
Setelah selesai, Evan menatap wajah Aluna. Gadis itu masih menangis. Evan hanya menatapnya dengan hampa. Ada perasaan yang sulit dia jelaskan setelah ia lakukan itu. Tapi bayangan masa lalunya malah semakin jelas membayanginya. Saat mengingat bagaimana sikap Aluna dan cara Aluna menghina seseorang Evan malah semakin kacau.
Evan segera membereskan kekacauan ini. Dia membereskan semua bekas racun yang ada di minuman Aluna. Tidak lupa dia membungkus tangannya agar tidak ada sidik jarinya.
Aluna menatap pria tampan itu. Dia dapat melihat ada hal lain yang tengah menghantuinya saat ini. Entah ia salah lihat atau memang Evan tengah menyeka air matanya.
Setelah selesai membereskan racun itu, Evan segera menghampiri Aluna dan mengangkat Aluna memandikannya. Sekali lagi dia membuat Aluna menjadi pelacurnya di kamar mandi. Dia benar-benar berusaha membuat Aluna kehilangan harga dirinya. Entah siapa yang tengah berusaha Evan hancurkan. Hati Aluna? Atau dirinya sendiri. Yang jelas saat ini Evan tengah berusaha keras melawan perdebatan batinnya sendiri. Dia melampiaskan semua itu pada Aluna saat ini. Gadis yang tak tahu menahu tentang masa lalunya. Gadis yang tak paham dengan luka batin Evan. Yang terlihat jelas saat ini, Evan tengah menghancurkan hidup Aluna sehancur-hancurnya.
Setelah selesai memandikannya, Evan mengganti pakaian Aluna. Dan dia mengambil seprai yang sama dengan seprei kamar Aluna untuk menggantinya dengan yang baru secara keseluruhan.
Selesai semua, dia bersiap-siap akan pergi. Tidak lupa dia kembali membaringkan Aluna di kasurnya, ia menggendongnya ala bridesmaid, seolah-olah sepasang kekasih yang sedang berbulan madu. Dia menaruh Aluna dengan pelan. Pada titik ini, Aluna melihat kebaikan di mata Evan. Dia bahkan tidak mau menatap Aluna lagi setelah kejadian tadi.
Aluna menatapnya lekat-lekat, bisa-bisanya sekarang dia berlagak seperti pria romantis setelah menjadi bajingan barusan. Dia menyibak rambut Aluna dari dahinya. Setelah berhasil menenangkan hatinya, Evan baru menatap kedalam mata Aluna.
"Silahkan lapor polisi jika mau. Kau akan menghadapi interogasi yang panjang untuk bisa membuktikan ini semua. Dan kau akan menceritakan ini lagi secara detail kepada polisi ... secara berulang-ulang kali. Apa kau sanggup!?" ucap Evan dengan senyum sinis, sekali lagi Evan kembali seperti saat pertama dia datang tadi, tatapannya kembali penuh amarah dan dendam.
Dia meninggalkan Aluna yang terus menangis.
"Oya, Efek racun itu akan berlangsung selama 6 jam lumpuh total, dan 3 hari lemas. Ini aku tinggalkan penawarnya, supaya kau cepat pulih. Minum lah nanti kalau kau sudah bisa bergerak," ucap Evan lalu pergi meninggalkan Aluna.
...***...
Pagi-pagi Aluna yang tidak tidur dari semalam mulai bisa menggerakkan tubuhnya. Masih lemah dan masih terasa kesemutan di kaki dan tangannya. Ini sangat menyiksanya. Dia mulai tidak tahan dengan keadaannya. Dia melirik obat yang Evan tinggalkan untuknya. Dia mulai berfikir untuk meminumnya. Dia tidak peduli itu racun atau obat, dia sudah tidak peduli dengan hidupnya yang mulai terasa tidak ada artinya lagi sekarang. Di tambah efek racun itu yang sangat menyiksanya.
