
Aluna siang itu berencana akan memeriksa kandungan nya ke dokter, tapi langkahnya tercekat saat dia melihat semua wanita hamil pergi di dampingi suami mereka masing-masing. Seketika dia merasa tidak percaya diri untuk memeriksakan kandungannya.
Dia pun mengurungkan niatnya. Dia berbelok menuju ruangan Evan di rawat. Dia melangkah berlahan karena masih ragu. Apa Evan mau menerima anak ini? Apa Evan bersedia membesarkan anak ini bersamanya? bagaimana jika Evan menolak? pertanyaan itu menari-nari di benak Aluna. Hingga dia sampai di depan kamar Evan.
Aluna membuka pintu itu berlahan, tampak Evan tengah membaca buku untuk sekedar mengusir kejenuhannya. Saat ia melihat kedatangan Aluna, Evan menyambut kedatangannya dengan seulas senyumannya yang hangat, walau dia masih terlihat pucat namun sudah mulai tampak membaik. Itu bisa di lihat dengan dia yang mulai bisa duduk bersandar di ranjangnya.
"Kamu kenapa?" tanya Evan khawatir saat Aluna menghampirinya dan duduk di ranjang di sampingnya dengan wajah yang tampak tidak begitu baik.
"Aku mual, di rumah tadi nahan mual terus. Kayaknya aku mulai mabuk," ucap Aluna.
"Udah di periksa ke dokter?" tanya Evan. Aluna menggeleng.
"Aku malu datang sendirian. Tadi aku lihat semua wanita hamil di dampingi suaminya. Aku malu kalo datang sendirian," ucap Aluna jujur.
Evan terdiam beberapa saat, apa Aluna benar-benar menginginkan anak itu? Apa dia tidak membencinya, tapi bagaiman dengan Richard? Kalau di gugurkan apa dia akan tersinggung?
"Kamu yakin mau membesarkan anak itu?" tanya Evan ragu takut Aluna tersinggung. Aluna menatap tajam kearah Evan. Dia berusaha mencari tahu kemana arah ucapan Evan.
"Maksudnya?" tanya Aluna. "Apa kamu tidak mau bertanggung jawab, Evan!?" tanya Aluna mulai tidak percaya pada Evan.
"Bukan gitu.Tapi... Gimana sama Ayah kamu?" ucap Evan meluruskan "Dia akan menentangnya habis-habisan nanti. Anak itu akan jadi korban," kenang Evan pada masa lalunya, ia ingat bagaimana buruknya dia di berlakukan di rumah sebagai anak yang tidak di inginkan.
"Kamu nggak mau tanggung jawab, Van!?" tanya Aluna lagi.
"Aluna... Aku tau bagaimana sakitnya menjadi asing di keluarga sendiri. Kamu nggak akan tau kalau itu bisa melukai kamu sangat dalam," ungkap Evan mengungkapkan isi hatinya.
"Ada aku, ada kamu. Apa yang kamu takutkan? Kalau perlu kita pergi dari rumah itu," ujar Aluna mulai terlihat emosional. "Van! Sebenarnya aku suka kamu sejak pertama aku lihat kamu di hotel. Kamu beda dengan yang lain. Tanpa kamu paksa pun, mungkin aku akan bersedia melakukannya dengan kamu. Tapi cara kamu yang bikin aku shock," ucap Aluna lagi.
Evan kaget dan menatap Aluna dalam, Aluna tidak tahu seperti apa posisi Evan saat ini. Betapa dia merasa tidak di posisi pantas bagi Aluna. Tapi dia sembunyikan itu. Dia hanya bisa diam mendengar pengakuan Aluna karena ada bayinya di rahim Aluna yang menjadi tanggung jawabnya seandainya Aluna bersikeras ingin melahirkannya, di lain sisi ada keluarga Aluna yang tidak mungkin menerima dirinya begitu saja setelah apa yang yang sudah ia lakukan terhadap Aluna. Dan lagi pula siapa dia berani memimpikan berpermaisurikan seorang Aluna Jeanela.
***
__ADS_1
Aluna di rumah sakit hingga malam bersama Evan, sampai jam besuk habis barulah dia pulang. Dia ingin menginap tapi ada Tama bersama Evan, dia pun menjadi segan dan akhirnya memutuskan untuk pulang.
...***...
