PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
KEDATANGAN CINTA PERTAMA


__ADS_3

"Aku...," tutur Aluna terbata-bata. Membuat sahabatnya semakin penasaran. Aluna menarik nafas panjang dan melepaskannya.


"Lun, apaan sih?" timpal Dea tidak sabaran. "Jangan bikin penasaran," desak Dea lagi.


Dengan ragu Aluna mulai menceritakan ke jadian di Bali tersebut kepada sahabatnya. Mereka ternganga mendengar fakta itu. Mereka tidak menyangka seorang Evan akan tega melakukan itu. "Dia nggak salah juga. Gue waktu itu bikin dia sama bawahannya di pecat gara-gara baju gue ke tumpahan kuah sop. Dia bener. Di laundry juga beres, tapi emang gue yang keterlaluan tetap pecat dia." Terang Aluna panjang lebar.


Dea dan Silvi terdiam masih tidak percaya. Tapi, mereka tau betul jika Aluna bukanlah pembohong walau dia suka cari gara-gara dan perhatian. Apalagi saat melihat tangis Aluna ketika bercerita mereka semakin yakin Aluna tidak sedang berbohong. Dea dan Silvi pun segera memeluk Aluna seolah memberi kekuatan untuk sahabatnya yang malang ini. Mereka memeluk Aluna erat.


Sekarang Aluna merasa lega dapat meluahkan perasaannya dengan dua sahabatnya ini.


"Hmmmmhh.... Sabar ya, Lun," lirih Silvi seraya mengusap pundak Aluna. Dan Dea yang duduk berhadapan dengan Aluna mengusap punggung tangan Aluna di atas meja.


Saat sedang asyik mengobrol tiba-tiba mereka kedatangan Soni yang menghampiri mereka. Mereka langsung memasang wajah waspada dengan kedatangan pria yang suka cari gara-gara ini.


"Hai, Lun? Apa kabarnya kamu?" sapa Soni ramah dengan seutas senyumannya.


"Luna baik, Son. Udah! jangan ganggu dia lagi," sanggah Silvi dengan wajah masamnya karena tidak suka dengan kehadiran Soni.


"Aku tau pernikahan kamu dan pria itu tidak bahagia, Lun. Aku lihat suami kamu ninggalin kamu di hotel malam itu. Kalo kamu nggak bahagia, ayo kita balikan lagi. Aku siap jadi sandaran kamu, Lun. Aku janji bakalan berubah yang kayak dulu lagi," bujuk Soni. Itu mengundang kekesalan mereka bertiga, terutama Aluna.


"Jangan sok tau. Kita baik-baik aja. Nggak lihat, nih," tunjuk Aluna pada Wallpaper handphone nya yang terdapat foto Aluna dan Evan tengah bersama.


"Luna! Jangan keras kepala! Aku tau kamu nggak bahagia. Laki-laki kasar kayak dia nggak cocok sama kamu. Lagian apa hebatnya laki-laki seperti itu!" ucap Soni masih berusaha.


"Dia hebat dari segala-galanya dari kamu, Son. Dia mandiri, dia pintar, dan dia laki-laki paling lembut dan tulus yang pernah aku temuin, serta sangat bertanggung jawab. Nggak kayak kamu yang suka akal-akalan sama aku. Kalo di bandingkan sama kamu yang anak manja cuman bisa berlindung di balik kedua orang tua kamu, kamu kalah jauh dari Evan. Jadi jangan ganggu aku lagi. PERGI SANA!" usir Aluna mulai kesal.


"Udah, Son. Aluna udah jadi istri orang sekarang, jangan ganggu dia lagi." Dea ikut mengusir Soni.


Karena merasa terganggu akhirnya mereka pergi meninggalkan Soni yang masih mematung di sana.


"Gila, ya!Masih nekat juga dia," gumam Dea sambil terus berjalan menjauh bersama 2 sahabatnya itu.

__ADS_1


"Udah! Di cuekin aja. Nanti juga berhenti sendiri," Silvi lalu melajukan mobilnya.


***


Tiga hari kemudian Evan sudah kembali dari Kalimantan dan menyelesaikan pekerjaannya. Aluna menyambut kedatangan Evan yang tidak terduga tersebut. Dia langsung berlari dari tangga dan berhamburan ke pelukan Evan, Evan yang baru turun dari taxi jadi ngeri melihat Aluna berlari karena dia yang tengah hamil, spontan Evan berteriak memperingati Aluna.


"Sayang! Kamu hati-hati, nanti kamu bisa jatuh!" seru Evan tanpa sadar.


Tapi Aluna yang sudah terlanjur merindukan Evan tidak perduli dengan peringatan Evan. Dia hanya ingin memeluk erat suaminya itu. Evan hanya bisa tersenyum dengan tingkah Aluna, dia menyambut Aluna dengan pelukan erat dan penuh kasih sayang. Aluna pun memeluk Evan erat, dia tidak peduli jika para pelayan tengah memperhatikan mereka sedari tadi.


Puas memeluk Evan baru dia melepaskannya. Evan mengusap kepala istrinya yang manja itu. Marissa hanya menyaksikan tingkah mereka dari kejauhan.


"Baru pulang, Van!?" sapa Marissa saat Evan sudah masuk rumah besar bak istana itu.


"Iya tante! Kerjaannya kebetulan cepat selesai jadi bisa langsung pulang," terang Evan sopan. Marissa mengangguk. "Aluna, kamu itu kalo lagi hamil jangan pecicilan," tegur Marissa jutek sebelum pergi. Aluna menatap kepergian auntynya tersebut dengan tatapan yang tidak kalah juteknya. Sedangkan Evan menatap Aluna dengan senyuman tipis.