Dia merangkak menuju meja riasnya untuk mengambil penawar yang Evan katakan. Dia melihat botol kecil itu. Tidak ada keterangan apapun dari botol itu, hanya ada cairan di dalamnya. Aluna berusaha membukanya dengan sisa tenaga yang ada. Dan dengan sedikit ragu dia akhirnya meminumnya juga. Dan dia mulai pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Mati atau hidup dia tidak peduli lagi.
Setelah 1 jam benar saja tubuhnya mulai tidak kesemutan dan lemas lagi. Tenaganya mulai pulih, dia segera ke kamar mandi. Dan menyirami tubuhnya lagi dengan shower sambil terus menangis. Dia berharap ini mimpi, hanya mimpi buruknya saja. Tapi ternyata ini adalah kenyataan hidup yang harus dia terima. Dia benar-benar sudah di lecehkan, dan tidak ada yang berarti lagi dari dirinya. Aluna terus membiarkan shower itu menyirami tubuhnya hingga berjam-jam.
"Daddy....," isak Aluna histeris sambil terus memanggil ayahnya. Lama-lama dia kembali merasa lemas dan mulai tak sadarkan diri lagi.
__ADS_1
***
Di luar para pengantar makanannya sudah lama menunggunya di depan pintu kamar. Mereka sudah mengebel kamar Aluna berkali-kali tapi masih tidak ada jawaban. Karena khawatir mereka pun segera melaporkannya pada Manager mereka, berhubung Evan yang menjadi atasan mereka sudah di pecat. Jadi mereka pun mengadukannya kepada pak Ari langsung. pak Ari pun segera memeriksanya
Seperti yang di katakan para pelayan itu katakan tidak ada jawaban dari dalam.
Akhirnya mereka membuka pintu dengan kunci cadangan kamar. Saat mereka masuk hanya terdapat kamar yang rapi, dan tidak ada Aluna di kamar. Tapi dari kamar mandi terdengar air mengalir.
"Mbak Aluna, mbak nggak apa-apa?" tanya pak Ari. Tapi tidak ada jawaban. "mbak!?" Panggil pak Ari dari depan pintu kamar mandi.
Tapi tetap tidak ada jawabannya. Akhirnya mereka mencoba membuka pintu kamar mandi dengan cara lain. Saat pintu kamar mandi berhasil terbuka Alangkah kagetnya mereka saat melihat Aluna tengah pingsan di bawah shower dengan pakaian lengkap.
Mereka segera membawa Aluna ke rumah sakit untuk diperiksa. Tapi dokter tidak menemukan penyakit apapun. Mereka sedikit tenang, setidaknya putri bos mereka ini baik-baik saja.
Saat bangun Aluna yang ceria seakan mendadak hilang. Yang ada Aluna yang pendiam, dan sesekali dia terlihat menyeka air matanya. Mereka bingung ada apa dengan Aluna. Aluna tidak mau menceritakan apapun.
Dia sekarang tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti yang Evan katakan, jika dia lapor ke polisi, itu akan membuatnya menceritakan kejadian buruk itu berkali-kali. Dia tidak mau itu, dia akan gila bila menceritakan itu berulang-ulang kali. Hanya tangisnya yang bisa menemaninya saat ini.
Dia akan menunggu putrinya tenang dulu untuk mencari tau. karena beberapa kali dia memergoki Aluna sedang menangis. Itu membuktikan ada sesuatu yang disembunyikan Aluna.
Sesampainya di Jakarta Aluna langsung masuk kamarnya. Dia mengunci kamarnya, dan dia kembali menangis sepuasnya di kamar nya yang mewah itu.
Dia kembali teringat bagaimana Evan merenggut segala nya darinya. Ingin rasanya dia bunuh saja. Dia mengambil pisau kater yang ada di lacinya dan siap-siap untuk menyayat nadinya. Tapi tiba-tiba dia takut, dan hanya bisa terduduk dilantai kamarnya sambil terisak menangis.
...***...