Sekarang hanya tinggal Evan dan Tama saja di kamar Evan di rawat. Tama tampak duduk di samping Evan, ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Evan.
"Damai Lah sama papa, Van!" ujar Tama memecahkan keheningan diantara mereka. "Papah benar-benar menyesal, Van. Setiap hari dia nungguin kamu dan berharap kamu pulang. Setiap ada yang ngomongin kamu, Papa selalu kelihatan bahagia. Terutama dari teman-teman kuliah kamu dulu," tutur Tama mencoba melunakkan hati adiknya ini.
"Aku masih butuh waktu,mas!" ucap Evan lirih.
"Mas tau mami sama papa udah keterlaluan sama kamu. Tapi mas Tama harap kamu nggak dendam, ya! Papa sering sakit-sakitan akhir-akhir ini. Jangan sampai kamu telat nantinya buat pulang," terang Tama mengingatkan. Evan agak terenyuh mendengarnya dan ia hanya bisa tersenyum tipis kepada Tama.
...***...
Di sisi lain Aluna baru saja sampai di kediamannya dan di sambut oleh ayah dan Auntynya.
"Dari mana kamu seharian ini, Luna?" tanya ayahnya. itu membuat langkah Aluna yang semula hendak ke atas menuju ke kamarnya menjadi terhenti di ujung anak tangga.
"Dari rumah sakit, Dad" ucap Aluna jujur. Ayahnya tersenyum sinis.
"Daddy jahat, Luna nggak mau bunuh bayi ini. Evan laki-laki baik. Dia nggak seburuk itu, dia akan bertanggung jawab, dia udah janji sama Luna. Daddy jangan kayak gini sama Luna," tangis Aluna lalu berlari dengan cepat menaiki tangga menuju kamarnya.
Sedangkan Richard hanya bisa terpaku dengan reaksi putrinya yang tampak sangat jatuh cinta pada Evan dan sepertinya sulit untuk di halangi maunya.
"Anak ini sangat mudah di permainkan, aku tidak bisa diam saja. Aku akan bersikap lebih keras lagi dengannya," gumam Richard mulai memperlihatkan siapa dia. Marissa hanya diam menyaksikan pertengkaran ayah dan anak itu.
...***...
Keesokan harinya ayah Aluna datang menemui Evan. Kali ini ia datang seorang diri.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanyanya basa-basi. Evan agak takut juga jadinya. Apa lagi keadaannya masih sakit pasca operasi beberapa hari lalu. Dan dia sedang sendirian. Tapi dia berusaha untuk terlihat tenang.
__ADS_1
"Baik, Pak!" jawab Evan sopan.
"Aluna cerita kalau itu bukan paksaan. Dia bilang suka sama suka. Saya memang tidak menemukan bukti kalau itu tindakan pelecehan. Tapi melihat latar belakang kalian berdua. Kelihatannya mustahil kalian kenal lama. Anak saya juga cukup lugu untuk bisa tidur dengan laki-laki yang baru di kenalnya," ucap Richard penuh selidik. Evan terdiam, dia tidak tau harus bilang apa. Dia tidak begitu jelas sejauh mana Aluna mengarang cerita tentang mereka. "Saya takut Aluna tengah mengalami sindrome Stockholm saat ini," (Sindroma Stockholm adalah sindrom yang membuat si korban bersimpati kepada pelakunya, sehingga korban berkeinginan melindungi pelakunya)
"Saya sempat bertemu Aluna di Inggris waktu kuliah. Dan... Kita... kenal di sana," terang Evan masih ragu. Entah sejak kapan Aluna datang, tiba-tiba Aluna datang bak pahlawan yang benar-benar tengah di tunggu Evan.
