibunya bersitegang "Datang ya, Van... " Bujuk Rima dengan senyuman manisnya. " Ayo lah... Ya... " Bujuknya lagi. Dengan terpaksa Evan pun menyetujuinya.


"Ck... Iya, yaa.... " Ucap Evan malas.


"Ok... Kita siap-siap jam 9, nggak jauh lo dari kantor kamu juga...!! " Ucap Rima. Evan hanya diam, dia tidak tertarik. Dia hanya heran kenapa ibunya sangat memaksanya, biasanya Rima tidak berani memaksa Evan.

__ADS_1


"Ngapain sih ngundangnya ribet banget sampe dateng ke rumah segala... " Tanya Evan yang membuat Rima bingung harus jawab apa.


" Ya... Dia mau mastiin kalo kita akan datang... " Ucap Rima mencoba mencari alasan. Evan menatap ibunya dengan tatapan curiga.


***


Pagi ini di kantor Evan masih mempelajari tentang perusahaan Richard. Hans orang kepercayaan Richard sekaligus tangan kanan Richard membimbing Evan dengan sungguh-sungguh. Begitu pula Evan, dia mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Dia tidak ingin Richard kecewa padanya. Ini sedikit menjadi beban pada diri Evan, karena Evan merasa ekspektasi Richard terlalu berlebihan padanya. Hingga Evan sangat takut Richard kecewa, jika dia tidak bisa mencapai ekspektasi tersebut.


"Jangan di jadikan beban... " Ucap Hans. "Pak Richard itu pintar menilai orang... Kalo dia bilang kamu mampu, kamu pasti mampu..." Nasehatnya dengan senyum ramah, Evan pun tersenyum dan mengangguk.


***


Malam ini ada pertemuan kolega. Semua orang-orang dari kelas atas ada di sini. Berlian berkilau di mana-mana. Barang termahal, terpasang di tubuh mereka. Evan datang ke pesta tersebut bersama ayah Aluna untuk perkenalkan pelan-pelan dengan rekan bisnisnya.


"Perkenalkan, Ini Calon penggantiku," ungkap Richard memperkenalkan Evan kepada rekannya. Evan pun tersenyum ramah.


"Kalau bisa kenapa tidak!" seloroh Richar seraya bersulang dengan rekan-rekannya. Evan menatap Richard. Richard masih menginginkan dia menjadi menantunya. Itu kah rencana Richard.


Malam itu semua orang menyambut Evan dengan ramah, ayah Evan pun ada di sana. Wisnu segera menghampirinya.


"Naaahhh... Ini dia yang punya anak. Eh, punya anak hebat di kasih kerja sama Richard. Apa maksudnya nih?! Apa sengaja mau buat Richard jadi besan," goda si kolega lagi sambil tertawa keras. Dan di sambut yang lain dengan tawa juga.


"Iya. Wisnu pasti sengaja. Dia pintar memancing ikan besar, kalau mereka besanan kan bisa buat bisnis mereka berdua makin besar. Iya nggak?!" timpal yang lain. Evan semakin merasa aneh, karena tidak ada yang tahu bahwa dia adalah mantan suami Aluna.


Datang lah seseorang lagi.

__ADS_1


"Ada apa ini, sampe tawamu terdengar dari sana Wibisono," seru seseorang yang baru datang.


"Ini si Richard ambil anak Wisnu jadi penggantinya, mana ganteng lagi. Itu namanya mereka mau mikat jadi besan ya nggak!" ucapnya sambil tertawa lagi. Pria itu pun menatap Evan. Dan menepuk pundak Evan.


"Itu bukan mikat jadi mantu. Tapi Richard sedang bujuk mantunya balik lagi. Ini kan mantan suami Aluna. Yaaaa... kalian kurang up date,nih. hahaha ....," tawanya membuat Richard dan Wisnu jadi saling pandang dan tersenyum kagok.


Situasi yang rumit untuk di jelaskan kepada orang awam bagaimana situasinya. Sehingga mereka memilih untuk mengganti topik pembicaraan.


"Eh, ada piano ya. Aku bisa mainin satu lagu," ucap Evan mencoba mengeluarkan mereka dari topik pembicaraan yang rumit ini. Sebelum mereka menuntut penjelasan lebih lagi. Lebih baik Evan menjadi artis dadakan malam ini. Evan pun segera menuju piano, dan di sambut pembawa acara dengan senang hati. Evan pun segera memainkan piano itu dengan lagu yang merdu. Membuat semua orang terpesona dengan penampilan apik Evan. Dia menatap mantan mertua dan ayahnya dengan senyuman sambil terus memainkan piano itu.


"Dia pintar keluar dari suasana yang buruk. Dia berbakat untuk semua hal," bisik Richard pada Wisnu. Wisnu tersenyum seraya menepuk pelan bahu Richard tanda setuju. "Pilihanku tidak salah bukakan, Wisnu?" ucap Ricard bangga, Wisnu pun ikut bangga terhadap putranya itu.


Sedangkan Evan terus memainkan pianonya. Terdengar lagu fur elise beethoven dia main kan dengan baik dan sempurna. Permainan piano yang ia hayati dengan mengingat Aluna kembali, Hingga terdengar sangat menyentuh. Setiap not yang ia tekan membawanya lebih dalam lagi mengenang Aluna. Tapi yang mampu Evan tampilkan pada dirinya adalah perasaan tidak peduli, dia menyimpan rasa pedulinya terhadap Aluna jauh di dalam hatinya. Sikap Aluna yang tidak bisa menghargai sebuah hubungan membuat Evan lelah dan menjauh. Tapi setelah berpisah dia merasa kehilangan. Rumit baginya untuk di jelaskan. Perasaan yang Tidak untuk ia bagi kepada siapapun. Ya... Evan Seseorang yang terluka di masa lalu, membuat dia sulit mempercayai orang lain. Semua ia tanggung sendiri tanpa berbagi. Dia hanya bisa mempercayai dirinya sendiri di dunia ini.


Saat selesai dengan permainan pianonya, dia di sambut tepuk tangan gemuruh dari penonton. Evan sukses menjadi pusat perhatian malam itu. Dia sukses membuat dia di ingat oleh para kolega malam ini, cara perkenalan yang epik untuk Evan.



***


Di sisi lain di Belanda Aluna tampak sedang memasak, sedang kan Dea dan Silvi dimintanya untuk menjadi komentator masakannya. Tampak Dea yang sudah mulai tidak sanggup lagi mencicipinya, sedangkan Silvi berusaha menerimanya dan mencicipinya. Silvi merasa senang Aluna mau berubah sekarang. Hanya Dea yang mulai tidak sabar lagi menghadapi Aluna.


"Gini ya rasanya jadi Evan dulu. Pantes aja Evan nggak kuat," bisik Dea kepada Silvi yang segera di pelototi Silvi takut jika Aluna mendengarnya, dia takut Aluna akan tersinggung jika nanti mendengarnya.


"Emang bener, kok," celetuk Dea cuek.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2