Di sisi lain Evan kembali melanjutkan hidupnya seperti biasa. Pikirannya tentang Aluna terus menghantuinya. Dia butuh tempat yang dapat membuatnya tenang saat ini. Karena itu untuk sementara dia akan menenangkan dirinya ditempat pamannya.
__ADS_1
Tampak rumah kayu sederhana yang asri dan bersih itu dari kejauhan. Udara segar dengan deru sungai mengalir dan suara serangga khas hutan. Membuat Evan kembali dapat mengembangkan senyumnya. Dia terus menyusuri jalan setapak itu dengan tas ransel di bahu kanannya.
Sudah 12 tahun Evan tidak ke sana. Biasanya setiap libur sekolah pamannya yang merupakan adik kandung ayahnya itu sering mengajaknya liburan ke rumahnya. Evan selalu menyukai kunjungan ke rumah pamannya ini, karena asri dan bisa bermain ke sawah serta pergi mancing mencari ikan di kolam kecil di dekat sana.
Setiap jengkal jalan menuju rumah pamannya membuat Evan kembali teringat akan Kenangan masa kecilnya di sini. Dia seolah bisa melupakan kejadian tersebut untuk sesaat. Dia tersenyum mengenang kenangan itu kembali. Saat itu disini lah surga di hidupnya, karena rumahnya seperti neraka baginya. Hanya di tempat ini dia bisa mendapatkan kasih sayang yang layak.
Sesampainya di rumah pamannya hari sudah Magrib dan pintu sudah tertutup. Dia mengetuk pintu rumah kayu sederhana itu. Dan saat siapa yang datang alangkah kaget nya bude itu. Sudah 12 tahun tidak bertemu, kedatangan Evan merupakan kejutan besar untuknya.
"Ya Allah, nak. Ini beneran kamu!?" sambut budenya sesampainya di rumah. Wanita paruh baya itu menyambut kedatangan Evan dengan senang dan juga kaget. Evan hanya tersenyum. Budenya sangat bahagia dengan kehadiran Evan.
"Pakde mana bude?" tanya Evan.
"Dia ke surau kalo jam segini. Dia kan imamnya disana sekarang. Jadi dia yang sering azan kalo waktu sholat. Semenjak pensiun ya itu lah kerjaan pakdemu sekarang." terang budenya dengan di selingi tawa ramahnya.
"Oya, apa kabar ibuk sama ayah kamu? Sehat?" tanya bude yang tidak tau apa-apa itu.
"Saya sudah 8 tahun nggak pulang bude." Terang Evan. Sontak mengagetkan budenya.
"Kok bisa? Bukannya waktu wisuda itu orang tua kamu ke Inggris sekeluarga. Heboh lo di keluarga tentang kamu lulusan terbaik di Oxford itu. Bude pikir kamu pulang setelah itu." Ucap budenya bingung.
"Nggak bude, selesai kuliah saya pergi. Terus di ajak dosen yang pernah ngajar saya di Oxford itu untuk kerja di hotelnya di Singapura." Terang Evan.
"Terus kamu ketemu Syahila disana?" Tanya budenya.
"Nggak, bude. Pernah ketemu di jalan, dia panggil tapi saya kabur. Saya... Nggak tau lah, bude. Capek aja rasanya. Pengen menjauh dulu." Terang Evan.
"Ndak baik sama orang tua gitu. Udah kuliah tinggi-tinggi masak ndak bisa jaga hubungan dengan orang tua! Sesalah apapun ayah sama ibu kamu, mereka tetap orang tua kamu. Kamu harus bisa menjadi anak yang berbakti. Lihatkan? ndak di jaga orang tua pun kamu sukses, itu tandanya gusti Allah jagain kamu. Ingat ridho Allah ridho orang tua. Jangan buat Gusti Allah murka sama kamu." Nasehat budenya. Evan terdiam, masih berat baginya untuk pulang ke rumah. Dia masih belum bisa untuk pulang. Luka bertahun-tahun itu sangat membekas di hati nya, hingga sulit untuknya menerima keluarga itu lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...