"Kenapa Daddy masih ragu, Dad. Aku sama Evan itu beneran pacaran. Kalo Daddy ragu gara-gara Soni. Soni cuman pelarian aku. Aku nggak pernah serius sama dia. Dia itu brengsek. Mana mungkin Aluna suka. Dia cuman manfaatin Aluna, makanya Aluna kabur ke Bali buat hindarin dia" terang Aluna. "Aluna nggak bisa lupain Evan. Karena itu Aluna ke Bali. Aluna dengar Evan pindah ke hotel kita, jadi Aluna pikir mungkin ini kesempatan Aluna buat deketin Evan lagi, Sekaligus menjauhi Soni. Tapi Evan nya sombong, makanya Aluna ngadu ke Daddy biar dia di kasih pelajaran. Tapi ternyata Daddy malah pecat dia. Makanya malam itu Evan nemuin Aluna. Kita ke bawa suasana sampe ngelakuin itu, tapi dia kabur setelah itu. Makanya Aluna depresi. Karena Aluna merasa di campakkan setelah itu. Luna merasa Evan bohongin Luna. Makanya waktu Evan datang Luna berusaha lindungin Evan. Karena Luna sayang sama Evan, Dad!" terang Aluna yang merupakan kebohongan besar. Richard hanya terdiam, dia tau putrinya terlalu lugu untuk berbohong tapi terlalu mustahil rasanya untuk di percayai, Evan ternganga mendengar kebohongan yang detail itu lalu ia tersenyum menyembunyikan tawanya yang tertahan dengan memainkan hidupnya menggunakan tangannya agar tidak terlihat jika dia tengah menahan tawanya. Aluna tersenyum kearah Evan seakan penuh kemenangan.
"Sebelum kamu menjalin hubungan kamu pikirkan dulu siapa dia, siapa kamu!" sarkas Richard.
Itu seperti pil pahit bagi Evan. Ayah Aluna benar, bagai mana mungkin pungguk akan bisa terbang sampai ke bulan. Jauh rasanya memimpikan Aluna menjadi istrinya. Seakan paham dengan keraguan Evan Aluna langsung menggenggam tangan Evan.
"Luna hamil anaknya! Terus gimana? Luna nggak mau gugurinnya. Luna nggak mau bunuh anak Luna. Kalo daddy nggak restuin kita, Luna akan pergi sama Evan! Sampe Daddy nggak akan bisa nemuin kita lagi," ancam Aluna membuat ayahnya ciut.
"Aluna kamu benar-benar keras kepala, ya! Kamu tidak lihat keluarga dia? Dia bukan anak keluarga itu. Dia bahkan tidak dianggap di keluarganya. Kalau kamu pergi sama dia, kalian berdua akan menjadi sebatang kara!" tukas Richard menyakiti Evan. Aluna melihat expresi Evan yang tertunduk dan memalingkan wajahnya tidak sanggup mendengar kata-kata itu.
"Cukup daddy. Daddy udah nyakitin Evan. Luna benci, daddy," seru Aluna histeris dan berusaha mendorong ayahnya sambil menangis. Evan berusaha menahan tapi tidak bisa, perutnya masih sakit pasca operasi. Akhirnya seorang dokter muda masuk keruangan mereka untuk menghentikan adegan dramatis itu.
"Maaf, pak! Ini rumah sakit. Ada banyak pasien yang perlu istirahat di sini bisa terganggu dengan keributan kalian!" Ucap si dokter muda. Evan terpana melihat sosok wanita yang cukup familiar baginya.
"Jamia!?" gumam Evan tidak percaya. Jamia memang dulu kuliah di kedokteran, tapi Evan tidak menyangka akan menemui Jamia disini sekarang. Begitu pula Jamia, dia tidak percaya Evan akan jadi pasien di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Evan!" gumam Jamia tercekat.
Aluna menangkap tatapan aneh antara Evan dan dokter muda tersebut. Ada cemburu di hatinya. Sedangkan ayah Aluna langsung pergi meninggalkan mereka. Aluna sedang keras kepala, memaksanya juga percuma lebih baik dia pergi saja.
"Aluna! Ini Jamia teman masa kecil aku. Jamia ini Aluna." Ucap Evan bingung harus menyebutkan status Aluna apa. Mereka berdua pun bersalaman. Jamia menyambutnya dengan ramah sedangkan Aluna dengan penuh persaingan.
"Aluna calon istri, Evan!" terang Aluna saat berjabat tangan dengan Jamia. Jamia kaget, seketika senyum ramahnya hilang, berganti dengan wajah shock.
"Oo... oh yaa! Kapan nih rencananya?" Tanya Jamia berusaha mencairkan suasana.
__ADS_1
Terus terang itu seakan mematahkan hati Jamia. Cinta masa kecilnya akan menikah dengan orang lain, tepat saat dia baru menemukannya. Tapi dia berusaha mengumpulkan logikanya. 'jangan konyol Jamia. Kamu gila ya mau nangis gara-gara ini. Evan tau apa dia tentang perasaan kamu selama ini.' Batin Jamia.
BERSAMBUNG...