PELUK AKU SEBENTAR SAJA

PELUK AKU SEBENTAR SAJA
KAU DI PECAT


__ADS_3

Malam itu mereka makan malam bersama. Semua tampak akrab dan bahagia.


"Daddy dengar kabar katanya beberapa hari lalu Aluna tidur di tempat kamu ya, Van?" tanya Richard yang lantas membuat Aluna dan Evan kaget. Evan menjadi pucat.


"Kalo mantan suami istri tidur bersama, sulit dipercaya kalo nggak terjadi sesuatu," pancing Tama. Evan menatap Tama tidak percaya, bahwa kakaknya akan ikutan menyudutkannya. Tama malah tersenyum usil dengan menaikkan alisnya, membuat Evan bertambah kesal.


"Nikahin aja om. Sebelum 2 garis merah lagi," Goda Tama lagi yang kali ini langsung terkekeh dan di ikuti yang lain. Evan memicingkan matanya kesal pada Tama, Tama malah semakin keras tawanya.


"Ah terserah lah kalian mau mikir apa," ucap Evan pasrah dengan sambil menyuapkan makanannya, Aluna hanya tersenyum ke arah Evan, dia tampak santai dan tidak terpengaruh, dia sibuk menikmati makanannya.


"Iya Richard. Mereka harus segera menikah, tidak baik kalau terlalu lama," ucap Wisnu.


"Mulai besok kita siap-siap buat pernikahan kalian," ucap Rima.


Membuat Aluna kegirangan, dia langsung memeluk Evan senang, sedangkan Evan hanya cemberut karena merasa tengah di curigai yang tidak-tidak. Aluna terus berusaha menghibur kekasihnya itu. Padahal dia sudah berusaha keras membuat Image baik untuk alasan pernikahannya kali ini.


Serly hanya tersenyum melihat tingkah Aluna yang manja, yang sangat bertolak belakang dengan sifat Evan yang cuek dan tidak begitu expresif, walau pun sebenarnya dia juga sangat bahagia.


Setelah makan malam semua orang pun pulang. Evan di larang Rima pulang ke apartemen nya oleh ayah dan ibunya, karena dia takut Evan akan mengajak Aluna tidur bersama lagi. Evan terus menjelaskan bahwa malam itu tidak terjadi apa-apa, tapi tetap saja mereka tidak percaya. Akhirnya Evan terpaksa tidur di kediaman orang tuanya sejak malam itu.


...***...


Setelah acara makan malam dan keluarga Aluna sudah pulang. Evan masuk kamarnya dan segera menelpon Anto.


"Berasa di pingit gue," curhat Evan pada Anto.


"Hahaha... Wajar lah orang tua lo takut, kalian kan mantan suami istri. Udah sering dulunya. Udah kayak rutinitas kalian. Jadi untuk jaga- jaga wajar lah. Lagian waktu di Lombok Dea pernah cerita, dia lihat kalian ciuman," adu Anto. Sontak membuat Evan kaget, perasaan nya saat itu mereka sudah pergi semua.


"Kapan dia lihat?!" ucap Evan tidak percaya.


"Waktu kita mau pergi beli jagung, di tempat api unggun itu. Kalian kan tinggal berdua doank di sana. Dea balik buat ambil handphone nya ketinggalan, terus nggak jadi waktu lihat kalian lagi gitu-an," cerita Anto. Evan terdiam beberapa saat.


"Alaaahhh gitu doank juga," ucap Evan tidak mau di salahkan sekaligus malu.


"Tetap aja itu awalannya. Lama-lama kan kebablasan," ucap Anto lagi dengan tujuan menjahili Evan.


"Ah bodo ah. Gue ngantuk mau tidur lagi," ucap Evan akan mengakhiri telponnya.


"Berasa di telfon pacar gue ... 'Tinggal bilang good night sayang' jadian lah kita, Van," ucap Anto asal dan langsung tertawa terbahak.

__ADS_1


"Gila!" rutuk Evan lalu mematikan handphone nya. Sempat terdengar tawa terbahak Anto sebelum Evan mematikan handphone nya. Evan pun tersenyum mengingat pembicaraan mereka tadi.


...***...


Hari itu Evan ke ruangan Richard. Richard merasa penasaran karena Evan terlihat akan bicara serius.


"Ada apa, Van?!" tanya Richard.


"Dad! Aku mau pecat Aluna," ucap Evan hati-hati takut Richard tidak setuju.


"Loh?! kenapa?!" tanya Richard kaget.


"Dia kerja banyak ngerepotinnya dari pada ngebantunya, Dad. Kerja sama dia aku harus bisa kerja dua kali lipat. Kalo selesai meeting, dia pasti balik lagi buat ambil barang dia yang ketinggalan. Kalo bikin laporan, saya musti cek ulang lagi buat cek ada yang salah atau nggak, sebab dia sering salah bikin laporan. Kalo susun jadwal meeting, saya juga yang cek ulang, ada yang bentrok nggak, nggak jarang harus di telfon ulang, karena bentrok waktunya... Dan banyak lagi kelakuan dia yang bikin waktu aku kebuang dengan percuma, Dad," adu Evan, Richard tertawa terbahak mendengarnya.


"Terserah kamu lah. Bawahan kamu, kan. Lagian yang mimpin perusahaan ini kan kamu. Aluna Daddy suruh kerja bareng kamu, ya ... Buat deketin kamu sama dia saja. Biar dia tidak penasaran terus sama kamu," ucap Richard seraya menyeruput kopinya. Evan tersenyum mendengarnya. "Kalo ganggu, pecat saja," ucap Richard merestui. Membuat Evan tersenyum senang.