***


Aluna mendengarkan cerita Evan, dengan pandangan matanya yang terus mengekori langkah Evan yang sibuk meletakkan barang-barang nya. Sesaat kemudian seorang pelayan datang. Evan melihat pakaian kotor yang di bawanya langsung di bereskan oleh pelayan tersebut. Sebenarnya ada perasaan lain saat dia mendapati fakta bahwa yang mengurusinya adalah pembantu, dari makan, pakaian, dan semua yang di butuhkan nya.


Setelah selesai pelayan tersebut pergi dan tidak lupa menutup pintu kamar. Evan menatap Aluna.


"Kalo kamu udah lahiran. Bisa nggak yang ngurusin keperluan aku itu kamu. Aku nggak suka barang-barang pribadi aku di sentuh orang lain. risih aja rasanya," ungkap Evan. Aluna tersenyum seraya mengangguk pelan.


"Iya nanti kalo aku udah lahiran. Aku nggak akan izinin lagi mereka menyentuh apapun yang berhubungan dengan suamiku ini," ucap Aluna manis dan manja. Evan pun tersenyum senang.


Tiba-tiba kamar mereka di ketuk kembali dan ternyata itu adalah Dea dan Silvi. 2 orang sahabat Aluna itu datang karena memang tadinya mereka berencana akan keluar.


"Eh! Udah pulang!?" seru Dea kaget mendapati Evan yang tengah berada di dalam kamar dan duduk di sofa panjang di dalam kamar.


"Mau ke mana kalian!?" tanya Evan melihat dandanan mereka bertiga yang terlihat sudah siap-siap.

__ADS_1


"Tadinya mau makan di luar sambil jalan-jalan. Tapi kamu udah pulang. Ya udah nggak jadi aja," ucap Aluna seraya duduk di samping Evan dengan manja.


"Jadi aja. Makan bareng berenam aja. Tunggu gue hubungin David sama Jo," ujar Silvi.


David adalah kekasih Silvi dan Jo adalah kekasih Dea. Aluna tersenyum setuju, Evan agak malas karena dia yang baru sampai rumah dan lumayan capek, tapi demi Aluna dia pun setuju.


Sambil menunggu Evan siap-siap. Aluna dan dua sahabatnya duduk menunggu di ruang tamu.


"Evan nggak kayak yang lo ceritain. Dia kelihatan baik, sopan lagi," bisik Dea penasaran


"Emang, dia baik dan sopan. Dia kan cowok berpendidikan. yang aku ceritain itu gara-gara dia lagi marah. Kalo dia marah serem," terang Aluna seraya bergidik ngeri mengingat expresi marah Evan. Dea mengangguk paham.


Tidak lama Evan pun sudah siap dan dia menyusul istrinya dan sepupunya itu. Di dalam mobil mereka mengobrol cukup akrab. Evan ternyata cepat membaur dengan sepupu Aluna tersebut. Dan tidak butuh waktu lama mereka berempat sudah terlihat akrab seperti teman lama.


***


Mereka menunggu Jo dan David di sebuah restoran Jepang yang cukup mewah. Sebentar kemudian David dan Jo pun datang. David masih seorang mahasiswa seperti Dea dan Silvi. Sedangkan Jo sudah bekerja, hanya 1 tahun lebih muda dari Evan. Mereka mengobrol cukup akrab.


"Eh, Lun! Kita undang Brian juga yuk. Kebetulan dia baru pulang kemaren," tawar Silvi.


"Eh, kapan? " seru Aluna bersemangat.


"Kemaren!" jawab Silvi.


Akhirnya mereka mengundang Brian untuk datang juga. Evan yang tidak tahu menahu tentang Brian pun tidak begitu peduli dengan itu. Evan asyik dengan makanannya sembari mengobrol dengan yang lain.


Brian adalah cinta pertama Aluna. Laki-laki yang 8 tahun lebih tua dari Aluna itu, sangat di kagumi Aluna karena sikapnya yang ramah dan sering melindungi Aluna. Dia adalah dewa pelindung Aluna, setiap kali Aluna terkena masalah dia selalu datang menyelamatkan Aluna, karena sikap arogan Aluna banyak orang yang tidak menyukainya. Brian adalah salah satu orang yang selalu bersedia menemani Aluna dalam keadaan apapun, selain Dea dan Silvi tentunya. Karena itu Aluna sangat patah hati saat brian memutuskan bertunangan, sehingga dengan gegabah Aluna malah menerima Soni sebagai pelariannya, hingga dia terjebak bersama Soni dan membuat nya tidak tahan dan kabur ke Bali. Hingga takdir menemukan Aluna pada Evan. Sekarang laki-laki itu kembali lagi di hidup Aluna setelah beberapa tahun hilang dari hidup Aluna.


Brian bukan laki-laki sembarangan, dia adalah seorang pengusaha sukses dan juga pimpinan di sebuah perusahaan asing yang juga memiliki cabang di Indonesia. Sudah lama dia tidak kembali ke Indonesia, sejak dia memutuskan pertunangannya karena perselingkuhan tunangannya tersebut. Mungkin dia juga patah hati seperti Aluna. Seandainya saja saat itu dia menemui Aluna,mungkin dengan senang hati Aluna akan bersedia menjadi pelariannya. Sayangnya saat itu dia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Aluna.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2