...***...


Selesai bicara dengan Richard, Evan ke luar dari ruangan tersebut. Dia menemui Tim HRD untuk mengurus pemecatan Aluna. Mereka tertawa mendengar alasan Evan.


"Nanti buk Aluna ngamuk lo, pak," ucap mereka.


"Biarkan saja. Dari pada dia ganggu kerjaan saya. Mending kalian urus juga buat lowongan pengganti Aluna. Saya mau yang berpengalaman, nggak amatiran kayak gini," ucap Evan lalu pergi. Belum sempat Evan mereka keluar Evan kembali memanggil si HRD. "Oh, satu lagi. Kasih dia pesangon yang besar juga," ucap Evan dengan senyuman usil.


Sekarang Aluna sedang sibuk mengurus pernikahannya bersama Rima, Dea dan Silvi. Mereka sibuk memilih printilan-printilan untuk persiapan pernikahan mereka. Jadi dia memang jarang ke kantor sekarang. Itu lah kenapa Evan bisa bergerak dengan leluasa.


...***...


Beberapa hari kemudian, Aluna masuk Kantor. Dia melenggang dengan cantik. Tapi saat dia masuk, seorang wanita cantik tampak duduk manis di meja kerjanya. Dia melihat Evan yang tidak ada di ruangannya.


"Kamu siapa?!" tanya Aluna.


"Saya sekretaris pak Evan yang baru buk... Baru beberapa hari ini saya bekerja di sini...!! " Jawab si wanita sopan. Sontak membuat Aluna membelalakkan matanya tidak percaya. Nafasnya memburu dengan cepat.


"Kalau ibuk datang katanya di minta menyerahkan surat ini, Buk," ucap Sekretaris baru itu seraya menyerahkan surat pemecatan Aluna. Aluna meremasnya dengan tatapan tajam.


"EVAN!" teriak Aluna geram.


Dia segera keluar mencari Evan. Evan baru keluar dari ruangan ayah Aluna. Dia yang menyadari kedatangan Aluna, segera berlari menghindar Aluna ke ruangan kerja karyawannya.

__ADS_1



(Ruang kerja karyawan perusahan Brahmana)


"Kenapa kamu pecat Aku?!" teriak Aluna tidak percaya.


"Kamu nggak becus, gimana nggak di pecat," Ucap Evan berargumen dari jarak beberapa meja karyawannya. "Suruh bikin laporan, salah mulu. Susun jadwal meeting sering bentrok, pergi meeting selalu ketinggalan barang, belum lagi yang lain. Kamu bikin kerjaan aku bertambah banyak," terang Evan.


"Kamu tega pecat aku tanpa ngasih peringatan dulu. Kenapa sih kamu nggak ngertiin aku." Aluna kesal bercampur marah yang membuatnya menangis. Evan jadi tidak tega. Dia mendekati Aluna pelan. Dan mendekap Aluna lembut.


"Oke! Gantinya, sabtu minggu kita jalan-jalan, oke! Kita pergi seharian kemana saja kamu mau," bujuk Evan. Tiba-tiba Richard datang. Dia menyerahkan amplop pada Aluna.


"Ini pesangon kamu!" ucap Richard seraya menyerahkan segepok uang di dalam amplop. Itu membuat Aluna semakin keras tangisnya. Evan pun kembali memeluknya dengan erat sedangkan karyawan mereka hanya tertawa melihat tingkah atasan mereka dengan kekasihnya itu. Richard pun berlalu dengan senyum yang mengembang. Dia senang sekarang Aluna dan Evan dapat bersatu kembali.


Sedangkan pak Hans hanya geleng-geleng kepala seraya tersenyum menyaksikannya bersama asistennya.


"Mereka berdua itu cocok bukan karena kelebihan masing-masing, tapi karena mereka saling menutupi kekurangan satu sama lainnya.... " Ucap Hans. Dan di iyakan oleh asistennya.


...***...


Hari ini Evan berjanji akan membawa Aluna pergi jalan-jalan seperti janjinya kemarin. Aluna menyambut Evan dengan gembira, saat Evan datang dia langsung menghampiri Evan dan memeluknya. Para pelayan di buat jadi terbawa merasakan kebahagiaan majikan mudanya itu. Apa lagi bersama Evan, mereka semua saksi bagaimana dulu Evan sangat lembut memperlakukan Aluna dan sangat sabar.



(Evan Pratama, si pria cerdas dan tegas)



(Aluna Jeanela, wanita cantik yang mampu menaklukkan Evan)


Mereka berkeliling kota Jakarta. Sampai mereka lelah dan lapar. Mereka memutuskan untuk makan di restoran pinggir pantai.



Saat mereka masuk, Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang jatuh di hadapan Evan. Evan dengan lembut membantunya berdiri dan itu membuat sisi kebapakkan Evan terlihat. Aluna tercenung melihatnya. Dia ingat, seandainya anak mereka masih hidup maka dia mungkin sudah sebesar bocah ini.



"Kalau anak kita masih hidup, mungkin dia sebesar anak itu ya... " Kenang Aluna. Evan tersenyum dan mendekap kepala Aluna seraya berjalan ke bangku mereka. Mereka segera memesan makanan.

__ADS_1


Evan melihat Aluna masih terlihat sedih. Dia pun duduk di samping Aluna dan menyandarkan Aluna di bahunya seraya menikmati sunset di sore hari. Aluna pun tersenyum dan mulai melupakan kesedihannya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2